Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.
Mazmur 139:14, 16-18 (TB)
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Roma 11:33-36 (TB)
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Efesus 5:31-33 (TB)
Salam jumpa dengan saya, Henry Hermawan.. dan saya adalah suami dari Sayangku, Grace Viviana Tandean.
Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi-Mu, Tuhan! Sungguh dahsyat dan ajaib semua rancangan dan karya-Mu bagi kami berdua! Itulah yang kami berdua rasakan di hari pernikahan kami. Luar biasa Tuhan itu! Akhirnya, tiba hari bahagia kami berdua. Pada awalnya, kami tidak pernah menyangka kalau kami akan dipersatukan menjadi pasangan suami-istri oleh Tuhan. Waktu pertama kami bertemu, kami tidak pernah membayangkan hal ini, bahkan, terlintas saja di pikiran kami pun tidak pernah sama sekali. Ketika Tuhan mulai mengeksekusi semua rancangan-Nya bagi kami berdua pada bulan Mei 1997, kami sempat kebingungan, takut, dan cemas karena kami sendiri tidak mengerti rencana Tuhan. Terlalu besar dan terlalu sulit rencana Tuhan untuk diselami! Yang bisa kami lakukan adalah menyerah sepenuhnya kepada Tuhan dan dengan tepat mengikuti segala rancangan-Nya. Asal kami selalu bersama-sama dengan Tuhan, asal kami selalu berada dalam pelukan-Nya yang hangat dan dalam belas kasihan-Nya yang besar, kami tahu bahwa kami akan berbahagia dalam menjalani hidup kami dari hari ke hari sampai kami kembali kepada Tuhan.
Pada episode ketujuh ini, saya akan menceritakan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan pernikahan kami. Rentang waktu dari episode ketujuh ini adalah mulai dari tanggal 5 Januari 2001 sampai dengan 10 Januari 2001. Cerita pada bagian ketiga “The Best Time in Our Life” ini akan lebih fokus kepada kebersamaan kami berdua terkait dengan peristiwa-peristiwa yang dapat kami ceritakan pada rentang waktu tersebut. Seperti episode-episode sebelumnya, akan ada beberapa flash-forward (yang dituliskan dengan warna biru) untuk menceritakan bagaimana kami melihat dan mengenang peristiwa-peristiwa pada timeline ini di tahun-tahun berikutnya.
Ok, saya mulai ceritanya…
Setelah semua persiapan pernikahan kami sudah final pada akhir Desember 2000, saya kembali ke Jakarta karena cuti saya sudah habis. Walaupun begitu, kami berdua tetap berkomunikasi melalui telepon, apalagi, kami berdua memang sudah tidak sabar lagi menunggu hari bahagia saat kami dipersatukan dalam pernikahan yang kudus di hadapan Tuhan. Saya berada di Jakarta hingga tanggal 4 Januari 2001. Saya mengambil cuti menikah pada tanggal 5 Januari 2001 hingga tanggal 11 Januari 2001. Sebenarnya, pada hari kami menikah (8 Januari 2001), saya ditugaskan untuk kembali ke Jepang. Namun, oleh kemurahan dan pertolongan Tuhan, saya diizinkan untuk menunda keberangkatan saya hingga 1 Februari 2001, dengan catatan, saya harus berangkat sendiri ke Jepang, tanpa ditemani oleh siapapun. Tidak masalah bagi saya karena saya sudah tahu rute dan bagaimana cara menggunakan transportasi lokal dan antar wilayah di Jepang.
Pada hari Jumat, 5 Januari 2001, di pagi hari, saya tiba di Stasiun Pasar Turi, dijemput oleh Sayangku. Selama saya di Surabaya, saya tinggal di rumah Muteran, menempati kamarnya Sayangku. Untuk sementara, Sayangku pindah kamar, sekamar dengan Fefe, sampai nanti setelah tanggal 8 Januari 2001 saat kami berdua telah resmi menjadi pasangan suami-istri.
Pada hari itu juga, akan diadakan ibadah ucapan syukur menjelang pernikahan kami di rumah Muteran. Ibadah itu dimulai jam 15:00, diawali dengan penandatanganan berkas administrasi pernikahan kami di hadapan petugas catatan sipil. Penandatanganan ini atas permintaan dari petugas catatan sipil supaya pada hari pemberkatan nikah nanti, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk penyelesaian administrasi catatan sipil.
Sekitar jam 13:00, saya menjemput Sayangku di kantor karena pada hari itu, Sayangku masih masuk kerja namun izin hanya masuk setengah hari. Setelah mengantar pulang ke rumah Muteran, kami bergegas mencari salon agar Sayangku dapat ber-make-up. Entah mengapa, saat itu, sulit sekali mencari salon yang buka di sekitar daerah Perak. Kami harus berputar-putar karena banyak yang tutup. Kami sudah kebingungan dan hampir saja kami memutuskan untuk pulang agar Sayangku dapat ber-make-up sendiri. Ketika kami melewati Jl. Ikan Dorang, kami melihat satu salon kecil masih buka. Akhirnya kami mampir ke sana dan Sayangku ber-make-up di salon tersebut. Namun ternyata, hasilnya jauh dari memuaskan. Saya menghiburnya, “Ya, sudah.. gak apa-apa. Bagiku, kamu tetap cantik. Bahkan kalau tidak di-make-up sekalipun, tidak masalah buat aku.” Akhirnya, kami bergegas pulang karena sudah terlambat. Kami sudah ditunggu petugas catatan sipil. Begitu sampai di rumah, acara penandatanganan berkas administrasi pernikahan dimulai tanpa Sayangku harus berganti baju (Foto 1 dan Foto 2). Kami berdua menandatangani berkas administrasi tersebut dengan disaksikan oleh papa, mama, Pdt. Yeremia Batubara (Wakil Gembala GPdI Rajawali), dan dua orang saksi, yaitu: Ko Sam Sengkey dan Pdt. Franky Napu. Baru setelah acara penandatanganan selesai, Sayangku masuk ke kamar untuk berganti baju yang memang sudah sengaja dipersiapkan untuk acara hari itu.


