Tuhan semesta alam telah bersumpah, firman-Nya: ”Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?
Yesaya 14:24, 27 (TB)
Salam jumpa dengan saya, Henry Hermawan.. dan saya adalah suami dari Sayangku, Grace Viviana Tandean.
Mulai episode kelima dan seterusnya saya akan menceritakan momen-momen indah kebersamaan kami berdua yang mulai kami ukir bersama dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun sejak kami berpacaran, menikah, mempunyai anak-anak yang merupakan buah cinta kasih kami berdua, hingga maut memisahkan kami berdua. Bahkan, sebenarnya momen-momen indah itu sudah kami rasakan sejak kami bersahabat walaupun dalam konteks yang berbeda. Dari momen-momen indah kebersamaan kami ini akan terlihat bagaimana campur tangan Tuhan, rancangan Tuhan, khususnya dalam kehidupan kami berdua: kami berdua dipersatukan dalam cinta kasih dan selanjutnya kami mengalami proses-proses pembentukan diri kami berdua oleh Tuhan –kami berdua bagaikan tanah liat di tangan penjunan–, pergumulan-pergumulan hidup kami berdua, sehingga kami dapat menikmati cinta kasih-Nya yang sungguh indah. Itu sebabnya, episode kelima (dengan prolog di episode keempat) dan seterusnya ini mempunyai judul utama: “The Best Time in Our Life“. Walaupun waktu kebersamaan kami cukup singkat tapi waktu kebersamaan kami ini adalah waktu terbaik dalam kehidupan kami berdua karena rancangan dan campur tangan Tuhan dalam hidup kami berdua.
Bagian 1 ini mempunyai timeline mulai pertengahan tahun 1994 sampai dengan Agustus tahun 1997. Namun, akan ada beberapa flash-forward (yang dituliskan dengan warna biru) untuk menceritakan bagaimana kami terus melakukan hal-hal tersebut dan/atau bagaimana kami mengenang peristiwa-peristiwa pada timeline ini di tahun-tahun berikutnya.
Ok, saya mulai ceritanya..
Seperti yang sudah saya ceritakan di episode keempat, saya dibelokkan Tuhan untuk menuju kota Surabaya dengan tujuan khusus yang saya belum tahu saat itu. Saya hanya menurut apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup saya.
Setelah saya menyelesaikan proses daftar ulang di ITS dan telah mendapatkan tempat kos, langkah selanjutnya yang selalu saya lakukan ketika harus tinggal dalam durasi yang lama di suatu kota yang baru adalah membeli peta kota. Saat itu belum ada Google Maps.. he..he.. jadi masih pakai cara “old-fashioned”, yaitu membeli peta kota Surabaya lalu mempelajarinya. Satu bulan pertama, tiap kali ada kesempatan, saya berkeliling kota Surabaya sambil membawa peta tersebut. Saya baca dulu petanya, buat skenario jalan, lalu mengendarai sepeda motor saya sesuai skenario jalan itu. Ketika lupa atau skenario jalannya sudah selesai, saya berhenti di pinggir jalan, buka peta lagi, buat skenario jalan lagi. Demikian seterusnya sampai saya lumayan hafal jalan-jalan di kota Surabaya, khususnya jalan-jalan utamanya.
Setelah saya mulai hafal jalan-jalan utama kota Surabaya, langkah selanjutnya adalah mencari lokasi GPdI Rajawali. Sebelum saya ke Surabaya, saya diberitahu oleh om Yusak (Gembala Sidang GPdI Eben Haezar, Kudus) bahwa ada beberapa GPdI di Surabaya. Waktu itu disebutkan beberapa lokasi. Tetapi, entah mengapa, saya tertarik untuk mencari GPdI Rajawali yang berada di Jl. Rajawali 92. Saat itu saya belum tahu lokasinya, apalagi jadwal ibadahnya. Ketika saya mencari lokasi Jl. Rajawali di peta kota Surabaya, saya menyadari bahwa lokasinya cukup jauh dari tempat kos saya tetapi saya tetap berketetapan hati untuk mencari GPdI Rajawali walaupun jauh. Akhirnya ketemu lokasinya. Di suatu malam, saya lupa tepatnya hari apa (mungkin hari Minggu malam), saya mendatangi GPdI Rajawali hanya untuk sekedar melihat jadwal ibadah di papan pengumuman yang ditempel di depan gereja. Saat itu, ada acara di GPdI Rajawali, saya tidak tahu apakah itu ibadah atau acara lain. Yang saya lihat saat itu, orang-orang yang hadir ada laki-laki dan perempuan, mulai dari anak-anak (walaupun tidak banyak jumlahnya), orang muda, sampai orang dewasa. Dan saat saya sampai di GPdI Rajawali, acara tersebut kelihatannya sudah selesai karena banyak orang yang sudah berada di luar gedung gereja sambil saling mengobrol satu dengan yang lainnya. Ketika saya sedang melihat jadwal ibadah, saya ditemui seorang laki-laki, saya lupa siapa orangnya, yang mengajak saya bercakap-cakap. Lalu saya mengutarakan maksud saya bahwa saya baru datang di Surabaya dan bermaksud beribadah di GPdI Rajawali. Itu sebabnya, saat itu, saya ke GPdI Rajawali untuk melihat jadwal ibadah. Lalu orang tersebut menunjukkan jadwal ibadah dan mengajak saya untuk menghadiri ibadah pemuda di hari Sabtu jam 17:00. Saya mengiyakan ajakan itu.
Sabtu berikutnya, saya benar-benar hadir di ibadah pemuda. Ternyata, saat itu, bukan saya saja yang baru bergabung untuk mengikuti ibadah pemuda. Ada satu orang lagi yang juga baru bergabung di hari itu, yaitu, Verry, yang nantinya menjadi salah satu sahabat saya. Verry juga baru di Surabaya, baru berkuliah di jurusan yang sama dengan saya, yaitu Teknik Elektro, tapi di perguruan tinggi yang berbeda. Jadi, Verry dan saya sebenarnya satu angkatan tapi berbeda perguruan tinggi. Saat saya memasuki ruang ibadah, entah mengapa mata saya tertarik untuk memandang kepada seorang perempuan, yang terus terang, saat itu sudah memukau saya. Dia duduk di deretan kursi hampir paling belakang. Waktu saya melihat dia, dalam hati, saya berkata, “perempuan ini cantik, sexy, lovely, kehangatan hatinya bisa dirasakan dari tatapan dan senyumannya, dan juga tipe saya banget.” Lalu dalam hati juga, saya melanjutkan, “Sayang sekali, dia kelihatannya lebih tua dari saya.” Setelah berkenalan, ternyata namanya adalah Grace Viviana Tandean. Lalu saya juga berkenalan dengan yang lainnya. Sejalan dengan waktu, akhirnya saya dekat dengan beberapa orang dan bersahabat dengan mereka, dan salah satunya adalah Grace Viviana Tandean.
Setelah kami menikah, pada suatu waktu, saya bertanya kepada Sayangku tentang reaksinya Sayangku ketika pertama kali bertemu saya dalam ibadah pemuda itu. Saat saya bertanya, Sayangku malah tersenyum malu dan tidak mau menjawab pertanyaan saya. Sayangku berkata, “Gak ah.. kamu tidak perlu tahu.” Saya malah tambah penasaran. Saya paksa Sayangku untuk bercerita tapi Sayangku tetap bersikukuh tidak mau bercerita. Akhirnya, saya pakai “jurus pamungkas” saya, “jurus tampang melas” ha..ha.. saya sampai “mengemis” minta Sayangku bersedia bercerita sambil memasang muka “memelas”. Melihat saya seperti itu, Sayangku tidak tega dan akhirnya berkata, “Ya, aku ceritakan tapi kamu janji tidak boleh tertawa setelah mendengarnya.” Ketika melihat Sayangku sebelumnya tersenyum malu, saya sudah membayangkan ceritanya pasti lucu, tapi saya terpaksa “berjanji” walaupun dalam hati saya tidak yakin bisa untuk tidak tertawa kalau ternyata ceritanya lucu, daripada Sayangku tidak mau cerita, malah saya jadi penasaran terus. Lalu Sayangku bercerita, “Waktu pertama kali kamu datang, aku sebenarnya terpana saat melihat kamu.. dalam hati aku berkata: wuih cakepnya.. sexy juga.. dan tipeku juga.. tapi sayangnya dia lebih muda dari aku. Dia baru mulai kuliah.. aku sudah lulus dan mulai bekerja.” Mendengar cerita Sayangku, saya tertawa terbahak-bahak. Sayangku langsung cemberut dan komplain, “Tadi aku sudah bilang kalau kamu jangan tertawa, tapi kok malah tertawa begitu.” Lalu saya ceritakan reaksi saya ketika pertama kali melihat Sayangku. Setelah mendengar cerita saya, Sayangku malah ikut tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Ternyata respon kita sama waktu kita pertama kali bertemu.” Lalu saya melanjutkan, “Saat itu, walaupun aku terpana melihat kamu, tapi aku tidak mencoba mendekati kamu untuk penjajakan sebagai pacar karena umurmu lebih tua dari aku.” Sayangku juga berkata hal yang sama, “Aku juga begitu.. malah kamu akhirnya aku anggap sebagai adikku saat itu.” –catatan: dari cerita ini, teman-teman pasti sudah bisa menduga berapa selisih umur kami–
Mulai dari bagian ini, saya akan menuliskan “Sayangku” dengan “Vivi” atau “sahabatku” karena pada timeline cerita ini, kami bersahabat, belum berpacaran, dan belum mengganti nama panggilan kami berdua. Semoga teman-teman tidak bingung ketika membaca cerita ini ketika saya menggunakan nama “Vivi” dan “sahabatku” secara bergantian, tergantung konteks ceritanya. Ok, saya lanjutkan.
