Episode 03: Kesaksian Bagian 2 – Pemberitahuan Tuhan tentang kematian orang yang saya kasihi (Sayangku) – Enam bulan terakhir kebersamaan kami

Betapa dahsyat Engkau Tuhan
Pencipta segala yang ada
Dulu s’karang sampai s’lamanya
Hanya Engkau Tuhan

Tak terselami pikiranMu
Tak terukur panjang setiaMu
Dulu s’karang sampai s’lamanya
Hanya Engkau Tuhan

Ku sembah Engkau Yesus
Hanya Engkau Allah di hidupku
Tiada yang lain hanya Kau
Hanya Engkau Tuhan
S’lamanya Kau tetap Allah
Walau dunia semua bergoncang
Tak tergoyahkan
Kau tetap Allah

“Kau Tetap Allah”

Salam jumpa dengan saya, Henry Hermawan.. dan saya adalah suami dari Sayangku, Grace Viviana Tandean.

Melanjutkan kesaksian saya pada episode kedua, pada episode ketiga ini, saya akan menyaksikan pekerjaan Tuhan yang luar biasa menjelang kematian dari Sayangku, khususnya saat enam bulan terakhir kebersamaan kami berdua. Enam bulan terakhir ini sungguh berat untuk kami berdua, khususnya saya, karena saya harus merelakan dan melepaskan Sayangku untuk pulang ke rumah Bapa di Surga. Sering sekali saya panik, menangis, berdoa, dan bergumul, namun saya tiada henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan untuk kesempatan yang diberikan kepada kami berdua untuk menikmati hari-hari terakhir kebersamaan kami dengan penuh cinta kasih, pelukan, ciuman, elusan lembut di kepala, genggaman tangan, berbaring bersama sambil saling memandang tanpa bicara, berbaring bersama sambil saya mengelus-elus bagian dahi dan pelipis Sayangku, bisikan sayang.. Walaupun saya sempat nge-drop beberapa kali karena kecapekan, sering tidak sempat tidur beberapa hari, sering terjaga dari tidur karena mengkhawatirkan Sayangku, namun Tuhan selalu menolong kami berdua melalui enam bulan terakhir yang berat itu.

Oh, Tuhan.. mampukan diriku untuk menulis kesaksian bagian kedua ini.. kesaksian bagian kedua ini berat sekali untuk dituliskan.. Aku akan sering menangis saat menuliskan kesaksian ini, tapi aku tetap akan menuliskan ini karena Engkau-lah yang menghendaki diriku untuk menuliskan kesaksian ini. Terima kasih untuk kekuatan yang Engkau berikan kepadaku. Amin!

Ok, saya akan mulai menuliskan kesaksian bagian kedua ini pada episode ketiga dari “Memoir of Sayangku, Grace Viviana Tandean”.


Pekerjaan Tuhan menjelang kematian Sayangku pada tanggal 24 Juni 2021

Pada akhir Desember 2020, kami sekeluarga berkunjung ke Kudus. Saat itu, sudah 2 tahun kami tidak ke Kudus karena papi sakit dan dibawa ke Surabaya. Sayangku ingin sekali berkunjung ke Kudus untuk menemui papi dan kuliner makanan kesukaan Sayangku –dan saya juga–, yaitu nasi tahu. Begitu kami sampai di Kudus, langsung kami berdua berjalan kaki, mencari nasi tahu favorit kami berdua. Selain itu, saya juga kuliner beberapa makanan masa kecil saya, seperti soto Kudus, pindang ayam, opor ayam panggang, dan sate kerbau. Bahkan, saya sempat berlatih food photography di Kudus, sampai Gladys, keponakan saya, anak dari adik saya, Lili, menulis di insta-story, “Makanan untuk dimakan? Bukan! Makanan untuk difoto.” ha..ha.. Kami sekeluarga berada di Kudus sampai tanggal 2 Januari 2021. Sebelum kami sekeluarga kembali ke Surabaya, kami sempat berfoto bersama (Foto 1). Nama yang ada di Foto 1 itu, mulai dari kiri ke kanan: papa, Bondan (suami adik saya, Lili), Sarabeth, Elisebeth, William, Sayangku, Lili, Gladys, Giselle, papi, Brandon, dan saya. Ternyata, itu akhirnya menjadi foto bersama yang terakhir untuk keluarga besar kami di Kudus bersama Sayangku dan juga papa.

Foto 1: Foto keluarga terakhir di Kudus (02 Januari 2021)

Setelah foto bersama, kami semua naik ke mobil untuk bersiap pulang ke Surabaya. Baru saja naik ke mobil, saya berada di sisi pengemudi dan Sayangku duduk di sisi penumpang di sebelah saya, tiba-tiba Sayangku berkata, “[Sa]Yang, aku kok merasa ini terakhir kalinya aku ke Kudus.” Langsung mak deg saya. Saya tahu pekerjaan Tuhan akan dimulai menjelang kematian dari Sayangku. Saya ingin menangis saat itu karena saya tahu bahwa saya akan kehilangan Sayangku sebentar lagi, tapi berusaha saya tahan supaya Sayangku, papa, dan anak-anak tidak cemas. Lalu saya menjawab Sayangku, “Ah.. itu perasaanmu saja.” Sayangku kembali berkata, “Mungkin, tapi aku merasa demikian.” Saya cuma terdiam sambil menahan tangis.

Walaupun saya berusaha menenangkan Sayangku saat itu, Sayangku pasti tahu bahwa itu adalah hanya usaha saya untuk menenangkan dirinya. Sayangku bisa tahu karena sudah dua kali (yaitu waktu mami dan mama) Tuhan memberitahukan perkara yang akan Tuhan kerjakan kepada saya. Ketika melihat respon saya, Sayangku langsung tahu apa yang sesungguhnya akan terjadi. Itu sebabnya, sejak pagi itu, Sayangku mulai bercerita banyak hal tentang masa lalu kepada anak-anak dan berpesan banyak hal kepada saya, mulai dari urusan rumah, anak-anak, keluarga, hingga yang terkait dengan kehidupan pribadi saya.

Dalam perjalanan pulang itu, Sayangku bercerita banyak tentang masa lalu kami kepada anak-anak. Saya tambah sedih walaupun saya berusaha menutupi kesedihan saya itu dengan sesekali menimpali cerita Sayangku tentang masa lalu kami kepada anak-anak. Sayangku cerita cukup banyak, termasuk bagian-bagian yang “tidak menyenangkan” yang belum pernah kami ceritakan kepada anak-anak. Saya tetap berusaha tenang, tidak menangis, karena saya harus mengemudikan mobil. Kami sempat mampir ke Semarang untuk membeli bandeng presto, lumpia, dan makanan lainnya untuk buah tangan. Di mobil, sambil menunggu Sayangku dan Sarabeth yang turun membeli itu semua, saya memohon kepada Tuhan agar kalau boleh, Sayangku bisa sembuh dan kami bisa bersama-sama sampai tua. Tuhan tidak menjawab apa-apa. Selanjutnya, kami sempat mampir ke Solo atas permintaan Sayangku. Di Solo, Sayangku ingin makan timlo. Tempat makan favorit kami untuk timlo di Restoran Timlo Solo, bukan yang di Pasar Gede. Biasanya, setelah dari restoran tersebut, kami mampir ke toko roti Orion yang tidak jauh dari restoran itu. Di toko roti itu, favorit kami sebenarnya bukan di toko rotinya, tapi pedagang kaki lima yang menjual snack yang disebut ‘intip’ di depan toko roti tersebut. Biasanya, kami membeli lumayan banyak karena kami sekeluarga suka ‘intip’, selain sebagian dijadikan oleh-oleh kepada teman-teman dan kerabat. Kami juga membeli beberapa panganan di toko roti Orion. Selanjutnya, kami mampir untuk membeli gudeg di restoran Adem Ayem. Sayangku suka sekali gudeg yang dijual di restoran tersebut. Sudah jadi favorit Sayangku. Setiap kali ke Solo, makan gudeg di restoran itu tidak pernah terlewatkan. Sayangku lebih suka gudeg Solo daripada gudeg Jogja karena rasa gudeg Jogja terlalu manis untuk lidah Sayangku. Yah.. tidak disangka, waktu itu adalah untuk terakhir kalinya Sayangku pergi ke Solo yang memang menjadi salah satu destinasi favorit Sayangku untuk berlibur selain Kudus dan Batu.

