Kau s’lalu mendengar yang belum terucap
Kau s’lalu melihat setiap tetes air mata
Kau takkan biarkan ku berjalan sendiri
di dalam kelemahan kuasa-Mu sempurnaTak dapat kulupakan semua perbuatan-Mu
Pertolongan-Mu s’lalu mempesonaku
Yesus Engkau sahabat terbaikku
di dalam setiap waktuDi dalam lembah pun, Engkau ada
Di setiap waktuku, Engkau ada
Tak pernah Kau terlalu jauh, Oh Tuhan
Kau buat ku terkagum akan kasih setiamu.Dan ku sungguh bersyukur, ku memuji-Mu, kar’na Kau setia
Tak ada s’perti-Mu Yesus, di bumi dan di surga
Hanya Engkau sahabat terbaik, sahabat terbaik, sahabat terbaikku!
Yesus, Engkau sahabat terbaikku di dalam setiap waktu!“Sahabat Terbaik”, composed by Yeshua Abraham (https://youtu.be/OCGymVefHiY)
Salam jumpa dengan saya, Henry Hermawan.. dan saya adalah suami dari Sayangku, Grace Viviana Tandean.
Sebagai awal dari episode keenam ini, saya menuliskan lirik lagu “Sahabat Terbaik” yang diciptakan oleh Yeshua Abraham. Lagu ini cukup baru, diciptakan sekitar 24 tahun sesudah kejadian yang akan saya ceritakan pada episode keenam ini. Namun, lirik dari lagu ini benar-benar menggambarkan apa yang kami berdua alami, mulai dari awal kami berpacaran hingga sekarang. Bahkan, ketika saya masih sendiri, belum jatuh cinta kepada Sayangku, saya sudah mengalami lirik dari lagu ini –teman-teman dapat membacanya pada episode keempat–. Saat kami diproses oleh Tuhan selama kurang lebih 3 tahun 3 bulan, sudah banyak air mata kami berdua yang tertumpah, sudah banyak lembah yang dalam yang harus kami lewati, sudah banyak waktu-waktu di mana kami benar-benar tidak berdaya menghadapi semuanya. Kami berdua sungguh lemah tak berdaya. Kami berdua sendirian, tanpa seorangpun yang dapat membantu kami. Tetapi, saat semuanya itu terjadi, Tuhan tidak tinggal diam. Saat kami bergantung dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan, Tuhan tidak pernah membiarkan kami berjalan sendirian.. Tuhan tidak pernah meninggalkan kami walau sedetikpun! Air mata kami berdua ditampung dan diperhitungkan oleh Tuhan. Tuhan adalah sahabat terbaik bagi kami berdua di dalam setiap waktu! Kasih setia Tuhan tidak pernah berubah! DIA yang berencana, DIA yang berjanji, DIA yang bertindak, dan DIA yang menggenapi semuanya! Kami berdua hanya mengikuti apa yang Tuhan suruh kepada kami untuk dilakukan. Yang pasti, kami berdua bisa mendeklarasikan bahwa Tuhan Yesus sama sekali tidak pernah mengecewakan! Tidak ada yang seperti Tuhan Yesus! Itu sebabnya, dari hari ke hari, kami berdua selalu mengucap syukur kepada Tuhan buat segala kasih dan anugerah-Nya dalam kehidupan kami berdua, bahkan di tengah kesendirian saya sekarang, saya tetap bersyukur kepada-Nya karena DIA tidak pernah sekalipun meninggalkan saya! Terima kasih, Tuhan Yesus! Engkau-lah sahabat kami yang terbaik!
Pada episode keenam ini, saya akan menceritakan bagaimana kami berdua diproses Tuhan agar kami berdua siap untuk menjadi pasangan suami-istri seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Selain itu, selama kami diproses, kami juga diajarkan oleh Tuhan untuk selalu bergantung dan bersandar sepenuhnya hanya kepada Tuhan, tidak berharap kepada manusia. Proses yang kami lalui selama 3 tahun dan 3 bulan ini (September 1997 – Desember 2000) sungguh berat. Kami benar-benar tidak berdaya. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Kami sendirian. Semua memojokkan kami. Hanya dekapan hangat dari Tuhan Yesus saja yang memampukan kami berdua untuk bertahan hingga akhirnya kami “lulus” dan dapat menjadi pasangan suami-istri.
Cerita ini akan fokus kepada apa yang Tuhan lakukan kepada kami berdua sehingga kami berdua siap untuk hidup sebagai suami dan istri mulai awal tahun 2001. Dalam kurun waktu 3 tahun 3 bulan inilah, Tuhan membentuk kami berdua. Kami seperti bongkahan tanah liat di tangan Tuhan sebagai penjunan. Sang Penjunan berkali-kali “membanting” kami berdua agar kami berdua dapat dibentuk sesuai keinginan Sang Penjunan sehingga kami benar-benar menjadi indah di mata Sang Penjunan. Tahun-tahun itu sangat berat bagi kami berdua.
Bagian 2 dari “The Best Time in Our Life” ini mempunyai timeline mulai September 1997 sampai dengan Desember 2000. Namun, akan ada beberapa flash-forward (yang dituliskan dengan warna biru) untuk menceritakan bagaimana kami melihat dan mengenang peristiwa-peristiwa pada timeline ini di tahun-tahun berikutnya.
Ok, saya mulai ceritanya..
Bulan September adalah bulan spesial bagi saya karena di bulan inilah saya berulang tahun. Jadi, September 1997 adalah bulan yang sangat spesial, khususnya bagi saya, karena untuk pertama kalinya, saya merayakan ulang tahun saya bersama dengan kekasih saya. Sebelum tiba hari ulang tahun, saya sudah meminta kepada Sayangku agar dapat meluangkan waktunya untuk saya karena saya ingin sekali merayakan ulang tahun saya secara spesial dengan Sayangku. Sayangku tentu saja bersedia lalu menawarkan kepada saya untuk merayakan ulang tahun di Boncafe, makan steak berduaan. Tentu saja saya bersedia. Kebetulan juga, hari ulang tahun saya di tahun 1997 itu jatuh di hari Sabtu. Klop dah. Kami bisa merayakan ulang tahun saya menjelang siang hari, sebelum kami pergi beribadah di sore harinya.
Pada hari H, saya menjemput Sayangku lalu kami pergi ke Boncafe untuk merayakan ulang tahun saya. Saya terkejut karena ketika saya menjemput, Sayangku memberikan suatu bingkisan kepada saya. Ketika saya membuka bingkisan itu, saya lebih terkejut lagi karena isinya adalah Alkitab versi King James (KJV) yang pernah saya lihat di toko buku Immanuel. Saya bertanya kepada Sayangku, “Kok kamu tahu kalau aku menginginkan Alkitab ini?” Sayangku menjawab, “Aku pernah memergoki kamu sedang melihat-lihat Alkitab itu waktu kita berdua pergi ke toko buku Immanuel. Saat itu, aku tahu kalau kamu sebenarnya menginginkan Alkitab itu. Diam-diam, aku membeli Alkitab itu untuk aku berikan kepada kamu sebagai hadiah ulang tahunmu yang dirayakan untuk pertama kalinya denganku sebagai pasangan kekasih.” Oh.. Sayangku.. saya senang sekali dengan hadiahmu itu.
Saya sebenarnya tidak berharap mendapatkan bingkisan dari Sayangku karena saya sudah mendapatkan hadiah yang luar biasa, yaitu Sayangku sendiri. Sayangku adalah hadiah yang luar biasa, yang Tuhan berikan kepada saya. Saya hanya menginginkan, di tiap saya berulang tahun, Sayangku selalu mendampingi saya dan merayakan ulang tahun saya bersama-sama. Itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Saya sudah puas sekali, tidak menginginkan yang lain. Ternyata, Sayangku juga menginginkan hal yang sama. Sayangku menyampaikan keinginan ini saat saya memberikan hadiah ulang tahunnya yang kami rayakan bersama untuk pertama kalinya. Kami sehati. Itu sebabnya, setelah kami menikah, kami selalu stand by pada pagi di hari ulang tahun pasangan kami, supaya saat pasangan kami bangun tidur, kami langsung dapat memberikan ucapan selamat ulang tahun disertai dengan ciuman dan pelukan sayang yang spesial. Pada malam harinya, biasanya kami pergi ke luar atau memesan makanan yang spesial untuk dimakan bersama di rumah saat merayakan ulang tahun pasangan kami. Selanjutnya, biasanya kami menghabiskan malam hanya berdua untuk menikmati momen kebersamaan kami yang spesial. Itulah yang selalu kami lakukan di hari ulang tahun pasangan kami hingga maut memisahkan kami berdua.
Setelah melihat hadiah itu, mata saya fokus kepada kartu ucapan selamat ulang tahun yang diselipkan di dalam Alkitab itu. Saya ambil kartu ulang tahun itu lalu saya baca tulisan Sayangku di kartu tersebut. Oh.. tulisan yang indah.
Buat yang terkasih & yang sedang happy merayakan hari ulang tahun.. sebagai teman jalan, sahabat di waktu suka & duka dengan membagi perasaan senang & sedih seperti saudara. Terakhir adalah buat orang yang paling aku sayangi (meskipun pernah aku pukul, cubit, pijit, marahi) & aku kasihi dengan segenap hati, pikiran … Semakin dewasa, lebih tekun, tidak cepat berputus-asa, berusaha terus dengan tidak bosan mencoba & mencoba lagi. Tuhan menyertai. Dari orang aneh, tapi yang mengasihi Henry Hermawan.. Grace Viviana.
Lalu saya minta Sayangku menulis ulang di bagian belakang Alkitab itu. Awalnya Sayangku tidak mau karena kalau ditulis di Alkitab, siapa saja bisa membaca tulisan tersebut kalau ada orang yang meminjam Alkitab itu, padahal ada hal yang spesial yang dituliskan yang hanya khusus untuk saya baca. Tapi saya yakinkan Sayangku kalau saya malah bangga kalau ada orang yang membaca itu. Akhirnya Sayangku bersedia menuliskan, walaupun dalam versi yang dipersingkat. Sebenarnya yang ditulis di kartu ucapan itu cukup panjang, tapi Sayangku akhirnya memutusnya untuk menuliskan kesimpulan dari yang Sayangku tuliskan di kartu ucapan itu (Foto 1).

Ketika saya membaca itu, saya bahagia sekali. Sayangku benar-benar sudah jatuh cinta sama saya. Tinggal menunggu saatnya kami menikah lalu hidup bersama, membina keluarga, sampai maut memisahkan kami berdua.
Ada 3 hal yang menarik, yang tertulis di kartu ucapan itu. Yang pertama, Sayangku menulis,
… sebagai teman jalan, sahabat di waktu suka dan duka dengan membagi perasaan senang dan sedih seperti saudara …
Ya, memang sebelum berpacaran dan akhirnya menjadi pasangan hidup, kami sudah bersahabat, Ketika kami berpacaran, kami tetap menjaga hubungan teman dan sahabat itu seperti yang tertulis pada Amsal 17:17 (TB): “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
Yang kedua, Sayangku juga menulis,
… buat orang yang paling aku sayangi (meskipun pernah aku pukul, cubit, pijit, marahi) dan aku kasihi dengan segenap hati, pikiran …
Sayangku pernah memukul saya, mencubit saya, memijit pundak saya dengan sangat keras hingga saya kesakitan, sambil memarahi saya ketika saya beberapa kali melakukan kesalahan dan membuat Sayangku tidak senang. Saya tidak membalasnya dan hanya diam karena saya sudah berjanji pada diri saya sendiri kalau saya tidak akan memukul Sayangku. Tapi setelah melakukan itu semua, Sayangku selalu minta maaf karena sudah marah-marah sampai memukul, mencubit, dan “memijit” saya.