Beberapa bulan sebelumnya, kami telah merancang acara kebersamaan kami, khususnya di hari pertama kami sebagai pasangan suami-istri. Untuk acara tersebut, kami sudah request pasangan kami masing-masing harus pakai baju apa. Sayangku request saya mengenakan hem biru yang biasa saya pakai karena Sayangku suka melihat saya mengenakan hem tersebut. Sedangkan pada acara ibadah ucapan syukur, Sayangku request saya mengenakan hem lengan panjang warna merah. Saya request kepada Sayangku untuk mengenakan gaun sexy yang pernah ditawarkan kepada saya oleh Sayangku sendiri. Waktu itu, Sayangku menunjukkan gambar gaun sexy itu kepada saya sambil bertanya, “Apa kamu mau aku pakai gaun sexy seperti ini nanti waktu ibadah ucapan syukur dan acara kebersamaan kita di hari pertama kita sebagai suami-istri?” Tentu saja saya mau. Akhirnya, Sayangku menjahit dua gaun, yang berwarna biru dikenakan saat ibadah ucapan syukur dan yang berwarna merah dikenakan pada acara kebersamaan kami. Sayangku sengaja memilih warna merah untuk acara kebersamaan kami karena Sayangku tahu kalau saya suka melihat Sayangku mengenakan pakaian yang cenderung berwarna merah. Cantik sekali. Akhirnya, kami berdua mengenakan pakaian yang “warna silang”: merah untuk saya dan biru untuk Sayangku pada ibadah ucapan syukur, biru untuk saya dan merah untuk Sayangku pada acara kebersamaan kami.
Setelah Sayangku berganti baju, ibadah ucapan syukur dimulai. Jemaat gereja dan teman-teman kerja Sayangku hadir di ibadah tersebut. Cik Tjioe, istri dari Ko Sam Sengkey, memimpin pujian dan penyembahan dan saya bermain piano untuk mengiringi pujian dan penyembahan pada ibadah tersebut (Foto 3). Firman Tuhan disampaikan oleh Ibu Gembala, oma Ully (Foto 4). Di Foto 4 terlihat kami duduk berdua dan Sayangku sudah berganti mengenakan gaun sexy warna biru. Foto 5 lebih jelas lagi menunjukkan gaun tersebut. Kecantikan Sayangku tidak hilang walaupun dengan hasil make-up tidak seperti yang diinginkan. Yang pasti, kami berdua bahagia sekali saat itu dan kami pun terus menghitung hari-hari kami menjelang hari ‘H’ saat kami menikah. Saat itu, kami berdua rasanya tidak sabar menunggu datangnya hari ‘H’ kami. Pada hari minggu, 7 Januari 2001, sehari menjelang hari ‘H’, kami berdua menyempatkan diri untuk menemani saudara-saudara kami berjalan-jalan ke Tunjungan Plasa lalu menikmati makan siang bersama (Foto 6). Ketika saya melihat Foto 6, Sayangku memang cantik sekali walaupun dengan dandanan yang sederhana. Itu sebabnya, saya begitu mengagumi kecantikannya Sayangku sampai saya sering memandangi Sayangku karena terpesona oleh kecantikannya.




Akhirnya, memasuki hari Senin, 8 Januari 2001, tibalah hari yang sudah kami nantikan sejak lama. Oleh kemurahan, pertolongan, dan kasih setia Tuhan, hari itu akhirnya tiba dan kami benar-benar menikmatinya dengan penuh bahagia. Sepanjang hari, kami selalu tersenyum lebar. Bahagia sekali. Luar biasa rasanya. Terima kasih, Tuhan Yesus!
Sayangku bangun pagi-pagi untuk bersiap lalu berangkat ke salon Gester pada pukul 05:00. Saya belum berangkat karena jadwal saya ke salon Gester itu jam 09:00. Sambil menunggu jam, saya menyiapkan barang-barang kami berdua yang akan kami bawa ke kamar pengantin kami di Hotel Ibis Jembatan Merah (sampai episode ini ditulis, nama hotel berganti menjadi Hotel Arcadia by Horizon). Menjelang jam 09:00, saya berangkat ke salon Gester. Sesampainya saya di salon Gester, saya melihat Sayangku masih dirias, tapi hampir selesai. Sekali lagi, kelakuan saya kumat.. kembali saya hanya bengong melihat Sayangku waktu itu. Cantik sekali. Tidak salah Sayangku memilih salon Gester. Karena saya hanya bengong, tidak bergerak, saya sampai dipanggil berulang-ulang oleh petugas salon dan Sayangku. Ketika saya tersadar, Sayangku tersenyum manis sekali, mukanya memerah karena habis saya pandangi seperti itu. Lalu Sayangku bilang, “Eh.. kok cuma ngliatin. Ayo cepetan. Sudah ditunggu itu.” Saya cuma tersenyum lalu menuju tempat duduk saya di depan meja rias dekat Sayangku tapi dengan pandangan yang tetap mengarah ke Sayangku. Sayangku tersenyum sambil mengibaskan tangannya di depan wajah saya dan meminta saya untuk fokus supaya tidak tersandung. Memandangi dan mengagumi kecantikan Sayangku itu merupakan kebiasaan saya yang tidak pernah bisa hilang sampai akhir pernikahan kami saat kami diceraikan oleh maut. Setelah selesai dirias, saya berpamitan kepada Sayangku untuk kembali ke rumah Muteran. Sayangku melambaikan tangannya, senyumannya mengantar saya keluar dari salon.