Sesudah sampai di Surabaya, saya segera mendaftar untuk kontrol ke teman saya, dr. Valentinus Besin, Sp.S di RS Premier sebagai tindak lanjut atas saran dari dr. Sawitri Boengas, Sp.M yang juga teman saya, berdasarkan hasil pemeriksaan mata Sayangku. Lalu, dr. Valen meminta untuk dilakukan MRI. Akhirnya, tanggal 5 Januari 2021, saya mengantarkan dan menunggui Sayangku untuk MRI kepala. Saya sudah bersiap untuk menemani di dalam ruang MRI karena Sayangku sebenarnya takut untuk MRI karena harus masuk ke “ruang sempit”. Beberapa kali MRI, saya selalu diminta masuk ke ruang MRI untuk menemani dan memegang tangan Sayangku agar Sayangku tenang dan MRI dapat dilakukan. Namun, saya juga sempat heran, kok tumben Sayangku berani sendiri, tanpa saya temani di dalam ruang MRI, dan MRI berjalan lancar. Ketika selesai, saya bertanya kepada Sayangku, “Kok tumben kamu tidak takut? Biasanya kamu panggil aku untuk menemani di dalam sambil memegang tanganmu.” Sayangku menjawab, “Aku sudah pasrah, Sayang. Biar kehendak Tuhan yang jadi.” Saya bertambah sedih mendengar jawaban Sayangku.

Pada tanggal 8 Januari 2021, kami kembali ke dr. Valen sambil membawa hasil MRI. Setelah melihat hasil MRI, dr. Valen menjelaskan kondisi Sayangku. Kami berdua syok saat itu.. Saya hampir menangis karena ternyata tumor di otak Sayangku lebih buruk dari kondisi di bulan Februari 2020 dan kondisinya dikategorikan gawat. Harus segera radioterapi. Sayangku juga mulai panik tapi saya berusaha menenangkan Sayangku walaupun saya sendiri juga panik. Saat itu, orang yang panik (saya) berusaha menenangkan orang yang panik juga (Sayangku). Awalnya, Sayangku tidak tahu kalau saya juga panik karena saya berusaha menyembunyikan rasa panik saya. Namun, menjelang pulang dari RS Premier, Sayangku mulai tahu juga kalau saya juga panik dan baru kali itu untuk pertama kalinya Sayangku melihat saya panik. Sayangku tahu itu karena beberapa kali saya tidak bisa fokus dan melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Begitu tahu saya panik, Sayangku diam saja dan mulai menggenggam tangan saya. Ingin menangis rasanya saat itu. Kami tidak banyak bicara di mobil, hanya saling memegang tangan –tentu saja kami berpegangan tangan saat saya tidak sedang mengubah perseneling mobil–.

Sebenarnya, tanggal 5 Januari dan 8 Januari merupakan hari yang mempunyai arti yang besar bagi kami berdua. Tanggal 5 Januari 2001 adalah tanggal yang mana kami mengadakan malam ucapan syukur menjelang hari pernikahan kami dan tanggal 8 Januari 2001 adalah hari pernikahan kami. Jadi, kami menghabiskan wedding anniversary day kami yang terakhir kalinya di rumah sakit. Sekarang, sudah tidak ada lagi perayaan wedding anniversary lagi untuk kami berdua.. Kami sudah dipisahkan oleh maut.. sedih sekali..

Setelah mendapatkan rekomendasi dari dr. Valen, kami kembali menemui dr. Bob untuk dibuatkan surat pengantar radioterapi. Setelah mendapatkan surat pengantar tersebut, kami kembali menemui dr. Lulus Handayani, Sp.Rad (Onk) yang kebetulan adalah tetangga kami. Lalu Sayangku dijadwalkan untuk radioterapi, namun antrian cukup panjang karena kebetulan alat radioterapi banyak yang butuh diperbaiki.

Pada tanggal 16 Januari 2021, Sayangku merayakan ulang tahunnya dengan sederhana. Saya mau ajak Sayangku untuk merayakan ulang tahunya dengan lebih meriah tapi ditolak. Saat itu, Sayangku sudah menurun nafsu makannya jadi harus dibantu oleh susu khusus penderita kanker, yaitu Nutrican, dan diselingi dengan susu Ensure agar tidak bosan. Akhirnya kami merayakan ulang tahun Sayangku dengan sederhana. Ternyata, hari itu adalah perayaan ulang tahun Sayangku yang terakhir kalinya.

Esok harinya, tanggal 17 Januari 2021, kami berdua sempat membeli kompor baru di Hartono Maspion Square karena kompor lama terbakar pada tanggal 15 Januari 2021 yang hampir saja menyebabkan kebakaran cukup besar di dapur. Saat kebakaran itu terjadi, Tuhan menolong tepat pada waktunya, sehingga saya “tergerak” untuk turun ke lantai bawah dan segera menuju dapur yang sudah dipenuhi “cahaya kuning” dari nyala api yang cukup besar. Saya siram dengan air sampai padam dan dapur basah kuyup. Ketika Sayangku tahu, Sayangku kaget karena dapur hampir terbakar dan mengajak saya untuk membeli kompor baru, yang akhirnya kami baru bisa pergi membeli kompor dua hari kemudian. Saya masih ingat, saat itu sebenarnya Sayangku sudah mulai lemah.. sudah mulai kesulitan untuk berjalan dengan jarak yang agak jauh. Walaupun kondisi mulai lemah, Sayangku tidak mau menggunakan kursi roda dan juga bersikeras untuk ikut pergi. Akhirnya, kami berjalan perlahan sambil sering berhenti untuk beristirahat sejenak. Pengalaman memilih kompor baru ini menyenangkan; meskipun “hanya” membeli kompor tapi menyenangkan karena kami pergi bersama.

Kami berdua mempunyai kenangan terhadap kompor lama yang terbakar itu. Kami membeli kompor lama yang terbakar itu pada sekitar pertengahan tahun 1998. Kami membelinya dengan uang kami sendiri yang kami tabung berdua sejak awal tahun 1998. Kami membuka rekening bank (BCA), atas nama bersama (OR), supaya kami dapat mengumpulkan uang sehingga kami dapat mempersiapkan keperluan rumah tangga saat kami menikah. Sampai saya menuliskan episode ini, rekening itu masih ada dan masih saya gunakan. Kami memang bersepakat untuk menabung setelah saya mengajak Sayangku untuk melangkah dalam hubungan yang lebih serius, yang “menatap” ke arah pernikahan setelah kami berpacaran sekitar 3 bulan. Tabungan ini adalah ide Sayangku. Sejak kami memiliki tabungan bersama, setiap bulan kami berusaha melakukan penghematan yang lumayan besar bagi kami saat itu dengan benar-benar “memangkas” segala keperluan pribadi kami masing-masing yang dirasa tidak terlalu perlu sehingga kami dapat mengumpulkan uang yang cukup lumayan untuk membeli barang-barang keperluan rumah tangga tersebut. Jadi, saat kami menikah pada tanggal 8 Januari 2001, kami sudah “menumpuk” banyak barang keperluan rumah tangga di kamar Sayangku yang saat itu masih tinggal di rumah Muteran. Detil cerita tentang ini, akan saya sampaikan pada episode-episode berikutnya.

Minggu berikutnya, Sayangku semakin lemah. Akhirnya saya minta Sayangku untuk tidur di lantai bawah. Sayangku bersedia asal saya juga ikut tidur di lantai bawah. Saya menyanggupi itu. Saya bawa laptop saya dan perlengkapan WFH (work from home) saya yang lainnya, boyongan ke kamar di lantai bawah. Saya bekerja di kamar sambil menunggui Sayangku. Di minggu yang sama, kami segera mengurus administrasi BPJS untuk persiapan radioterapi di RSDS.

