Bila Engkau tak besertaku
Ku tak mau berjalan
Ku perlu Tuhan pimpin langkahku
Dengan kasih karunia-MuPimpin langkahku setiap waktu
“Bila Engkau Tak Besertaku”, diterjemahkan oleh Welyar Kauntu dari lagu “May Your Presence Go with Us” by Don Moen.
Berjalan dalam Roh-Mu
Nyatakan Tuhan kemuliaan-Mu
Dan berjalanlah denganku
Salam jumpa dengan saya, Henry Hermawan.. dan saya adalah suami dari Sayangku, Grace Viviana Tandean.
Sebelumnya, saya berencana menggabungkan episode ini ke episode inti dari “The Best Time in Our Life” bagian pertama, namun, saat saya menceritakan bagian ini ke anak saya, Sarabeth, ternyata panjang juga ceritanya.. saat itu Sarabeth bertanya, “Papa mau cerita bagian ini juga? Panjang lho, pa..” Akhirnya saya putuskan untuk menceritakan bagian ini di episode “prolog”. Sengaja saya tetap memutuskan untuk menceritakan bagian ini kepada teman-teman karena bagian “prolog” inilah yang menjadi dasar dari perjalanan hidup saya pribadi dan juga yang “mempengaruhi” perjalanan hidup Sayangku setelah Sayangku bersedia untuk menjadi pasangan hidup saya.
Ok, saya mulai ceritanya..
Sebagai awal dari episode keempat ini, saya ingin menuliskan suatu quote berikut ini:
Karena penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan, rancangan saya “dibelokkan” oleh Tuhan untuk bertemu dengan Sayangku.
Kalau dilihat dari quote tersebut, tertulis “rancangan saya”.. ya, memang benar.. cerita ini memang menyorot ke rancangan masa depan yang saya rancang sendiri dan ternyata, rancangan saya tidak sama dengan rancangan yang sudah Tuhan tetapkan bagi saya, sehingga pada akhirnya, saya “dibelokkan” Tuhan supaya rancangan Tuhan-lah yang berlaku dalam hidup saya. Saya tidak pernah menyesali ini. Walaupun rancangan saya “dibelokkan” Tuhan, tidak sesuai dengan apa yang saya mau, ternyata rancangan Tuhan itu yang terbaik. Lalu, pertanyaannya, mengapa Tuhan sepertinya “memaksakan” rancangan-Nya kepada saya? Nah, itulah yang akan saya ceritakan pada episode ini.
Mungkin “memaksakan” bukan kata yang tepat di sini, mungkin ada kata lain yang lebih tepat, tapi saya belum menemukan kata yang tepat itu. Nanti teman-teman akan mengetahui mengapa demikian setelah teman-teman membaca episode keempat ini sampai selesai.
Cerita ini saya mulai ketika saya masih kelas V SD. Waktu itu, di hari minggu, saya mengikuti ibadah sekolah minggu di GPdI Eben Haezer, Kudus. Saat itu, saya berada di kelas Lukas, kelas sekolah minggu yang diperuntukkan bagi anak-anak kelas V sampai VI SD. Setelah puji-pujian, selalu dibuka ruang kesaksian. Kalau di ibadah sekolah minggu, ruang kesaksian ini bukan berarti anak-anak diminta menceritakan kebaikan Tuhan yang sudah dialami.. tentu saja, bagi anak-anak itu suatu hal yang sulit.. sampai saat saya menceritakan/menuliskan cerita ini, saya saja yang sudah dewasa, yang sudah punya tiga anak yang sudah mulai dewasa, sulit untuk bersaksi.. kadang tidak tahu harus cerita apa, padahal kalau saya mengajar di kelas kuliah, lancar.. he..he.. ok, balik lagi. Pada ibadah sekolah minggu itu, ruang kesaksian diisi oleh anak-anak yang secara perseorangan atau berkelompok maju ke mimbar lalu menyanyikan pujian bagi Tuhan. Biasanya, saya nomor satu yang menyanyi di depan. Begitu dibuka ruang kesaksian, saya langsung segera lari ke mimbar, berlomba dengan teman-teman yang lain yang ingin duluan juga.. dan biasanya saya yang menang.. he..he.. Setelah selesai “bersaksi” di mimbar, saya kembali duduk di lokasi tempat duduk untuk kelas Lukas sambil menonton teman-teman saya yang lain yang sedang “bersaksi” juga. Nah, saat itu, tiba-tiba ada yang berbicara dengan saya, katanya, “Siapa nanti yang akan menggantikan Ko Ping-Ping main electone di gereja?”.. O, ya, Ko Ping-Ping itu siapa? Ko Ping-Ping –nama lengkapnya, Yesaya Pingastono– itu adalah anak kedua dari Bapak Gembala (Pdt. Yusak Setioputro) di GPdI Eben Haezer, Kudus, yang saat itu sedang mengiringi ibadah sekolah minggu dengan electone. Begitu saya mendengar suara itu, saya mencari asal suara itu tapi saya tidak menemukan sumbernya. Saya heran, saat itu di sekitar saya sedang tidak ada orang yang dekat sama saya, tapi kok ada suara yang bertanya sama saya. Entah mengapa, akhirnya saya merespon suara itu. Saya lihat teman-teman saya satu per satu sambil mencari siapa yang kira-kira bisa main electone. Ternyata tidak satupun. Lalu saya menjawab pertanyaan tersebut, “Kalau tidak ada yang bisa main electone, saya saja.” Padahal, saat itu saya belum belajar bermain alat musik apapun. Lalu, suara itu menghilang.