Sesampai di rumah Muteran, saya mengambil tas yang berisi barang-barang untuk dibawa ke kamar pengantin kami lalu berangkat ke hotel untuk check-in sekitar pukul 12:00. Sesampai di hotel, saya sudah ditunggu oleh fotografer dan dua sahabat saya, Nafias dan Verry, di lobi hotel. Saya menuju ke receptionist untuk check-in ke kamar hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. Setelah administrasi check-in selesai, bersama Nafias, Verry, dan fotografer, saya memasuki kamar pengantin kami yang sudah dihias sederhana tapi begitu indah oleh pihak hotel (Foto 7). Saya puas dengan hiasan sederhana tersebut. Selanjutnya saya berganti pakaian lalu memulai prosesi awal saya sebagai pengantin pria bersama dengan Nafias dan Verry sebagai pendamping pengantin pria dengan arahan fotografer (Foto 8). Setelah selesai, saya diminta menunggu di hotel sampai pukul 14:00. Fotografer pergi ke rumah Muteran untuk memotret prosesi awal Sayangku sebagai pengantin wanita. Sayangku berterima kasih kepada papa dan mama (Foto 9) lalu papa dan mama menyiapkan Sayangku untuk bertemu dengan saya sebelum berangkat ke gereja (Foto 10). Foto 9 dan Foto 10 ini untuk mengenang papa, mama, dan Sayangku.. sekarang mereka bertiga sudah bertemu dan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Mereka tinggal menunggu saya untuk menyusul kalau sudah tiba saatnya nanti sehingga kami dapat berkumpul bersama-sama lagi di Yerusalem baru.



Sekitar jam 14:00, saya tiba di rumah Muteran, diantar dengan mobil pengantin. Dengan arahan fotografer, kami melakukan sesi pertemuan pengantin (Foto 11 dan Foto 12). Bahagia sekali kami berdua ketika melakukan sesi pertemuan itu. Tak terlukiskan bagaimana perasaan kami berdua saat itu. Dan yang pasti, cantik sekali Sayangku! Hampir saja saat pertemuan itu, saya kembali terpaku memandangi Sayangku, tetapi Sayangku dan fotografer tidak membiarkan saya terpaku lagi dengan memberikan instruksi yang tanpa henti agar saya tetap fokus pada sesi pertemuan itu. He.. he.. dasar saya..

Setelah sesi pertemuan, dilanjutkan dengan sesi penghormatan kepada orang tua. Kami berdua memberi hormat kepada papa dan mama (Foto 13). Sayangku sempat menangis, tapi segera ditahan agar air mata tidak keluar cukup banyak. Kalau terlalu banyak air mata yang keluar, maka itu dapat merusak riasan wajah Sayangku. Selanjutnya, kami berfoto dengan papa, mama, saudara-saudara, dan sahabat yang hadir saat itu (Foto 14 dan Foto 15).