Yang ketiga, penutup dari tulisan di kartu ucapan itu,
Dari orang yang aneh, tapi yang mengasihi Henry Hermawan.. Grace Viviana
Sayangku memang beberapa kali bilang kepada saya di bulan-bulan sebelumnya kalau Sayangku itu orang yang aneh, kadang sulit dimengerti oleh orang lain. Sayangku meminta saya untuk bersiap-siap kalau sikap aneh itu muncul. Di awal sikap aneh itu muncul, saya tidak mengerti sebabnya, tapi Tuhan memberikan hikmat kepada saya untuk dapat menangani sikap aneh tersebut. Dan ternyata, sikap aneh tersebut berasal dari “luka hati” Sayangku. –Saya akan ceritakan di episode-episode selanjutnya yang relevan, termasuk hikmat dari Tuhan agar saya dapat membantu Sayangku untuk mengobati “luka hati” tersebut–
Saat ulang tahun Sayangku pada tanggal 16 Januari 1998, yang untuk pertama kalinya Sayangku merayakan ulang tahunnya bersama dengan saya yang berstatus sebagai kekasihnya, saya juga memberikan hadiah kejutan yang tidak disangka oleh Sayangku, yaitu jam weker. Latar belakang saya memberikan hadiah jam weker itu karena Sayangku pernah mengeluh kepada saya kalau Sayangku terlambat bangun pagi karena kecapaian dan jam wekernya tidak berfungsi dengan baik. Biasanya, pada akhir-akhir tahun, pekerjaan Sayangku akan lebih banyak dari biasanya dan membuat Sayangku kecapaian. Saat kecapaian, Sayangku selalu memasang jam wekernya untuk berjaga-jaga kalau Sayangku tidak bisa bangun pagi dengan sendirinya. Ternyata, benar terjadi. Sayangku tidak bisa bangun pagi seperti biasanya dan benar-benar hampir terlambat ke kantor karena jam wekernya, entah mengapa, tidak berbunyi. Lalu Sayangku membawa jam weker itu ke kantor supaya saat saya menjemput Sayangku di sore harinya, saya dapat mengecek jam weker itu. Ternyata, setelah saya cek, jam weker itu baik-baik saja. Memang, bunyinya tidak terlalu keras. Dugaan saya, karena kecapaian dan tidur sangat lelap, Sayangku tidak mendengar jam weker itu berbunyi. Sejak hari itu, saya ingin sekali membelikan jam weker yang bagus.
Di hari berikutnya, sebelum saya menjemput Sayangku di kantor pada sore hari, saya menyempatkan diri pergi ke pertokoan Siola untuk melihat-lihat jam weker. Waktu itu, banyak toko jam di pertokoan Siola. Ketika saya melihat-lihat jam weker, mata saya tertarik pada 1 jam weker merek Seiko yang berwarna merah. Lalu saya iseng masuk ke toko tersebut dan mencoba jam weker itu. Saya kaget, karena suaranya sangat keras. Dalam hati, saya bilang, “Wah, cocok ini, tapi harganya..” Ya, harganya bikin saya lemas. Saya tidak mampu membelinya saat itu. Akhirnya, saya kembalikan lagi jam weker itu, saya tidak jadi membelinya.
Tapi, saya tetap bertekad untuk membeli jam weker tersebut. Saya hitung, saya masih mempunyai waktu sekitar 2 bulan untuk menabung. Akhirnya, saya melakukan penghematan yang cukup besar, agar saya dapat mengumpulkan uang untuk membeli jam weker tersebut. Pada awal Januari 1998, uang saya sudah terkumpul dan cukup untuk membeli jam weker tersebut. Sambil harap-harap cemas, saya kembali ke toko tersebut untuk membelinya. Sungguh gembira saya, ternyata jam weker tersebut belum ada yang membelinya. Langsung saya beli jam weker itu.
Tepat di hari ulang tahun Sayangku, saya bawa jam weker yang sudah saya bungkus rapi dan sudah saya beri kartu ucapan selamat ulang tahun ketika saya menjemput Sayangku di kantor pada sore hari. Hari itu adalah hari Jumat. Sayangku terkejut, tidak menyangka mendapat hadiah ulang tahun dari saya. Sesampai di rumah, Sayangku membuka hadiah dari saya. Ketika melihat hadiah itu, Sayangku kembali terkejut, lalu berkata, “Aduh, [Sa]Yang.. ini kan mahal.. uangmu habis, ya?” Saya menjawab sambil tersenyum, “Tidak kok.. itu hasilku menabung sekitar 2 bulan setelah aku mendengar kamu terlambat bangun waktu itu.” Sayangku kembali berkata, “Tapi ini kan mahal.. berarti kamu melakukan penghematan yang besar selama 2 bulan, ya?” Saya cuma tersenyum saja, tidak menjawab itu. Tapi Sayangku tahu arti senyuman saya. Langsung saya dipeluk sambil Sayangku mengucapkan terima kasih. Setelah itu, Sayangku berpesan, “Lain kali, jangan beli hadiah buat aku, ya.. kalau kamu beli hadiah buat aku, kamu gak kira-kira soalnya.. walaupun mahal, tetap saja kamu sikat gitu.” Saya cuma tertawa. Sejak itu, di tahun-tahun berikutnya, ketika Sayangku berulang tahun atau ketika saya pergi ke luar kota atau luar negeri, Sayangku selalu berpesan untuk tidak membeli barang yang sengaja saya beli khusus untuk Sayangku tanpa berkonsultasi dengan Sayangku dahulu. Sayangku ingin, tiap kali saya membelikan untuk Sayangku, harus “lapor” dulu. Saya sempat protes, “Aku ingin membelikan kamu tapi kok gak boleh.. lagipula kalau harus konsultasi dulu, itu bukan hadiah namanya.” Sayangku menjawab, “Soalnya kalau kamu beli barang buat aku, gak kira-kira.. gak pakai perhitungan, langsung sikat saja.” Untuk permintaan ini, kadang saya turuti. Namun, beberapa kali saya tidak turuti juga karena saya memang sudah ngebet beli barang itu untuk Sayangku. Saya dimarahi oleh Sayangku karena itu, tapi saya terima saja karena akhirnya saya pasti dipeluk, dicium, lalu mendapatkan ucapan terima kasih dari Sayangku. Yah.. begitulah Sayangku.. Sayangku tidak ingin menyulitkan saya dari sisi finansial.
Itulah mengapa di buku catatannya, Sayangku menulis, “Dapat ucapan selamat ultah dari … (Sayangku menuliskan beberapa nama) … & spesial: Sayangku (Henry).” Setelah itu, Sayangku mulai membaca kartu ucapan selamat ulang tahun dari saya. Sayangku tersenyum bahagia setelah membaca kartu ucapan dari saya dan sekali lagi berterima kasih kepada saya karena saya sudah menyayangi Sayangku. Di kartu tersebut saya tuliskan demikian:
To: Grace Viviana tersayang.. Selamat ulang tahun.. harapanku, kamu semakin sabar, tidak lekas cemburu, dan semakin mengasihi Yesus dan aku. Banyak hal yang telah kita alami berdua, baik itu yang membuat kita bahagia maupun yang membuat kita sedih dan bertengkar, tetapi itu semua merupakan sesuatu yang membuat kita/cinta kita menjadi dinamis dan membuat kita bahagia dan semakin saling menyayangi. Semuanya itu mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat hidup tanpa Yesus. Banyak hal yang membuat kita khawatir akan hari esok tetapi kalau kita tetap bersama Yesus, kita tidak perlu khawatir lagi. Dan akhirnya, aku ingin kamu ingat ini: Dengan setulus hati, AKU SAYANG KAMU. Love, Henry Hermawan.
Hadiah-hadiah ulang tahun kami yang pertama ini masih tersimpan hingga sekarang. Saat ulang tahun saya yang pertama kali saya rayakan kembali tanpa Sayangku di sisi saya, saya berusaha untuk memotret hadiah-hadiah itu untuk mengenang momen-momen indah kami berdua di saat perayaan ulang tahun kami masing-masing yang pertama kali kami rayakan ketika kami sudah menjadi sepasang kekasih. Hasil foto itu dapat dilihat pada Foto 2.

Keesokan harinya, ketika kami bertemu di gereja saat ibadah pemuda, Sayangku bercerita kepada saya sambil tertawa kalau saat Sayangku mencoba memasang jam weker itu di malam harinya, Sayangku kaget karena bunyinya sangat keras. Lalu Sayangku mengatur jam bangun paginya di jam weker itu. Pada pagi harinya, ketika jam weker itu berbunyi, Sayangku langsung terbangun kaget. Kami berdua tertawa. Saya pun punya “insiden” dengan Alkitab hadiah ulang tahun saya. Waktu itu kami masih berpacaran, belum menikah. Di suatu ibadah pemuda, saya pernah diminta oleh Pdt. Adrian Ch. Politon, yang saat itu menyampaikan Firman Tuhan, untuk membaca satu ayat. Saya kelabakan saat itu. Langsung saya meminjam Alkitab Sayangku yang kebetulan duduk di sebelah saya (posisi tempat duduk kami berdua saat ibadah pemuda sudah saya sampaikan pada episode kelima). Begitu melihat saya kelabakan dan meminjam Alkitab-nya Sayangku, om Politon langsung berkomentar, “Kalau pinjam Alkitab seperti itu, ada 2 kemungkinan. Pertama, tidak bawa Alkitab. Kedua, Alkitab yang dibawa itu berbahasa Inggris.” Untuk menjawab komentar om Politon itu, saya cuma mengangkat Alkitab saya. Lalu om Politon menanggapi, “Ternyata yang kedua.” Setelah saya membacakan ayat tersebut dan mengembalikan Alkitab kepada Sayangku, kami berdua tertawa cekikikan.. hi..hi..
Cukup cerita yang “berbunga-bunga”-nya karena sedang jatuh cinta. Sekarang saatnya cerita yang benar-benar “menghadapi dunia nyata”. Akhir tahun 1997 sampai dengan akhir tahun 2000 adalah tahun-tahun pembentukan karakter kami yang baru untuk menyongsong hidup kami yang baru sebagai suami dan istri. Tahun-tahun tersebut merupakan tahun “air mata” kami, tahun-tahun di mana kami saling belajar untuk memahami dan mengkompromikan perbedaan-perbedaan awal kami berdua yang begitu banyak. Sejatinya, kami berdua sangat berbeda. Itu sebabnya, khususnya di tahun 1998, kami selalu bertengkar tiap minggunya; kami bisa bertengkar beberapa kali dalam seminggu karena hal yang mungkin sepele/kecil dan kami masing-masing juga tidak bermaksud untuk membuat pasangan kami menjadi marah. Bahkan, Sayangku pernah sampai memukul dan mencubit saya berulang-ulang karena marah dan jengkel sekali dengan saya. Namun, di tahun-tahun itu juga, kami belajar untuk saling memaafkan dan lebih saling memperhatikan kebutuhan dan keinginan pasangan masing-masing. Jadi, tahun-tahun itu adalah tahun-tahun di mana kami saling “melukai” dan saling “membebat luka-luka” yang kami buat sendiri kepada pasangan kami. Tetapi dari saling “melukai” dan saling “membebat luka-luka” inilah, kami menjadi lebih saling memahami dan berusaha keras untuk dapat menyesuaikan diri masing-masing dengan mengkomunikasikan segalanya untuk mendapatkan titik-titik kompromi.
Tahun-tahun itu juga merupakan tahun-tahun pergumulan kami berdua untuk bersedia dibentuk oleh Tuhan, belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, tidak bergantung sama sekali kepada manusia, dan belajar taat kepada Tuhan. “Sungai Yordan yang deras” dan “tembok Jerikho yang tebal dan tinggi” berada di depan kami, menghadang kami berdua. Itu semua mustahil bagi kami untuk dapat dilewati. Hanya dengan ketaatan kami kepada Tuhan untuk melakukan apa yang tepat seperti yang Tuhan suruhlah, yang memampukan kami untuk melewati itu semua karena begitu kami taat dan melakukan tepat seperti yang Tuhan suruh, Tuhan menyertai kami dan melakukan hal-hal dahsyat yang tidak pernah kami pikirkan dan yang tidak pernah ada di dalam hati kami. Tuhan begitu luar biasa bagi kami berdua!
Cerita selanjutnya tidak saya urutkan berdasarkan waktu, tetapi berdasarkan topik yang disajikan. Namun, waktu kejadian tetap berada dalam rentang waktu September 1997 sampai dengan Desember 2000. Sekali lagi, cerita kali ini lebih fokus kepada apa yang sudah Tuhan kerjakan sehingga kami berdua benar-benar sudah siap untuk menjalani lembaran kehidupan kami berdua sebagai pasangan suami-istri sejak kami menikah pada tanggal 8 Januari 2001. Untuk cerita yang lebih fokus kepada kebersamaan kami berdua pada periode ini, akan saya ceritakan di episode yang lain.
Pertama yang akan saya ceritakan adalah tentang bagaimana Tuhan membentuk karakter kami dengan cara “membenturkan” kami berdua agar kami dapat saling memahami dan berkompromi atas segala perbedaan-perbedaan kami sehingga kami benar-benar siap untuk menjadi pasangan suami-istri. Tanpa Tuhan yang campur tangan untuk membentuk karakter kami, kami tidak mungkin bisa menjadi pasangan suami-istri karena karakter kami sebenarnya “saling beradu” karena perbedaan kami cukup banyak dan kami sama-sama “keras”. Kami menganggap diri kami sendiri yang benar, pasangan kami yang salah. Jadi, Tuhan memang sengaja “membenturkan” kami berdua agar kami saling mempelajari pasangan kami.
Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.
Amsal 27:17 (TB)
Ada beberapa hal yang saya ingat dan saya temukan pada buku catatan Sayangku tentang pelajaran berharga yang merupakan hasil refleksi kami setelah kami bertengkar. Akan saya ceritakan secara ringkas. Ok, saya mulai ceritanya..