Saya mulai dekat dengan Vivi, awal mulanya kami dekat sebagai teman. Tapi sejalan dengan waktu, kami akhirnya bersahabat, bersama dengan teman-teman lainnya, antara lain, Nafias, Verry, mbak Endang, Susan, dan Lilik. Selain kami bertujuh, kami juga dekat dengan teman-teman lainnya, namun, biasanya kalau berkumpul, paling sering dalam “komposisi” bertujuh sampai pada tahun 1997 ketika mbak Endang pindah ke Tangerang serta Nafias dan Susan pergi ke Sekolah Alkitab Batu (SAB) untuk menjadi full-timer sebagai hamba Tuhan. –catatan: Mbak Endang sudah pulang kepada Bapa di Surga pada tanggal 16 November 2020 yang lalu. Sayangku pasti sudah bertemu mbak Endang di sana–
Sejak saya dan Vivi bersahabat, saya suka bercerita tentang masalah pribadi saya kepada Vivi. Saya pernah bercerita kalau saya sedang melakukan penjajakan dengan seorang teman perempuan saya semasa SMA yang sudah saya taksir sejak kelas 1 SMA. Saat saya mulai naksir dia, saya selalu tungguin dia kalau pulang sekolah walaupun hanya untuk “say hello” dan melihat dia. Apalagi kalau dia berangkat dan pulang sekolah, selalu naik becak dan pasti melewati depan rumah saya. Tapi saya baru berani terang-terangan melakukan penjajakan setelah berkuliah. Tiap pulang ke Kudus, saya berkunjung ke rumahnya dan sempat juga meminta fotonya untuk saya bawa ke Surabaya. Foto itu saya beri figura lalu saya letakkan di meja saya sehingga setiap kali belajar, saya selalu dapat melihat foto itu. Namun, sejalan dengan waktu, penjajakan ini tidak berhasil. Pada pertengahan tahun 1995, saya memutuskan untuk menghentikan penjajakan ini karena saya melihat tidak ada peluang untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Saat saya memutuskan ini, saya sedih sekali dan sempat down. Waktu di Kudus, saya berusaha ditenangkan oleh mami agar semangat saya bisa bangkit kembali. Waktu itu, mami bilang kepada saya kalau mami memang melihat saya dan teman perempuan saya tersebut tidak 100% cocok. Mami merasa ada satu hal yang nantinya akan membuat saya dan teman perempuan saya itu bertengkar hebat dan akhirnya hubungan kami menjadi tidak mesra lagi jika dipaksakan untuk lanjut. Akhirnya, saya mulai agak tenang. Ketika kembali ke Surabaya, saya ceritakan ini kepada Vivi karena saya masih sedih. Saya butuh seseorang untuk mau mendengarkan cerita saya. Kebanyakan, tiap kali saya membutuhkan orang sebagai tempat bercerita, saya bercerita kepada Vivi karena saat saya bercerita kepada Vivi, saya merasa nyaman sekali. Setelah Vivi mendengarkan cerita saya tentang penjajakan saya yang gagal, Vivi menenangkan saya sambil berkata kalau semua itu ada maksudnya, dalam hal ini, artinya, teman perempuan saya itu bukan jodoh saya, jadi direlakan dan percaya kepada Tuhan. Saya menjadi tenang setelah ditenangkan oleh Vivi. Senang sekali mempunyai sahabat seperti Vivi.
Kebiasaan bercerita ini terus berlanjut dan semakin sering ketika kami mulai berpacaran dan akhirnya menikah. Tiap hari, kami selalu bertukar cerita, bahkan cerita tentang kejadian hari itu yang mungkin sangat sederhana. Kami senang sekali bercerita, bersenda gurau, saling menggoda kalau ceritanya lucu, saling menasehati kalau pasangan kami membutuhkan nasehat. Walaupun kami sudah menjadi pasangan suami-istri, kami tetap menjadi sahabat bagi pasangan kami. Jadi, hubungan kami merupakan “paket lengkap”, sebagai teman hidup, sahabat, suami-istri, teman sepelayanan, dan segalanya. Setahun terakhir sebelum pandemi covid19, Sayangku melayani sebagai pemimpin paduan suara ibu-ibu di gereja kami, GBT Bethlehem. Saat itu, Sayangku langsung meminta saya untuk mengiringi dengan piano dan hanya saya yang diperbolehkan oleh Sayangku untuk mengiringi saat Sayangku memimpin paduan suara. Tiap kali latihan paduan suara, saya selalu langsung menuju ke gereja dari tempat kerja saya untuk berlatih bersama tim paduan suara. Sayangku sudah berada di gereja karena sebelum latihan paduan suara, ada ibadah ibu-ibu Hanna. Oh.. saya merindukan momen itu.. saya percaya, nantinya kami akan bersama-sama memuji Tuhan di Yerusalem baru.. oh, walaupun sekarang hanya bisa membayangkan saja, tapi saya sudah sungguh senang sekali. Sekarang saya juga kehilangan teman bercerita. Kalau saya sudah tidak tahan lagi untuk bercerita, biasanya saya pergi ke makamnya Sayangku lalu duduk di dekatnya sambil menabur bunga dan bercerita sampai puas. Saya baru pulang ketika saya sudah puas bercerita. Itu sebabnya, di mobil selalu ada kursi kecil yang biasanya saya gunakan sebagai tempat duduk saya saat di makamnya Sayangku.
Pada tahun 1995, tepatnya tanggal 24 Agustus 1995, bersama dengan Verry, Fay, dan Junita, saya menjadi pendamping pengantin pada pernikahannya Ongi dengan Joula. Ongi adalah kakak dari Vivi, anak kedua. Jadi, Vivi itu empat bersaudara: Uke, Ongi, Vivi, dan Fay. Junita adalah saudara sepupunya Vivi. Verry dan saya menjadi pendamping pengantin pria, Fay dan Junita menjadi pendamping pengantin wanita. Waktu itu, posisi pengantin pria berada di hotel sedangkan pengantin wanita berada di rumah (jalan) Muteran. Ketika ketemuan pengantin, Verry dan saya mengantar Ongi ke rumah Muteran untuk bertemu Joula. Saat itu, saya speechless karena melihat Vivi, sahabatku, yang sudah berdandan dan begitu cantiknya. Tapi saya berusaha menguasai diri saya agar tidak terlalu kelihatan kalau saya sedang terpukau oleh kecantikan sahabatku. Saat di rumah Muteran dan saat sakramen pemberkatan nikah di GPdI Rajawali, saya berhasil menguasai diri saya dengan baik sehingga tidak terlihat kalau sedang terpukau. Namun, ketika di tempat resepsi pernikahan, akhirnya saya ketahuan sedang memandangi sahabatku, sedang mengagumi kecantikannya sahabatku. Vivi tersenyum sumringah, senang melihat saya sedang mengagumi dirinya. Saya sampai malu karena “tertangkap basah” sedang memandangi dan mengagumi sahabatku itu. Tapi Vivi tidak berkata apa-apa, hanya mendekati saya lalu bertanya apakah saya sudah makan, baik-baik saja, apakah saya capek? Saya jawab, “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja”, sambil menahan malu. Sayangku tersenyum lagi. Aduh.. saya tambah tidak tahan untuk tidak semakin terpukau ketika melihat dengan senyumannya itu. Saya selalu mengingat senyumannya waktu itu. Selama resepsi berlangsung, sahabatku sering tidak berada di tempat karena sibuk mengatur jalannya resepsi pernikahan agar dapat berlangsung dengan sukses. Saya selalu berusaha mencari sahabatku ini hanya untuk memandanginya dan mengagumi kecantikannya. Dan berkali-kali, saya tepergok sedang terpukau mengagumi kecantikan sahabatku ini. Tapi sahabatku ini tidak pernah marah ketika memergoki saya sedang memandanginya. Pandangan saya selalu dibalas dengan senyuman yang manis dan indah sambil sesekali mengajak saya mengobrol sebentar. Jadi, sepanjang acara resepsi pernikahan tersebut, yang menjadi fokus saya dan yang selalu saya ingat adalah kecantikan dan senyum indahnya sahabatku ini. Foto 1 ini adalah foto sahabatku ketika berfoto setelah selesai acara resepsi pernikahan. Walaupun di foto tersebut terlihat lelah, sahabatku tetap cantik sekali.