Pada hari Senin, tanggal 25 Januari 2021, di siang hari, mungkin sekitar jam 14:00, saat itu saya sedang ada audit ISO di direktorat saya melalui aplikasi zoom. Tiba-tiba saya mendengar suara ada yang jatuh, lalu papa teriak-teriak. Saya kaget lalu menoleh ke tempat tidur Sayangku. Mak deg saya.. kok Sayangku tidak ada.. langsung saya minta izin untuk mengecek ada apa dan proses audit dihentikan sementara. Lalu saya keluar kamar dan saya melihat Sayangku sudah jatuh bersimbah darah yang cukup banyak yang berasal dari pelipisnya yang sobek. Saya coba angkat Sayangku, tapi ternyata Sayangku kejang. Berarti saat Sayangku sedang berjalan, tiba-tiba kejang dan terjatuh. Saya mencoba mencari bantuan ambulans, telepon rumah sakit, tetapi tidak ada yang mau datang karena IGD penuh pasien covid19. Saya panik dan sempat juga marah-marah sama rumah sakit yang saya telepon itu karena tidak mau menolong. Lalu, saya cek lagi kondisi Sayangku untuk melihat apakah ada bagian lain yang terluka sehingga Sayangku berdarah cukup banyak. Puji Tuhan! Ternyata hanya pelipis saja yang sobek. Sekitar 5 menit kemudian, Sayangku mulai sadar lalu bertanya, “Aku kenapa?” Saya jawab, “Kamu jatuh, berdarah banyak.. tapi tidak apa-apa karena cuma pelipis yang sobek.” Sekitar 5 menit selanjutnya, Sayangku baru mampu untuk berdiri. Saya berdirikan lalu saya tuntun untuk duduk di kursi. Kemudian, saya mulai membersihkan luka sobek di pelipisnya sambil membersihkan bekas darah yang menempel di kepala dan badan Sayangku sambil menahan tangis. Lalu saya teringat, teman-teman saya masih menunggu di aplikasi zoom. Saya berhenti sebentar untuk menemui teman-teman saya agar mereka melanjutkan sendiri proses audit ISO karena saya harus merawat Sayangku. Lalu saya kembali membersihkan Sayangku. Syok, panik, dan sedih sekali saat itu..

Ketika saya ceritakan pemberitahuan Tuhan ini kepada anak saya, Sarabeth, beberapa minggu setelah pemakaman jenazah Sayangku, segera Sarabeth menimpali, “O, itu sebabnya mengapa papa panik waktu mama jatuh di bulan Januari itu. Aku tidak pernah lihat papa panik di situasi apapun. Baru saat itu aku lihat papa panik.” Komentar yang sama seperti komentar Sayangku ketika melihat saya panik setelah kontrol ke dr. Valen dengan membawa hasil MRI.

Di minggu yang sama, saya mendapatkan surat rujukan dari dr. Lulus agar Sayangku mendapat perawatan radioterapi di RSUD Syaiful Anwar (RSSA) Malang. Akhirnya, pada hari Kamis, tanggal 28 Januari 2021, dengan ditemani oleh William, saya mengantar Sayangku untuk pemeriksaan awal dalam rangka persiapan radioterapi di RSSA. Puji Tuhan! Sayangku mendapat slot untuk radioterapi segera. Radioterapi ini akan dilakukan sebanyak 10 kali, setiap hari, kecuali hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Tetapi karena saya hanya berbekal surat rujukan dokter dan belum mengurus rujukan BPJS dari RSDS ke RSSA, akhirnya, radioterapi ditunda pada hari Senin, tanggal 1 Februari 2021. Lalu, kami kembali ke Surabaya untuk mengurus rujukan BPJS dari RSDS ke RSSA.

Hari minggu sore, tanggal 31 Januari 2021, kami berangkat ke Batu untuk menginap di rumah Bapak Gembala, Pdt. Daniel Kusnindar, yang mengizinkan kami untuk tinggal di sana selama perawatan radioterapi Sayangku –Terima kasih, om Daniel. Tuhan Yesus memberkati om Daniel dan keluarga–.

Esok harinya, hari Senin, tanggal 1 Februari 2021, saya dan William mengantar Sayangku ke RSSA. Sayangku duduk di kursi roda karena RSSA cukup luas. Dari pintu utama RSSA, lokasi radioterapi cukup jauh di samping agak di belakang. Lagipula, saya harus mengurus administrasi BPJS dahulu sebelum menuju ke lokasi radioterapi, tergantung antrian juga.. kadang lama kalau antriannya cukup panjang. Itu sebelum saya tahu bahwa saya dapat menggunakan aplikasi online supaya tidak perlu mengantri terlalu lama. Setelah saya tahu, saya selalu menggunakan aplikasi online agar Sayangku tidak perlu menunggu terlalu lama. Menjelang siang, radioterapi selesai, lalu kami bersiap untuk kembali ke Batu. Sebelum ke Batu, saya bertanya kepada Sayangku, “Mau makan apa?” Sayangku menjawab, “Nasi cumi hitam.” Saya kaget.. kok tumben mau nasi cumi hitam. Akhirnya saya mencari tempat yang menjual nasi cumi hitam di daerah Malang melalui internet. Akhirnya ketemu tempatnya dan saya membeli 3 bungkus nasi cumi hitam. Sesampai di Batu, saya siapkan nasi cumi hitam itu lalu saya bawa ke Sayangku untuk dinikmati. Namun, Sayangku menolak. Saya heran lalu berkata, “Lho, tadi katanya ingin nasi cumi hitam.. kok sekarang nasinya tidak mau dimakan?” Sayangku menjawab, “Aku minta beli itu buat kamu.” Ingin menangis lagi saya jadinya.. ternyata Sayangku ingin menyenangkan saya dengan meminta nasi cumi hitam.

Sayangku sudah tahu sejak kami berpacaran kalau saya suka nasi cumi hitam. Saat berpacaran, kami beberapa kali makan nasi cumi hitam di warung sederhana yang berlokasi di daerah Perak, Surabaya. Saya pernah bilang kepada Sayangku kalau saya suka sekali nasi cumi hitam. Bahkan, ketika saya dan Verry sedang membenahi sound system di GPdI Rajawali sekitar awal tahun 1999, secara mengejutkan, Sayangku izin keluar kantor hanya untuk membelikan nasi cumi hitam lalu diantarkan sendiri oleh Sayangku ke gereja sebagai makan siang bagi saya dan Verry. Saya senang sekali saat itu. Sayangku sempat menunggui saya makan sambil senyum-senyum melihat saya menikmati nasi cumi hitam yang Sayangku belikan.. hu..hu.. saya kangen sekali momen-momen manis yang banyak kami berdua alami dan lakukan.. sekarang kami sudah tidak dapat mengalami dan melakukan momen-momen indah itu lagi.. cuma kenangan manis akan momen-momen indah kami berdua itu yang sekarang ini mewarnai hidup saya..

Hari-hari selanjutnya dalam minggu itu kami lalui dengan setiap pagi ke RSSA untuk radioterapi. Mulai hari Rabu, Sayangku nge-drop, tidak mampu lagi untuk duduk. Akhirnya, Sayangku menggunakan bed, tidak menggunakan kursi roda lagi. Bahkan, di rumah tempat kami menginap, Sayangku sudah tidak bisa jalan lagi.. harus dipapah dengan hati-hati agar tidak terjatuh. Sayangku juga sudah tidak mampu untuk makan, minum, mandi, dan mengenakan pakaiannya sendiri. Sejak hari itu, saya yang menyuapi Sayangku saat makan, memberikan minum ketika Sayangku ingin minum, memandikan Sayangku dan membantu mengenakan pakaiannya. Walaupun sedih sekali, saya bersyukur karena saya mempunyai kesempatan secara fulltime untuk merawat Sayangku dan menemani Sayangku. Saya meninggalkan semua pekerjaan saya. Teman-teman saya yang mem-backup semua pekerjaan saya –Terima kasih, teman-teman.. Tuhan Yesus memberkati teman-teman semua–.

Pada hari Jumat, tanggal 5 Februari 2021, di pagi hari saat saya mempersiapkan Sayangku untuk berangkat ke RSSA, ketika sedang duduk di tempat tidur, tiba-tiba Sayangku kejang. Langsung saya memegang Sayangku dalam pelukan saya agar Sayangku tidak jatuh. Tak lama kemudian, Sayangku menarik nafas panjang lalu nafas pendek-pendek. Saya terkejut. Lalu saya merasakan otot-otot di tubuh Sayangku seperti “release” dan Sayangku buang air kecil di tempat tidur. Saya langsung menangis habis-habisan, sambil memanggil-manggil Sayangku, “Sayang.. Sayang.. kembali Sayang.. jangan tinggalkan aku.. ayo Sayang, bangun..” Berulang-ulang saya katakan itu sambil menggoyang-goyangkan badan Sayangku. Kemudian, saya berseru kepada Tuhan, “Oh, Tuhan.. aku mohon kembalikan Sayangku.. aku belum siap melepaskan Sayangku, Tuhan.. tolong, ya Tuhan..” Tuhan mendengar seruan saya. Tiba-tiba Sayangku menarik nafas panjang kembali dan sadar. Lalu Sayangku melihat saya berurai air mata cukup banyak. Sayangku bertanya, “Aku kenapa? Kok kamu nangis?” Saya peluk Sayangku erat-erat sambil berbisik, “Tidak apa-apa, Sayang.. Tuhan tolong.” Terima kasih, Tuhan Yesus untuk “perpanjangan waktu” yang Engkau berikan kepada kami berdua. Akhirnya, kami berangkat ke RSSA, walaupun sedikit kesiangan, untuk radioterapi yang kelima. Setelah radioterapi hari itu, Sayangku minta pulang ke Surabaya dulu karena sudah kangen dengan Sarabeth dan Elisebeth. Saya turuti permintaan Sayangku. Setelah saya membeli buah tangan kesukaan anak-anak, kami pulang ke Surabaya. Pada hari Minggu, tanggal 7 Februari 2021, kami kembali lagi ke Batu untuk menjalani radioterapi kembali hingga selesai pada tanggal 15 Februari 2021. Tentu saja, hari Jumat – Minggu, kami kembali ke Surabaya sesuai permintaan Sayangku.