Belajar saling memahami dan berkompromi
Sebenarnya, sejak kami mulai saling memanggil “sayang” atau “honey” yang menandakan kami sudah sepakat untuk menjajaki hubungan kami sebagai sepasang kekasih, kami sudah mulai bertengkar. Hal-hal seperti terlambat menjemput, bicara dengan nada yang agak tinggi, berbicara dengan teman lawan jenis, tidak segera bertemu setelah selesai ibadah tapi malah asyik mengobrol dengan teman lainnya, dan hal-hal lainnya yang mungkin biasa kami lakukan sebelum kami menjadi sepasang kekasih, dapat memicu pertengkaran kami. Bahkan, kami juga pernah bertengkar hebat karena salah pilih kata-kata saat berbicara. Saat bertengkar hebat, mulailah kami memaksakan kehendak masing-masing, bahkan Sayangku sampai memukul dan mencubit saya karena saya tidak mau menuruti kemauannya. Kalau kami bertengkar ketika sedang berboncengan di sepeda motor, tangan Sayangku langsung memijit pundak saya hingga saya kesakitan. Saat itu, saya marah sekali. Tetapi, Tuhan mengingatkan saya secara pribadi agar saya lebih sabar dan tidak membalas apa yang Sayangku lakukan kepada saya. Saat itu saya tidak tahu apa maksudnya Tuhan, namun, saya hanya melakukan apa yang Tuhan minta kepada saya sambil berjanji bahwa saya tidak akan pernah memukul Sayangku. Walaupun kami bertengkar, tetapi cinta kasih kami lebih besar dari pertengkaran kami. Biasanya, tak berapa lama setelah bertengkar hebat, setelah kami saling diam dan mulai dapat menguasai diri kami masing-masing, kami sadar bahwa kami sudah saling menyakiti dan mulailah kami saling meminta maaf. Anehnya, setelah kami meminta maaf dan memaafkan, kami berdua menjadi semakin tambah sayang.
Sejalan dengan waktu, saya tahu bahwa ada sebab mengapa tiap kali marah, Sayangku cenderung untuk menyakiti saya secara fisik. Saya baru mengetahuinya beberapa tahun setelah kami menikah, saat Sayangku bercerita sambil menangis tentang “luka hati”-nya. Saat saya mendengarkan cerita Sayangku, Tuhan mulai menunjukkan alasannya mengapa waktu itu saya diminta untuk lebih sabar dan tidak membalas perlakuan Sayangku. Untuk hal yang terkait ini, akan saya ceritakan pada episode-episode berikutnya.
Mengenai janji saya untuk tidak akan pernah memukul Sayangku, sudah saya tepati. Pernah satu kali, ketika kami sudah menikah, kami bertengkar hebat. Sayangku kembali memukul saya. Saya tidak terima. Saya mengangkat tangan saya dengan maksud akan memukul Sayangku. Saat itu Tuhan bertindak. Tuhan memakai Sayangku untuk mengingatkan saya akan janji saya untuk tidak akan pernah memukul Sayangku. Tuhan membuat Sayangku menantang saya sambil berkata, “Kamu mau pukul aku, ya? Ayo pukul aku!” Begitu saya mendengar perkataan Sayangku, langsung saya sadar kalau saya hampir saja melanggar janji saya sendiri. Segera saya turunkan tangan saya lalu saya berdiam diri. Puji Tuhan! Tuhan begitu baik sehingga sampai maut memisahkan kami berdua, saya benar-benar sudah menepati janji saya untuk tidak pernah memukul Sayangku. Tentang pertengkaran yang hebat ini, apa sebabnya, bagaimana kami akhirnya saling memaafkan, akan saya ceritakan di episode-episode berikutnya.
Tuhan telah membuat kami berdua benar-benar saling menyayangi hanya dalam beberapa bulan berpacaran. Rasa sayang kami begitu kuat satu dengan yang lain sampai rasanya tidak ingin berpisah lama. Itu sebabnya, pada bulan Desember 1997, saya menawarkan diri untuk menjemput Sayangku saat pulang kerja setiap hari agar kami dapat selalu bertemu setiap hari. Tentu saja, Sayangku gembira sekali. Ternyata, momen saya menjemput Sayangku ini sering menjadi momen untuk kami berbicara dan melakukan kompromi saat proses pembentukan kami berdua yang dilakukan oleh Tuhan mulai intens di tahun 1998.
Saat kami memasuki tahun 1998, proses pembentukan kami berdua mulai intens. Kami semakin sering bertengkar. Dalam seminggu, bisa beberapa kali kami bertengkar. Ternyata, Tuhan memakai pertengkaran kami untuk mendidik kami agar kami mau mulai mengenal dan memahami pasangan kami, tidak fokus kepada diri sendiri. Setiap kali pertengkaran terjadi, Tuhan melatih kami agar kami dapat mengendalikan emosi kami, yaitu: kemarahan, perkataan-perkataan yang tidak pantas yang dapat menyakiti pasangan secara psikis, tindakan menyakiti pasangan secara fisik, dan sebagainya. Ketika pertengkaran berakhir lalu saling meminta maaf dan saling memaafkan, kami menjadi bertambah sayang. Saat itulah, Tuhan menyadarkan kami masing-masing untuk mau mempelajari pasangan kami, berbicara baik-baik tentang apa yang disukai dan yang tidak disukai, mau berbicara terbuka, apa adanya, dan jujur, sambil menahan ego masing-masing untuk menemukan titik kompromi, serta berusaha memperhatikan kebutuhan pasangan. Saat kami menemukan titik kompromi, secara otomatis, ego kami berdua akan berubah, lalu dengan rela hati kami saling menyesuaikan diri dan karakter masing-masing untuk pasangan karena kami sangat saling mengasihi dan saling mencintai.
Konflik yang terjadi di tahun 1998 berbeda dengan konflik di tahun 1999 dan 2000. Di tahun 1998, konflik sering terjadi karena ego kami yang besar. Kami tidak suka kalau apa yang dilakukan oleh pasangan kami tidak sesuai dengan kami. Di tahun itulah, kami belajar untuk menyesuaikan konsep berpikir, perasaan, dan kehendak pribadi masing-masing. Tahun yang cukup berat karena banyak sekali perbedaan kami waktu itu, apalagi ditambah oleh faktor beda usia yang cukup lumayan. Waktu kebersamaan kami banyak dihabiskan untuk berbicara dan berkompromi. Bisa saya katakan, tahun 1998 itu adalah tahun pendewasaan kami berdua. Sudah bukan saatnya lagi “senang-senang” tetapi kami harus mempersiapkan diri kami agar saat kami menikah, kami sudah benar-benar siap menjadi pasangan suami-istri. Puji Tuhan! Tuhan benar-benar melatih kami dengan caranya yang luar biasa. Tiap kali kami bertengkar, Tuhan membuat hati kami saling merindu sehingga mau tidak mau, kami pasti ingin bertemu satu dengan yang lain. Saat kami bertemu, kami pasti tidak merasa nyaman karena perasaan kami bercampur aduk antara marah dan rindu. Akhirnya, mau tidak mau, kami mulai berbicara tentang konflik kami dan menemukan titik kompromi. Saat menemukan titik kompromi, rasa marah kami langsung lenyap dan hanya ada rasa rindu yang meluap-luap di hati kami. Itu sebabnya, kami bisa langsung saling meminta maaf dan saling memaafkan tanpa menyimpan sedikitpun kemarahan dalam hati kami. Itu yang membuat kami menjadi semakin saling menyayangi tiap kali sehabis bertengkar.
Di tahun 1998 itu, saya belajar ternyata saya adalah orang yang tidak perduli dengan orang lain, lebih memikirkan diri sendiri, dan egois. Berkali-kali Sayangku marah kepada saya karena saya mengabaikan Sayangku, sampai akhirnya saya dipukul, dicubit, dipijit/diremas pundak dan tangan saya sampai saya kesakitan, bahkan Sayangku pernah mengata-ngatai saya dengan perkataan yang kurang pantas karena emosi yang luar biasa besar. Sayangku paling tidak suka kalau saya ingkar janji dan mengabaikannya. Saya berjanji bahwa tiap sore saya akan menjemput Sayangku di kantor, Kalau kebetulan saya berhalangan menjemput, saya akan menelepon Sayangku agar Sayangku tidak perlu menunggu dijemput. Di tahun itu, saya sedang berusaha keras untuk menyelesaikan kuliah saya sambil mengejar ambisi saya pribadi –untuk ambisi saya pribadi ini, akan saya ceritakan di episode yang lain– agar saya bisa memenuhi janji saya untuk menikah dengan Sayangku. Karena sering kecapaian, akhirnya saya sering tidur siang/sore sebelum menjemput. Di awal tahun 1998, saya sering ketiduran sehingga sering terlambat menjemput tanpa pemberitahuan. Sayangku berkali-kali telepon ke tempat kos saya, untuk menanyakan kepada ibu kos apakah saya tertidur atau sudah berangkat untuk menjemput. Ternyata, saya lebih sering ketiduran daripada sudah berangkat menjemput. Ketika saya bangun dan berangkat menjemput, Sayangku sudah menunggu saya dengan muka yang masam. Mulailah kami bertengkar. Tetapi saat-saat awal kami bertengkar, Tuhan sudah memperingatkan saya dengan keras agar saya tidak membalas dengan pukulan dan perkataan yang tidak pantas kepada Sayangku. Itu sebabnya, saat pertengkaran itu, saya lebih banyak diam karena saya takut bersalah kepada Tuhan. Sayangku pernah menulis seperti ini di catatannya, “Gara-gara tidur lagi, jemput aku jadi telat. Marahan lagi. Benci aku hal ini. Aku jadi nomor berapa? 1. Tidur, 2. Aku.” Ketika emosi sudah mulai surut, kami mulai berbicara. Biasanya, saya mengawalinya dengan meminta maaf karena saya yang bersalah. Lalu Sayangku mulai mengemukakan isi hatinya kepada saya. Selanjutnya, kami berbaikan. Di awal-awal, Sayangku belum tahu mengapa saya sering ketiduran. Lama-lama, karena terlalu sering ketiduran, Sayangku mulai curiga dan mulai bertanya kepada saya alasan sebenarnya. Akhirnya saya menceritakan bahwa saya sering kecapekan karena saya mengambil banyak mata kuliah agar cepat lulus sambil tetap mengejar ambisi saya. Sayangku mulai mengerti lalu berusaha untuk mengendalikan diri kalau saya terlambat menjemput. Saya pun berjanji untuk berusaha tidak terlambat menjemput. Setelah kami berkompromi, akhirnya pertengkaran akibat terlambat menjemput tidak pernah terjadi lagi. Bahkan setelah menikah, Sayangku sangat mentolerir keterlambatan saya dalam menjemput, asal itu bukan saya yang memang sengaja mengulur waktu. Sayangku memang luar biasa pengertiannya kepada saya. Terima kasih Tuhan!
Tentang Sayangku yang beberapa kali memukul dan mengata-ngatai saya, ternyata Tuhan sendirilah yang beperkara dengan Sayangku. Saya sudah diperingatkan dengan keras oleh Tuhan agar tidak membalas karena Tuhan sendirilah yang akan menyelesaikan ini. Pada suatu waktu, setelah kami bertengkar hebat yang disertai dengan pukulan dan perkataan yang tidak pantas, keesokan harinya, Sayangku menangis dan meminta maaf kepada saya karena telah berani memukul dan mengata-ngatai saya. Sayangku menyesal sekali. Sayangku bilang, “[Sa]Yang, aku tidak mau kurang ajar sama kamu. Aku mau belajar menghormati kamu, apalagi kamu nantinya menjadi suamiku. Aku harus belajar menghormati kamu mulai dari sekarang. Walaupun kamu salah dan aku marah sama kamu, aku akan berusaha keras menahan diriku agar tidak kurang ajar sama kamu.” Saya terkejut dan bahagia sekali ketika mendengar itu. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan mengasihi Sayangku sehingga Tuhan menegur Sayangku agar berubah menjadi lebih baik. Dan memang, setelah Sayangku menyesal hingga kami berdua dipisahkan oleh maut pada tanggal 24 Juni 2021, Sayangku adalah pasangan hidup saya yang sangat manis! Sayangku benar-benar menghormati saya sebagai suaminya. Terima kasih, Tuhan!
Saya pun mulai belajar memperhatikan Sayangku. Langkah pertama, saya berusaha keras untuk tidak ketiduran lagi kalau sudah waktunya untuk menjemput Sayangku di sore hari. Setelah beberapa bulan, saya mulai dapat mengendalikan rasa kantuk saya sehingga saya dapat selalu menjemput Sayangku tepat waktu. Sayangku senang sekali bahkan beberapa kali memeluk saya dengan erat dari belakang saat berboncengan di sepeda motor sambil membisikkan ucapan terima kasih karena Sayangku tahu usaha keras saya untuk bisa menjemput Sayangku tepat waktu. Pernah suatu waktu, karena kesibukan saya yang luar biasa, Sayangku dengan rela membiarkan saya untuk tidak menjemputnya. Sayangku menulis di buku catatannya, “Sayangku tidak jemput. Sibuk. Kasihan..” Di bagian lain di catatannya, Sayangku menulis, “Heran, aku bisa sayang berat sama dia.” Ya.. Sayangku memang benar-benar sayang sekali kepada saya. Saya merasakannya sejak berpacaran, menikah, hingga kami berdua dipisahkan oleh maut pada tanggal 24 Juni 2021. Terima kasih, Tuhan! Engkau telah memberikan kepadaku seorang istri yang begitu menyayangi diriku apa adanya.