Cerita berlanjut.. kalau yang ini, papi yang cerita ke saya puluhan tahun setelahnya.. saya sendiri tidak tahu mengapa papi tiba-tiba cerita hal ini. Mungkin kalau sekarang tanya ke papi, papi sendiri lupa apakah pernah cerita ini ke saya atau bahkan lupa ceritanya seperti apa. Tapi saya benar-benar ingat persis ceritanya karena cerita ini mengejutkan saya dan memberikan ke saya “benang merah” atau penghubung ke cerita berikutnya. Ok, ceritanya demikian..
Saat saya naik dari kelas VI SD ke kelas I SMP (kalau sekarang kelas VII), kami mendapatkan undangan untuk menghadiri klinik/demo musik dari sekolah musik lisensi Yamaha di Kudus, yaitu Wisma Musik Harapan. Papi, saya, dan adik saya, Lili, menghadiri klinik/demo musik tersebut. Nah, papi cerita, selama acara berlangsung, saya tidak bisa tenang.. selalu gelisah.. duduk seperti ada “api” di tempat duduk saya. Lalu, begitu acara selesai, waktu diajak pulang, saya tidak mau. Diajak lagi untuk pulang, tetap tidak mau. Saya baru mau pulang kalau didaftarkan untuk ikut kursus electone di sekolah musik tersebut. Papi membujuk saya untuk pulang dulu, nanti didaftarkan, tapi saya tetap tidak mau pulang. Saya baru mau pulang kalau didaftarkan saat itu juga. Papi heran sekali, saya tidak biasanya seperti itu.. ngotot, harus dituruti. Ini memang rencana Tuhan untuk saya. Akhirnya, Papi mendaftarkan saya dan Lili untuk ikut kursus musik. Setelah itu kami pulang. Itulah cerita Papi saya.
Sekarang saya lanjutkan ceritanya. Setelah didaftarkan, tiba saatnya kami mengikuti kursus electone. Ternyata, karena memang saya tidak berbakat bermain musik, saya tidak bisa bermain electone. Saya adalah siswa yang paling tidak bisa di kelas tersebut. Lili saja lebih bisa dari saya. Saya pernah sampai tiga kali berganti guru karena guru-guru “menyerah” mengajari saya. Memang saya tidak berbakat kok nekat belajar musik. Jadi, saat ujian Grade XIII sampai Grade X, empat tingkat awal di sekolah musik lisensi Yamaha (memang untuk tingkatan di kurikulum sekolah musik lisensi Yamaha, angkanya dari angka besar ke kecil), saya diluluskan.. masa baru di kelas awal-awal tidak lulus.. walaupun pas-pasan saja bisanya. Itupun saya sudah berusaha berlatih keras, tetap saja tidak bisa.
Nah.. titik balik dari hidup saya mulai dari cerita selanjutnya ini.. saat berjumpa secara pribadi, face to face dengan Tuhan Yesus.