Waktu kami mulai berpacaran, berkali-kali saya kembali terpukau mengagumi kecantikan Sayangku. Saat saya menjemput Sayangku untuk pergi ke undangan pesta, saya pasti bersemangat sekali karena saya pasti akan menyaksikan “pemandangan” indah di depan saya, yaitu kecantikannya Sayangku. Dan benar, ketika saya tiba di rumah Muteran lalu Sayangku keluar untuk pergi bersama saya, kembali saya speechless, sampai Sayangku beberapa kali menggerakkan/mengibaskan tangannya di depan wajah saya untuk menyadarkan saya kembali sambil tersenyum manis dan indah. Biasanya lanjut berkata, “Ini jadi pergi atau tidak?” Ha..ha.. inginnya sih gak jadi pergi, cuma ngliatin Sayangku, tapi tentu saja tidak bisa begitu. Setelah itu saya selalu berkata, “Apakah kamu tidak apa-apa pergi sama aku yang hanya naik sepeda motor? Dandananmu nanti rusak karena harus pakai helm dan kena angin.” Sayangku menjawab, “Tidak masalah, yang penting bisa pergi sama kamu.” Oh.. menyenangkan sekali.
Setelah kami menikah, Sayangku selalu tersenyum manis dan indah saat Sayangku memergoki saya sedang mengagumi kecantikannya. Memang dasarnya sudah cantik, berdandan atau tidak berdandan, Sayangku tetap cantik. Sampai suatu waktu Sayangku pernah bilang, “Aku ini sudah jelek, tidak berdandan, cuma dasteran, ‘bau dapur’, dan juga badanku sudah gemuk, badanku sudah tidak sexy seperti waktu belum punya anak-anak dulu, kok masih kamu lihatin seperti itu?” Saya menjawab, “Buat aku, kamu cantik sekali, bahkan tambah cantik dari hari ke hari.” Sayangku tersenyum lagi, senyum yang membuat saya “klepek-klepek“, senyum yang membuat saya “melayang”. Pernah beberapa kali saya “diusir” keluar kamar oleh Sayangku gara-gara saya terus memandangi dan mengagumi Sayangku saat Sayangku sedang berdandan untuk persiapan pergi. Sayangku bilang, “Apa kamu tidak ada kerjaan lain? Kok cuma ngliatin aku terus! Sana! Keluar kamar! Cari yang bisa dibereskan!” Tapi Sayangku bilang seperti itu sambil tersenyum dan salah tingkah karena saya pandangi dan kagumi terus. Pernah juga, saat saya sedang asyik-asyiknya mengagumi Sayangku, tiba-tiba Sayangku mendatangi saya lalu menggigit hidung saya sambil berkata, “Itu hukumannya karena ngliatin aku terus.” Ha..ha.. Mana bisa “kapok” kalau “hukumannya” seperti itu.. Saya malah tambah ketagihan kalau “hukumannya” itu.. ha..ha.. menyenangkan sekali.. indah sekali momen-momen itu untuk dikenang.
Kebiasaan saya dalam mengagumi kecantikan Sayangku terus berlanjut. Ketika saya pulang dari bepergian ke luar kota atau luar negeri, saya dijemput Sayangku di bandara –waktu itu Sayangku masih belum menderita kanker dan masih sanggup menyetir mobil ketika sudah menderita kanker–. Begitu bertemu, saya pasti tersenyum lebar melihat Sayangku yang juga tersenyum manis sekali dan selanjutnya saya langsung mencium Sayangku –tidak perduli dilihat orang banyak–, lalu kami bergandengan tangan menuju mobil. Waktu di mobil, saya melingkarkan tangan di pundak Sayangku yang menyetir mobil –saya tidak boleh menyetir mobil oleh Sayangku karena dikhawatirkan masih jetlag— lalu saya memandangi Sayangku terus. Sayangku tersenyum sambil “mengomel” karena saya pandangi terus. Sayangku bilang, “Sudah.. daripada ngliatin aku terus, bantu aku lihat jalan saja.” Sayangku bicara itu sambil tersipu-sipu, mukanya memerah karena saya pandangi terus.. Sayangku tambah cantik saat tersipu-sipu sampai mukanya memerah.. indah sekali saat mengingat momen-momen itu.
Pada tahun 1996, kami semakin erat dalam bersahabat, juga dengan teman-teman lainnya. Bersama para sahabat, kami semakin giat dalam pelayanan. Kami juga sempat bernyanyi bersama dalam vocal group sederhana. Ada beberapa lagu yang pernah kami nyanyikan, namun ada 1 lagu yang selalu berkesan bagi saya, bahkan saat itu saya sendiri juga heran, mengapa dari sekian lagu yang pernah kami nyanyikan, hanya lagu ini yang berkesan sekali. Lagunya berjudul “Abba Bapa” dari Sympony Music yang diciptakan oleh Robert dan Lea.
Abba, kupanggil Engkau ya Bapa
Nama terindah di dalam hidupku
Lebih dari s’galanya
Abba, kupanggil Engkau ya Bapa
Kau layakkan aku jadi anak-Mu
Memanggil-Mu YesusLebih tinggi dari langit
“Abba Bapa”, composed by Robert & Lea, Album: Abba Ya Bapa (Sympony Music), 1994
Begitulah kasih Bapa
Lebih dalam dari lautan
Engkau mengasihiku
Lebih luas dari bumi
Tak terjangkau pikiranku
Semuanya Kau sediakan bagiku
Yesus ku cinta Kau
Waktu menyanyikan lagu tersebut, kami berdua menikmati sekali lagunya. Bahkan, saya masih ingat betul.. ketika kami berlatih dalam ruang doa di gereja, kami bernyanyi sambil menggoyangkan kepala kami mengikuti irama dan ketika saling berpandangan, kami berdua saling “melempar” senyum. Ternyata nantinya, di waktu-waktu selanjutnya, lagu ini termasuk salah satu lagu yang “menjiwai” perjalanan hidup kerohanian kami berdua, dalam hubungan kami dengan Tuhan Yesus. Itulah yang membuat lagu ini menjadi salah satu lagu spesial bagi kami berdua.
Mulai di tahun itu, kalau saya tidak sedang melayani sebagai pemusik, saya mulai duduk mendekati sahabatku, khususnya saat ibadah pemuda. Sahabatku selalu duduk di posisi yang sama ketika saya pertama kali bertemu dengan dia di ibadah pemuda, yaitu duduk di deretan hampir paling belakang. Denah tempat duduk saat ibadah pemuda di GPdI Rajawali saat itu dapat dilihat pada Foto 2 (semoga jumlah kursinya tidak salah, saya menggambarnya sesuai perkiraan saja). Mungkin denahnya tidak terlalu tepat, tapi kurang lebihnya seperti itu. Yang digunakan hanya deretan bangku yang di depan. Yang ada inisial “GV” itu adalah tempat duduknya sahabatku. Kalau saya bisa datang lebih dahulu dan belum ditempati orang lain, saya akan duduk di posisi yang ada inisial “HH”. Kalau saya tidak mendapatkan posisi itu, biasanya saya mengambil posisi tempat duduk di baris depannya atau baris belakangnya. Itulah tempat duduk favorit kami berdua saat beribadah di ibadah pemuda. Nanti setelah kami berpacaran, posisi tempat duduk tersebut bisa dibilang merupakan “kekuasaan” kami.. he..he..

Foto 2: Denah tempat duduk saat ibadah pemuda di GPdI Rajawali saat itu.
Saya ikut bergabung dan aktif dalam paduan suara pemuda di GPdI Rajawali. Sahabatku yang memimpin paduan suara ini. Pianisnya adalah Henny Fransiska, yang biasa dipanggil dengan Nonik. Sahabatku dan Nonik merupakan “pasangan” serasi dalam paduan suara ini. Walaupun saya juga pemusik, tapi saat itu, saya tidak dapat menggantikan keserasian mereka berdua. Sahabatku meneruskan “tongkat estafet” memimpin paduan suara dari mama. Terus terang, saat itu, saya sungguh menikmati pelayanan di GPdI Rajawali. Entah mengapa.. saya tidak tahu. Yang pasti, bukan faktor karena kami saling mencintai karena saat itu, kami tetap bersahabat. Belum ada benih cinta sama sekali dalam hati kami berdua dan saya juga sudah memastikan kepada Sayangku ketika saya menanyakan hal ini setelah kami menikah. Foto-foto kebersamaan kami berdua dan teman-teman kami di paduan suara dapat dilihat pada Foto 3, Foto 4, dan Foto 5. Foto-foto tersebut diambil saat kami merayakan rangkaian Natal tahun 1996, yaitu perayaan Natal terakhir kami sebagai sahabat karena di tahun berikutnya, kami merayakan Natal sebagai pasangan kekasih. Foto 3 sampai Foto 5 tidak diambil di hari yang sama. Foto 6 adalah foto sahabatku. Sederhana tapi cantik sekali. Foto 7 adalah foto kami bersama teman-teman saat menikmati es krim Zangrandi selepas ibadah.