Setelah radioterapi di RSSA selesai, belum ada kemajuan yang berarti selama bulan Februari 2021. Baru pada awal Maret 2021, Sayangku mulai membaik.. mulai dapat berjalan sendiri. Oh, Puji Tuhan! Saat itu saya berbahagia sekali. Tuhan memulihkan Sayangku –nantinya saya mengerti apa alasan Tuhan untuk memulihkan Sayangku walaupun hanya sekitar 2 bulan–. Pada pertengahan Maret 2021, Elisebeth, William, dan saya demam tinggi, batuk-batuk, bahkan saya yang paling parah di antara kami bertiga. Waktu itu, kami memanggil dokter ke rumah dan kami bertiga didiagnosa tertular covid19 –waktu itu tanpa tes PCR karena kami tidak mampu keluar rumah dan akhirnya ternyata memang bukan covid19, tetapi demam berdarah dan thypus–. Akhirnya, kami bertiga dirawat seperti penderita covid19, diisolasi di kamar sendiri. Saat itu, Sayangku sedih sekali.. saya bisa lihat dari wajahnya ketika melihat saya dari luar kamar. Sayangku berkali-kali berkata, “Sayang, baik-baik, ya.. maaf aku tidak boleh masuk kamarmu untuk merawat kamu.. cepat sembuh, ya, Sayang.. nanti kalau sudah sembuh, bisa sama-sama aku lagi.” Saya mengiyakan sambil menangis sedih karena tidak bisa bersama dan merawat Sayangku saat itu. Ketika saya dinyatakan “sembuh” dan dari hasil tes PCR dan tes darah ternyata bukan covid19 tetapi demam berdarah dan thypus, Sayangku langsung masuk ke kamar saya, duduk di sebelah saya sambil sesekali memeluk saya, menciumi saya, mengelus-elus kepala saya, sambil berkata, “Aku sudah ingin tidur sama kamu lagi, Sayang.” Saya bilang, “Nanti kita tidur bersama lagi setelah dinyatakan sembuh dari demam berdarah dan thypus.” Sayangku mengiyakan. Tiap hari, Sayangku menemani saya di kamar, menunggui saya. Indah sekali momen itu..

Di akhir Maret 2021, setelah saya benar-benar dinyatakan sembuh dari demam berdarah dan thypus, langsung Sayangku mengajak saya untuk kembali tidur di kamar tidur favorit kami berdua di lantai atas supaya bisa menghabiskan waktu berduaan lebih banyak. Saya khawatir juga karena Sayangku baru pulih, tapi nanti harus naik-turun tangga beberapa kali dalam sehari. Saya utarakan kekhawatiran saya ini kepada Sayangku, tapi Sayangku meyakinkan saya bahwa Sayangku sanggup untuk naik-turun tangga, bahkan tanpa dibantu. Akhirnya saya mengiyakan dan saat itu juga kami boyongan kembali ke kamar tidur favorit kami berdua. Di hari-hari awal, saya selalu menemani Sayangku untuk naik-turun tangga karena saya khawatir walaupun Sayangku sudah melarang saya untuk menemani. Setelah saya yakin bahwa Sayangku sudah mampu untuk naik-turun tangga sendiri, akhirnya, saya menuruti permintaan Sayangku untuk tidak menemani Sayangku ketika naik-turun tangga. Puji Tuhan! Saya benar-benar berbahagia.. Sayangku dipulihkan oleh Tuhan!

Pada tanggal 22 Maret 2021, kami kembali ke RSOS untuk kontrol ke dr. Bob sambil menanyakan bagaimana kelanjutan perawatan untuk Sayangku. Saat itu, dr. Bob menawarkan alternatif terakhir secara medis, yaitu targetting therapy. Terapi ini seperti kemoterapi namun obat yang diinjeksikan berupa obat yang secara khusus ditargetkan untuk menghancurkan sel kanker tertentu, yang dalam kasusnya Sayangku ini adalah sel kanker dengan Human Epidermal growth factor Receptor 2 positive (HER2+). Terapi ini cukup mahal dan harus dilakukan sebanyak 17 kali. Saat itu, kami menyatakan akan pikir-pikir terlebih dahulu. Akhirnya, kami pulang sambil membawa perhitungan biaya yang diperlukan untuk terapi ini. Esok harinya, kami memutuskan untuk menerima tawaran terapi ini dan kami mendapatkan promo obat terapi tersebut sehingga sedikit meringankan biaya yang harus kami keluarkan untuk terapi ini. Puji Tuhan! Terapi yang pertama dilakukan pada tanggal 29 Maret 2021. Di tanggal yang sama, saya juga mendapatkan vaksin AstraZeneca dosis pertama. Jadi, saya mengantar Sayangku ke RSOS untuk terapi lalu saya tinggalkan karena proses terapi butuh waktu sekitar 5 – 6 jam. Sambil menunggu waktu untuk menjemput Sayangku di RSOS, saya divaksinasi. Saat saya menunggu 30 menit setelah vaksinasi –untuk melihat apakah ada alergi atau hal-hal yang tidak diinginkan pasca vaksinasi, tapi bukan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)–, Sayangku dan saya saling bertukar foto selfie untuk saling menunjukkan bahwa kami berdua baik-baik saja. Oh.. senang sekali melihat Sayangku baik-baik saja saat menjalani targetting therapy tersebut. —catatan: mohon maaf, saya tidak bisa mem-posting foto-foto tersebut di sini karena alasan privacy

Malam harinya, saya mengalami KIPI yang sempat membuat Sayangku khawatir. Tapi saya tenangkan Sayangku bahwa saya tidak apa-apa karena ini hanya KIPI. Terus terang, KIPI saya aneh. Hari pertama, saya nge-drop dan badan saya demam. Namun, keesokan harinya, saya berubah menjadi orang yang hiperaktif, bahkan tidak tidur sampai hari ketiga dan tidak ada rasa capek sama sekali. Sayangku kembali khawatir karena saya tidak tidur sama sekali. Saya juga bingung, apakah ini gara-gara saya adalah pengidap auto-imun. Puji Tuhan! Akhirnya pada hari ketiga KIPI mereda dan saya bisa tidur cukup lama, lalu normal kembali.

Menjelang akhir bulan Maret 2021 sampai awal Mei 2021 merupakan hari-hari spesial bagi kebersamaan kami berdua. Di hari-hari itu, kami seperti sedang “berbulan madu”, benar-benar menikmati kebersamaan kami sampai puas. Kami berdua sering pergi keluar rumah, walaupun hanya sekedar ke toko roti untuk membeli roti. Di mobil, kami bersenda-gurau, bercerita, berceloteh, berpegangan tangan, Sayangku memeluk saya dengan melingkarkan tangan kanannya ke bahu saya. Kalau tangannya sudah capek, gantian tangannya mengelus-elus lengan saya. Oh.. indah sekali kebersamaan kami. Kalau di hari Sabtu, kami pergi ke pasar tradisional. Saya gandeng Sayangku selama di pasar. Ketika saya butuh memasang screen guard untuk layar laptop saya, Sayangku menemani saya ke Plasa Marina. Walaupun saya sudah mencoba untuk melarang ikut karena bisa lama, tetapi Sayangku tetap memaksa ikut karena ingin menemani saya dan berduaan dengan saya. Di bulan April 2021, Sayangku masih sempat memotong rambut saya. Waktu itu, rambut saya dipotong sampai dua kali karena yang potongan rambut yang pertama dinilai oleh Sayangku masih terlalu panjang. Sayangku tidak puas. Lalu, Sayangku mengulang lagi, namun karena tangannya sudah tidak terlalu kuat, akhirnya Sarabeth membantu memotongkan rambut saya dan diawasi ketat oleh Sayangku. Sayangku benar-benar ingin memastikan kalau Sarabeth memotong rambut saya tepat seperti yang diinginkan Sayangku. Akhirnya, rambut saya dipotong pendek sekali, nyaris gundul.. ha..ha.. ternyata Sayangku suka sekali dengan potongan rambut saya yang nyaris gundul itu sampai Sayangku berpesan, “[Sa]Yang, nanti kalau potong rambut lagi, buat yang seperti ini, ya.. soalnya kamu jadi lebih ganteng kalau rambutmu dipotong nyaris gundul gitu.” Itulah pesan terakhir Sayangku terkait potongan rambut saya.