Pada bulan Mei 1990 (semoga saya tidak salah ingat waktunya), saya dibabtis air. Kemudian, sebelas hari kemudian, di ibadah remaja, saya menerima babtisan Roh Kudus. Saat itu, benar-benar bahagia sekali. Rasa seperti the first love (cinta mula-mula) benar-benar saya rasakan ketika saya menerima babtisan Roh Kudus. Pada bulan Juni 1990, saya mengikuti Youth Camp yang diadakan oleh Majelis Daerah GPdI Wilayah Jawa Tengah (saya lupa nomor wilayahnya, biasanya menggunakan angka). Saat itu, lokasi Youth Camp ada di daerah Bandungan, Semarang. Di suatu malam, tepatnya saya lupa di hari ke berapa, saat kami semua, yaitu beberapa kelompok remaja tidur dalam satu hall yang besar, tiba-tiba datang seorang laki-laki mendekati saya dan menyapa saya. Saya terbangun dan heran dari mana datangnya laki-laki ini. Lebih herannya lagi, tidak ada seorangpun yang bangun saat itu, termasuk bapak pendeta yang menjadi pendamping atau pembimbing kelompok saya. Lalu, laki-laki tersebut mulai memperkenalkan diri-Nya.. dan saya sangat terkejut dan takut.. ternyata Tuhan Yesus. Lalu Tuhan Yesus menenangkan saya dan berkata, “Jangan takut.. Aku ingin bercakap-cakap dengan kamu.” Saya menjawab, “Silakan, Tuhan.” Lalu Tuhan Yesus menyingkapkan pikiran saya, memberikan flashback tentang kejadian saat saya di kelas V SD pada ibadah sekolah minggu, yang mana, saat itu saya mendengar ada suara yang berbicara dengan saya, tapi saya tidak menemukan orangnya. Ternyata, saat itu, Tuhan Yesus yang berbicara dengan saya. Kejadian ini mirip seperti yang dialami oleh Samuel kecil yang tertulis pada kitab I Samuel 3. Dan pertanyaan Tuhan Yesus saat itu, yaitu: “Siapa nanti yang akan menggantikan Ko Ping-Ping main electone di gereja?” dan jawaban saya saat itu yang mengatakan “Kalau tidak ada yang bisa main electone, saya saja.”, mirip seperti yang tertulis pada kitab Yesaya 6:8. Tambah merinding saya saat itu. Lalu Tuhan Yesus bertanya kepada saya, “Maukah kamu untuk Aku pakai menjadi alat-Ku untuk melakukan kehendak-Ku?” Saya menjawab, “Aku mau, tapi dengan satu syarat.” Tuhan Yesus bertanya, “Apa syaratnya?” Saya menjawab, “Aku akan kerjakan apa yang Engkau suruh, apa yang Engkau inginkan, dengan setepat-tepatnya, sesuai mau-Mu, tapi Engkau harus memperlengkapi aku, memampukan aku, melatih aku, agar aku dapat melakukan kehendak-Mu.” Tuhan Yesus menyetujui dan kami bersepakat malam itu. Lalu Tuhan Yesus pergi dan saya tertidur kembali. Esok harinya, saya ingat kejadian itu. Rasanya seperti saya habis bermimpi. Saya tidak tahu itu riil atau mimpi, tapi yang pasti, saya sudah membuat kesepakatan dengan Tuhan Yesus. Nah, sejak saat itu, jalan hidup saya benar-benar di tangan Tuhan. Tuhan yang merencanakan semua jalan hidup saya. Rencana-rencana saya sendiri yang sudah saya susun sedemikian rupa, termasuk impian-impian saya pribadi, “dibongkar” atau dicoret semua oleh Tuhan, digantikan sepenuhnya oleh rancangan Tuhan yang ternyata pada awalnya sangat bertentangan dengan keinginan saya pribadi. Saya harus melupakan semua rancangan pribadi saya yang tidak sesuai dengan rancangan Tuhan.