Menjelang jam 16:00, kami berangkat ke GPdI Rajawali untuk sakramen pemberkatan nikah kami. Saat itu cuaca tidak terlalu bagus karena gerimis. Kami turun dari mobil pengantin dengan naungan payung dan disambut oleh Ibu Gembala (Foto 16a). Selanjutnya, kami memasuki ruang gereja (Foto 16b). Prosesi pemberkatan nikah diawali dengan sesi pujian (Foto 17a) dan persembahan pujian dari paduan suara kaum ibu (Foto 17b) serta teman-teman kami sepelayanan yang tergabung dalam paduan suara pemuda (Foto 17c). Agak aneh juga, kali ini paduan suara bernyanyi tanpa dirigen karena dirigennya sedang duduk di sebelah saya dan akan diberkati untuk menjadi istri saya. Di tengah-tengah paduan suara pemuda bernyanyi, kami berdua berdiri lalu berduet untuk menyanyikan lagu tersebut (Foto 17d dan Foto 17e). Setelah doa dipimpin oleh Pdt. Harry Sanger, Firman Tuhan disampaikan oleh Bapak Gembala (Foto 17f) dan dilanjutkan dengan sesi inti, yaitu pemberkatan nikah kami. Sesi inti ini diawali dengan pengucapan janji pernikahan, yang diawali dengan saya (Foto 17g) lalu dilanjutkan oleh Sayangku (Foto 17h). Kami berdua berjanji untuk saling setia dalam pernikahan, baik suka atau duka, kaya atau miskin, sehat atau sakit, apapun yang terjadi, sampai maut memisahkan kami berdua. Dan kami berdua sudah benar-benar menepati janji pernikahan kami sampai maut memisahkan kami berdua pada tanggal 24 Juni 2021. Selanjutnya, kami saling memasangkan cincin pernikahan kami (Foto 17i dan Foto 17j). Kemudian, Bapak Gembala memegang tangan kami berdua dan disatukan sambil didoakan (Foto 17k). Setelah itu, kami diberkati sebagai pasangan suami dan istri (Foto 17l). Oh, terima kasih Tuhan Yesus! Kerinduan kami berdua untuk menjadi pasangan suami-istri akhirnya terwujud hanya oleh karena kasih kemurahan-Mu! Selanjutnya, saya membuka waring/kerudung yang dikenakan Sayangku (Foto 17m dan Foto 17n) dan melakukan ciuman (Foto 17o). Sakramen pemberkatan nikah kami diakhiri dengan doa (Foto 17p, Foto 17q, Foto 17r). Setelah selesai sakramen pemberkatan nikah, kami melanjutkan ke acara penandatanganan berita acara pernikahan kami (Foto 18a, Foto 18b), bersama dengan Bapak Gembala (Foto 18c), lalu dilanjutkan dengan berfoto bersama dengan Bapak dan Ibu Gembala (Foto 19a), Bapak dan Ibu Wakil Gembala (Foto 19b), papa dan mama (Foto 19c), serta teman-teman paduan suara pemuda (Foto 19d). Tak lupa kami berdua juga berfoto (Foto 20). Baru setelah itu, kami meninggalkan gereja (Foto 21) dan menuju ke Hotel Ibis untuk sesi foto studio sambil menunggu waktu resepsi pernikahan kami. Benar-benar kami sangat bahagia! Sekali lagi, terima kasih Tuhan Yesus! Walaupun setiap saat kami berterima kasih kepada-Mu, itu tidaklah cukup untuk membalas semua kasih setia dan kemurahan-Mu yang telah Engkau curahkan kepada kami berdua!

(a) 
(b)

(a) 
(b) 
(c) 
(d) 
(e) 
(f) 
(g) 
(h) 
(i) 
(j) 
(k) 
(l) 
(m) 
(n) 
(o) 
(p) 
(q) 
(r)

(a) 
(b) 
(c)

(a) 
(c) 
(b) 
(d)
Sesampai di hotel, kami bergegas menuju ruangan yang telah dipinjam dan “disulap” oleh fotografer menjadi studio dadakan bagi kami berdua. Kami berfoto dengan arahan fotografer (Foto 22). Menjelang jam 18:00, kami dikabari oleh keluarga kami di Gita Tamtama agar kami menunda keberangkatan kami sampai kami dikabari lebih lanjut. Akhirnya, kami menjadi lebih rileks sedikit dalam menjalani sesi foto studio. Baru sekitar 18:30, kami dikabari untuk berangkat menuju ke Gita Tamtama tapi tidak perlu tergesa-gesa.
Sesampai di Gita Tamtama, kami memasuki ruang resepsi dengan diantar oleh para penari (Foto 23a – Foto 23f). Selanjutnya, dilakukan sesi ucapan terima kasih. Bapak Wakil Gembala, Pdt. Yeremia Batubara, menjadi wakil kami dalam sesi ucapan terima kasih itu dan dilanjutkan dengan wedding toast (Foto 23h, Foto 23i). Hadir juga keluarga saya, sepupu dekat dari papi saya, keluarga besar opa/engkong Kwee Boen Thong –semoga saya tidak salah menulis namanya opa/engkong–. Lalu om Osis dan tante Giok mewakili keluarga saya pada hari pernikahan kami (Foto 23h – Foto 23k). Puji Tuhan! Acara resepsi pernikahan kami berlangsung dengan lancar, tanpa kendala, walaupun acara tersebut kami kelola sendiri tanpa event organizer. Kami sendirilah yang menjadi event organizer. Berkali-kali, MC menemui kami untuk memastikan rundown sudah sesuai dengan yang kami inginkan atau ada perubahan mendadak. Selesai acara, MC sampai keheranan karena baru kali ini dia menjadi MC di acara resepsi pernikahan yang event organizer-nya itu pengantinnya sendiri dan Puji Tuhan, semua berjalan lancar. Tuhan sudah menolong dengan cara-Nya yang luar biasa sehingga semua acara di hari pernikahan kami berjalan dengan lancar dan baik sekali, tanpa hambatan sama sekali. Galeri Foto 23 menunjukkan beberapa foto yang diambil saat acara resepsi tersebut.
Terima kasih untuk keluarga besar opa/engkong Kwee Boen Thong yang sudah hadir dalam pernikahan kami. Khususnya, terima kasih kepada om Osis dan tante Giok yang sudah mewakili keluarga saya dalam pernikahan kami. Saat itu, saya sama sekali tidak menyangka kalau keluarga saya akan hadir. Beberapa tahun kemudian, saya dan Sayangku mengunjungi om Osis dan tante Giok. Ketika kami sedang berbincang, tiba-tiba tante Giok bercerita tentang mengapa keluarga besar opa/engkong Kwee Boen Thong hadir di pernikahan kami, bahkan om Osis dan tante Giok bersedia mewakili keluarga saya di pernikahan kami. Saat saya mendengar cerita dari tante Giok, saya tak henti-hentinya berterima kasih kepada Tuhan karena sudah pasti Tuhan-lah yang mengatur semuanya, Tuhan-lah yang mengutus keluarga besar opa/engkong Kwee Boen Thong untuk membantu kami berdua. Terima kasih Tuhan Yesus! Engkau tidak pernah sedetikpun membiarkan kami sendiri ketika kami menghadapi apapun yang ada di kami. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada om Osis dan tante Giok serta keluarga besar opa/engkong Kwee Boen Thong yang telah berkenan untuk hadir dalam pernikahan kami saat itu. Tuhan Yesus memberkati.