Saya sebenarnya heran ketika Sayangku memendekkan rambut saya hingga tinggal 1 mm saja. Biasanya, Sayangku tidak pernah memotong rambut saya sampai sependek itu. Baru saat itu saja, untuk yang pertama dan terakhir kalinya, Sayangku memotong rambut saya sependek itu sambil berpesan agar saya selalu memotong pendek seperti yang Sayangku lakukan saat itu. Saya cuma menuruti pesannya saja saat saya meminta tolong anak saya, Sarabeth, untuk memotong rambut saya berikutnya. Sekarang saya paham maksud Sayangku. Ternyata, sepeninggal Sayangku, rambut saya memutih begitu cepat hanya dalam beberapa bulan saja. Kalau sebelumnya, rambut putih saya mungkin tidak sampai 2%, tetapi sekarang bisa mencapai sekitar 15-20% hanya dalam kurun waktu kurang dari 4 bulan. Cepat sekali. Kalau rambut saya dipotong sangat pendek, sekitar 1 mm, maka rambut putih saya tidak akan terlihat jelas. O.. ternyata itu maksud Sayangku. Sayangku selalu perduli dengan penampilan saya, katanya, walaupun penampilan sederhana tetapi harus rapi dan pas. Sayangku tidak ingin rambut putih saya terlihat jelas. Kalau dulu, begitu Sayangku melihat ada rambut putih di kepala saya, langsung dicabut sebisanya. Sekarang, rambut dipotong pendek agar dapat menyamarkan rambut yang sudah memutih. Terima kasih, Sayangku.

Pada bulan-bulan yang sama, terjadi perubahan besar pada diri Sayangku. Dari hari ke hari, Sayangku selalu bersyukur kepada Tuhan, lebih sering dari biasanya. Sambil berjalan-jalan di dalam rumah dan beraktivitas, Sayangku beberapa kali berkata, “Terima kasih, Tuhan Yesus!” sambil menangis bahagia. Setelah mengucap syukur, wajahnya selalu tersenyum bahagia. Bahkan tanggal 24 Maret 2021, pada malam hari, Sayangku sempat menulis pesan whatsapp kepada tante Ester, Ibu Gembala, yang tertulis demikian, “Selamat malam, om tante. Puji Tuhan. Tuhan Yesus sungguh luar biasa.” Saya tidak tahu maksud dari Sayangku apa; apakah karena pada hari itu kami telah mendapatkan kabar bahwa kami mendapatkan potongan harga yang cukup besar untuk obat terapi atau sebab yang lain. Entah apa penyebabnya, yang pasti Sayangku sangat bersyukur kepada Tuhan. Perubahan lainnya, di waktu-waktu itu juga, Sayangku juga bisa tahu kalau saya sebenarnya sedang kesakitan karena daerah tulang belakang saya hingga kepala mengalami nyeri yang lumayan hebat karena auto-imun saya kambuh. Saya sudah berusaha menyembunyikan, tetapi entah dari mana Sayangku bisa tetap tahu. Saya yakin, Tuhan-lah yang menaruh di dalam hati Sayangku. Tiap malam, ketika kami berdua sedang menikmati kebersamaan kami berdua, Sayangku selalu mendekati saya lalu minta izin untuk mendoakan saya. Lalu Sayangku berdoa dalam hatinya sambil mengelus-elus punggung hingga bagian belakang kepala saya yang nyeri lumayan hebat itu sambil menangis dan di akhir doanya, Sayangku kembali berkata, “Terima kasih, Tuhan Yesus!”. Sungguh indah momen-momen itu untuk dikenang sekarang ini.

Saya bahagia sekali. Saat-saat itu, saya mengira Sayangku akan sembuh dan kami akan bersama-sama untuk waktu yang lebih lama. Tetapi ternyata saya salah karena kehendak Tuhan tidaklah demikian. Untuk sementara, Tuhan memulihkan Sayangku agar kami berdua dapat menikmati indahnya waktu kebersamaan kami dan supaya kami berdua benar-benar puas menikmati kebersamaan kami itu sebelum Tuhan memanggil pulang Sayangku. Oh.. Tuhan itu sungguh amat sangat baik!

Selama bulan April 2021 sampai dengan pertengahan Mei 2021, Sayangku menjalani lanjutan targetting therapy sesuai jadwal yang telah diprogramkan. Jadwal terapi yang kedua dilakukan pada tanggal 19 April 2021. Di minggu yang sama, Sarabeth harus dirawat di rumah sakit karena menderita demam berdarah. Jadi, pada tanggal 19 April 2021, saya mondar-mandir di dua rumah sakit untuk mengantar serta merawat Sayangku dan Sarabeth. Sebenarnya cukup melelahkan, namun rasa lelah itu tidak saya rasakan karena saya lebih fokus kepada perawatan Sayangku dan Sarabeth daripada fokus kepada rasa lelah saya. Bahkan, saya masih menyempatkan mengajar dari rumah sakit di waktu senggang saat menunggu. Yah.. itulah perjuangan hidup.. semua diusahakan semaksimal mungkin. Dengan pertolongan Tuhan, saya sanggup melakukan semuanya. Kalau tanpa Tuhan, saya tidak bisa apa-apa. Pada tanggal 10 Mei 2021, Sayangku melakukan terapi yang ketiga. Saat terapi ketiga ini, kondisi Sayangku sudah mulai menurun kembali.

Karena kondisi yang menurun pada minggu kedua bulan Mei 2021, dan dikuatkan dengan hasil tes darah yang mengindikasikan sel darah putih dari Sayangku menurun drastis, maka pada tanggal 9 Mei 2021, sehari sebelum terapi ketiga dilaksanakan, saya mengantar Sayangku ke RSOS untuk mendapatkan suntikan yang diharapkan dapat menaikkan jumlah sel darah putih. Setelah mendapatkan suntikan tersebut, saya bermaksud mengantar Sayangku pulang ke rumah, lalu saya sendiri akan meneruskan untuk pergi ke Plasa Surabaya dengan tujuan mengambil tas ranselnya William yang saya serviskan di toko tas Bodypack. Namun, Sayangku menolak untuk dipulangkan. Sayangku ingin menemani saya pergi ke Plasa Surabaya. Saya keberatan karena kondisi Sayangku sedang menurun dan saya kebetulan tidak membawa kursi roda. Tetapi Sayangku tetap memaksa, bahkan mulai emosi kepada saya karena saya bersikeras memulangkan Sayangku. Akhirnya saya mengalah. Saya ajak Sayangku ke Plasa Surabaya. Di sepanjang perjalanan ke Plasa Surabaya, Sayangku senang sekali.. sesekali melihat ke arah saya sambil tersenyum, memegang tangan saya, dan mengelus-elus lengan saya. Setibanya di Plasa Surabaya, saya mencoba mencari tempat parkir yang cukup dekat dengan pintu masuk. Walaupun mendapatkan tempat parkir yang saya inginkan, ternyata jarak antara pintu masuk dengan toko tas Bodypack masih cukup jauh. Akhirnya, kami berdua berjalan perlahan sambil sesekali berhenti untuk memberi kesempatan Sayangku beristirahat. Entah berapa pasang mata yang melihat kami berdua.. entah kasihan melihat kami berdua atau malah mencibir saya yang dianggap tidak punya rasa kasihan. Saya tidak perduli saat itu. Saya pegangi Sayangku dengan erat agar dapat berjalan perlahan dan tidak terjatuh. Walaupun berjalan dengan susah payah, Sayangku tersenyum terus saat itu. Hampir saja saya tidak kuat menahan tangis melihat Sayangku saat itu. Tiap kali berhenti untuk beristirahat, saya sandarkan Sayangku ke tubuh saya sambil saya peluk agar Sayangku tidak kelelahan berdiri. Dengan perlahan, akhirnya, kami dapat mengambil tas itu dan kembali ke mobil.