Hal lain yang tidak disukai oleh Sayangku dari saya adalah saat saya tidak mengerti keinginannya. Sayangku itu orang yang mudah kangen. Baru tidak bertemu sehari saja, sudah ingin bertemu. Kalaupun tidak bisa bertemu, Sayangku ingin telepon saya hanya untuk sekedar mendengar suara saya. Nah, saya sering tidak aware dengan keinginan Sayangku ini. Ketika Sayangku telepon, saya sering tidak fokus kepada Sayangku bahkan beberapa kali ingin menyudahi telepon karena saya sedang mengerjakan hal lain. Inilah yang membuat Sayangku beberapa kali kecewa dan marah kepada saya. Sampai kami telah menikah sekalipun, saya juga beberapa kali sering tidak aware dengan keinginan ini. Sayangku pernah bilang, “Apa kamu tidak tahu kalau aku itu kangen sama kamu? Masa kalau ditelepon, gak bisa bertahan 5 – 10 menit saja supaya aku puas mendengar suaramu?” Sejak itu, saya berusaha keras untuk memperhatikan perasaan Sayangku ini. Sebisa mungkin, walaupun tidak sempurna, saya berusaha untuk memberikan waktu telepon kalau tidak bisa bertemu. Bahkan setelah menikah pun, saya tetap belajar dan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi keinginan Sayangku ini. Cerita tentang usaha saya ini akan saya tuliskan pada episode-episode yang lain untuk lebih detilnya.
Karena memang perbedaan usia kami yang cukup lumayan dan Sayangku lebih tua dari saya, di awal-awal tahun 1998, beberapa kali kami bertengkar karena Sayangku suka memaksakan kehendaknya dan suka mengatur saya dalam berbagai hal. Saya sangat tidak suka. Itu sebabnya, saya pasti langsung marah ketika Sayangku sudah mulai mengatur dan memaksa. Sayangku menyadari hal ini. Di buku catatannya, Sayangku menulis, “Pelajaran hari ini: sok ngatur!” Sejak itu, Sayangku belajar untuk tidak mengatur dan memaksakan kehendaknya. Kalau ada hal yang tidak disukai atau ingin membenahi sesuatu, Sayangku memulainya dengan meminta izin kepada saya. Misalnya, di tahun 1998 itu juga, Sayangku pernah menyampaikan kepada saya bahwa Sayangku tidak menyukai penampilan saya, khususnya, pada celana panjang yang saya kenakan. Sayangku menilai, celana panjang yang biasa saya kenakan itu tidak cocok jahitannya. Sayangku ingin sekali membelikan kain dan membawa saya ke penjahit. Pada awalnya, Sayangku tidak berani karena takut saya tersinggung dan merasa diatur-atur oleh Sayangku. Namun, pada akhirnya, Sayangku memberanikan diri meminta izin kepada saya dengan bertanya, “Apa kamu mau kalau aku jahitkan celana panjang? Soalnya celana panjangmu tidak pas kalau kamu pakai.” Karena Sayangku meminta izin baik-baik kepada saya, akhirnya saya bersedia demi kebaikan saya juga walaupun saya memberi syarat bahwa harus saya yang membayar semuanya. Sayangku setuju tapi juga meminta izin kembali kalau sewaktu-waktu Sayangku ingin membelikan untuk saya. Kompromi selesai. Sejak saat itu, apalagi setelah kami menikah, Sayangku benar-benar bisa menempatkan dirinya sebagai pasangan hidup saya yang luar biasa! Sayangku tahu kapan harus meminta izin saya terlebih dahulu dan kapan harus berinisiatif untuk membuat saya menjadi lebih baik tanpa membuat saya merasa direndahkan dan diatur-atur. Luar biasa! Terima kasih Tuhan untuk Sayangku yang sudah Engkau berikan kepadaku.
Setelah kami melakukan banyak sekali kompromi pada tahun 1998, di tahun selanjutnya (1999-2000), konflik yang terjadi hampir semuanya disebabkan oleh hal lain, yaitu rencana masa depan kami, khususnya tentang pernikahan kami. Hubungan kami berdua sulit dan banyak yang menentang. Bisa dibilang, tidak ada kepastian akan pernikahan kami. Kalau dituliskan dalam prosentase, secara manusia, peluang kami untuk menikah adalah 0%. Itu sebabnya pada tahun 1999-2000, konflik yang terjadi pada kami berdua disebabkan karena hal ini. Namun, Tuhan tidak tinggal diam. Karena Tuhan yang memulai dengan membuat kami saling jatuh cinta, maka Tuhan yang menuntaskan semuanya dengan mempersatukan kami ke dalam pernikahan yang kudus. Hanya saja, Tuhan meminta satu hal kepada kami berdua, yaitu: percaya total kepada-Nya. Caranya? Dengan hanya bergantung dan berharap kepada-Nya, serta melakukan tepat seperti yang disuruh oleh Tuhan. Inilah yang akan saya ceritakan pada segmen “Belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan” dan “Belajar taat kepada Tuhan”.
Belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan
Kami mulai melihat “sungai Jordan yang deras” dan “tembok Yerikho yang tebal dan tinggi” ketika menjelang akhir tahun 1997, keluarga kami, khususnya keluarga saya, menentang keras hubungan cinta kasih kami berdua. Saat itu, kami benar-benar tidak punya harapan. Orang-orang bilang, “Hubungan cinta kasih kalian berdua tidak punya masa depan, lebih baik diakhiri saja!” Kami berdua sedih, menangis. Kami sendirian. Ketika kami berdua membicarakan masalah ini, hampir saja kami bersepakat untuk berpisah. Namun, sebelum kami mengambil keputusan lebih lanjut, kami berdoa kepada Tuhan karena Tuhan-lah yang membuat kami saling mencintai. Semakin sering kami berdoa, semakin kuat cinta kami berdua. Lalu kami sadar, bahwa Tuhan memang menghendaki kami menjadi pasangan kekasih dan nantinya berlanjut menjadi pasangan suami-istri. Itu sebabnya, kami memutuskan untuk bertahan, walaupun secara manusia, kami sendirian, kami tidak berdaya, dan hubungan kami tidak memiliki masa depan. Kami mulai berusaha untuk fokus kepada Tuhan, berusaha untuk bergantung kepada Tuhan.
Dalam buku catatannya, Sayangku sempat menulis beberapa paragraf yang saya sendiri tidak tahu apakah Sayangku menuliskan itu sendiri atau membaca dari artikel lain lalu dituliskan pada buku catatannya. Tulisan yang pertama,
Dalam menghadapi saat-saat penuh keprihatinan seperti ini, manusia merasa tidak berdaya. Namun, hanya Tuhan-lah satu-satunya yang dapat mengucapkan kata-kata-Nya sehingga dapat memerintah laut yang bergelora menjadi tenang, angin yang kencang menjadi bungkam. Sakit dan penderitaan pun hilang. Maka, bersandarlah pada Tuhan. Hal ini merupakan keyakinan dan jaminan, bahwa Anda tidak pernah berjalan sendiri.
Tulisan yang kedua,
Karena Tuhan menetapkan langkah-langkah kita, kita dapat senantiasa diyakinkan, bahwa ada cukup waktu setiap hari untuk melakukan kehendak-Nya. IA mengatur langkah kita. IA tidak pernah mengecewakan kita. IA menghendaki agar kita bertindak dengan tenang, hidup dengan damai, berlimpah-limpah dengan sukacita, dan sepenuhnya mengandalkan Yesus untuk melakukan semua kehendak-Nya melalui kita.
Tulisan yang ketiga,
Terkadang jawaban nampaknya tak kunjung datang, walaupun kita telah memanjatkan doa-doa kita. Kita merasa heran, mengapa Tuhan? Dan kita mulai mempertanyakan apakah Yesus benar-benar perduli? Kita tidak perlu bimbang bila kita percaya rancangan kasih Tuhan. IA melihat keseluruhan. IA mendengarkan doa-doa kita dan memegang kita dalam tangan kasih-Nya.
Tulisan-tulisan itulah yang sudah menguatkan Sayangku pribadi untuk tetap bertahan, mempertahankan hubungan cinta kasih kami berdua, karena Sayangku tahu bahwa hubungan cinta kasih kami berdua itu adalah rancangan Tuhan. Itu sebabnya, Sayangku juga berkali-kali menguatkan diri saya agar tetap percaya dan berharap kepada Tuhan walaupun sepertinya tidak ada jalan di depan kami berdua.
Pada hari Natal tahun 1997, Natal pertama kami berdua sebagai pasangan kekasih, Sayangku mengirimi saya kartu ucapan selamat Natal. Pada kartu tersebut, Sayangku menulis demikian:
Buat yang aku kasihi, Henry Hermawan.. Selamat Hari Natal 1997 dan selamat menyongsong Tahun Baru 1998. Semoga Natal pertama kita ini dapat kita lewati bersama-sama dengan baik. Dan di tahun depan, harapan kita juga dapat terwujudkan dalam satu doa. Tahun depan mungkin bisa menjadi tahun yang berat, tapi kalau dengan kesabaran, kasih, serta pengharapan pada Tuhan, pasti bisa kita lewati bersama satu demi satu. Satu pikiran, satu hati merupakan kekuatan hubungan kita. Dan buat kamu tersayang.. tetap tegar, tekun, thinking positive, sabar, tidak cepat berputus-asa, dan semakin mengasihi Yesus dan aku. Love, Grace Viviana.
Itulah harapan dan kekuatan kami berdua.. yaitu Tuhan Yesus. Tiada yang lain yang dapat menolong kami berdua selain Tuhan Yesus Kristus!
Mulai tahun 1998, kami berdua mulai intens berkomunikasi dengan keluarga kami masing-masing sambil terus-menerus berdoa. Berkali-kali saya telepon dan pulang ke Kudus untuk berbicara dengan orangtua saya, namun tetap tidak ada harapan. Sayangku juga mulai tertekan dengan keadaan ini dan dari pihak keluarga juga mulai menyarankan agar hubungan kami diakhiri saja. Namun, ketika kami berdoa, Tuhan malah semakin menguatkan kami berdua untuk tetap melanjutkan hubungan kami.
Tahun 1998 dan 1999 merupakan tahun yang sangat berat bagi kami berdua. Entah sudah berapa banyak air mata kami tertumpah.. entah sudah berapa kali kami hanya bisa duduk dan menangis, tanpa bisa berkata-kata lagi kepada Tuhan karena begitu berat beban kami saat itu. Apalagi, menjelang akhir tahun 1997, telah beredar “surat kaleng” yang menjelek-jelekkan Sayangku, yang sengaja dikirimkan kepada keluarga kami, baik di Kudus maupun di Surabaya. Tidak cuma sekali, tetapi beberapa kali. Semua menjadi bertambah sulit. Kami berdua bagaikan orang pesakitan di mata keluarga kami dan orang-orang di sekitar kami. Kami menjadi seperti suatu borok bagi keluarga dan orang-orang di sekitar kami. Hanya beberapa orang, khususnya sahabat-sahabat kami, yang mendukung kami dalam doa. Sayang menulis beberapa kali di buku catatannya, bahwa Sayangku sedih sekali melihat kondisi saya. Sayangku menuliskan kalau saya sampai menderita depresi berat, menjadi orang yang minder, tidak percaya diri. Setiap kali kami berdua menghadiri acara-acara gereja, acara-acara keluarga, dan acara-acara lainnya yang dihadiri oleh orang-orang yang mengetahui masalah kami, saya hampir tidak mau ikut serta. Sayangku sampai berkali-kali membujuk saya agar saya mau ikut sambil berjanji kalau situasi “memburuk”, Sayangku akan menarik saya pergi dari tempat itu. Dan sungguh, ada 1-2 acara yang situasinya “memburuk” bagi kami, Sayangku langsung mengajak saya meninggalkan acara itu dan pergi ke tempat lain untuk melindungi dan menenangkan saya. Depresi ini juga yang beberapa kali memicu pertengkaran kami. Biasanya pertengkaran itu terjadi karena saya yang tidak dapat menahan emosi karena depresi berat dan Sayangku juga tertekan hingga akhirnya menyulut emosinya juga. Sayangku sampai menulis beberapa kejadian saat saya mengalami depresi ini di buku catatannya:
- “Pulang gereja, Sayangku depresi gara-gara aku. Aku menyiksa orang yang aku sayangi. Maafkan aku, Yang!!”