(a) 
(b) 
(c) 
(d) 
(e) 
(f) 
(g) 
(h) 
(i) 
(j) 
(k) 
(l) 
(m) 
(n) 
(o) 
(p) 
(q) 
(r) 
Wedding Kiss 
Keluarga Pdt. J.M.P Batubara 
Para Pendeta GPdI 
Kaum Muda GPdI Rajawali 
Keluarga Kwee Boen Thong 
Teman-teman eks BUN 
Teman-teman dari Bank CIC (Century) 
Jemaat GPdI Rajawali 
Keluarga Sengkey 
Para sahabat 
Keluarga Tanumihardja 
Keluarga Sam Sengkey 
Keluarga Setjadiningrat 
(s) 
(t) 
(u) 
(v) 
(w)
Selesai acara resepsi pernikahan, kami kembali ke hotel untuk menuju ke kamar pengantin kami. Di kamar pengantin ini, dengan arahan fotografer, kami melakukan sesi foto terakhir kami di hari tersebut (Galeri Foto 24). Kami bahagia sekali dan lega sekali. Semua sudah tergenapi oleh karena Tuhan Yesus sungguh amat sangat baik! Sekali lagi, terima kasih Tuhan Yesus!
Setelah semuanya selesai, kami berdua berpamitan kepada papa dan mama serta berterima kasih karena cinta kasih mereka kepada kami berdua, khususnya kepada Sayangku. Setelah kami berdua sendirian, kami berganti baju dan membersihkan make-up di depan kaca besar yang ada di kamar mandi. Sayangku membersihkan make-up saya terlebih dahulu karena itu permintaan dan keinginan Sayangku untuk melakukan hal pertama yang dilakukan Sayangku sebagai seorang istri. Setelah itu baru Sayangku membersihkan make-up-nya. Tentu saja, kebiasaan saya muncul lagi.. ha..ha.. saya terus memandangi dan mengagumi kecantikan Sayangku sampai Sayangku salah tingkah berkali-kali dan mukanya memerah. Saya sempat “diusir” keluar dari kamar mandi, tetapi saya tidak mau. Akhirnya Sayangku membiarkan saya memandanginya terus sampai Sayangku selesai membersihkan make-up-nya. Lalu kami berdua berdoa bersama, mengucap syukur buat hari yang bahagia itu.
Selesai berdoa, kami kebingungan mau apa.. ha..ha.. aneh rasanya dan kami berdua tidak mengantuk sama sekali. Akhirnya, kami mengobrol dahulu untuk “mencairkan” suasana sebelum kami berdua dapat menikmati malam pengantin kami. Entah berapa lama kami mengobrol dan menikmati malam pengantin kami. Seingat saya, saat jam menunjukkan pukul 24:00, kami belum tidur. Saat kami selesai menikmati malam pengantin kami, Sayangku menangis dan memeluk saya erat-erat sambil berkata, “Aku bahagia sekali, sayang.. sekarang aku sudah resmi menjadi istrimu. Tinggal satu lagi yang aku inginkan supaya aku sempurna jadi istrimu, yaitu melahirkan anak-anakmu, sayang. Kita tidak usah menunda, ya, sayang. Aku ingin segera punya anak.” Saya mengiyakan karena saya juga menginginkan hal yang sama. Lalu kami berdua tertidur.