Sesampainya di mobil, tiba-tiba Sayangku berkata, “[Sa]Yang, aku kok kepingin telepon papi di Kudus.. aku kok tiba-tiba kangen sama papi.” Lalu saya ambil smartphone saya dan hendak menelepon papi. Sebelum saya menelepon, ternyata papi telepon. Gayung bersambut. Saya yakin, Tuhan-lah yang mengatur semuanya. Lalu saya mengobrol sebentar dengan papi sebelum saya serahkan kepada Sayangku. Saat smartphone saya serahkan kepada Sayangku, Sayangku berkata kepada papi, “Papi baik-baik saja kan? Vivi kangen sama papi. Vivi kepingin ketemu papi lagi tapi tidak bisa.” Itu ungkapan perasaan Sayangku yang terakhir kepada papi karena minggu berikutnya, Sayangku mulai kesulitan berbicara.

Setelah menjalani terapi yang ketiga pada tanggal 10 Mei 2021, kondisi Sayangku terus menurun. Sayangku menyadari hal itu. Itu sebabnya, pada tanggal 14 Mei 2021 –sehari setelah perayaan Jumat Agung–, di pagi hari, tiba-tiba Sayangku berkata kepada saya, “[Sa]Yang, kamu punya waktu pagi ini? Aku ingin mengajak kamu untuk berduaan di kamar, menikmati waktu ‘spesial’ cinta kasih kita berdua.” Saya sempat terkejut mendengar ajakan Sayangku karena Sayangku sedang menurun kondisinya. Tapi, ketika saya menatap mata Sayangku, dari sorot matanya terlihat Sayangku sangat menginginkan momen “spesial” kebersamaan ini. Akhirnya, saya berkata, “Ya, aku ada waktu, seberapa banyak waktu yang kamu inginkan, aku akan berikan kepadamu.” Sayangku gembira sekali saat itu. Sayangku langsung keluar kamar dan memberitahu ke anak-anak yang saat itu sudah bangun dengan berkata, “Pagi ini, jangan ganggu papa dan mama dulu, ya.. papa dan mama mau ‘senang-senang’ dulu.” Saya kaget sekaligus tersenyum mendengar perkataan Sayangku kepada anak-anak. Saya sempat melihat reaksi anak-anak saat mendengar perkataan mamanya itu. Anak-anak langsung ketawa-ketawa mendengarnya, sudah mengerti maksudnya. Setelah itu, Sayangku langsung mengunci pintu kamar favorit kami berdua dan mengajak saya menikmati kebersamaan “spesial” kami berdua sepanjang pagi itu. Itulah kebersamaan “spesial” kami yang terakhir.. hu..hu.. sedih sekali ketika mengenang momen indah pagi itu..

Tanggal 14 Mei itu adalah dua hari setelah tanggal love anniversary kami, maksudnya, pada tanggal 12 Mei 1997, untuk pertama kalinya saya menyatakan cinta saya kepada Sayangku. Itulah sebabnya, Sayangku selalu menyebutkan bahwa tanggal 12 Mei itu adalah love anniversary kami. Untuk detil saat saya menyatakan cinta saya untuk pertama kalinya kepada Sayangku, akan saya ceritakan pada episode lain.

Pada minggu itu, sebelum Sayangku kesulitan untuk berbicara, Sayangku sempat mengulang tiga pesan yang sudah beberapa kali disampaikan kepada saya. Pesan Sayangku adalah demikian:

  1. [Sa]Yang, nanti kalau aku sudah tidak ada, anak-anak dijaga yang baik, ya.. dirawat yang baik, yang sabar sama anak-anak, jangan suka marah-marah sama anak-anak, ya.. Anak-anak disayang semua, ya.. khusus Elis, dibantu lebih karena anak itu spesial, Honey. Elis dibantu dan dilatih sampai bisa benar-benar mandiri.” Saya menyanggupi pesan ini.
  2. [Sa]Yang, aku minta kamu merawat keluargaku, ya.. mau kan? Karena cuma kamu yang bisa dan mampu merawat keluargaku.. tidak ada yang lain. Aku percaya sama kamu untuk merawat keluargaku. Aku nitip keluargaku, ya?” Saya juga menyanggupi pesan ini.
  3. [Sa]Yang, nanti kalau aku sudah tidak ada, kamu cari gantiku, ya.. menikahlah lagi. Aku merestui kamu menikah lagi setelah aku tidak ada nanti.” Nah, untuk pesan ketiga ini, saya menjawab, “Untuk menikah lagi, semua tergantung Tuhan. Aku tidak mau mencari gantimu. Lagipula, aku pasti sulit sekali untuk merelakan kenangan akan dirimu karena kamu istri yang luar biasa bagiku. Kalau aku memang harus menikah lagi, itu harus atas kehendak Tuhan. Masih ingat, kamu bisa jadi istriku karena kehendak Tuhan. Tuhan yang memberikan kamu kepadaku untuk menjadi istriku. Semua yang dari Tuhan, itulah yang terbaik. Tuhan juga tahu apa yang kuperlu. Jadi, kamu jangan minta aku untuk mencari gantimu, ya.. karena kalau aku boleh memilih, aku memilih untuk tidak menikah lagi. Semuanya tergantung Tuhan.” Sayangku merespon, “Ya, terserah kamu, [Sa]Yang.. tapi kamu yang kuat demi anak-anak, ya..” —catatan: untuk kisah “kamu bisa jadi istriku karena kehendak Tuhan”, akan saya ceritakan pada episode kelima

Sebenarnya, ketiga pesan tersebut tidak hanya sekali disampaikan Sayangku kepada saya. Kalau saya tidak salah menghitung, kemungkinan ada tiga kali pesan tersebut disampaikan; satu kali disampaikan saat Sayangku belum didiagnosa sakit kanker, dua kali disampaikan saat sudah didiagnosa sakit kanker.

Ketiga pesan Sayangku itu untuk pertama kali disampaikan kepada saya ketika kami sedang menikmati kebersamaan kami, menghabiskan malam kami dengan berduaan. Waktu itu Sayangku belum didiagnosa sakit kanker. Saya lupa waktu tepatnya. Saat itu, saya bilang kepada Sayangku, kalau saya berharap kami selalu bisa berduaan, selalu bersama, sampai tua nanti. Bahkan saat anak-anak sudah berkeluarga semua, saya berharap kami berdua tetap sehat dan bisa traveling keliling berbagai tempat di Indonesia dan kalau ada biaya, ke luar negeri. Lalu saya melanjutkan, kalau misalnya ternyata Tuhan tidak menghendaki demikian, saya berharap saya dulu yang dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Sayangku menimpali, “Gak bisa, kalau salah satu dari kita harus dipanggil pulang oleh Tuhan, harus aku dulu.” Lalu saya protes, “Kok gitu? Kamu kan tahu aku.. kalau kamu dipanggil pulang duluan, aku bakal depresi berat, tidak ingin hidup lagi. Kalau kamu lain, kamu itu lebih kuat daripada aku kalau aku tiada.” Sayangku menjawab, “Ya, memang.. aku tahu itu. Tapi aku yakin kamu bisa mengatasi itu. Kalau kamu memang kesepian, kamu bisa menikah lagi. Aku merestui kamu untuk menikah lagi.” Langsung saya protes lagi, “Memang gampang menikah lagi? Tidak semudah itu menikah lagi. Kamu kan tahu sendiri perjuangan kita dulu dalam usaha untuk dapat saling memahami.. berapa kali kita bertengkar, berapa kali kita menangis bersama hingga kita seperti sekarang.. bahkan sampai sekarang pun, kita masih belajar untuk saling memahami. Lagipula, aku kasihan sama perempuan itu nantinya. Dia harus ‘bersaing’ dengan bayang-bayang dirimu karena kamu sudah menjadi istri yang sempurna bagiku. Tiap kali terjadi konflik, aku bisa membanding-bandingkan dia dengan dirimu. Itu pasti berat sekali untuknya. Jadi, kalau Tuhan mengizinkan, lebih baik aku tidak menikah lagi.” Sayangku menimpali lagi sambil membelai diriku, “Ya, aku tahu.. jangan marah dulu, ya, suamiku tersayang.. dengarkan penjelasanku dulu.” Setelah saya tenang, Sayangku melanjutkan, “Aku bilang ini karena anak-anak kita, buah cinta kasih kita berdua. Aku hanya bisa merawat, memberikan kasih sayang, dan menyediakan semua kebutuhan dasar anak-anak. Tapi kalau urusan mendidik anak-anak tentang bagaimana hidup yang seharusnya, urusan masa depan anak-anak, biaya hidup anak-anak, cuma kamu yang bisa, sayang.. Anak-anak lebih mendengarkan kamu daripada aku kalau untuk itu. Kamu juga bisa merawat, memberikan kasih sayang, dan menyediakan semua kebutuhan dasar anak-anak seperti yang aku lakukan selama ini. Aku senang dan bangga karena aku punya suami yang ‘paket lengkap’. Suamiku bisa menjadi papa sekaligus mama bagi anak-anak. Kalau aku, tidak bisa seperti itu. Aku hanya bisa menjadi mama bagi anak-anak. Itu sebabnya, aku tidak khawatir sama sekali kalau menitipkan anak-anak ke kamu. Jadi, kalau aku harus memilih antara “mengorbankan” suamiku tersayang atau “mengorbankan” buah cinta kasih kita berdua, aku lebih memilih mengorbankan suamiku tersayang. Mengenai menikah lagi setelah aku tidak ada, aku merestui dan itu juga tidak melanggar Firman Tuhan. Kamu butuh pendamping, sayang.. Tapi, kalau kamu memilih untuk tidak menikah lagi, tidak apa-apa, malah kamu bisa fokus menjaga dan merawat anak-anak serta keluargaku. Biarlah kehendak Tuhan yang jadi. O, ya.. aku nanti nitip keluargaku juga kalau aku tidak ada, ya, sayang..” Lalu Sayangku menambahkan, “Sayang, sebenarnya aku kasihan sama kamu kalau nanti aku tidak ada.. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan kamu. Kalau aku tiada, kamu tidak ada teman lagi, tidak punya pendamping lagi. Kamu pasti sangat sedih, menjadi lebih pendiam dan tidak ceria lagi. Tapi kamu tidak usah khawatir, sayang.. selama aku masih ada, aku akan selalu berusaha untuk menemani dirimu ke manapun kamu pergi.. sebisaku, aku akan menemani dirimu.” Begitulah Sayangku. Hal ini yang membuat saya sangat sayang kepada Sayangku: Sayangku lebih memilih kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri, saya, dan diri kami berdua. Dan itu juga sebabnya mengapa Sayangku begitu bersikeras untuk selalu menemani saya ke manapun saya pergi walaupun Sayangku sakit, karena Sayangku sudah berjanji kepada saya untuk selalu bersama saya selama Sayangku masih mampu. Terima kasih, Sayangku.. Sayangku memang istri yang luar biasa!