- “Ke Adijasa ikut upacara pemberangkatan jenazah…, nemani Sayangku.. Kasihan Sayangku, lagi malu.”
- Menangis berdua..
- “Sewot lagi.. bertengkar lagi.. gara-gara hari yang tidak enak”
- “Bertengkar karena lupa mematikan lampu ruang doa”.
Namun, di tengah-tengah depresi, kami percaya, kalau Tuhan yang memulai, Tuhan yang juga akan menyelesaikannya menurut kasih setia-Nya. Mazmur 109:25-27 benar-benar menggambarkan kondisi kami saat itu. Itu sebabnya, sama seperti pemazmur, kami hanya berseru kepada Tuhan, memohon pertolongan sesuai dengan kasih setia-Nya.
Aku telah menjadi cela bagi mereka; melihat aku, mereka menggelengkan kepalanya. Tolonglah aku, ya Tuhan, Allahku, selamatkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya mereka tahu, bahwa tangan-Mulah ini, bahwa Engkaulah, ya Tuhan, yang telah melakukannya.
Mazmur 109:25-27 (TB)
Kami bersepakat untuk mengambil waktu doa bersama, selain waktu berdoa pribadi masing-masing. Karena kami tidak mempunyai tempat khusus untuk berdoa berdua, kami memanfaatkan ruang doa di gereja yang kosong di waktu-waktu tertentu. Di ruang doa itu, kami berdoa bersama, menangis bersama, berseru bersama, berharap kepada Tuhan, memohon belas kasihan Tuhan, memohon pertolongan Tuhan menurut kasih setia-Nya yang tiada habis-habisnya. Bahkan, karena tekanan/depresi yang besar, kami pernah satu kali bertengkar hanya gara-gara saya lupa mematikan lampu ruang doa setelah kami selesai menggunakan ruang itu untuk berdoa. Memang tugas saya untuk mematikan lampu tapi saat itu entah mengapa saya seperti orang linglung sampai lupa mematikan lampu. Memang saat itu saya sedang depresi berat. Karena juga sedang depresi, Sayangku menjadi lepas kendali diri lalu menegur saya dengan keras dan menyebabkan saya tersinggung. Kami bertengkar. Saat saya mengantar Sayangku pulang ke rumah dengan berboncengan naik sepeda motor, di sepanjang jalan, kami hanya diam. Ketika hampir sampai di rumah, masih dalam posisi berboncengan di sepeda motor, Sayangku tiba-tiba memeluk saya dengan erat dari belakang lalu meminta maaf karena sudah kurang ajar kepada saya, sudah menegur saya dengan keras dan menggunakan kata-kata yang kurang pantas. Saya juga meminta maaf karena sudah lupa tugas saya dan sudah emosi karena teguran Sayangku. Selesailah pertengkaran kami.
Suatu hari pada bulan April 1999, kami berdua benar-benar depresi. Saya habis berbicara dengan orangtua saya tentang hubungan kami dan tetap tidak ada jalan. Di tengah depresi kami, Sayangku mengajak saya untuk menemui Pdt. Adrian Ch. Politon (kami biasa memanggilnya dengan om Yan Politon) untuk menceritakan masalah kami dan meminta nasehat. Saat itu, om Yan Politon memberikan ayat Firman Tuhan dari Efesus 3:20. Ayat itu menguatkan kami agar kami tetap berharap dan bergantung kepada Tuhan karena hanya Tuhan-lah yang mampu melakukan segala hal, bahkan sesuatu yang tidak pernah kami pikirkan maupun doakan. Selama Tuhan yang berkehendak, Tuhan dapat melakukan apa saja yang tidak pernah kami pikirkan dan doakan. Kami hanya perlu menyerah dan mengikuti apa yang menjadi kehendak-Nya agar Tuhan dapat bekerja maksimal dalam diri kami. –Terima kasih, om Yan Politon, atas waktu dan nasehatnya saat itu. Tuhan Yesus memberkati!–
Segala kemuliaan bagi Allah. Dengan kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita, Ia dapat melakukan jauh lebih banyak hal daripada yang berani kita bayangkan — sama sekali melebihi segala doa, keinginan, pikiran, dan pengharapan kita.
Efesus 3:20 (FAYH)
Dari situasi yang berat ini, Tuhan mengajarkan kepada kami untuk hanya berharap kepada-Nya, tidak berharap kepada manusia. Kejadian demi kejadian yang terjadi pada tahun 1998-1999 benar-benar “memaksa” kami untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Begitulah saya menuliskannya karena tanpa kejadian-kejadian tersebut, kami tidak akan pernah dapat belajar untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Hasil dari proses ini akhirnya semakin terlihat. Pada pertengahan tahun 1998, secara mengejutkan, Sayangku mengirim surat sepanjang 3 halaman kepada saya, yang dikirimkan melalui pos. Isi dari surat itu adalah demikian:
Surabaya, 14 Juni '98 Yang aku kasihi Henry Hermawan, Mungkin surat ini adalah surat pertamaku yang mengejutkan kami di siang hari. Sengaja sih ingin membuat kamu "big surprise buat yang tersayang". Gimana 'Yang kabarmu? Ngantuk ya? Kalau ya, cuci muka dong atau kalau tidak sekalian aja bobo dulu sebentar, tapi kalau sudah jam 16:30 harus sudah mandi siap-siap jemput aku ya, itu kalau kamu tidak keberatan. Surat ini aku tulis sambil dengerin kasetnya Don Moen. Sambil tunggu waktu, kalau bisa kan kamu telpon dan daripada nganggur! Sayang, kamu itu… tidak tahu harus mulai dari mana. Sudah 13 bulan hubungan kasih kita ini berjalan, tidak terasa dan lewat begitu saja, tapi banyak kejadian-peristiwa yang kita alami sama-sama. Godaan-godaan dari pihak luar, keluarga, teman-teman yang dapat merusak hubungan manis ini, bisa kita lalui sama-sama, meskipun dengan susah payah kita pertahankan, tetapi Tuhan Yesus tetap menolong. Pertengkaran-pertengkaran kecil yang pernah ada, merupakan pemanis dalam hubungan ini. Kita bisa lebih memahami/mengerti satu sama lain. Dan pada akhirnya dapat selesai juga, malahan kita bertambah sayang. Perbedaan yang ada di antara kita, kekuranganmu bisa ditutupi dengan kelebihan yang aku bisa beri, juga sebaliknya dengan kekurangan yang aku miliki. Kadang, aku tidak habis berpikir mengapa aku/kamu bisa saling mengasihi. Padahal, banyak perbedaan di antara kita, terutama soal beda usia. Karena itu, aku menganggap hubungan kita ini unik dan spesial, istimewa. Sayang, setelah kita lewati peristiwa-peristiwa seperti keluargamu yang tidak setuju atas hubungan kita, masalah surat kaleng, juga yang timbul dari pihak keluargaku, memang saat itu, aku pernah timbul rasa ragu, apakah bisa berlanjut atau tidak kita ini. Tetapi setelah aku melihat kesungguhanmu terhadap aku, dan dengan didukung kita bisa lewati masalah-masalah secara pelan-pelan (memang masih ada masalah yang belum selesai), aku yakin, bahwa aku tidak boleh ragu-ragu dengan kamu. Aku bertekad untuk tetap mempertahankan hubungan kasih ini. Apapun tidak bisa memisahkan kita, kecuali kamu menghendaki perpisahan atau Tuhan yang tidak menghendakinya. Sayang, kamu sudah menjadi belahan jiwa. Bisa aku rasakan kesedihan, kesenangan, ketakutan, kekuatiran yang terjadi pada kamu, sebab dirimu adalah diriku… (gombal sedikit kan boleh, tapi boleh dibuktikan sendiri). Aku cuma mau mengingatkan kembali, mengenai pengharapan kita pada Bapa kita di Surga, doa-doa kita, keinginan kita tentang rencana-rencana masa depan. Tuhan berkata: "Jangan melihat besarnya kebutuhan kita. Lihatlah besarnya Tuhan kita. Keadaan kita dapat merupakan penghalang bagi kita untuk bisa melihat kemampuan Tuhan, sebab jika hanya memandang kesulitan kita, setan dapat peluang untuk mengalahkan dan melenyapkan Firman Allah yang hidup dalam pikiran kita. Kemenangan ialah jika pandangan kita tertuju pada kebesaran Tuhan serta kemampuan-Nya. Dia berjanji, akan menuntun kita langkah demi langkah. Tidak sekaligus, tetapi langkah demi langkah…" Yang, aku akan menyayangimu selalu, dengan apa yang aku miliki, yang aku bisa… Udahan dulu ya, kalau bisa surat ini dibalas dengan surat juga ya, sempetin dong. Dah… Salam sayang, Grace Viviana.
Saat kami berdua merayakan ulang tahun saya di tahun 1998, Sayangku menulis demikian:
Sayangku, Usiamu hari ini bertambah 1 tahun lagi. Mengucap syukur dulu ya 'Yang sama Bapa kita di Surga, saat ini kamu dalam keadaan sehat dan berkecukupan. Tidak terasa sudah berapa lama, ya.. (aku hitung dulu sebentar ya..) sejak 12 Mei '97 sampai 20 September '98 = 16 bulan 8 hari, kita menjalin kasih dan ini ulang tahunmu yang kedua kali. Tidak terasa berjalan begitu cepat, seperti baru beberapa bulan lalu. Kalau boleh aku ungkapkan, aku mengucap syukur kalau setiap hari masih bisa mendengar suaramu, pulang kantor dijemput kalau kamu bisa, berbagi cerita, tertawa & menangis, bertengkar kecil/hebat (ya mbok ngalah'o.. kan kamu laki!), menikmati kebersamaan kita berdua. Terima kasih pada Tuhan Yesus buat kamu yang aku miliki dan terima kasihku buatmu atas kasih sayang, perhatian, pengorbanan, pengertian yang begitu besar padaku. Karena itu.. aku sayang kamu (ingat ya)… Buat yang aku kasihi: "Henry Hermawan" Selamat ulang tahun pada hari ini tanggal 20 September 1998. Kiranya Tuhan Yesus selalu menolong & pasti akan menolong dalam melewati masa-masa berat, serta sukacita di waktu mengalami pencobaan. Memberkati kehidupan hari-hari mendatang, baik dalam tugas akhir mahasiswa, ujian, juga pekerjaan. Selalu aku doakan untuk semua kerinduan-kerinduan, cita-cita, baik untuk kamu pribadi & untuk rencana-rencana kita, agar bila Tuhan berkehendak, semua bisa jadi. Teriring doa, peluk & ciuman ulang tahun dari: Grace Viviana.
Di hari valentine, tanggal 14 Februari 2000, saya menuliskan ungkapan hati saya kepada Sayangku dalam sebuah kartu:
Dear Vivi, my love… Sudah hampir 3 tahun kita bersama, saling mengasihi, mencintai… Banyak hal, baik itu yang membuat kita senang maupun susah, telah kita lalui berdua. Hampir setiap malam, aku selalu mengingat-ingat apa-apa yang telah kita lalui berdua. Aku bersyukur pada Tuhan karena aku boleh mempunyai kamu dalam hidupku. Sejak ada kamu di hatiku, hidupku menjadi penuh arti, bahagia. Pada hari ini, 14 Februari 2000, aku ingin berterima kasih sama kamu atas kesediaanmu mendampingi aku selama hampir 3 tahun ini, atas segala kesabaranmu, kebaikanmu, dan atas semuanya. Aku juga minta maaf kalau aku sudah menyusahkan kamu. Aku berharap, kamu mau untuk selalu mendampingi aku sampai salah satu dari kita meninggal dunia. Aku begitu mencintai kamu. Aku ingin selalu bersama denganmu, punya anak dari kamu, membesarkan anak-anak kita, dan aku mau mengorbankan apa saja (asal jangan Tuhan Yesus) untuk selalu bersamamu, termasuk mengorbankan diriku sendiri. Aku sayang kamu… Henry.
Kalau bukan karena Tuhan, cinta kasih kami tidak akan dapat bertahan karena tantangan dan hambatan yang besar sekali. Kami percaya, “Kalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sia usaha orang untuk membangunnya.” (Mazmur 127:1-2). Karena kami tahu bahwa kami telah dijodohkan Tuhan, maka kami bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bertahan, dan menanti-nantikan pertolongan Tuhan yang kami percaya akan datang tepat sesuai dengan waktu-Nya.
Bersabarlah menantikan TUHAN! Tetaplah berjalan pada jalan-Nya dan pada saatnya Ia akan memberikan penghargaan kepadamu dengan segala macam berkat…
Mazmur 37:34 (FAYH)
Kami tahu bahwa rencana Tuhan tidak pernah gagal. Walaupun tantangan dan hambatan sangat berat di depan kami dan mustahil untuk dilalui, kami tetap percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu.
Aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak seorang pun dapat menggagalkan rencana-Mu.
Ayub 42:2 (FAYH)
Itulah sebabnya, kami mengambil sikap dan tindakan untuk bergumul dalam doa, baik itu doa pribadi maupun doa bersama kami berdua di ruang doa yang ada di gereja daripada kami meminta bantuan kepada siapapun, apalagi, saat itu, kami berdua merasa hanya kami sendiri. Saat itu, kami merasa ditekan dari berbagai pihak, baik dari keluarga kami berdua, teman-teman gereja, kerabat, dan siapa saja yang tahu. Hanya sahabat-sahabat kami yang tidak menekan kami, tetapi malah mendukung kami dalam doa.
Itulah proses yang harus kami lalui agar kami benar-benar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, dan tidak berharap kepada manusia. Tekanan-tekanan ini kami rasakan hampir sekitar 3 tahun, sampai saya lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Pada akhirnya nanti, tekanan-tekanan dan proses pergumulan yang berat ini telah membuat kami semakin kuat, baik dalam pengenalan dan hubungan pribadi kami dengan Tuhan maupun dalam hubungan cinta kasih kami berdua. Semuanya ini membuat kami semakin mengasihi Tuhan serta juga membuat saya dan Sayangku semakin saling mengasihi dan menghargai sekecil/sesederhana apapun momen kebersamaan kami berdua, misalnya: walaupun kami berdua cuma makan sederhana di pinggir jalan, bahkan kami harus menikmati makanan kami dengan duduk di pinggir trotoar sekalipun, itu sudah sangat menyenangkan bagi kami berdua karena kami melakukannya bersama-sama.
Belajar taat kepada Tuhan
Setelah kami diproses sehingga kami benar-benar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, barulah Tuhan mulai bertindak. Saat Tuhan bertindak, Tuhan mengajarkan kepada kami tentang ketaatan tanpa syarat, ketaatan yang dilandasi kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan agar Tuhan dapat berkarya secara maksimal dalam hidup kami berdua. Hanya dengan ketaatan yang seperti inilah, Tuhan dapat bekerja untuk menggenapi rencana-Nya dalam kehidupan kami berdua. Tuhan membutuhkan kami untuk melakukan langkah pertama, yaitu taat sepenuhnya kepada-Nya, sisanya Tuhan yang membereskan segalanya. Itulah yang dikatakan Tuhan turut bekerja dan mengatur dalam segala hal untuk kebaikan kami.
Kita tahu bahwa Allah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia dan yang dipanggil-Nya sesuai dengan rencana-Nya.
Roma 8:28 (BIS)
Menjelang akhir tahun 1999, saya lulus lalu mulai mencari pekerjaan. Karena Sayangku menginginkan saya bekerja di Surabaya, saya mulai mencari pekerjaan di Surabaya. Namun ternyata, saya tidak mendapatkannya walaupun saya sudah diwawancara oleh beberapa perusahaan. Mereka bilang kalau saya tidak cocok untuk pekerjaan yang mereka tawarkan. Seharusnya, saya melamar ke perusahaan yang lebih besar dan menantang karena mereka menilai kemampuan saya lebih dari yang mereka butuhkan. Mereka khawatir saya akan tidak betah kalau bekerja di perusahaan mereka. Akhirnya, saya mulai melamar pekerjaan di wilayah Jabodetabek dan pada bulan Januari 2000, saya mendapatkan panggilan wawancara. Sayangku keberatan kalau saya bekerja di Jakarta karena Sayangku tidak suka tinggal di Jakarta. Kami sempat bertengkar karena masalah ini. Namun, keesokan harinya, Sayangku berkata kepada saya, “[Sa]Yang, aku ikut kamu. Kalau Tuhan memang menghendaki kamu bekerja di Jakarta, aku ikut. Aku ngalah [Sa]Yang..” Saya tahu bahwa Tuhan sudah berbicara dengan Sayangku agar Sayangku mengalah dan mengikuti saya karena ini semua adalah rencana Tuhan dalam kehidupan kami berdua. Saat itu, kami tidak mengerti apa maksud Tuhan menempatkan saya di Jakarta. Nantinya, kami berdua mengerti, ternyata dengan bekerja di Jakarta inilah, Tuhan membuka jalan agar kami dapat membiayai sendiri setengah dari total biaya pernikahan kami, bahkan kami mendapatkan bonus, yaitu kami dapat membeli mobil.
Sepanjang bulan Januari – Maret 2000, saya mondar-mandir Surabaya – Jakarta karena mendapatkan panggilan untuk wawancara dan tes lanjutan. Pada bulan Maret 2000, ada dua industri di bidang engineering yang akhirnya menerima saya untuk bekerja. Ketika saya memutuskan untuk menerima salah satu dari kedua industri ini, Tuhan turut bekerja. Saat itu, Tuhan memantapkan saya untuk bekerja di PT. Indonesia EPSON Industry (IEI) yang berlokasi di daerah Cikarang. Industri manufaktur ini adalah PMA Jepang yang memproduksi printer merek EPSON. Tetapi, industri satunya menawarkan kepada saya gaji yang lebih menarik, bisa dibilang dua kali lebih banyak dari yang ditawarkan PT. IEI. Itupun masih ditambah fasilitas-fasilitas lainnya. Terus terang, saat itu saya bingung sekali. Saya membutuhkan uang untuk membiayai pernikahan kami. Saya telepon Sayangku untuk meminta pendapat. Sayangku hanya berkata, “Kamu yang memutuskan. Aku percaya dan mendukung apapun pilihanmu. Jangan lupa berdoa terlebih dahulu sebelum memutuskan.” Secara manusia dan logika berpikir, seharusnya saya menerima tawaran yang memberikan gaji lebih besar, apalagi dua kali lipat dari PT. IEI. Namun, setelah berdoa, Tuhan meneguhkan saya secara luar biasa untuk memilih PT. IEI. Ada beberapa orang yang tahu pilihan saya ini. Saya yakin, mereka mengatakan saya itu bodoh. Saya merasakan itu dari obrolan mereka walaupun mereka tidak mengatakan terus terang kepada saya. Tapi, saya tetap taat kepada Tuhan. Apa yang bagi dunia itu merupakan kebodohan, tetapi bagi Tuhan itu bukan kebodohan karena Tuhan tahu apa yang terbaik!
Sebab memang Allah sengaja memilih yang dianggap bodoh oleh dunia ini, supaya orang-orang pandai menjadi malu. Dan Allah memilih juga yang dianggap lemah oleh dunia ini, supaya orang-orang yang gagah perkasa menjadi malu.
1 Korintus 1:27 (BIS)
Akhirnya, mulailah saya bekerja di PT. IEI pada tanggal 21 Maret 2000. Selama tiga bulan pertama, saya diterima sebagai karyawan percobaan, dengan gaji 80% dari yang seharusnya. Padahal, gaji yang seharusnya itu sudah kecil, sangat pas-pasan untuk hidup di Jakarta seorang diri, apalagi saat itu yang saya terima hanya 80%. Untuk menabung bulanan sejumlah Rp. 100.000,00 saja, saya tidak bisa. Apalagi untuk membiayai pernikahan kami. Sangat mustahil! Saat-saat itu, orang yang tahu akan mencerca saya, “Benar kan.. bodoh sekali kamu! Ditawari gaji 2x lipat saja tidak mau.” Tapi, iman saya tetap kepada Tuhan. Kalau Tuhan yang menyuruh saya, pasti Tuhan sudah punya rencana besar, walaupun saya belum melihat apa rencana Tuhan yang besar itu.
Bagi saya, masalah baru muncul. Belum satu bulan bekerja dan saya belum menerima gaji pertama saya, pada bulan April 2000, Sayangku sudah menagih janji saya untuk menikahi Sayangku. Saya kaget. Saya bilang kepada Sayangku, “[Sa]Yang, aku baru bekerja, belum terima gaji pertama juga. Gaji pertamaku nantinya kamu juga sudah tahu besarnya berapa. Kok kamu sudah menagih janji untuk menikah? Nanti biaya pernikahan kita dari mana?” Sayangku langsung marah besar. Selanjutnya, kami bertengkar hebat. Mengenai pertengkaran ini, Sayangku sempat menulis bahwa Sayangku merasa diancam oleh saya karena saking hebatnya pertengkaran kami. Kami sempat tidak berbicara/telepon beberapa hari karena pertengkaran ini. Di suatu malam, ketika saya berdoa, Tuhan mulai menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang membuat Sayangku “memaksa” saya untuk segera menikahi Sayangku karena memang sudah saatnya kami menikah. Saat itu, secara manusia, saya kebingungan, cemas, dan gelisah. Saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak berkeberatan sama sekali untuk segera menikah, tetapi izin menikah belum kami dapatkan dan biaya pernikahan belum kami miliki.” Tuhan menjawab, “Lakukan langkah pertamamu dengan iman kepada-Ku, sisanya AKU-lah yang akan membereskan.” Lalu saya menelepon Sayangku. Saya mengatakan kepada Sayangku, “[Sa]Yang, ayo kita menikah. Paling lambat akhir tahun 2000 atau awal tahun 2001.” Sayangku langsung bersorak gembira di telepon. Sayangku berkata dengan manis sekali, “Aku senang sekali. Semoga rencana pernikahan ini tidak meleset lagi. Tuhan tolong!”
Bisa dibilang, saya itu GILA! Izin menikah belum dapat, biaya pernikahan tidak ada, tapi nekad berjanji kepada Sayangku untuk menikah paling lambat akhir tahun 2000 atau awal tahun 2001. Namun, itu bukan gila, tetapi itu iman dari Tuhan. Ketika saya mengatakan akhir tahun 2000 atau awal tahun 2001, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut saya. Saat itu, saya yakin, inilah langkah iman yang “diletakkan” Tuhan di hati saya walaupun di depan kami masih menghadang “tembok Yerikho yang besar dan kokoh” yang mustahil dilewati serta “sungai Yordan yang deras” yang mustahil diseberangi. Saya tidak melihat solusi apapun untuk masalah kami ini saat itu.
Puji Tuhan! Pada bulan Mei 2000, Tuhan mulai bekerja. Pada bulan tersebut, saya dan dua orang yang juga karyawan baru, dipanggil oleh General Manager, Mr. Fujimori, dan diberitahu bahwa kami bertiga secara khusus ditugaskan untuk merintis suatu unit tugas baru yang belum pernah ada di PT. IEI, yaitu mechanical evaluation software. Unit ini bertugas melakukan evaluasi kerja sistem mekanik printer yang dikendalikan oleh firmware; apakah kerja sistem mekanik tersebut sudah sesuai dengan algoritma software yang telah ditetapkan. Karena cukup sulit dan membutuhkan keahlian khusus, maka kami bertiga dikirim ke kantor pusat Seiko-Epson Corporation (SEC) di Hirooka, Shiojiri-shi, Nagano-ken, Jepang, untuk menjalani pelatihan. Wah.. saat itu saya kaget sekali, tidak menyangka akan ke Jepang dan belajar di sana. Sayangku juga kaget dan senang sekali ketika mendengar rencana ini. Sayangku menulis di buku catatannya, “Cerita-cerita mengenai kerjaannya Sayangku… rencana menempati departemen baru (software). Aku bangga …” Ternyata, uang saku untuk pelatihan ini cukup besar karena untuk pelatihan tahap pertama ini, kami harus tinggal di Jepang selama 3 bulan. Ketika saya mengetahui jumlah uang saku itu, Tuhan berkata kepada saya, “Itulah biaya pernikahanmu.” Oh, Tuhan.. terima kasih! Luar biasa Engkau, Tuhan! Kami tidak pernah memikirkan cara ini, tetapi Engkau yang membuka jalan dengan cara yang tidak pernah kami pikirkan dan kami doakan! Terpujilah Tuhan untuk selama-lamanya!
Setahun kemudian, saya benar-benar terkejut. Sungguh nyata Tuhan itu bekerja! Luar biasa! Ada teman saya di departemen SDM yang entah mengapa tiba-tiba bercerita kepada saya tentang penugasan saya di unit tugas baru itu. Ternyata, saya sebenarnya bukan termasuk yang dipilih dan akan dikirim ke Jepang saat itu. Kalau 2 orang teman saya yang lain memang dari awal dipilih untuk unit ini. Ceritanya, ketika 3 nama diajukan untuk unit tugas baru ini, Presiden Direktur menolak 1 nama dengan alasan yang tidak jelas lalu minta diganti orang lain. Lalu, nama saya diajukan dan tanpa banyak tanya, langsung ditandatangani persetujuannya. Wow.. kalau bukan Tuhan, tidak mungkin hal ini terjadi! Luar biasa Tuhan itu! Terima kasih Tuhan! Nantinya, bukan cuma itu saja Tuhan menolong. Setelah saya bekerja satu tahun, ada periode promosi kepangkatan karyawan. Saat itu, saya bersyukur bahwa saya termasuk salah satu karyawan yang mendapatkan promosi kepangkatan tersebut. Lagi-lagi, saya benar-benar terkejut! Beberapa bulan setelah promosi itu, teman saya di departemen SDM bercerita kepada saya kalau sebenarnya tidak diikutkan dalam promosi kepangkatan itu. Ketika nama-nama karyawan yang diikutkan promosi sampai di General Manager SDM, ada 1 nama yang dicoret oleh beliau lalu dikembalikan ke divisi engineering, minta untuk digantikan oleh orang lain. Untuk menggantikan nama yang dicoret itu, nama saya diajukan. Begitu General Manager SDM membaca nama saya, tanpa bertanya apapun, langsung ditandatangani persetujuannya. Wow.. kalau bukan Tuhan, tidak mungkin hal ini terjadi! Tuhan selalu membela anak-anak-Nya! Luar biasa Tuhan itu! Terima kasih Tuhan!