Keesokan harinya, hari Selasa, 9 Januari 2001, saya dibangunkan Sayangku sekitar pukul 05:30 karena kami berdua sudah sepakat ingin mengantar saudara-saudara kami yang akan pulang ke Jakarta menggunakan kereta argo bromo melalui stasiun Pasar Turi. Kami ingin memberikan kejutan kepada saudara-saudara kami sebagai ungkapan rasa terima kasih dari kami berdua. Tetapi, ketika saya mau beranjak dari tempat tidur, saya dicegah oleh Sayangku. Saya heran lalu saya berkata, “Lho, kok malah dilarang bangun. Apa tidak jadi mengantar ke stasiun?” Sayangku menjawab, “Oh, jadi. Cuma pagi ini, aku ingin melayani kamu dulu di hari pertamaku sebagai istrimu.” Akhirnya, kami menikmati momen berduaan dulu. Setelah itu, Sayangku mempersilakan saya mandi terlebih dahulu. Waktu masuk ke kamar mandi, saya kaget. Ternyata Sayangku sudah menyiapkan perlengkapan mandi saya di kamar mandi dengan rapi. Saya jadi merasa aneh karena tidak terbiasa dilayani seperti “tuan besar”. Selesai mandi, saya tambah terkejut lagi karena Sayangku sudah menyiapkan pakaian saya yang terlipat rapi di atas tempat tidur. Tambah aneh rasanya. Lalu, Sayangku izin kepada saya untuk mandi. Wah, tambah tidak karuan saya. Kok jadi aneh gini. Tapi saya tidak mau mengecewakan Sayangku. Saya menerima semua yang sudah disiapkan oleh Sayangku pagi itu. Setelah Sayangku selesai mandi dan sudah siap untuk berangkat, karena masih ada waktu, Saya meminta Sayangku untuk duduk sejenak. Lalu saya berkata, “Terima kasih, honey.. kamu sudah bangun lebih pagi dari aku dan menyiapkan semuanya ini. Aku suka sekali walaupun aneh rasanya. Tapi, aku mau minta sesuatu dari kamu. Kamu jangan punya pikiran macam-macam dulu, ya..” Sayangku bertanya, “Ada apa, [sa]yang?” Saya melanjutkan, “Aku minta kamu tidak selalu melayani aku seperti “tuan besar” karena sebenarnya aku tidak terlalu suka “dimanja” seperti itu. Tapi kalau sesekali kamu ingin melakukan itu, silakan.. aku menerima itu semua dengan senang hati.” Sayangku berkata, “Ya, sayang.. maaf aku membuat kamu malah merasa aneh.” Saya menjawab, “Tidak apa-apa. Aku juga suka dengan apa yang kamu lakukan tapi aku takut kalau jadi suami yang malas dan manja. Aku tidak mau seperti itu, honey.” Sayangku berkata lagi sambil tersenyum, “Oh, sekarang aku mengerti maumu. Aku senang kamu bilang dan terus terang seperti itu. Aku jadi tambah sayang sama kamu.” Sejak saat itu, Sayangku tahu persis dia harus bagaimana; Sayangku tahu kapan dia harus melayani saya seperti “tuan besar” dan kapan harus tidak seperti itu. Luar biasa Sayangku! Sayangku benar-benar mengerti keinginan saya. Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau telah memberikan kepadaku seorang istri yang luar biasa!
Selanjutnya, kami pergi ke rumah Muteran. Sampai di rumah Muteran, semua orang kaget melihat kami berdua sudah muncul pagi-pagi dan berkata mau mengantar ke stasiun. Saudara-saudara kami tersenyum-senyum melihat kami berdua. Bahkan, saat kami menunggui mereka sampai kereta berangkat, beberapa saudara kami pun masih tersenyum-senyum. Kami tidak tahu apa maksud senyuman itu, tetapi yang pasti, mereka terlihat senang ketika kami antar ke stasiun. Setelah saudara-saudara kami berangkat, kami kembali ke mobil untuk pulang ke rumah Muteran. Saat kami berjalan ke tempat parkir mobil, saya merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Sayangku seperti itu. Saat itu, Sayangku selalu berjalan sedikit di belakang saya, padahal biasanya tidak seperti itu. Saya sampai beberapa kali harus menoleh ke belakang, memegang tangannya supaya Sayangku berjalan di sebelah saya. Namun, tetap saja Sayangku berjalan sedikit di belakang saya. Lalu saya bertanya, “Kenapa kamu kok jalannya di belakangku? Sini di sebelahku.” Sayangku menjawab, “Sekarang aku adalah istrimu. Aku harus menghormati kamu sebagai suamiku. Itu sebabnya aku jalan agak di belakangmu.” Lalu saya berkata, “Bukan itu artinya seorang istri menghormati suaminya, honey..” Sayangku berkata lagi, “Aku takut kurang ajar sama kamu, tidak menghormati kamu.” Saya menenangkan Sayangku, “Ya, aku tahu kamu tidak ingin seperti itu, tapi bukan begini caranya. Cara yang benar itu, semua yang kamu lakukan untuk aku, lakukanlah itu dengan penuh kasih. Kalau kamu melakukan semuanya dengan penuh kasih kepadaku, pasti kamu akan menghormati aku, kamu tidak akan kurang ajar sama aku. Aku pun akan demikian. Apapun yang aku lakukan untuk kamu, aku akan lakukan dengan penuh kasih. Pasti otomatis aku akan memperlakukan kamu tepat seperti yang tertulis dalam Firman Tuhan. Semua itu dasarnya kasih.” Akhirnya Sayangku mengerti dan bersikap “normal” kembali. Sejak saat itu, Sayangku mendedikasikan hidupnya sebagai seorang istri untuk saya, melakukan semuanya untuk saya dengan kasih yang luar biasa. Sayangku adalah seorang istri yang sederhana; yang dipikirkan dan dilakukan oleh Sayangku adalah bagaimana caranya menyenangkan dan membahagiakan saya, suaminya. Dan untuk selanjutnya, kami berdua mulai berbuat untuk pasangan dengan dasar kasih. Itulah sebabnya, setiap hari kami dapat mengukir momen-momen kebersamaan yang indah, yang sekarang ini menjadi kenangan indah bagi saya, di tengah kesendirian saya, karena Sayangku sudah pulang terlebih dahulu kepada Bapa di Surga. Memang, Sayangku mempunyai banyak kekurangan, tetapi bagi saya, Sayangku adalah seorang istri yang sempurna. Saya bahkan sering kali tidak menyadari kekurangannya karena saya menerima Sayangku apa adanya. Saya mengasihi Sayangku apa adanya. Karena saya begitu menyayangi Sayangku, ketika tiba saatnya, saya memohon kepada Tuhan agar saya dapat menemani dan “mengantar” Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga. Tuhan mengabulkan doa saya. Akhirnya, saya “mengantar” Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga sambil menyanyikan pujian syukur kepada Tuhan di dekat telinga Sayangku hingga Sayangku menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan saya di rumah sakit.