–catatan: tentang perkataan saya yang menyatakan “berapa kali kita bertengkar.. berapa kali kita menangis bersama”, teman-teman akan mengetahui maksudnya setelah mengikuti episode kelima dan seterusnya–

Sebelum Sayangku mulai kesulitan untuk berbicara, di hari Minggu, Sayangku pernah menegur Sarabeth karena Sarabeth hanya pelayanan untuk ibadah streaming di ibadah sesi siang saja. Sayangku tidak suka. Sayangku bilang kalau pelayanan jangan nanggung. Kalau memang mau pelayanan, harus saat ibadah sesi pagi dan siang. Akhirnya, saya menjelaskan kalau saya yang menyuruh demikian supaya Sarabeth bisa membantu Sayangku dahulu di rumah untuk menyiapkan sarapan saat kami pulang ke rumah sebentar tiap kali selesai ibadah sesi pagi. Tapi karena permintaan Sayangku, akhirnya saya juga mengajak Sarabeth untuk ikut pelayanan ibadah sesi pagi sampai pada suatu hari, ketika kami pulang, kami melihat Sayangku kebingungan menyiapkan sarapan. Saat itu Sayangku seperti orang yang tidak pernah memasak.. bingung sekali.. semua yang dilakukan salah. Melihat hal itu, saya sedih sekali karena sel tumor di otaknya telah mengganggu fungsi kognitif dari Sayangku. Akhirnya, setelah minggu itu, saya memutuskan untuk tinggal di rumah, membantu dan menemani Sayangku. Pelayanan ibadah streaming di gereja, saya serahkan sepenuhnya ke tim multimedia dan dibantu oleh William dan Sarabeth, sambil saya pantau dari rumah. Begitulah Sayangku.. walaupun sakit, masih tetap memikirkan pelayanan pekerjaan Tuhan.

Minggu berikutnya, Sayangku sudah benar-benar kesulitan untuk berbicara. Sayangku mulai sedikit berbicara. Itu sebabnya, mulai minggu itu, saya berusaha mengubah cara kami berkomunikasi, yaitu, saya yang dominan berbicara dan kalau bertanya kepada Sayangku, saya berusaha “meramu” pertanyaan saya agar Sayangku cukup menjawab dengan “ya” atau “tidak”. Kalaupun tidak bisa menjawab, Sayangku bisa cukup menganggukkan kepala atau menggunakan bahasa tubuh lainnya yang saya mengerti. Itulah hikmat yang diberikan Tuhan kepada saya agar kami berdua tetap dapat berkomunikasi walaupun Sayangku mulai sulit untuk berbicara.

Mulai pertengahan sampai akhir Mei 2021, hampir setiap hari, Sayangku mengajak saya pergi keluar rumah. Karena sudah sulit berbicara, Sayangku biasanya tiba-tiba berdiri, mengambil tasnya, lalu menggandeng tangan saya untuk keluar kamar. Saya mengerti maksudnya. Lalu saya meminta Sayangku untuk duduk sebentar karena saya akan berganti baju dulu. Setelah itu, saya menggandeng Sayangku untuk turun ke lantai bawah, menuju ke mobil. Selanjutnya, kami berdua pergi naik mobil dengan tujuan keliling kota Surabaya. Hanya berkeliling.. biasanya sekitar 1 jam, hingga Sayangku memberikan isyarat kepada saya untuk pulang ke rumah. Di mobil, kami berdua hanya terdiam, berpegangan tangan sambil menikmati perjalanan berkeliling kota. Saya ingin menangis karena saya mengetahui bahwa saat-saat terakhir kebersamaan kami sudah dekat. Saya berusaha memaksimalkan saat-saat di mana Sayangku masih dapat bepergian dengan memberikan waktu yang terbaik dari yang bisa saya berikan kepada Sayangku.

Sejak tanggal 27 Mei 2021, Sayangku mulai kejang-kejang kembali. Pada 29 Mei 2021, semakin intens kejangnya, bahkan tanggal 30 Mei 2021 sudah tidak terhitung lagi berapa kali Sayangku kejang-kejang. Setiap kali Sayangku kejang, saya selalu mendekap dan memeluk Sayangku agar Sayangku tidak tersedak. Ketika memeluk Sayangku, saya sambil mengelus-elus kepala Sayangku karena kepalanya pasti sakit sekali saat itu. Sambil mengelus-elus kepala Sayangku, saya mengajak Sayangku untuk berdoa, hanya dengan mengatakan, “Haleluya, Tuhan Yesus! Terima kasih, Tuhan Yesus!” Begitu terus berulang-ulang. Ketika kejangnya Sayangku mulai mereda, Sayangku beberapa kali mengikuti apa yang saya katakan, walaupun di hari-hari selanjutnya, Sayangku hanya mampu berkata, “Haleluya!” sampai Sayangku benar-benar tidak dapat berbicara lagi.

Sejak mulai kejang-kejang, saya sangat sedih melihat kondisi Sayangku. Saya tidak tega. Karena saya sudah depresi dan tidak tahan melihat kondisi Sayangku, saya pernah “memaksakan diri” untuk memohon kepada Tuhan agar saya dan Sayangku boleh “tukar posisi”, maksudnya, biar saya yang sakit, Sayangku yang sehat. Tentu saja, Tuhan tidak mengabulkan karena permohonan saya itu bukan kehendak Tuhan. Saya sering duduk di lantai, dekat Sayangku berbaring, sambil menangis karena saya sendiri sudah sulit untuk berdoa, tidak tahu harus bicara apa. Jadi, tiap kali berdoa, saya cuma bisa menangis. Sebelum tiap kali duduk di lantai dan menangis, biasanya saya selalu pastikan kalau Sayangku sudah tidur karena saya tidak ingin Sayangku melihat saya menangis. Suatu kali, Sayangku terbangun dan melihat saya menangis, lalu Sayangku menyentuh saya. Saat itu Sayangku sudah tidak bisa bicara. Saya berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengajak foto selfie sambil ceria untuk menutupi kesedihan saya. Sayangku mengetahui maksud saya. Itu sebabnya, Sayangku mau saya ajak untuk selfie –tapi maaf, saya tidak bisa menampilkan foto-foto itu karena privacy–.