Pada awal tahun 1997, ada orang baru yang hadir, seorang perempuan yang cantik, menarik, dan termasuk tipe saya juga. Sebut saja namanya nona A (saya tidak mau menuliskan namanya di sini untuk privacy). Waktu itu, saya sedang tidak punya pacar. Ketika melihat nona A, saya tertarik dan berusaha melakukan pendekatan. Tiap selesai ibadah, saya selalu datangi lalu saya ajak untuk mengobrol. Nona A juga merespon saya dan senang mengobrol dengan saya. Tiap kali kami mengobrol, seru obrolannya. Kami sering tertawa-tawa sambil mengobrol. Namun, ternyata, tidak berlangsung lama, hanya beberapa bulan saja. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendekatan ini karena pada obrolan tentang suatu topik, nona A merespon obrolan kami dengan keras dan mulai merendahkan diri saya. Saya kaget waktu itu tapi saya memilih tidak merespon balik dengan keras yang akan berakibat kami bertengkar. Sejak saat itu, saya mulai menarik diri, tidak terlalu mendekati nona A. Ternyata, sahabatku memperhatikan saya dan nona A. Sahabatku tahu kalau saya mengundurkan diri dari nona A, lalu mendekati saya dan menghibur saya yang waktu itu sedang sedih karena gagal lagi melakukan pendekatan.
Setelah kami menikah, saya pernah bertanya kepada Sayangku, “Kapan sih kamu benar-benar mulai jatuh cinta sama aku?” Waktu itu, Sayangku menjawab, “Mau tahu saja..” sambil tersenyum. Eh.. saya jadi penasaran. Lalu saya bertanya lagi dan dijawab dengan jawaban yang sama. Akhirnya saya cemberut. Melihat saya cemberut, ternyata Sayangku suka sekali, katanya, “Kamu tambah cakep kalau cemberut.” Semakin cemberutlah saya. Eh, Sayangku tambah tertawa ngakak. Setelah puas melihat saya semakin cemberut, akhirnya Sayangku baru bercerita. Memang Sayangku seperti itu, suka sekali menggoda saya sampai saya cemberut. Oh.. kangen sekali digoda sama Sayangku.
Ok, balik lagi.
Sayangku cerita sebenarnya Sayangku sudah sempat cemburu sama saya sebelum saya menyatakan isi hati saya. Saya kaget, “Hah.. iya ta?” Saya heran lalu saya tanya, “Berarti kamu sudah jatuh cinta sama aku sebelum itu, ya?”. Sayangku menjawab, “Tidak juga.. cuma waktu itu, ketika aku menyadari kamu sedang mengejar-ngejar nona A, aku cemburu dan tidak terima.” Lalu saya menimpali, “Kan kita belum pacaran waktu itu, cuma bersahabat.” Sayangku menjawab, “Ya memang.. tapi gak tahu kenapa hatiku cemburu dan tidak terima saat kamu selalu mencari nona A tiap selesai ibadah di gereja, melihat kamu berdua mengobrol sambil ketawa-ketawa, padahal menurut aku, kamu tidak cocok sama nona A. Memang nona A itu cantik, sexy, tipe-mu, dan kelihatannya orang baik-baik, tapi ada satu hal yang kalau itu muncul, kamu berdua pasti bertengkar hebat dan tidak akan kembali rukun karena tidak ada yang mengalah.” Begitu kata Sayangku waktu itu. Dan memang benar, walaupun saya tidak pernah cerita kepada Sayangku sebelumnya mengapa saya akhirnya mundur dan tidak mengejar-ngejar nona A lagi, ternyata Sayangku sudah tahu alasannya. Benar-benar Sayangku memahami diri saya seperti apa, walaupun saat itu kami masih bersahabat. Lalu Sayangku cerita, waktu Sayangku tahu saya mulai menarik diri dari nona A, Sayangku sempat khawatir dengan kondisi saya. Itu sebabnya, Sayangku lebih sering mengajak saya mengobrol agar saya dapat melupakan nona A tanpa melukai hati saya. Oh.. luar biasa Sayangku! Sebagai sahabat, Sayangku tahu harus bagaimana tanpa diminta, tepat seperti yang dituliskan pada Amsal 17:17 (TB), “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
Sekitar bulan Februari 1997, tim musik ingin mengadakan suatu acara yang intinya adalah acara khusus untuk pujian dan penyembahan. Lalu, tim musik mengundang beberapa pemuda yang mau diajak untuk bergabung dalam kepanitiaan untuk menghadiri rapat perdana pada pertengahan Februari 1997. Di rapat itu, diputuskan nama acara adalah “Rajawali Memuji”. Ketua panitia adalah saya dan sahabatku bergabung dalam penanggung jawab tim dana. Kami mengadakan acara tersebut dengan modal “nekat” karena dana yang tersedia adalah Rp. 0,00. Sebagai panitia, kami menghitung perkiraan kebutuhan dana dan kami semua melakukan janji iman sebagai “buah sulung” untuk acara “Rajawali Memuji”. Dalam perjalanan kepanitian acara ini, banyak konflik terjadi, mulai dari kesulitan mencari dana hingga konflik antar anggota panitia. Saat itu adalah saat saya stres berat. Lalu pada suatu rapat, setelah anggota panitia sempat “ribut” besar, sebagai ketua panitia, saya hentikan semua keributan dan entah mengapa saya tiba-tiba berkata yang tidak bisa saya hentikan sendiri. Tapi, melalui kata-kata saya itu, akhirnya konflik mereda dan seluruh panitia bersatu hati, bahkan akhirnya kami melakukan doa puasa bersama. Buka puasa dilakukan di gereja secara bersama-sama. Keeratan kami selaku panitia acara luar biasa saat itu. Tuhan telah ikut campur dan membereskan semuanya. Saya sendiri lupa apa yang saya katakan, karena saat itu, saya tidak berkata-kata dengan akal saya, tapi saya hanya menyampaikan apa yang Tuhan taruh di hati saya. Sahabatku juga heran waktu itu ketika mendengar saya dapat berbicara seperti itu. Sempat sahabatku bertanya kepada saya, lalu saya jawab bahwa saya tidak tahu mengapa saya bisa berbicara seperti itu dan saya sampaikan bahwa Tuhan-lah yang sudah beperkara. Setelah kami melakukan doa puasa bersama, mulailah semua jalan terbuka. Perizinan beres. Rancangan acara beres. Bahkan, yang paling kami selaku panitia khawatirkan, yaitu dana, juga beres. Luar biasa Tuhan itu! Akhirnya, acara “Rajawali Memuji” yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 1997 berlangsung sukses. Semua karena Tuhan, bukan karena panitia! Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan, hanya bagi Tuhan! Foto 8 adalah foto dari tim musik. Kebetulan saya hanya memiliki foto dari tim musik. Saya tidak menemukan foto-foto yang lainnya.

Ada satu hal yang sebenarnya cukup aneh saat persiapan acara “Rajawali Memuji”. Ketika tim acara menyusun daftar lagu, entah mengapa, saya meminta lagu “Menikmati Kasih” dimasukkan ke dalam daftar lagu yang akan disampaikan dan lagu itu menjadi puncak lagu penyembahan di acara “Rajawali Memuji”. Ternyata, nantinya, lagu ini juga menjadi lagu spesial kami berdua setelah kami berdua berpacaran dan menikah karena dari hari ke hari, Tuhan telah menarik kami berdua semakin dekat kepada-Nya sehingga kami berdua menikmati indahnya kasih Tuhan setiap hari, baik melalui hubungan kami sebagai pasangan suami-istri maupun hubungan kami berdua dengan Tuhan Yesus.
Saat indah ku berhadapan dengan-Mu
Memandang wajah-Mu, Yesus kekasih jiwaku
(Mendengar suara-Mu, Yesus kekasih jiwaku –untuk bait kedua–)
Bawa daku erat dalam pelukan-Mu
Menikmati kasih dan indahnya hadirat-MuHadirat-Mu Tuhan kurasakan
“Menikmati Kasih”, composed by Lanny Nanlohy & Ir. Djohan Handojo, Album: Masa Penuaian (Sympony Music), 1995.
Kekudusan-Mu Bapa penuhiku
Kurindu selalu diam dalam bait-Mu
Menikmati kasih anug’rah-Mu
Beberapa hari sesudah acara “Rajawali Memuji”, Nafias dan Vivi sahabatku mengunjungi saya di tempat kos untuk melakukan perhitungan akhir penggunaan dana. Nafias berperan sebagai sekretaris dan sahabatku berperan sebagai penanggung jawab tim dana dalam kepanitiaan. Kami bertiga bekerja dan hasil perhitungan kami, ada kelebihan dana. Kelebihan dana ini kami berikan kepada gereja untuk dibelikan gitar akustik yang akan dipakai untuk pelayanan di ibadah sekolah minggu. Puji Tuhan! Dari dana yang Rp. 0,00 menjadi ada kelebihan dana. Luar biasa Tuhan itu!