Dari stasiun Pasar Turi, kami mampir ke hotel untuk mengambil gaun pengantin. Selanjutnya, kami menuju ke salon Gester karena Sayangku ingin memotong rambutnya yang panjang menjadi lebih pendek serta untuk mengembalikan gaun pengantin tersebut dan membereskan semua administrasinya. Sesampai di salon Gester, kedatangan kami membuat “heboh” seisi salon. Mereka heran melihat kami datang untuk potong rambut, mengembalikan gaun pengantin yang kami sewa, dan membereskan semua administrasinya. Komentarnya, “Biasanya pengantin baru mengembalikan gaun pengantin seminggu atau dua minggu sesudah pernikahan, bahkan ada yang sampai ditagih baru mengembalikan. Baru kali ini ada pengantin yang besoknya, masih pagi lagi, mengembalikan gaun pengantin. Wah.. pengantin rajin.” Ha..ha.. kami cuma tersenyum lebar mendengarkan itu semua. Memang kami berdua terbiasa bangun pagi. Sayangku sering bangun lebih pagi daripada saya. Apalagi ketika anak-anak sudah lahir dan sudah bersekolah. Sayangku bangun pagi-pagi untuk menyiapkan semua keperluan kami sekeluarga. Biasanya, ketika sudah selesai menyiapkan semua keperluan, dan masih ada waktu sebelum membangunkan anak-anak, Sayangku kembali ke kamar dan kembali rebahan di sebelah saya sambil menunggu saya bangun. Ketika saya terbangun, Sayangku selalu menyambut saya di pagi itu dengan senyuman manis dan sapaan lembut yang juga saya balas dengan senyuman manis dan sapaan lembut. Oh, sungguh indah mengenang itu semua. Terima kasih Tuhan Yesus untuk momen indah di pagi hari.
Dari salon Gester, kami kembali ke rumah Muteran dan berada di sana sampai menjelang sore. Lalu kami kembali ke hotel untuk bersiap melanjutkan acara spesial kami berdua yang sudah kami rancang sebelumnya.
Sekitar jam 18:00, kami sudah berdandan dan bersiap untuk pergi berkencan di Boncafe Gubeng, makan steak sambil menikmati live acoustic music. Sayangku cantik sekali saat mengenakan gaun sexy warna merah yang sudah disiapkan dan saya mengenakan hem warna biru. Sebenarnya saya minder karena saya kalah “keren” dibandingkan Sayangku, tapi karena Sayangku yang menginginkan saya mengenakan hem tersebut, ya sudahlah, tidak mengapa. Sebelum berangkat, kami berfoto dahulu. Saya sudah menyiapkan kamera. Kami mengambil beberapa foto, kebanyakan fotonya Sayangku sampai Sayangku protes karena hanya dia yang difoto (Foto 25). Ha..ha.. memang nantinya Sayangku sering menjadi model foto saya. Saya senang sekali memotret Sayangku dan saya bersyukur, karena hobi saya inilah, saya mempunyai banyak fotonya Sayangku untuk dikenang.
Setelah selesai dari Boncafe Gubeng, kami kembali ke hotel lalu menikmati momen berduaan kami sebagai suami-istri sampai puas. Keesokan harinya, hari Rabu, 10 Januari 2001, sebelum kami check-out, kami juga menikmati kebersamaan kami sebagai suami-istri sampai puas. Hal ini kami lakukan karena pada keesokan harinya, 11 Januari 2001, kami harus berpisah. Saya harus kembali ke Jakarta karena cuti saya sudah habis. Sedih sekali sebenarnya. Baru menikah tetapi sudah harus LDR (long distance relationship) kembali. Bahkan, tiga minggu kemudian, saya harus pergi ke Jepang selama 2 bulan lebih. Tapi tidak mengapa karena memang begitulah kondisi yang harus kami lalui dan kami jalani semuanya dengan kerelaan hati karena kami tahu, Tuhan tidak akan membiarkan kami dalam kondisi seperti itu terus.
Sampai di sini dulu cerita episode ketujuh ini. Pada akhir episode ketujuh ini, saya akan mempersembahkan video kompilasi foto momen pernikahan kami dengan background song “Segala Pujian dan Syukur” yang diciptakan oleh Welyar Kauntu. Lagu inilah yang saya nyanyikan pada detik-detik saat Sayangku menghembuskan nafasnya yang terakhir di pelukan saya. Kami berdua menyukai lagu ini karena lagu ini menggambarkan apa yang sudah kami alami dan ucapan syukur kami yang luar biasa besarnya kepada Tuhan Yesus, juru selamat kami. Tak henti-hentinya kami mengucap syukur kepada-Nya atas segala anugerah, kasih setia, dan kemurahan-Nya yang sudah kami nikmati setiap hari selama sekitar 3,5 tahun berpacaran (12 Mei 1997 – 7 Januari 2001) dan 20,5 tahun pernikahan (8 Januari 2001 – 24 Juni 2021). Terima kasih, Tuhan Yesus! Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanyalah bagi-Mu! Amin.
Kau Tuhan yang s’lamatkanku, terima kasih Yesus!