Cerita saya kembali lagi ke kursus musik. Setelah peristiwa di Youth Camp itu, terjadi perubahan besar dalam hidup saya. Saat di kelas kursus, tiba pada saat memainkan satu lagu ensemble, saya ingat judulnya adalah “Baby Elephant Walk”, guru saya saat itu bilang, “ini lagunya sulit, kita main sama-sama sebisanya. Kalau sampai pada bagian yang tidak bisa, kita berhenti.” Akhirnya, satu kelas main sama-sama dengan pembagian; ada yang memainkan bagian tangan kanan saja, tangan kiri saja, dan kaki untuk bass. Sesampainya di tengah lagu, semua berhenti. Namun, saya tidak berhenti, bahkan saya main lengkap: tangan kanan, tangan kiri, dan kaki, sampai akhir lagu. Semua heran, lalu menatap saya. Saya yang tidak bisa bermain musik, tiba-tiba menjadi bisa bermain musik. Bahkan, akhirnya saya sampai berganti guru lagi karena saya sudah “melahap” semua bahan yang diberikan kepada saya dengan mudahnya. Kontras sekali dengan apa yang saya alami sebelum saya membuat kesepakatan dengan Tuhan Yesus. Akhirnya, datang guru baru. Saya biasa memanggilnya Ko Margi. Ko Margi-lah yang melatih saya untuk menjadi lebih bisa bermain musik. Saya juga belajar banyak hal dari Ko Margi, mulai dari aransemen lagu, ekspresi dalam memainkan lagu, penghayatan terhadap lagu, sound programming, hingga drum programming. Walaupun saat itu saya masih di Grade VII dan Grade VI, tapi lagu-lagu yang saya mainkan sudah lagu-lagu tingkatan Grade V sampai Grade III, yang mana tingkat Grade V sampai Grade III ini adalah tingkat high grade. Untuk mudahnya, ini levelnya guru-guru musik di sekolah musik lisensi Yamaha yang bisa dipelajari. Masih ada Grade II dan Grade I, tapi tingkatan ini diperoleh dengan cara yang berbeda. Dan capaian baru saat itu untuk sekolah musik di Kudus, tim ensemble saya untuk pertama kalinya bisa mendapatkan juara II di Festival Electone tingkat wilayah Jawa Tengah. Walaupun cuma juara II, tapi itu gelar pertama untuk sekolah musik di Kudus. Untuk selanjutnya, setelah saya “dibelokkan” Tuhan untuk menginjakkan kaki saya di Surabaya, atas saran Ko Margi, saya belajar kepada Bu Jenny Tjahjono yang lebih banyak lagi membekali saya untuk bermain musik, termasuk teori-teori musik yang sangat memperkaya saya di bidang musik. Bu Jenny sekarang mengajari anak saya, Sarabeth, bermain piano level high grade.
Yah.. untuk cerita yang terkait musik, sampai di sini. Selanjutnya, saya akan menceritakan apa maksud saya terkait pernyataan saya tentang “saya ‘dibelokkan’ Tuhan untuk menginjakkan kaki saya di Surabaya”. Saya memang menggunakan istilah “dibelokkan” karena rencana saya pada awalnya tidak ke Surabaya, tapi ke Bandung. Begini ceritanya..
Ketika saya kelas III SMA (sekarang berarti kelas XII), saya sudah bulat hati untuk mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), dan yang saya incar adalah PTN di bidang teknik yang ternama di Bandung.. semua sudah tahulah, yaitu ITB. Mengapa bidang teknik? Karena saya ingin mengambil jurusan Teknik Elektro. Untuk itu, selepas EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) –ya, saat itu masih ada Ebtanas.. mungkin istilah yang sekarang ini lebih dikenal dengan UNAS atau UN (Ujian Nasional) dan sekarang ini sudah ditiadakan oleh Kemendiknas-Ristek– saya langsung pergi ke Bandung. Saya sengaja tinggal di Bandung kurang lebihnya tiga minggu, khusus hanya untuk mengambil bimbingan belajar persiapan UMPTN. Saya belajar serius sekali, giat sekali, nyaris tidak ada waktu luang untuk jalan-jalan, kecuali Sabtu dan Minggu. Itupun, sering hari Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk belajar juga demi mengejar impian saya. Saat mendaftar UMPTN, entah mengapa, saya mengikuti saran orang-orang untuk memilih dua PTN ternama yang mempunyai jurusan Teknik Elektro yang terbaik, yaitu ITB di Bandung dan ITS di Surabaya. Akhirnya, saya tentukan pilihan pertama saya adalah Teknik Elektro ITB dan pilihan kedua saya adalah Teknik Elektro ITS. Saya yakin, ini memang rencana Tuhan dalam rangka ingin “membelokkan” saya ke Surabaya.
Setelah UMPTN hari kedua selesai, saya segera berhitung kans saya diterima di ITB. Saya cek semua jawaban saya –ingatan saya saat itu memang sedang kondisi puncak, tidak seperti sekarang, saya sudah mulai menjadi orang yang pelupa– dan saya konsulkan ke orang dari bimbingan belajar yang tahu prediksi diterima atau tidak di ITB. Ketika orang itu melihat jawaban saya, langsung orang itu memberi selamat kepada saya, “Selamat! Kamu pasti masuk –diterima di ITB, maksudnya–” Wah.. saya gembira sekali. Saya pulang ke Kudus dengan hati yang gembira. Impian saya akan segera terwujud.