Nah, saat kami bertiga bekerja bersama ini, Tuhan mulai ber-acara, khususnya kepada saya. Saat itu, hati saya mulai “bergetar” aneh tiap kali dekat dengan sahabatku. Getaran ini bukan perasaan sahabat, tetapi perasaan cinta. Saya sudah kebingungan saat itu. Walaupun senang sekali dekat dengan sahabatku, tapi getaran cinta ini menggelisahkan saya karena sahabatku berusia lebih tua daripada saya dan selisih usia kami cukup lumayan, hampir 6 tahun. Saya berdoa kepada Tuhan agar perasaan saya terhadap Vivi tidak berubah dari sahabat menjadi kekasih. Saya ingin tetap sebagai sahabat saja.
Pada hari minggu, 27 April 1997, setelah ibadah minggu, beberapa panitia yang bisa bergabung, berkumpul di rumah Muteran untuk makan bersama sebagai ucapan syukur akan suksesnya acara “Rajawali Memuji”. Saat itu, saya merasa tambah aneh; semakin menjadi-jadi perasaan cinta saya kepada sahabatku. Saya tambah kalut. Tapi saat di rumah Muteran, saya suka sekali dekat-dekat dengan sahabatku. Bingung sekali saya.. mau menjauhi sahabatku, tapi tidak bisa, malah ingin selalu dekat. Beberapa foto saat syukuran di rumah Muteran dapat dilihat pada Foto 9, Foto 10, dan Foto 11. Di foto-foto itu, terlihat saya berfoto selalu mendekati sahabatku. Saat berfoto itu, saya masih ingat betul, saya senang sekali berdekatan dengan sahabatku.



Yang paling saya sukai dari Sayangku itu adalah kecantikannya, kelembutannya, kesederhanaannya, dan sikap apa adanya. Selama kami berpacaran dan khususnya selama pernikahan kami, Sayangku tidak banyak menuntut kepada saya. Bahkan, ketika saya ingin membelikan/memberikan sesuatu/hadiah kepada Sayangku, saya pasti diminta “konsultasi” dulu sama Sayangku karena saya sering “kebablasan” kalau membelikan/memberikan sesuatu/hadiah. Sayangku pernah bilang, “Aku gak butuh pemberian atau hadiah macam-macam. Nanti kalau aku pengin, aku minta sama kamu. Aku cuma butuh kamu saja. Kalau aku bisa sama-sama kamu terus, aku sudah senang sekali. Itu sudah cukup buat aku.” Tiap kali saya melihat Foto 11, saya selalu terpesona dengan kecantikan dan kesederhanaannya. Di tahun-tahun terakhirnya Sayangku, saat kondisi fisik Sayangku sudah semakin merosot karena digerogoti oleh kanker, saya masih tetap mengagumi kecantikan, kelembutan, kesederhanaannya dan sikap apa adanya itu, sampai-sampai waktu masih sanggup untuk berbicara, beberapa kali Sayangku pernah bilang pada saya, “Matamu gak kebalik, ta? Modelku sudah seperti ini, jelek sekali karena digerogoti kanker, tapi masih kamu bilang kalau cantik.” Saya sendiri tidak tahu mengapa saya tetap mengagumi Sayangku seperti itu. Kalau sekarang, setiap kali saya melihat Foto 11 dan foto-foto Sayangku yang lain, termasuk foto-foto Sayangku saat kondisinya sudah merosot, saya selalu menangis karena saya sangat merindukan Sayangku.
Sejak acara syukuran itu, dari hari ke hari, saya berjuang untuk melawan perasaan cinta saya kepada sahabatku. Tetapi, semakin saya lawan, semakin saya menderita. Bahkan, ketika saya berdoa, memohon kepada Tuhan agar perasaan cinta ini hilang, saya malah menjadi “lawan” dari Tuhan. Tuhan tidak lagi membela saya, tetapi Tuhan malah menjadi musuh saya dan menekan saya dengan amat sangat keras sehingga saya semakin menderita sekali selama 2 minggu. Pada hari minggu sore, tanggal 4 Mei 1997, saya berkunjung ke rumah Muteran untuk menemui sahabatku karena saya sudah sangat gelisah. Ketika saya datang, sahabatku heran sekali, sampai sahabatku menuliskan di buku catatannya: “Henry main ke rumah”. Kami cuma mengobrol lalu saya pulang. Saya masih tetap gelisah. Beberapa hari terakhir dalam 2 minggu itu, saya bahkan tidak bisa tidur sama sekali karena Tuhan semakin menekan saya. Akhirnya, pada hari Jumat, 9 Mei 1997, saya menginap di tempat tinggalnya Nafias, dan ditemani oleh Verry juga. Saya bercerita kepada Nafias dan Verry kalau saya mulai suka dan mencintai Vivi. Mereka terkejut. Akhirnya, setelah mengobrol banyak dengan Nafias dan Verry, malamnya sebelum tidur, saya menyerah kepada Tuhan. Waktu itu saya berdoa demikian, “Biarlah kehendak-Mu yang jadi. Apapun kehendak-Mu, itulah yang terbaik bagiku. Apapun rintangan di depan kami, karena Engkau yang berkehendak, maka Engkau juga akan membereskannya bagi kami berdua.” Setelah saya berdoa demikian, saya langsung bisa tidur dengan nyenyak sekali karena sudah beberapa hari tidak bisa tidur. Keesokan harinya, saat saya bangun pagi, saya sudah jatuh cinta kepada sahabatku sendiri. Saya menerima keadaan ini karena Tuhan yang menghendaki. Sejak saat itu, Tuhan kembali menjadi sahabat saya seperti sebelum-sebelumnya karena saya sudah kembali mengikuti rancangan Tuhan.
Pada hari minggu, 11 Mei 1997, ketika ibadah minggu, saya mulai memperhatikan Vivi, bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai calon kekasih karena saya belum “nembak” Vivi. Saya berencana “nembak” Vivi pada keesokan harinya, tanggal 12 Mei 1997. Selesai ibadah, saya mengajak janji ketemuan pada hari Senin, 12 Mei 1997 sore sambil makan di warung nasi bebek di depan gereja. Vivi mengiyakan tapi sudah mulai curiga melihat gelagat saya waktu itu. Di catatannya, Vivi menuliskan: “sempat kaget kabar dari adik.” Ya, saya selalu dianggap sebagai adik sekaligus sahabat oleh Vivi. Ketika saya memberanikan diri untuk mengajak janji ketemuan itu, saya benar-benar merasa khawatir, saya akan kehilangan sahabat saya kalau ternyata Vivi menolak cinta saya. Tapi, saya pasrah kepada Tuhan. Saya percaya, kalau Tuhan yang berkehendak, Tuhan akan menolong dan menuntaskan semuanya sehingga pada akhirnya semua menjadi amat sangat baik sekali.
Keesokan harinya, pada sore hari, saya menjemput Vivi dari kantornya lalu membawa Vivi ke gereja. Di gereja, saya titipkan sepeda motor saya, lalu saya mengajak Vivi ke warung nasi bebek di depan gereja. Kami berdua memesan nasi ayam goreng karena ternyata kami berdua sama-sama tidak suka bebek. Sambil menunggu pesanan, dengan perasaan deg-degan, saya mulai berbicara kepada Vivi kalau saya jatuh cinta dengannya. Vivi sudah menduga itu sehingga ketika saya melihat reaksinya, Vivi tidak terlalu kaget. Lalu Vivi bilang kalau dia belum bisa menjawab saat itu, biar waktu yang menentukan nantinya. Saya menerima keputusan Vivi. Dan Vivi juga bercerita kalau saat itu dia juga sedang pendekatan dengan seorang laki-laki lain yang sudah bekerja dan mapan –Vivi sebutkan namanya, tapi saya tidak akan menuliskan namanya di cerita ini untuk menjaga privacy–. Sebenarnya, saya langsung minder saat itu begitu mendengar kalau Vivi sedang pendekatan dengan laki-laki tersebut karena saya pasti kalah kalau dibandingkan dengan laki-laki itu. Saya hanya mampu mentraktir Vivi dengan nasi ayam goreng di warung sederhana sedangkan laki-laki tersebut mampu mentraktir Vivi di restoran mahal yang makanannya jauh lebih enak. Ternyata Vivi mengetahui kalau saya mulai minder. Lalu Vivi menguatkan saya agar saya tidak perlu khawatir karena Vivi juga akan berdoa kepada Tuhan terlebih dahulu sebelum memutuskan akan “jalan” dengan saya atau dengan laki-laki itu. Saya menjadi lebih tenang saat itu. Selesai makan, kami berdua kembali ke gereja untuk mengambil sepeda motor saya. Lalu saya mengantar Vivi pulang ke rumah Muteran. Setelah itu, saya pulang ke tempat kos saya sambil harap-harap cemas akan jawabannya Vivi. Pada hari minggu, 18 Mei 1997, sore harinya, saya mengajak keluar Vivi untuk nge-date dengan menonton film yang berjudul “Liar-liar” yang dibintangi oleh Jim Carrey. Vivi bersedia untuk nge-date dengan saya. Saya gembira sekali. Berarti ada harapan kalau Vivi akan menerima cinta saya. Eh, by the way, kok saya bisa hafal tanggal dan judul film-nya? Ini bukan saya yang hafal tetapi karena Vivi menuliskan di buku catatannya: “Liar-liar sama Henry”. Jadi saya terbantu mengingat detil peristiwa dari buku catatannya Vivi yang sengaja ditinggalkan untuk saya.