Sebelum berangkat ke Jepang, saya menyempatkan diri untuk pulang ke Surabaya. Kami berdua mengurus pernikahan kami. Saat itu, kami membuat foto diri bersama yang nantinya akan digunakan untuk akta pernikahan kami. Selain itu, kami mulai memesan cincin pernikahan kami, namun masih tanpa tanggal karena kami belum menetapkan tanggal berapa kami akan menikah. Biaya-biaya yang dikeluarkan itu diambil dari setengah uang saku yang saya dapatkan sebelum saya berangkat ke Jepang, yang dengan sengaja saya tinggalkan kepada Sayangku untuk disimpan sebagai biaya pernikahan kami.
Ketika saya berangkat ke Jepang pada 16 Juli 2000, saya berangkat dengan bekal separuh dari uang saku itu. Dan ternyata, walaupun saya hanya membawa setengahnya, saya tidak kekurangan di Jepang, bahkan saya bisa membeli kamera saku yang lumayan bagus yang nantinya saya gunakan untuk memotret kebersamaan kami dan anak-anak sampai kamera tersebut rusak di tahun 2005. Itupun, saya masih bisa membawa pulang sisa uang saku untuk tambahan biaya pernikahan. Puji Tuhan!
Sebelum saya pulang dari Jepang, kami berdua sempat bertengkar hebat. Pertengkaran “jarak jauh” ini kami lakukan melalui e-mail dan telepon. Pertengkaran ini disebabkan karena saya direncanakan untuk mengikuti pelatihan lanjutan sampai dengan Desember 2000. Begitu mendengar kabar ini, Sayangku langsung marah besar. Sayangku menagih janji saya yang katanya akan menikahi Sayangku paling lambat akhir tahun 2000. Lalu, saya tegaskan lagi, bahwa saya berjanji menikahi Sayangku paling lambat akhir tahun 2000 atau awal tahun 2001. Sayangku kecewa dan mewanti-wanti saya agar saya tidak ingkar janji, tidak memundurkan lagi rencana pernikahan kami. Saat itu, saya juga kalut.. kok mundur lagi. Tapi ternyata itu memang rencana Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik bagi kami. Nantinya, kami menyadari bahwa Tuhan memang memundurkan rencana pernikahan kami ke awal tahun 2001 karena kami kekurangan biaya pernikahan. Saat itu kami tidak tahu kalau kami akan kekurangan biaya, tapi Tuhan tahu. Itu sebabnya, Tuhan merancang bahwa saya harus mengikuti pelatihan lanjutan yang dimulai bulan November 2000 hingga Desember 2000.
Saya pulang dari Jepang pada tanggal pada tanggal 13 Oktober 2000. Sesampai di Indonesia, Saya mengambil cuti untuk pulang ke Kudus lalu ke Surabaya. Nah, inilah saatnya Tuhan bekerja untuk masalah saya yang paling besar, yang mustahil diselesaikan, yaitu izin menikah. Sebelum saya pulang ke Kudus, Tuhan sudah berpesan kepada saya bahwa saya akan menghadapi masalah yang besar dan sulit. Tapi Tuhan berkata kepada saya bahwa saya tidak perlu khawatir karena Tuhan beserta saya. Saya hanya diminta oleh Tuhan untuk taat kepada apapun yang Tuhan suruh kepada saya untuk dilakukan, walaupun hal itu, yang secara manusia, dianggap menyalahi aturan. Namun, apa yang dinyatakan tidak salah oleh Tuhan, maka hal itu tidak salah di hadapan Tuhan. Saya jadi ingat ketika Rasul Petrus diminta oleh Tuhan untuk memakan binatang yang haram menurut hukum Taurat. Saat Rasul Petrus menolak, Tuhan berkata, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” (Kisah Rasul 10:9-16). Itu pesan Tuhan yang pertama. Pesan Tuhan yang kedua adalah saya harus mengambil sikap diam, apapun yang terjadi, tidak membantah, tidak melawan, dan saya harus mengikuti apapun yang disuruh walaupun itu seolah-olah saya sedang “dipermainkan” oleh orang lain. Saat saya diberi 2 pesan itu, saya tidak tahu apa maksud dari Tuhan. Tapi, saya bertekad untuk melaksanakan kedua pesan tersebut tepat seperti yang Tuhan kehendaki, tanpa bertanya sedikitpun kepada Tuhan apa maksudnya.
Saya pulang ke Kudus terlebih dahulu. Keesokan harinya, Sayangku bersama dengan mama, Lilik (salah satu sahabat kami), dan Pak Yanto yang mengemudikan mobil, berangkat dari Surabaya ke Kudus. Sesampai di Kudus sekitar jam 12 siang, mama, Lilik, dan Pak Yanto beristirahat di hotel Air Mancur yang lokasinya dekat dengan rumah saya. Lalu saya menjemput Sayangku di hotel tersebut untuk membawa ke rumah saya, meminta izin menikah. Sesampai di rumah, kami berdua dimarahi habis-habisan. Seperti pesan Tuhan, kami berdua diam, tidak membantah, tidak melawan sedikitpun. Kami berbicara dengan baik-baik dan lembut walaupun kami dimarahi habis-habisan. Walaupun kami dimarahi habis-habisan, tapi herannya, saya bisa mendapatkan akta kelahiran dan surat babtis saya yang akan digunakan untuk mengurus administrasi pernikahan. Kalau bukan Tuhan, tidak mungkin saya bisa mendapatkan akte kelahiran dan surat babtis saya itu. Hanya, kami tetap tidak mendapatkan izin menikah. Kami kembali ke hotel dengan lemas. Tapi, Tuhan kembali mengingatkan kepada saya bahwa apa yang dinyatakan tidak salah oleh Tuhan, maka itu tidak salah di hadapan Tuhan. Lalu saya membawa Sayangku untuk kembali ke hotel agar Sayangku dapat beristirahat bersama mama, Lilik, dan Pak Yanto. Setelah itu, saya pergi untuk mengurus surat keterangan administrasi pernikahan saya di kelurahan untuk dibawa ke Surabaya. Surat keterangan ini dibutuhkan agar kami dapat menikah di Surabaya. Tanpa surat keterangan itu, kami tidak akan dapat menikah. Tuhan meneguhkan saya untuk pergi mengurus surat itu, dan saya menurut kepada Tuhan. Saya pergi ke kantor kelurahan. Secara manusia, saya pesimis karena Pak Lurah itu teman orangtua saya. Pak Lurah tahu bahwa orangtua saya tidak memberi izin menikah. Ternyata memang saya “dipersulit” oleh Pak Lurah. Saya di-“ping-pong” ke sana kemari. Saya disuruh ke Kantor Catatan Sipil untuk minta surat keterangan itu. Di Kantor Catatan Sipil, petugasnya heran mengapa saya harus ke Catatan Sipil untuk meminta surat keterangan itu padahal yang mengeluarkan surat keterangan itu adalah kelurahan. Saat kembali ke kelurahan, saya “dilempar” lagi, kali ini ke KUA yang seharusnya tidak ada kaitannya dengan saya karena saya tidak beragama Islam. Ketika saya tiba di KUA, petugas di KUA heran, kok saya disuruh ke KUA oleh Pak Lurah. Saya disuruh kembali lagi ke kelurahan. Saya jalani itu semua tanpa bertanya apapun karena Tuhan memang sudah berpesan demikian kepada saya. Karena saya tetap bolak-balik ke kelurahan tanpa lelah, Pak Lurah merasa benar-benar terganggu oleh saya. Akhirnya, Pak Lurah mengeluarkan surat keterangan itu sambil berkata, “Setelah ini, saya bisa ribut dengan papimu!” Oh.. Puji Tuhan! Akhirnya saya mendapatkan surat keterangan itu. Ketika saya mengalami kejadian ini, saya ingat perumpamaan Tuhan Yesus tentang hakim yang tidak benar (Lukas 18:1-8). Diceritakan ada seorang janda yang memohon pembelaan kepada hakim yang lalim. Karena janda tersebut tidak jemu-jemu memohon, akhirnya hakim yang lalim tersebut membenarkan janda itu. Hal yang sama terjadi. Karena saya tidak jemu-jemu untuk bolak-balik ke kantor kelurahan, akhirnya saya bisa mendapatkan surat keterangan itu. Setelah semuanya selesai pada sore harinya, kami bersyukur kepada Tuhan bahwa sekali lagi Tuhan sudah menolong dengan caranya yang ajaib, yang tidak pernah kami pikirkan dan doakan! Luar biasa Tuhan itu! Terima kasih Tuhan! Lalu kami pulang ke Surabaya bersama-sama dengan mobil. Kami tiba di Surabaya pada tengah malam.
Walaupun pesan Tuhan yang pertama itu sepertinya belum menyelesaikan masalah, tetapi cara Tuhan bekerja itu luar biasa, tidak terpikirkan. Tuhan bertindak dan menyelesaikan semuanya menurut waktu-Nya. Tuhan menyediakan semua keperluan kami dan mengutus keluarga saya (sepupu dekat dari papi) untuk mendampingi saya pada hari pernikahan saya. Sejalan dengan waktu, kami mendapatkan restu dari orangtua saya, bahkan, mami sangat sayang sama Sayangku. Tiap kali saya pulang ke Kudus, secara pribadi, mami berkali-kali berpesan kepada saya untuk memperhatikan Sayangku dan menitipkan pemberian-pemberian dari mami untuk diberikan kepada Sayangku. Sebelum mami dipanggil pulang oleh Tuhan, mami berpesan secara khusus kepada saya untuk menjaga Sayangku dan keluarga Tandean dengan baik. Demikian juga dengan Sayangku, Sayangku sayang sekali dengan orangtua saya. Ketika mami di rumah sakit menjelang dipanggil pulang oleh Tuhan, tiap malam setelah anak-anak tidur, Sayangku mengendarai mobil sendirian menuju ke rumah sakit untuk mengunjungi mami sekaligus memberi infomasi tentang kondisi mami kepada saya yang saat itu sedang berada di Singapore. Sayangku baru meninggalkan rumah sakit lewat tengah malam. Demikian juga, sebelum Sayangku dipanggil pulang oleh Tuhan dan sebelum Sayangku tidak dapat berbicara, Sayangku menyampaikan kepada saya kalau Sayangku ingin menelepon papi karena kangen. Saat itu, Tuhan mengabulkan keinginan Sayangku. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba smartphone saya berbunyi dan ternyata papi telepon. Saya berbicara sebentar dengan papi lalu saya serahkan smartphone saya kepada Sayangku agar Sayangku dapat berbicara kepada papi. Ternyata saat itu adalah saat terakhir kalinya Sayangku berbicara dengan papi. Puji Tuhan! Tuhan menyelesaikan semuanya dengan sungguh amat sangat indah dan semuanya sesuai dengan waktu-Nya Tuhan! Terima kasih Tuhan Yesus!
Keesokan harinya, di Surabaya, kami berdua mulai mengurus keperluan kami untuk menikah. Kami pergi ke Pasar Atom untuk berbelanja kebutuhan pernikahan, khususnya jas yang nantinya akan saya pakai saat pernikahan. Setelah itu, kami mengunjungi salon Gester di daerah Gubeng untuk menanyakan paket pernikahan. Salon ini memang sudah “diincar” oleh Sayangku beberapa bulan sebelumnya karena Sayangku suka dengan hasil tata rias pengantin dari salon ini. Saat itu, kami ditawari beberapa paket, baik itu paket dengan gaun pengantin baru maupun paket dengan gaun pengantin second-hand. Lalu kami pikir-pikir dulu sebelum memutuskan. Selanjutnya, kami pergi ke Gita Tamtama di Genteng Kali untuk memesan paket resepsi pernikahan. Kami memilih Gita Tamtama karena itu keinginan mama dan Sayangku. Setibanya di Gita Tamtama, kami disodori beberapa paket pernikahan dan slot waktu yang tersedia. Ternyata, semua slot waktu sudah terisi, hanya tinggal slot waktu di tanggal 8 Januari 2001 yang jatuh di hari Senin. Entah mengapa tidak ada yang mau di tanggal tersebut, sampai kami ditawari harga diskon oleh Gita Tamtama kalau kami bersedia mengambil di tanggal tersebut –saya yakin, ini adalah pekerjaan Tuhan sehingga kami bisa mendapatkan harga diskon yang meringankan biaya pernikahan kami–. Saya bertanya kepada Sayangku apakah Sayangku mau tanggal itu. Sayangku mau. Akhirnya kami mengambil slot waktu di tanggal 8 Januari 2001. Itulah tanggal pernikahan kami: Senin, 8 Januari 2001.