Kau Tuhan yang pulihkanku, terima kasih..
Kau Tuhan yang sembuhkanku, terima kasih Yesus!
Kau Tuhan memberkatiku, terima kasih..S’gala pujian dan syukur hanya bagi-Mu, Yesus
“Segala Pujian dan Syukur”, composed by Welyar Kauntu.
Dengan apakah kubalas kasih-Mu
S’gala hormat kemuliaan hanya layak bagi-Mu
Kusembah Yesus seumur hidupku!
Our wedding kiss
Walaupun dalam foto sepertinya kami “diarahkan” oleh fotografer untuk melakukan wedding kiss, namun, dalam momen kebersamaan kami selama 20,5 tahun pernikahan, entah berapa kali kami melakukan pelukan, usapan sayang, ciuman sayang, saling menyandarkan kepala dan bahu, sampai akhirnya maut memisahkan kami berdua. Perpisahan ini telah membuat kami tidak bisa lagi melakukan pelukan, usapan sayang, ciuman sayang, serta saling menyandarkan kepala dan bahu.. tapi kenangan akan momen itu selalu melekat di pikiran dan hatiku.
Aku merindukanmu, Sayangku. Aku merindukan senyumanmu, celotehanmu, tertawamu, sentuhanmu di bahuku dan lenganku, pelukanmu, ciumanmu, elusanmu di kepalaku, gandengan tanganmu yang biasa kita lakukan setiap hari, tanpa bosan-bosan bahkan semakin bertambahnya tahun kebersamaan kita, semakin sering kita melakukan itu semua. Dulu waktu kita berpisah sementara karena aku harus ke luar kota atau luar negeri, kita dapat bertelepon, kirim e-mail, chatting, video call, hanya untuk sekedar melepas rindu dengan mendengar suara masing-masing, saling memahami pikiran masing-masing, melihat wajah masing-masing sampai aku pulang kembali ke rumah dan kita kembali saling tersenyum, tertawa, berceloteh, berpelukan, berciuman, bergandengan tangan, saling mengelus kepala, saling menyentuh di bahu dan lengan. Tapi sekarang, saat aku merindukan dirimu, aku benar-benar merindukan semuanya itu hingga akhirnya nanti aku menyusulmu pulang ke rumah Bapa di Surga saat tugasku di dunia ini selesai.

Terima kasih Tuhan Yesus! Engkau telah mengabulkan permohonanku untuk mempunyai seorang istri yang cantik dan yang dengan tulus sangat mencintai diriku apa adanya, tidak ada kepura-puraan, termasuk menerima semua kekuranganku dan menutupnya dengan kasih sayang. Terima kasih juga karena Engkau telah mengajariku untuk benar-benar mencintai Sayangku apa adanya, termasuk menerima semua kekurangannya dan menutupnya dengan kasih sayang, tidak ada kepura-puraan, sehingga bagiku, Sayangku adalah seorang istri yang sempurna, yang Kau berikan padaku. Permohonanku hanyalah suatu permohonan sederhana, namun Kau berikan semua hal yang tidak pernah kupikirkan untuk kami nikmati berdua karena besar kasih setia-Mu.
Terima kasih Tuhan Yesus! Engkau telah membuat aku mengerti bagaimana isi hati-Mu, ya Tuhan, saat di suatu waktu aku pergi menjauh dari-Mu. Betapa sedihnya hati-Mu seperti sedihnya hatiku saat Sayangku sudah tidak ada lagi di sisiku, sampai dadaku terasa sesak dan sakit. Itulah yang membuatku ingin selalu dekat kepada-Mu.
Terima kasih Tuhan Yesus! Melalui kebersamaan yang singkat, hanya dalam waktu sekitar 3,5 tahun berpacaran dan 20,5 tahun pernikahan, Engkau telah merancang kebersamaan kami ini dengan sungguh amat indahnya. Walaupun masa itu singkat, kami sungguh puas akan kebersamaan kami sehingga oleh karena besar kasih setia-Mu, kami mampu bersyukur kepada-Mu, baik pada masa lalu, di tengah penyakit kanker yang telah menggerogoti tubuh Sayangku selama 3 tahun 3 bulan, maupun sekarang, di tengah kesendirianku.
Saat aku merindukan Sayangku, aku segera ingin bersekutu dengan-Mu dan ketika aku sedang bersekutu dengan-Mu, aku teringat akan indahnya momen kebersamaanku dengan Sayangku yang adalah hasil rancangan-Mu. Itulah yang membuatku semakin bersyukur kepada-Mu.
Walaupun aku sendiri sekarang, tanpa Sayangku di sisiku, namun Engkau selalu setia dan tak pernah tinggalkan diriku sendiri, hingga nanti aku pulang ke rumah-Mu, ya Bapa, saat aku sudah menyelesaikan semua tugas-tugasku. Amin!
Sampai di sini episode ketujuh dari serial “Memoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean“. Memoar ini akan saya lanjutkan di episode kedelapan yang melanjutkan cerita tentang waktu-waktu terbaik dalam hidup kami berdua. Salam damai sejahtera bagi kita semua! Tuhan Yesus memberkati! Amin!
Disclaimer: Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Sayangku. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Sayangku.















