Setelah kami menikah, saya pernah bertanya kepada Sayangku tentang bagaimana kelanjutannya setelah saya “tembak” dan saya antar pulang ke rumah. Waktu itu Sayangku bercerita saat tiba di rumah, mama heran Sayangku pulang diantar saya. Lalu Sayangku cerita ke papa dan mama kalau saya baru saja menyatakan cinta kepada Sayangku. Papa dan mama kaget. Mama sampai bilang, “Kok bisa?” Lalu mereka bertiga tertawa bersama sambil tidak habis pikir kok bisa saya jatuh cinta sama Sayangku. Mama sebenarnya berharap kalau saya mendekati Fay, tapi ternyata saya malah jatuh cinta sama Sayangku. Akhirnya, baik Sayangku maupun mama, sama-sama tidak bisa tidur malam itu. Sayangku cerita, kalau Sayangku terus menerus memikirkan perkataan saya. Pengakuannya Sayangku, dalam hati sebenarnya Sayangku juga mulai muncul rasa “aneh” setelah acara “Rajawali Memuji”. Bahkan ketika Sayangku bersama Nafias berkunjung ke tempat kos saya, Sayangku senang sekali bertemu saya. Tapi, oleh Sayangku, perasaan itu diabaikan saja karena Sayangku menganggap saya sebagai adik dan sahabat. Ketika saya “nembak”, Sayangku mulai memikirkan perasaan ini lagi tetapi Sayangku takut akan apa yang terjadi nantinya kalau Sayangku menerima cinta saya. Di tengah kegalauan, Sayangku berdoa kepada Tuhan dan pasrah kepada kehendak Tuhan. Jadi, respon Sayangku lebih baik daripada saya. Saya melawan kehendak Tuhan hingga Tuhan menjadi “musuh” saya dan saya sangat menderita selama 2 minggu tetapi kalau Sayangku, malam itu juga langsung menyerah kepada Tuhan. Itu sebabnya, Sayangku tidak perlu menderita seperti saya.
Lalu Sayangku melanjutkan cerita. Sayangku khawatir dengan dua hal kalau menerima cinta saya. Pertama, hubungan kami akan sulit karena akan banyak yang menentang kami dengan alasan Sayangku lebih tua dari saya dan beda usia kami cukup lumayan. Sayangku khawatir apakah saya mampu menghadapi itu semua? Kalau saya mampu, Sayangku berjanji dalam hati bahwa Sayangku akan bertahan at any cost untuk menjaga hubungan cinta kasih kami berdua. Kedua, Sayangku mempunyai masa lalu yang akan membuat saya kecewa saat saya mengetahuinya. Sayangku khawatir kalau saya tidak dapat menerima masa lalu Sayangku kemudian saya meninggalkan Sayangku. Akhirnya, Sayangku mengambil keputusan untuk menceritakan masa lalunya kepada saya sekaligus menguji saya apakah saya dapat menerima masa lalunya. Sayangku berdoa terus untuk kekhawatiran ini sambil melakukan wait-and-see. Jadi, Sayangku belum akan menjawab saya sampai saya mengambil keputusan terhadap kekhawatiran Sayangku yang kedua. Untuk kekhawatiran Sayangku yang pertama, Sayangku benar-benar menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Jadi, Sayangku akan mengambil keputusan apakah akan menerima cinta saya atau tidak berdasarkan respon saya terhadap masa lalunya. Setelah berdoa terus menerus, Sayangku diteguhkan Tuhan untuk menguji saya dengan menceritakan masa lalunya secara detil dan lengkap kepada saya.
Seingat saya, pada bulan Juni 1997, sebulan setelah saya menyatakan isi hati saya, Vivi memberanikan diri untuk bercerita masa lalunya kepada saya. Mengapa Vivi berani bercerita masa lalunya itu? Selain telah diteguhkan oleh Tuhan, Vivi berani bercerita karena saya selalu bilang, “Selama kita melakukan penjajakan ini, sampai nanti kalau kita jadi menikah, bahkan seumur hidup kita, jangan ada hal yang kita sembunyikan. Kita berdua harus selalu jujur satu dengan yang lain walaupun itu beresiko kita bertengkar, marah, kecewa, dan hal-hal negatif lainnya.” Pertimbangan lainnya, Vivi ingin saya mendengar masa lalunya dari Vivi sendiri, bukan mendengar dari orang lain. Sebelum bercerita, Vivi berkata kepada saya, “Henry, sebelum kita melanjutkan hubungan kita lebih jauh lagi, aku ingin ceritakan masa laluku yang mungkin akan membuat kamu terkejut. Akan aku ceritakan semuanya dengan detil supaya kamu tahu masa laluku secara lengkap dari mulutku sendiri, bukan dari kata orang lain. Setelah kamu mendengarkan semuanya, terserah kamu, apakah masih mau melanjutkan hubungan kita atau cukup sampai di sini dan kita hanya bersahabat saja.” Akhirnya, Vivi bercerita masa lalunya secara detil sekali, walaupun itu bagi saya, awalnya mengejutkan dan mengecewakan.
Saya tidak perlu menceritakan masa lalunya di sini karena itu masa lalu dan sudah ditutup oleh cinta kasih kami berdua. Semua masa lalu itu sudah selesai dan ditutup bersama oleh kami berdua sehari setelah Vivi bercerita kepada saya dengan detil. Kasih menutupi segala sesuatu.. “Ia (kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” – 1 Korintus 13:7 (TB)
Setelah menyelesaikan ceritanya, Vivi harap-harap cemas, menunggu reaksi saya. Ternyata saat itu, saya kecewa sekali. Saya sempat mengutarakan kekecewaan saya kepada Vivi. Vivi cuma bisa terdiam. Pada akhirnya, saya mengambil keputusan untuk mengakhiri penjajakan ini.. cukup bersahabat saja. Vivi ternyata sudah menyiapkan diri mendengar keputusan saya itu. Vivi menerima keputusan saya itu dengan berkata, “Aku sudah pasrah. Aku serahkan semua keputusan kepadamu. Aku menurut saja sama kamu.”
Selanjutnya, saya pulang ke tempat kos saya, sambil marah dan kecewa. Tetapi ternyata, Tuhan tidak tinggal diam. Saat malam saya berdoa, Tuhan beperkara dan menegur saya dengan menaruh perkataan dalam hati saya, “Apa yang kamu cari dari Vivi? Mengapa kamu jatuh cinta sama Vivi? Coba kamu ingat segala kebaikan Vivi. Kebaikan Vivi jauh lebih besar daripada apa yang terjadi pada masa lalunya. Lagipula, sebenarnya, masa lalu Vivi itu sama seperti dosa-dosamu di hadapan-Ku. Ketika kamu berbalik kepada-Ku, kamu seperti orang yang kotor, lusuh, tidak layak untuk datang kepada-Ku, tapi Aku malah menghampirimu dan memelukmu.. menerima kamu apa adanya. Apakah kamu tidak bisa melakukan itu untuk Vivi?” Saat itu saya menangis. Saya menyesali kebodohan besar yang saya perbuat karena telah mengambil keputusan yang mengakhiri hubungan kami berdua. Saya mohon ampun sama Tuhan sambil berkata, “Tuhan, aku bodoh sekali. Aku menyesal sekali karena telah mengambil keputusan yang salah. Aku cari Vivi, aku jatuh cinta sama Vivi. Aku mau Vivi.. tidak perduli dengan keadaan apapun dan kondisi apapun.. hanya Vivi yang apa adanya.” Lalu saya melanjutkan, “Tuhan, besok malam aku akan ke rumahnya Vivi lagi, minta maaf dan mengajak untuk melanjutkan berpacaran sampai menikah nanti dan sampai maut memisahkan kami berdua. Kalau perlu, aku akan memohon kepada Vivi karena ini salahku. Tuhan, tolonglah diriku.”
Besok sorenya, saya sungguh datang ke rumah Muteran. Saat itu, Vivi kaget melihat saya datang. Tidak menyangka kalau saya datang lagi. Saya cerita kalau kemarin malam saya ditegur Tuhan dan saya sudah memperbaharui komitmen saya dengan Tuhan kalau saya cari Vivi, kalau saya jatuh cinta sama Vivi apa adanya, tidak perduli dengan kondisi dan keadaan apapun, termasuk masa lalu yang membuat saya kecewa itu. Saya berkata kepada Vivi, “Aku minta maaf karena aku bodoh sekali. Aku mau menerima kamu apa adanya! Kalau kamu bersedia, aku ingin mengajak kamu berpacaran lagi, lanjut sampai menikah, dan sampai maut memisahkan kita berdua. Aku mohon kepadamu, maafkan aku yang bodoh ini.” Saat itu, saya lihat mata Vivi berkaca-kaca, senyumnya mengembang. Vivi bersedia melanjutkan berpacaran dengan saya. Puji Tuhan! Saya senang sekali malam itu. Dan juga, sejak malam itu, kami mengubah cara kami memanggil masing-masing. Kalau sebelum malam itu, kami masih memanggil masing-masing dengan nama, sejak malam itu, kami sepakat untuk memanggil dengan “Sayang” atau “Honey” sebagai ungkapan panggilan sayang. Oh, sungguh indah pengampunan itu. Dari kejadian ini, saya belajar lebih dalam lagi tentang pengampunan Tuhan dan menjadi paham bagaimana hati Tuhan saat Tuhan mengampuni manusia berdosa yang bertobat dan berbalik kepada-Nya, seperti yang Tuhan Yesus sampaikan melalui perumpamaan “Anak yang hilang” dalam Lukas 15:11-32. Tuhan itu memang sungguh amat sangat baik!