Tibalah saat pengumuman hasil UMPTN di surat kabar. Biasanya ditulis dalam beberapa halaman dengan tulisan yang kecil-kecil. Waktu itu saya belum melihat surat kabar, tapi mami ditelpon mamanya teman saya yang sama-sama mendaftar di Teknik Elektro ITB kalau saya lolos UMPTN dan teman saya itu tidak lolos. Mamanya teman saya bilang, “tapi kok kode perguruan tingginya milik ITS, ya?” Mami menyampaikan ke saya. Lalu saya bilang, “Gak mungkin. Salah lihat itu pasti.” Lalu saya cek surat kabar. Benar ternyata, nomor peserta UMPTN saya ada di surat kabar dengan kode perguruan tinggi yang menunjukkan bahwa itu adalah ITS. Saat itu, hancurlah diri saya. Hancurlah impian saya yang sudah saya rancang bertahun-tahun sebelumnya. Lalu saya masuk ke kamar mandi, mengurung diri di kamar mandi sekitar satu jam lamanya. Mami sudah kebingungan saat itu karena melihat saya sedang dalam kondisi “down”, depresi berat, karena impian saya hancur. Tapi mami tidak berkata apa-apa dan hanya menunggui saya di depan pintu kamar mandi sampai saya keluar dari kamar mandi. Di kamar mandi, saya menangis dan sempat protes kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa aku bisa gagal? Apakah aku kurang gigih? Apakah aku kurang setia kepada-Mu?” (Nantinya, saya menyesal sekali karena saat itu saya telah memprotes Tuhan). Setelah saya keluar dari kamar mandi, mami baru bertanya, “Kamu tidak apa-apa?” Saya jawab, “Tidak apa-apa.. ya sudah mau apa lagi. Aku diterimanya di ITS. Ya sudah. Aku berangkat saja ke Surabaya untuk mendaftar ulang di ITS.” Saya berkata demikian sambil kecewa berat. Akhirnya, saya memang berangkat ke Surabaya untuk mengurus daftar ulang, mencari tempat kos, dan bersiap untuk berkuliah di ITS.
Ternyata, semua ini memang rancangan Tuhan bagi saya. Walaupun rancangan Tuhan sangat bertolak belakang dengan rencana dan impian saya pribadi, namun saya tetap mengikuti rancangan Tuhan seperti yang telah saya sepakati dengan Tuhan Yesus. Kalau sekarang saya ditanya, apakah menyesal karena impian saya tidak terlaksana, saya akan menjawab, “Tidak sama sekali! Saya malah bersyukur luar biasa kepada Tuhan karena impian saya sudah gagal!” Malahan, saya sangat menyesal karena saat itu terjadi, saya telah meragukan Tuhan. Kok bisa? Karena gagalnya impian saya itu, akhirnya, saya bisa bertemu dengan Sayangku.
Saat Tuhan menggagalkan impian saya, Tuhan membawa saya ke Surabaya. Lalu, Tuhan juga menuntun saya untuk pergi ke GPdI Rajawali, padahal jarak antara GPdI Rajawali dengan tempat kos saya cukup jauh –saya membutuhkan waktu paling cepat 20 menit untuk pergi ke gereja, itupun saat pagi hari dan saya harus mengendarai sepeda motor saya dengan kecepatan yang cukup tinggi–. Ternyata, di GPdI Rajawali inilah, saat pertama kali saya menghadiri ibadah –waktu itu ibadah pemuda di hari Sabtu– Tuhan mempertemukan saya dengan seorang perempuan yang cantik, baik hati, tulus, lovely, yang bernama Grace Viviana Tandean. Akhirnya kami berteman. Tak lama kemudian, hubungan kami meningkat menjadi persahabatan. Pada tanggal 12 Mei 1997, hubungan kami berubah menjadi sepasang kekasih. Dan akhirnya, pada tanggal 8 Januari 2001, kami meresmikan cinta kasih saya dan Sayangku dengan menjadi pasangan suami-istri sampai maut memisahkan kami berdua. Bahkan sebenarnya, tidak cuma sekali ini saja Tuhan membatalkan impian saya. Ada lagi impian saya yang dibatalkan oleh Tuhan dan saya tidak menyesal sama sekali. Mengapa saya tidak menyesal? Karena Tuhan telah mengganti semua impian saya yang tidak sesuai rancangan-Nya dengan waktu terbaik dalam kehidupan saya, yaitu: waktu di mana saya dan Sayangku menikmati momen-momen indah kebersamaan kami yang tidak tergantikan dengan apapun juga.