Keesokan harinya, kami kembali ke salon Gester untuk memesan paket pernikahan dengan gaun pengantin second-hand. Ketika saya hendak meminta maaf karena Sayangku “terpaksa” memakai gaun pengantin second-hand, Sayangku mencegah saya untuk mengatakannya. Sayangku berkata, “Aku tidak apa-apa dan tidak berkeberatan untuk mengenakan gaun pengantin second-hand. Yang penting, aku menikah sama kamu!”
Setelah mengurus yang bisa kami urus dalam 2 hari itu, saya kembali ke Jakarta karena cuti saya sudah habis. Saya tidak pulang lagi ke Surabaya karena saya harus segera berangkat ke Jepang lagi untuk periode pelatihan saya yang kedua. Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 8 November 2000 dengan meninggalkan Sayangku untuk mengurus sisa urusan pernikahan kami, seperti cetak undangan, pesan souvenir, mengontak wedding photographer, tim tarian dan pagar ayu, urusan di kantor Catatan Sipil di Surabaya, dan urusan-urusan lainnya. Semuanya sebagian besar dikerjakan sendiri oleh Sayangku. Sebenarnya saya merasa bersalah dengan ini tetapi Sayangku bilang, “[Sa]Yang, kamu tidak perlu merasa bersalah karena kamu mempunyai tugas lain yang harus diselesaikan. Tugasku membantu kamu, bukan membebani kamu. Jadi, semua yang bisa aku bantu uruskan, akan aku uruskan. Yang tidak bisa, nanti waktu kamu sudah kembali dari Jepang, baru kita urus sama-sama.” Oh.. Sayangku memang luar biasa! Sampai kami dipisahkan oleh maut pada tanggal 24 Juni 2021, Sayangku selalu berprinsip seperti itu. Sayangku tidak mau membebani saya, bahkan membantu saya dalam hal apapun yang Sayangku bisa lakukan. Terima kasih, Tuhan Yesus! Engkau telah memberikan kepadaku seorang istri yang luar biasa!
Ketika saya berada di Jepang, kami berkomunikasi melalui e-mail dan sesekali telepon karena kangen. Rasa kangen kami sedikit terobati ketika kami mendengar suara pasangan kami masing-masing. Suatu hari, ketika saya menelepon Sayangku, saya diberitahu kalau uang kami kurang untuk membayar biaya pernikahan kami. Saat itu, saya terdiam sejenak, lalu dengan iman saya berkata kepada Sayangku, “Sebagaimana Tuhan telah menyediakan yang sebelumnya, Tuhan pasti sediakan juga untuk menutupi kekurangan ini.” Setelah selesai telepon, saya berdoa kepada Tuhan, bertanya apa yang harus saya lakukan. Tuhan hanya meminta saya untuk menyimpan uang dalam mata uang dollar yang belum saya tukarkan ke mata uang yen. Memang, uang saku yang diberikan itu dalam mata uang dollar, biasanya saya tukarkan ke mata uang yen saat saya tiba di Jepang. Biasanya, saya memang tidak menukar semuanya, tetapi hanya setengahnya. Sisanya baru saya tukarkan kalau saya kekurangan uang dalam mata uang yen. Saat itu, Tuhan meminta untuk menyimpan uang saya yang dalam mata uang dollar. Jumlahnya lumayan banyak karena kebetulan saya menukar hanya sekitar sepertiga dari uang dollar yang saya bawa. Entah mengapa saya hanya menukar sedemikian sedikit. Waktu itu, teman saya juga heran kepada saya, mengapa saya menukar sedikit. Sempat saya ditanya, tapi saya tidak bisa menjawabnya. Tapi saya yakin bahwa Tuhan-lah yang menggerakkan saya menukar sedikit. Saya membawa hanya setengah dari total uang saku saya karena yang setengahnya lagi saya berikan kepada Sayangku. Lalu dari setengah itu, saya hanya menukar sepertiga saja. Secara logika, pasti tidak cukup untuk biaya hidup saya selama hampir 2 bulan. Tapi, Tuhan membuat mujizat. Semua uang dalam mata uang yen yang saya taruh di dompet saya, tidak pernah habis sampai saya tiba di bandara Narita untuk pulang ke Indonesia pada akhir Desember 2000. Saya baru menyadari ini ketika sampai di bandara Narita. Saya sungguh heran karena tiap hari saya pasti ambil uang dari dompet saya, tetapi uang di dompet saya tidak pernah habis. Saya memang tidak menghitung berapa pengeluaran saya karena saya takut kalau kurang dan akhirnya saya tidak bisa menyimpan uang untuk menutup kekurangan biaya pernikahan kami. Saya cuma pasrah kepada Tuhan. Puji Tuhan! Tuhan cukupkan kebutuhan saya selama di Jepang dengan cara-Nya yang ajaib sehingga saya dapat membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan kami. Bahkan ada sedikit bonus.
Nantinya, setelah saya kembali menjalani pelatihan yang ketiga di Jepang (Februari 2001 – April 2001), dari sisa uang biaya pernikahan kami dari pelatihan kedua dan tambahan simpanan yang berasal dari pelatihan ketiga dan keempat (Juni 2001 – Juli 2001) ini, kami dapat membayar uang muka dalam jumlah yang lumayan besar untuk pembelian sebuah mobil pribadi kami yang sederhana, yaitu Suzuki Karimun. Dengan jumlah uang muka yang lumayan besar itu, kami dapat membayar angsuran bulanan dengan lebih ringan.
Puji Tuhan! Saya jadi teringat tentang kisah seorang janda di Sarfat yang dipelihara oleh Tuhan ketika harus memberi makan nabi Elia saat masa kekeringan selama 3 tahun (1 Raja-raja 17:8-16). Selama di Jepang untuk pelatihan kedua pada November – Desember 2000 itu, saya mengalami mirip seperti yang Tuhan lakukan pada janda Sarfat. Uang di dompet saya tidak pernah habis walau diambil setiap hari hingga saatnya saya berada di bandara Narita untuk pulang ke Indonesia. Ketika saya bertanya kepada Tuhan lalu dengan taat melakukan tepat seperti yang Tuhan kehendaki, maka mujizat pasti terjadi! Luar biasa Tuhan itu! Terima kasih, Tuhan!
Setelah pulang ke Indonesia menjelang akhir Desember 2000, saya pulang ke Surabaya untuk membereskan urusan pernikahan yang belum selesai bersama-sama dengan Sayangku. Selanjutnya, kami bertemu dengan Ibu Gembala (kami memanggil beliau oma Ully) untuk persiapan pemberkatan nikah kami yang akan diberkati oleh Bapak Gembala, Pdt. J.M.P. Batubara (kami memanggil beliau opa Batubara) di GPdI Rajawali. Saya masih ingat, selesai berbicara dengan oma Ully, kami menyanyikan lagu “Ajar Kami Tuhan” yang diciptakan oleh Robert & Lea sebelum berdoa. Lagu tersebut terinspirasi dari Mazmur 90:12. Lagu itu memang benar-benar menggambarkan apa yang kami alami saat Tuhan mengajarkan kepada kami untuk selalu menghitung hari-hari kami agar kami dapat hidup dengan bijaksana, selalu hidup dalam rencana Tuhan, dan selalu menaikkan ucapan syukur kami kepada Tuhan. Setelah semua urusan pernikahan kami selesai, termasuk mengirimkan undangan pernikahan kami, baik melalui pos maupun diantar secara personal oleh kami berdua, saya kembali ke Jakarta untuk bekerja kembali. Baru tanggal 5 Januari 2001, saya kembali ke Surabaya untuk ibadah ucapan syukur di rumah Muteran dan pernikahan kami tanggal 8 Januari 2001. Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan! Semua boleh jadi hanya karena kehendak Tuhan!
Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari
“Ajar Kami Tuhan”, composed by Robert & Lea, Album: Abba, Ya Bapa, Symphony Music, 1994.
Agar kami beroleh hati bijaksana
Ajar kami Bapa, hidup dalam jalan-Mu
Agar semua rencana-Mu digenapi
Mulialah nama-Mu Tuhan dan ajaib jalan-Mu
Pimpin kami di setiap waktu
Besar setia-Mu Tuhan, agunglah karya-Mu
Yesus kami bersyukur pada-Mu
Kami yakin, semua ini karena Tuhan yang bekerja luar biasa untuk kami setelah kami mengambil langkah pertama kami dengan iman kepada Tuhan, tanpa ragu sedikitpun. Tuhan membereskan dua masalah besar kami sehingga kami dapat menikah pada tanggal 8 Januari 2001 dan mendapatkan bonus sebuah mobil Suzuki Karimun. Sungguh luar biasa Tuhan itu!
Sebagai penutup episode keenam ini, saya ingin mengutip beberapa ayat Firman Tuhan yang sangat menguatkan kami berdua.
Firman yang datang dari Tuhan kepada Yeremia, bunyinya: ”Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Kemudian datanglah firman Tuhan kepadaku, bunyinya: ”Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman Tuhan. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!
Yeremia 18:1-6 (TB)
Tuhan semesta alam telah bersumpah, firman-Nya: ”Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?
Yesaya 14:24, 27 (TB)
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Roma 8:28 (TB)
Tuhan bekerja dengan luar biasa untuk mempersiapkan kami untuk menjadi pasangan suami-istri. Karena begitu banyak perbedaan di antara kami, maka Tuhan “membenturkan” kami berdua agar kami mau untuk saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain agar kami dapat menyusun standar baru dalam hubungan kami berdua yang mengesampingkan segala ego kami masing-masing dan fokus kepada kebutuhan dari pasangan kami dengan mengedepankan kasih. Lalu, Tuhan memproses kami dengan “bantingan” yang luar biasa beratnya agar kami dapat dibentuk sesuai dengan kehendak Tuhan sehingga kami menjadi indah di mata Tuhan. Kami menjadi pasangan hidup yang percaya dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan serta taat tanpa syarat kepada Tuhan walaupun kami tidak mengerti apa maksud dari semuanya. Yang kami tahu adalah Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan bagi kami, tapi Tuhan selalu merancangkan apa yang terbaik bagi kami. Dan juga, kami tahu pasti bahwa apa yang sudah Tuhan rencanakan, tidak ada seorangpun yang dapat menggagalkan rencana-Nya itu.
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Roma 4:18 (TB)
Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal.
Yesaya 26:3-4 (TB)
Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi? Ia diam dan bersarang di bukit batu, di puncak bukit batu dan di gunung yang sulit didatangi. Dari sana ia mengintai mencari mangsa, dari jauh matanya mengamat-amati; anak-anaknya menghirup darah, dan di mana ada yang tewas, di situlah dia.”
Ayub 39:30-33 (TB)
Walaupun kami tidak dapat melihat adanya jalan keluar dari masalah kami, kemustahilan telah “menghadang” kami berdua, tapi karena Tuhan-lah yang berkehendak, maka kami hanya perlu percaya, berharap, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kami manusia lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa, yang tidak punya kuasa apapun untuk mengatur apapun, tetapi hanya Tuhan-lah yang dapat mengatur semuanya. Kami memutuskan untuk memilih berdiam di bawah kaki-Nya, berserah kepada-Nya, dan selalu memandang kepada Tuhan hingga Tuhan berbelas kasihan kepada kami.
Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada Tuhan, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.
Mazmur 123:2 (TB)
Saat kami menyerahkan hidup kami dalam naungan-Nya, dalam pelukan-Nya yang hangat, maka hidup kami aman dalam perlindungan dan belas kasihan Tuhan walaupun apapun yang terjadi. Kami dapat selalu menikmati indahnya kasih Tuhan yang tidak ada habis-habisnya setiap hari. Itulah yang membuat kami berdua sangat puas dalam menikmati hidup kami.
Terima kasih, Tuhan Yesus! Engkau-lah sahabat kami yang terbaik, yang selalu membuat kami terkagum-kagum akan segala karya-Mu dalam hidup kami! Terpujilah nama Tuhan untuk selama-lamanya! Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan, hanya bagi Tuhan! Amin!
Sampai di sini episode keenam dari serial “Memoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean“. Memoar ini akan saya lanjutkan di episode ketujuh yang melanjutkan cerita tentang waktu-waktu terbaik dalam hidup kami berdua. Salam damai sejahtera bagi kita semua! Tuhan Yesus memberkati! Amin!
Disclaimer: Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Sayangku. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Sayangku.