Sayangku melanjutkan bercerita waktu saya tanya kelanjutannya setelah saya “nembak”. Sejak saat saya menyatakan bahwa saya mau menerima Sayangku apa adanya, tidak perduli terhadap masa lalu itu, Sayangku benar-benar 100% jatuh cinta sama saya. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, sebenarnya, saat saya menyatakan cinta saya kepada Sayangku pada tanggal 12 Mei 1997, Sayangku sedang melakukan penjajakan dengan laki-laki lain. Kalau saya dibandingkan dengan laki-laki tersebut, saya tidak ada apa-apanya. Saya masih kuliah, masih bergantung pada orang tua, belum punya apa-apa, apalagi dikatakan mapan, sedangkan laki-laki tersebut sudah mapan, sudah punya mobil, bisa mentraktir di restoran mahal, dan melakukan banyak hal yang tidak terjangkau oleh kemampuan saya saat itu. Bahkan, saya sempat membaca catatan pribadi Sayangku tentang laki-laki itu. Beberapa kali Sayangku menulis di catatannya bahwa laki-laki itu “okey”, mengesankan, dan sebagainya. Jadi, kalau saya ditandingkan head-to-head dengan laki-laki itu, saya pasti kalah telak. Itu sebabnya, di awal penjajakan dengan saya, Sayangku belum “melepaskan” laki-laki itu. Tetapi, karena komitmen saya yang mau menerima Sayangku apa adanya, pada malam itu juga, Sayangku langsung memutuskan untuk lanjut menjadi kekasih saya dan mengakhiri penjajakan dengan laki-laki tersebut.
Setelah Sayangku bercerita tentang masa lalunya, giliran saya “membereskan” masa lalu saya. Sekitar sebulan kemudian, saya membuka “kotak pandora” saya lalu saya tunjukkan isinya kepada Sayangku. “Kotak pandora” itu isinya foto dan surat korespondensi saya kepada teman perempuan saya sewaktu SMA yang waktu itu saya taksir lalu saya lanjutkan dengan mencoba untuk penjajakan, tapi officially kami belum berpacaran. Sayangku sudah tahu ceritanya karena saya sudah pernah menceritakan kisah ini saat kami masih bersahabat. Waktu itu, saya bercerita kepada Sayangku karena saya sedang sedih dan “down” setelah saya memutuskan untuk menghentikan penjajakan dengan teman perempuan saya itu. Sayangku sempat menghibur saya waktu itu. Nah, ketika Sayangku melihat “kotak pandora” saya, Sayangku bertanya, “Apa aku boleh melihat-lihat isinya?” Saya menjawab, “Silakan. Memang aku tunjukkan supaya kamu dapat melihat-lihat isinya.” Lalu Sayangku melihat-lihat isinya, mulai dari foto, surat, hingga catatan yang saya tulis terkait perasaan saya terhadap teman perempuan saya itu. Komentar pertama Sayangku: “Temanmu ayu, ya.. Kamu ternyata suka sekali sama perempuan cantik dan sexy. Tipe perempuan yang kamu taksir ternyata seperti ini.” Ha..ha.. kok malah itu komentar pertamanya. Lalu saya menimpali, “Tipenya kurang lebih mirip seperti kamu, ya? Aku memang suka tipe perempuan yang seperti kamu.” Kemudian saya melanjutkan, “Berarti, kalau aku suka sama kamu, itu artinya kamu itu cantik dan sexy.” Saat itu, Sayangku langsung tersipu, pipinya memerah. Senang sekali saya melihat Sayangku yang sedang tersipu dan memerah pipinya. Sayangku jadi tambah cantik, bikin hati saya tambah klepek-klepek. Setelah membaca semua surat dan catatan, Sayangku berkomentar lagi, “Memang temanmu ini tipemu, tapi kamu tidak cocok dengan dia. Mami benar.” Sayangku tahu ini karena saya juga pernah cerita kalau mami pernah berkomentar bahwa saya dan teman perempuan saya itu tidak cocok. Setelah Sayangku selesai melihat foto dan membaca semua surat dan catatan itu, saya mulai merobek foto, surat, dan catatan itu. Sayangku terkejut lalu bertanya, “Lho.. kok disobek begitu?” Saya menjawab, “Ya, sengaja aku sobek supaya pikiran, perasaan, hati, dan fokusku 100% ke kamu.” Sayangku tersenyum manis saat itu.
Pada wakuncar (waktu kunjungan pacar) saya selanjutnya, tiba-tiba Sayangku minta izin kepada saya untuk ke kamarnya. Saya mengiyakan. Tak lama kemudian, Sayangku keluar dari kamarnya sambil membawa suatu kotak. Ternyata itu “kotak pandora”-nya Sayangku. Lalu, Sayangku menyerahkan “kotak pandora” itu kepada saya sambil berkata, “[Sa]Yang, kotak itu isinya semua masa laluku yang sudah pernah aku ceritakan kepadamu di awal kita berpacaran. Silakan kalau kamu mau melihat-lihat. Di situ ada foto-foto, surat-surat, dan catatan-catatan yang terkait masa laluku itu.” Saya buka kotaknya, lalu saya mulai melihat-lihat foto dan membaca semua surat serta catatan yang ada. Saat saya sudah membaca sebagian surat dan catatan yang ada di kotak tersebut, Sayangku bertanya, “Kamu gak apa-apa, [Sa]Yang? Kamu gak marah, [Sa]Yang?” Saya menjawab, “Tidak. Aku sudah menerima kamu apa adanya. Kamu tidak perlu khawatir, Honey. Aku malah senang karena kamu tunjukkan semuanya itu kepadaku.” Setelah saya selesai melihat-lihat foto dan membaca semua surat serta catatan yang ada, Sayangku mulai merobek foto, surat, dan catatan-catatan itu sampai habis semua, sambil berkata, “Masa laluku sudah aku musnahkan, [Sa]Yang. Aku sekarang sudah tidak dihantui lagi oleh masa laluku. Mulai sekarang, aku bisa 100% fokus sama kamu tanpa dihantui masa laluku lagi.” Ya, setelah sekitar 2 bulan kami berpacaran, kami melepaskan semua masa lalu kami dan fokus ke masa depan kami.
Pada awal bulan Agustus tahun 1997, saya memberanikan diri untuk mengajak Sayangku masuk ke tahap yang lebih serius. Waktu itu saya berkata kepada Sayangku, “Honey, walaupun kita baru 3 bulan berpacaran tapi dari hari ke hari aku merasa semakin mantap dengan kamu. Kalau kamu juga merasakan hal yang sama, bagaimana kalau kita mulai melangkah yang lebih serius dalam hubungan kita? Maksudnya, aku ingin mengajak kamu untuk berpacaran dalam rangka persiapan ke arah pernikahan. Tapi, untuk menikah, aku minta kamu bersabar, ya.. aku harus sudah bekerja dulu karena aku malu sekali kalau aku menikahi kamu tapi aku belum bekerja, nanti malah aku yang bergantung padamu. Kalau seperti itu, aku bisa depresi, kehilangan harga diriku sebagai seorang lak-laki.” Waktu mendengar ajakan saya, raut wajah Sayangku langsung berubah menjadi ceria, senang sekali. Lalu Sayangku berkata, “Aku kok juga merasakan hal yang sama, [Sa]Yang. Aku sebenarnya juga ingin bicara hal yang sama dengan kamu tapi malah kamu yang mendahului bicara itu. Aku mau, [Sa]Yang. Aku juga mau menunggu kamu sampai kamu sudah bekerja nanti. Tapi kalau bisa, usahakan cepat lulus kuliah, ya.. biar kamu cepat bekerja dan kita bisa menikah.” Saat itu, saya senang sekali. Gayung bersambut. Selanjutnya, Sayangku bertanya kepada saya, “[Sa]Yang, kalau kita pakai cincin, apa kamu mau?” Saya bertanya balik karena bingung, “Cincin apa, ya?” Sayangku menjelaskan, “Cincinnya itu bertuliskan nama kita masing-masing. Kamu pakai cincin yang bertuliskan namaku dan aku pakai cincin yang bertuliskan namamu. Cincin itu sebagai tanda kalau kita sudah sepakat untuk melanjutkan hubungan cinta kasih kita ke arah yang lebih serius.” Saya menyetujuinya. Itu sebabnya, pada tanggal 17 Agustus 1997, kami mulai mengenakan cincin yang bertuliskan nama masing-masing. Nanti setelah kami menikah, karena kami sudah mengenakan cincin pernikahan, cincin yang kami kenakan saat kami berpacaran itu, kami jual kembali. Kami tidak menyimpan cincin tersebut karena kami sudah menggantinya dengan cincin pernikahan.