Saya tidak pernah menyangka kalau saya mendapatkan seorang istri yang luar biasa di Surabaya. Tidak pernah terpikirkan. Saya pernah ke Surabaya untuk berlibur pada tahun 1992. Waktu itu, saya masih ingat, saya mengunjungi Delta Plaza (Plasa Surabaya). Saat itu, saya tidak pernah berpikir kalau saya akan kembali ke Surabaya, bertemu dengan Sayangku, menjadi pasangan suami-istri, menikmati kebersamaan kami berdua yang luar biasa sampai maut memisahkan kami berdua. Sungguh, rancangan Tuhan itu luar biasa. Terima kasih banyak, Tuhan Yesus! Ucapan terima kasih saja tidaklah cukup untuk mengungkapkan betapa diri saya bersyukur sekali kepada Tuhan atas momen-momen indah kami berdua, meskipun kami hanya dapat mengukir momen-momen indah itu dalam waktu yang singkat, hanya 3,5 tahun berpacaran dan 20,5 tahun pernikahan. Walaupun singkat, momen-momen indah itu sangat memuaskan dan tak tergantikan oleh apapun juga.
Memang benar apa yang tertulis pada kitab Yesaya 55:8-9, yaitu:
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
Yesaya 55:8-9 (TB)
.. dan apa yang tertulis pada kitab Yeremia 29:11, yaitu:
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Yeremia 29:11 (TB)
Kita hanya perlu menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan dan taat kepada Tuhan. Tuhan selalu merancangkan yang terbaik untuk kita, anak-anak-Nya.
Episode ini akan saya akhiri dengan cerita, saat saya masih SMP, ada dua hal yang secara khusus saya minta kepada Tuhan. Kedua hal ini saya minta kepada Tuhan ketika saya di gereja (GPdI Eben Haezer Kudus), saat saya sedang berjalan melintas di parkiran sepeda motor. Waktunya, saya lupa tepatnya, tapi lokasi saat saya meminta kedua hal ini kepada Tuhan, saya ingat betul.
Permintaan pertama saya, yaitu: saya minta Tuhan mengajari saya seperti Tuhan mengajari Daud untuk berperang. Saya terinspirasi ayat di kitab Mazmur 18:31-37 yang tertulis demikian:
“Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita? Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga. Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku, kemurahan-Mu membuat aku besar. Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah.”
Mazmur 18:31-37 (TB)
Saat itu, saya memohon dengan sangat kepada Tuhan karena saya merasa bahwa saya hanyalah orang biasa, yang tidak bisa apa-apa, kalau Tuhan tidak menolong saya.
Permintaan saya yang kedua adalah saya meminta seorang istri yang:
- Takut akan Tuhan → ini wajib hukumnya.
- Cantik dan lembut → alasan saya meminta istri yang cantik agar saya tidak bosan-bosan melihat wajahnya setiap hari, khususnya saat bangun tidur di pagi hari. Saat pagi hari, wajah yang saya lihat itu adalah wajah asli, tanpa make-up. Lalu alasan saya meminta istri yang lembut karena saya orang yang peka, mudah tersinggung, mudah marah. Kadang saya tidak sabar. Saya juga mudah untuk berkonfrontasi dengan orang kalau saya tidak dapat mengendalikan emosi. Saya butuh seseorang pendamping yang dapat “mengerem” dan membantu saya, bahkan melatih saya untuk dapat mengendalikan emosi saya ketika itu semua terjadi.
- Ketika pada tahap berpacaran, tidak pernah berpura-pura sayang, mentolerir segalanya lalu saat menikah, mulai “meledak” sehingga bertengkar habis-habisan. Saya tidak mau seperti itu. Saya minta kepada Tuhan agar nanti calon istri saya mau bersikap apa adanya kepada saya, blak-blakan sama saya. Jadi, walaupun baru tahap berpacaran, kalau marah, marah sungguhan.. kalau bertengkar, bertengkar sungguhan.. tanpa ada yang ditutup-tutupi. Saat itu, saya mengistilahkan dengan “tanpa ada kelambu tipis transparan di antara kami berdua”.
Kedua permintaan saya benar-benar dikabulkan oleh Tuhan.
Pengalaman dari permintaan pertama sungguh-sungguh menyenangkan. Saya selalu dipandu Tuhan dan bisa menjadi partner kerja Tuhan. Saya mengalami perwujudan janji Tuhan yang tertulis dalam Roma 8:28, yaitu:
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Roma 8:28 (TB)
Walaupun pada awalnya saya tidak mengerti maksud Tuhan itu apa, tidak melihat kira-kira hasil akhirnya bagaimana, tapi begitu saya mengikuti dan taat kepada rancangan Tuhan, semua jadi baik dan bahkan teramat baik, tak tergantikan dengan apapun juga.