Untuk sementara, ceritanya saya sudahi dulu sampai di bulan Agustus 1997 karena sudah terlalu panjang. Kelanjutan cerita yang mulai September 1997 dan seterusnya akan saya ceritakan pada episode-episode berikutnya.
Namun, sebelum saya mengakhiri episode kelima ini, saya ingin menceritakan “behind the scene” dari episode kelima ini. Sangat sulit bagi saya untuk menuliskan episode kelima dan seterusnya karena saya kehilangan ingatan dan “rasa” dari momen kebersamaan kami berdua. Setelah saya berulang-ulang mencoba untuk menulis, akhirnya saya mendapatkan kembali ingatan dan “rasa” tersebut. Saya ingin menceritakan bagaimana ingatan spesial saya akan momen kebersamaan kami berdua muncul kembali setelah saya lupa bagaimana sebenarnya detil rasa atau sensasi yang saya rasakan saat kami menikmati momen kebersamaan kami.
Saya mulai menuliskan episode kelima ini setelah dua bulan Sayangku tiada. Cara saya menuliskan episode kelima ini berbeda dengan empat episode sebelumnya. Kalau di empat episode sebelumnya, saya menuliskan dengan urut hingga selesai, namun di episode kelima ini, saya menuliskannya per bagian dan tidak urut. Setelah semuanya selesai, baru saya urutkan menurut waktu kejadian dan alur cerita dalam penulisan. Ada juga beberapa bagian yang saya “letakkan” di episode-episode berikutnya untuk kesesuaian timeline dan cerita. Nah, ketika saya mulai menuliskan per bagian, saya mulai ingat satu per satu rasa atau sensasi yang saya rasakan saat kami berdua sedang menikmati momen kebersamaan kami. Sejak Sayangku tiada, saya sebenarnya lupa akan semua sensasi-sensasi itu; seolah-olah saya sudah “mati rasa”. Saya hanya bisa mengingat kalau saya pernah memeluk, mencium, berpegangan tangan, mengelus, berbisik, dan apa saja yang biasa kami lakukan saat kami menikmati momen kebersamaan kami, tapi saya tidak ingat rasa atau sensasinya di panca indera saya. Rasa atau sensasi pertama yang mulai saya ingat itu adalah sensasi saat tangan saya menyentuh kulitnya Sayangku, yaitu, sensasi saat kami berpegangan tangan dan sensasi saat saya mengelus tubuhnya Sayangku. Saat saya mulai dapat mengingat itu, saya bahagia sekali karena saya bisa merasakan Sayangku kembali walaupun hanya di ingatan saya. Sensasi berikutnya yang muncul adalah sensasi akan bau tubuhnya Sayangku. Senang sekali saya bisa mengingat bagaimana bau tubuhnya Sayangku. Sensasi bau tubuhnya Sayangku langsung membuat saya sangat merindukan Sayangku.
Selanjutnya, di suatu malam, setelah saya kelelahan menuliskan salah satu bagian dari episode kelima ini, saya tertidur. Saat saya tertidur, saya bermimpi tentang Sayangku. Di mimpi itu, saya baru datang dari bepergian yang jauh dan cukup lama kami berpisah. Ketika saya sampai di rumah, ternyata Sayangku sudah membuka sekolah taman kanak-kanak (TK) di rumah kami. Saat saya masuk ke rumah, saya melihat Sayangku dan beberapa guru sedang mengajar sambil bermain dengan anak-anak TK. Sayangku berperan sebagai pengurus sekolah sekaligus menjadi salah satu guru di sekolah itu. Siswanya memang tidak banyak, tapi saya menyaksikan guru-guru, termasuk Sayangku, dan anak-anak sangat bergembira dan menikmati proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Lalu saya duduk di salah satu sofa yang tersedia sambil menikmati suasana pembelajaran yang indah itu bersama dengan para orang tua yang menunggui anak-anaknya. Sayangku tersenyum kepada saya ketika melihat saya datang lalu memberikan isyarat bahwa nanti setelah selesai proses pembelajaran itu, Sayangku akan menemui saya. Setelah anak-anak, orang tua, dan guru-guru pulang, Sayangku menghampiri saya yang masih duduk di sofa lalu duduk di pangkuan saya dan merebahkan tubuhnya dalam pelukan saya. Kepalanya diletakkan di dada kiri saya sambil membiarkan saya melingkarkan tangan kiri saya ke bahunya untuk menarik Sayangku lebih dalam lagi dalam pelukan saya.
Posisi ini adalah salah satu posisi favorit kami saat kami sedang menikmati momen kebersamaan kami. Ada versi lain dari posisi ini, yaitu: saat saya berbaring di tempat tidur, Sayangku mengambil posisi di sebelah kiri saya, lalu merebahkan tubuhnya menempel di bagian kiri dari tubuh saya. Kepalanya direbahkan di dada kiri saya sambil tangan kirinya diletakkan dada kanan saya. Tangan kiri saya melingkar di belakang pundak dan leher Sayangku lalu memeluk Sayangku. Jadi, di versi lain ini, Sayangku seolah-olah menjadikan dada kiri saya sebagai “bantal”. Posisi ini menjadi posisi paling favorit kami berdua karena dengan posisi ini, kami berdua benar-benar dekat sekali. Kami bisa merasakan sensasi sentuhan dari kulit kami masing-masing, bisa mencium bau tubuh kami masing-masing, bisa dengan perlahan melakukan bisikan sayang, dan banyak hal lain yang merupakan intimacy kami berdua. Posisi ini, baik versi duduk maupun versi di tempat tidur, merupakan posisi favorit kami ketika kami saling bercerita banyak hal, misalnya kejadian yang kami masing-masing alami di sepanjang hari. Oh.. menyenangkan sekali.. setiap hari kami selalu berusaha menyempatkan diri untuk berposisi ini, sebisa kami. Ada lagi posisi momen kebersamaan favorit kami yang lain dan biasanya itu posisi favorit kami saat kami saling meminta maaf dan memaafkan setelah kami berkonflik/bertengkar. Untuk lebih detilnya, akan saya ceritakan di episode yang lain.
Balik kembali ke mimpi saya. Saat kami sudah berposisi seperti itu, kami mulai melepas rindu kami berdua karena sudah lama tidak bertemu dengan bercerita banyak hal. Setelah kami puas bercerita, kami berdua terdiam beberapa saat sambil menikmati pelukan kami berdua. Kemudian, kami mulai berciuman. Nah, saat kami berciuman itu, saya terbangun dari tidur lalu mulai mencari Sayangku. Ternyata tidak ada.. hanya mimpi. Tetapi dari mimpi itu, saya langsung ingat rasa dan sensasi saat kami berciuman. Oh.. bahagia sekali rasanya.. saya akhirnya kembali mengingat rasa dan sensasi saat kami sedang berciuman padahal sudah dua bulan lebih saya berusaha mengingat itu tapi tidak pernah bisa. Selain itu, saya kembali ingat rasanya ketika kami melakukan ciuman “gemas”, maksudnya, ciuman yang cepat dan berulang-ulang sambil tertawa-tawa. Ciuman “gemas” ini biasa kami lakukan kalau salah satu dari kami atau kami berdua sedang gemas terhadap satu dengan yang lainnya. Rasa gemas kami biasanya muncul karena kangen, setelah kami saling menggoda, melihat tingkah laku pasangan yang lucu menggemaskan yang biasanya karena sedang ngambek, setelah bercerita lucu, atau lainnya yang terkait dengan intimacy kami berdua.
Terima kasih, Tuhan.. saya sudah dapat mengingat kembali rasa dan sensasi saat kami berdua sedang menikmati momen kebersamaan kami. Rasa dan sensasi ini merupakan salah satu penghiburan saya ketika saya sangat merindukan Sayangku. Saya memohon kepada Tuhan, agar saya tidak pernah lupa lagi akan rasa dan sensasi ini hingga nanti saya pulang, menyusul Sayangku, kepada Tuhan.
Tuhan semesta alam telah bersumpah, firman-Nya: ”Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?
Yesaya 14:24, 27 (TB)
Sebelum benar-benar saya akhiri cerita episode kelima ini, saya kutip kembali Yesaya 14: 24,27 (TB) yang sudah saya tuliskan di awal cerita. Ayat inilah yang Tuhan kerjakan dalam diri kami berdua; Tuhan mempunyai rancangan indah untuk kami berdua dan Tuhan melaksanakan rancangan itu. Kalau Tuhan mempunyai rencana, siapa yang dapat menggagalkan rencananya? Itulah yang kami alami dan rasakan selama ini. Nanti di episode-episode selanjutnya, teman-teman akan tahu apa yang saya maksudkan.
Sampai di sini episode kelima dari serial “Memoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean“. Memoar ini akan saya lanjutkan di episode keenam yang melanjutkan cerita tentang waktu-waktu terbaik dalam hidup kami berdua. Salam damai sejahtera bagi kita semua! Tuhan Yesus memberkati! Amin!
Disclaimer: Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Sayangku. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Sayangku.