Pengalaman dari permintaan kedua juga sungguh-sungguh memuaskan. Pada akhirnya, saya dipertemukan dengan Sayangku dan menjalin cinta kasih hingga maut memisahkan kami berdua pada tanggal 24 Juni 2021. Pada episode-episode selanjutnya, saya akan bercerita bahwa saat berpacaran, kami sering bertengkar.. tak terhitung berapa kali kami bertengkar.. bahkan saya pernah sampai dipukul dan dicubit oleh Sayangku pada saat bertengkar karena Sayangku jengkel dan marah sekali sama saya. Tapi, setiap kali kami berbaikan dan saling meminta maaf, kami berdua menjadi lebih saling menyayangi. Aneh.. tapi itulah rancangan Tuhan. Pertengkaran-pertengkaran kami saat berpacaran, bahkan pertengkaran yang juga terjadi setelah kami menikah, benar-benar menguatkan cinta kasih kami berdua sehingga kami mampu bertahan menghadapi masalah besar yang secara manusia mustahil untuk diselesaikan tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sayangku juga berperan sangat besar dalam hidup saya, khususnya terkait dengan kondisi saya yang mudah tersinggung, marah, tidak sabaran, dan mudah berkonfrontasi dengan orang lain ketika emosi saya tersulut. Sayangku dengan sabar mengingatkan saya, melatih saya, bahkan “menahan” saya ketika semuanya itu muncul. Bahkan, beberapa kali Sayangku “mengorbankan” dirinya untuk menjadi “sasaran kemarahan” saya saat emosi saya “meledak” –walaupun saya sama sekali tidak pernah memukul Sayangku–. Ketika Sayangku “mengorbankan” dirinya, saya menjadi malu sekali dan meminta maaf kepada Sayangku. Ternyata itu cara yang dipakai Sayangku untuk membuat agar saya dapat mengendalikan diri saya sendiri karena Sayangku tahu persis bahwa saya tidak akan pernah bisa memukul dan melukai Sayangku. Pernah beberapa kali karena emosi saya “meledak” luar biasa, saat “mengorbankan” dirinya, secara tidak sengaja, Sayangku akhirnya “terluka”, bukan secara fisik, tetapi hatinya “terluka”. Saya sampai malu sekali, tidak dapat berdiri di hadapan Sayangku dan tidak berani menatap mata Sayangku. Namun, setelah mampu menguasai dirinya sendiri, Sayangku menghampiri saya dan memeluk saya. Saya meminta maaf kepada Sayangku. Lalu Sayangku memaafkan saya dan membiarkan saya “membalut dan merawat” luka hatinya itu. Apa yang Sayangku lakukan itulah yang membuat saya sekarang jauh lebih baik daripada sebelum bersama dengan Sayangku. Tuhan tahu persis apa yang saya perlukan dengan memberikan Sayangku untuk menolong saya (Amsal 27:17). Nanti pada episode-episode selanjutnya, teman-teman akan paham maksud saya ini.
Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.
Amsal 27:17 (TB)
Inilah langkah awal dari kisah cinta kasih saya dengan Sayangku yang merupakan bagian dari pengalaman hidup kami berdua dan pengalaman hidup saya pada khususnya. Semuanya itu diawali dengan penyerahan diri saya seutuhnya kepada Tuhan lalu “dibelokkan” oleh Tuhan untuk berjumpa dengan Sayangku di Surabaya.
Dari Daud. Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku! Ya Tuhan, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya? Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.
Mazmur 144:1-4 (TB)
Siapakah aku dan juga Sayangku ini, Tuhan, sehingga kami beroleh anugerah yang begitu besar dari-Mu? Engkau panggil diri kami untuk menggenapi semua rencana-rencanamu, baik dalam hidupku sendiri, hidup Sayangku, hidup anak-anak kami, hidup keluarga kami, hidup sahabat-sahabat kami, dan semua orang yang Engkau “bebankan di pundak” kami berdua. Kami beroleh kesempatan untuk mengalami pengalaman yang luar biasa seperti yang dialami oleh bangsa Israel dalam kitab Yosua tatkala Engkau suruh mereka masuk dan merebut negeri perjanjian. Walaupun kami tidak tahu harus bagaimana, Engkau hanya meminta kami untuk hidup benar dan taat kepada-Mu serta melakukan langkah kami yang pertama. Langkah selanjutnya Engkau yang atur semua sedemikian indahnya, sehingga “derasnya sungai Yordan” dan “tebalnya tembok Yerikho” yang tidak mungkin kami lewati, akhirnya dapat kami lewati oleh karena Engkau yang menyertai kami setelah kami taat melakukan tepat seperti yang Engkau suruh.
Bila Engkau tak beserta kami, kami tak mau berjalan.. kami tidak mau sendiri tanpa-Mu karena kami tidak bisa mengerjakan apapun tanpa diri-Mu. Tanpa Engkau, kami tidak berarti apa-apa. Tetapi, bersama dengan-Mu, kami dapat melakukan perkara-perkara yang besar, yang tidak pernah terselami oleh pikiran kami sendiri. Kami dapat berbuat banyak hal untuk kemuliaan nama-Mu. Hidup kami menjadi berarti untuk diri kami berdua, anak-anak kami, dan semua orang yang di sekitar kami.
Siapakah aku ini, Tuhan? Aku, yang sebenarnya tidak layak di hadapan-Mu, telah Engkau jadikan anak-Mu dan Engkau menjagaku seperti Engkau menjaga biji mata-Mu. Aku mendapatkan anugerah yang begitu besar! Engkau memanggil aku untuk menjadi alat-Mu demi kemuliaan Nama-Mu. Engkau menuntun aku, menyertai aku, berjalan bersamaku. Di masa-masa kesesakanku, Engkau selalu menopang dan menggendongku sehingga walaupun aku terjatuh, aku tidak sampai tergeletak. Engkau mendengarkan permintaanku dan mengabulkannya, bahkan memberikan yang lebih daripada apa yang aku pernah pikirkan dan inginkan sehingga aku puas sekali. Engkau menjadikanku sebagai sahabat-Mu dan memberitahukan kepadaku perkara-perkara yang belum terjadi sehingga aku dapat bersiap dan mempersiapkan keluargaku untuk menghadapi semuanya itu. Bahkan tidak hanya memberitahukan saja, Engkau juga mengizinkan aku untuk melakukan penawaran-penawaran dan mengajukan permintaan-permintaan kepada-Mu terkait perkara-perkara tersebut. Walaupun sekarang aku sendiri, tanpa Sayangku di sisiku, tapi kenangan tentang momen-momen indah kebersamaan kami, membuatku selalu bersyukur pada-Mu. Terima kasih banyak, Tuhan Yesus!
Sebagai penutup, oleh karena “awal dari segalanya” inilah, akhirnya saya dan juga bersama dengan Sayangku, memutuskan untuk selalu berjalan bersama dengan Tuhan Yesus. Kami tidak mau berjalan sendiri tanpa penyertaan Tuhan Yesus. Kami rindu, setiap hari, kami dapat berpaut pada lengan-Nya yang kuat.. setiap hari, kami dapat berlindung di bawah kepak sayap-Nya yang kuat.. setiap hari, kami dapat berada dalam pelukan-Nya yang hangat.. kami rindu untuk selalu melekat kepada Tuhan, seperti syair dalam lagu “Lekat Dalam Hati-Mu”. Kami selalu berusaha untuk hidup dalam rancangan-rancangan-Nya yang indah sehingga kami selalu dipuaskan dari hari ke hari, menikmati kasih-Nya dari hari ke hari, hingga saatnya nanti tiba kami kembali kepada-Nya.
Syair lagu “Lekat Dalam Hati-Mu”
composed by Robert & Lea.
Lebih dari segalanya, kuberharap pada-Mu
Lebih dari para penjaga, mengharap fajar pagi
Begitu rindu hatiku, berada dekat-Mu
Alangkah dalam kasih-Mu, memenuhi hidupku
Tenanglah jiwaku, dalam naungan sayapmu
Menembus awan kelabu, pandang Kemuliaan-Mu
Selalu kurindu, lekat dalam hati-Mu
Mengikuti rencana-Mu, Yesus Tuhan Rajaku
Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.
Amsal 19:21 (TB)
Sampai di sini episode keempat dari serial “Memoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean“. Memoar ini akan saya lanjutkan di episode kelima yang mulai menceritakan waktu-waktu terbaik dalam hidup kami berdua. Salam damai sejahtera bagi kita semua! Tuhan Yesus memberkati! Amin!
Disclaimer: Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Sayangku. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Sayangku.