Secara manusia, saya sudah pasrah dan berserah kepada Tuhan kalau Sayangku memang harus meninggalkan saya dan itu membuat saya sedih sekali. Pada tanggal 31 Mei 2021, dini hari, sekitar jam 01.30-an, saya sudah panik dan takut sekali. Nafas Sayangku sudah pendek-pendek. Saya cuma bisa duduk di lantai sambil menangis. Mau kontak siapa, saya bingung.. pagi-pagi jam segitu. Lalu saya mengambil smartphone saya. Saya ingin mengirim chat ke Pastor Andi Simon karena pagi-pagi sekali biasanya Pastor Andi Simon sudah bangun dan bersiap-siap pelayanan. Saat itu, Tuhan berbicara sama saya, “Jangan cari manusia, carilah Aku!” Segera saya letakkan smartphone saya. Saya tidak mengontak siapapun. Sebenarnya, saat itu, saya sudah sulit untuk berdoa, tidak tahu harus berdoa bagaimana, sulit untuk fokus. Saya seperti sudah “mati rasa”. Lalu, saya mencoba untuk mulai berdoa hanya dengan tiga kata saja, “Haleluya, Tuhan Yesus!” Berulang-ulang saya cuma berdoa seperti itu sampai saya bersekutu dengan Dia dalam roh. Setelah selesai berdoa, saya rebahan karena sangat kecapekan. Tak lama, Sayangku terbangun lalu duduk. Sayangku sudah terlihat lain; biasanya Sayangku langsung kejang-kejang saat terbangun, namun kali ini tidak kejang-kejang. Sayangku berusaha untuk berdiri walaupun lemah, tidak kuat berdiri. Akhirnya saya peluk Sayangku, dan Sayangku merespon pelukan saya dengan menyandarkan tubuhnya ke tubuh saya. Saya digerakkan untuk kembali berkata “Haleluya, Tuhan Yesus!” Ternyata Sayangku mulai merespon dengan berkata, “Tuhan, tolong!” Saya melanjutkan dengan kata-kata yang berbeda, “Terima kasih, Tuhan Yesus! Terima kasih, Tuhan Yesus! Puji syukur hanya bagi-Mu! Kau Tuhanku, Kau Allahku, Kau Gunung Batu Keselamatanku!” Berulang-ulang saya mengatakan itu dan direspon Sayangku dengan mengatakan, “Tuhan, tolong!” Setelah beberapa lama kami berdoa seperti itu, akhirnya selesai. Sayangku lebih tenang, bernafas normal, dan tidak kejang-kejang di pagi itu. Setelah berdoa, Sayangku berkata kepada saya, “Tujuanku beda.” Sampai sekarang, saya belum paham maksud Sayangku mengatakan itu. Lalu saya menawari Sayangku untuk minum susu. Sayangku mau dan minum dengan “lebih baik” dari hari-hari sebelumnya. Selanjutnya, Sayangku beristirahat lagi dan bisa tidur dengan nyenyak. Raut wajah Sayangku sudah rileks dan bisa tersenyum kembali. Puji Tuhan! Tuhan sungguh amat sangat baik!

Sejak kejadian tanggal 31 Mei itu, saya mulai berdoa khusus, “Tuhan, kalau Engkau memang ingin memanggil pulang Sayangku, aku mohon kepada-Mu agar Sayangku menjadi ‘cemerlang’, ‘berkilauan’, putih seperti salju di hadapan-Mu supaya kalau tiba saatnya nanti Sayangku pulang kepada-Mu, Engkau dengan bangga menyambut Sayangku dalam hadirat-Mu.” Doa itu selalu saya panjatkan setiap waktu, dari hari ke hari hingga tiba saatnya Sayangku dipanggil pulang oleh Tuhan. Dan juga, sejak itu, saya membuat playlist lagu di Spotify yang berisi lagu-lagu favorit kami berdua yang “berbicara” tentang ucapan syukur. Kebetulan, lagu-lagu itu di-composed dan dinyanyikan oleh Welyar Kauntu. Playlist tersebut selalu saya play seharian untuk menemani waktu kami berdua di kamar tidur favorit kami berdua. Tiap kali playlist tersebut sampai pada lagu “Sebab Hanya Kau Yang Mulia”, saya selalu menghentikan aktivitas saya lalu mendengarkan dengan seksama lagu ini sambil menyanyi lagu ini di dalam hati saya dan memandang wajah Sayangku yang sedang tertidur. Saya merasa kalau Sayangku juga menikmati lagu ini karena wajahnya begitu tenang tiap kali lagu ini di-play. Wajah Sayangku “bersinar”, sama seperti saat selesai didoakan oleh Pastor Andi Simon pada tanggal 8 Maret 2020 –cerita tentang didoakan oleh Pastor Andi Simon dan yang terkait dengan peristiwa tersebut, akan saya ceritakan di episode yang lain–. Lagu ini adalah ungkapan hati kami berdua bahwa hanya Tuhan yang termulia dan yang layak untuk disembah. Mengenal Tuhan Yesus secara pribadi itulah hal yang terindah dalam hidup kami masing-masing secara pribadi. Kami berdua bersyukur sekali karena dapat selalu menikmati indahnya kasih Tuhan yang tak habis-habisnya setiap hari.

Syair lagu “Sebab Hanya Kau Yang Mulia”
Di hadirat-Mu kuangkat suaraku
Di hadirat-Mu kuangkat wajahku
Sujud menyembah di hadapan-Mu
Menyatakan Kaulah Rajaku

Keagungan-Mu mengatasi langit
Kemuliaan-Mu mengatasi bumi
S’gala pujian, hormat, dan syukur
Kemuliaan hanya bagi-Mu

S’bab hanya Kau yang mulia di atas segalanya
S’bab hanya Kau yang terindah melebihi segalanya
Kuangkat wajahku memandang keindahan-Mu
Kau yang termulia, agung nama-Mu, Yesus Raja

composed by Welyar Kauntu (https://youtu.be/5drwHxTX9pg)

Menjelang siang di tanggal 31 Mei 2021, om Daniel dan tante Ester datang ke rumah untuk menjenguk Sayangku. Sebelum didoakan oleh om Daniel dan tante Ester, Sayangku ditanya oleh tante Ester, “Mau nyanyi apa sebelum berdoa?” Dijawab oleh Sayangku, “Betapa baiknya Engkau Tuhan”. Lalu pertanyaan yang sama diulangi lagi oleh tante Ester, dan dijawab dengan jawaban yang sama oleh Sayangku. Akhirnya, sebelum kami berdoa, kami memuji Tuhan dengan lagu “Betapa Baiknya Engkau Tuhan”. Sungguh benar, betapa baiknya Tuhan, kasih-Nya tidak berkesudahan! Walaupun Sayangku tidak disembuhkan dan dipanggil pulang oleh Tuhan, kami berdua tidak ditinggalkan Tuhan dan kerinduan kami berdua sejak awal adalah ingin selalu tetap dalam rencana-Nya sampai garis akhir.

Syair lagu “Betapa Baiknya Engkau Tuhan”
Betapa baiknya Engkau, Tuhan
Kasih-Mu tiada berkesudahan
Betapa mulia kasih-Mu, Yesus
Jiwaku diselamatkan

Hosana! Ku memuji Tuhan
Hosana! Ku tinggikan Yesus
Hosana! Hosana! Hosana!

Saya bukan manusia yang sempurna. Saya seorang manusia yang sangat terbatas. Ketika awal bulan Juni 2021, saat kondisi Sayangku terus memburuk, saya mulai kecapekan karena sering tidak tidur berhari-hari. Kalaupun sempat tidur, hanya bisa tidur paling lama 30 menit karena Sayangku selalu bangun dan berusaha untuk duduk dan berdiri sendiri. Pernah suatu kali saya tertidur dan tidak mengetahui kalau Sayangku sudah duduk dan berusaha berdiri sendiri. Akhirnya, Sayangku terjatuh hingga pelipisnya berdarah. Pernah juga suatu hari, Sayangku terjatuh hingga kepalanya berdarah. Saya panik sekali saat itu. Akhirnya saya sempat emosi.. marah-marah kepada Sayangku karena Sayangku tidak mau menurut apa yang saya katakan. Sebenarnya, saya sudah meminta Sayangku untuk tidak berusaha sendiri. Kalau membutuhkan sesuatu, saya minta Sayangku untuk membangunkan saya ketika saya tertidur. Akan tetapi, Sayangku tidak menurut. Ketika saya marah-marah, Sayangku tidak suka sama saya. Setelah saya membaringkan kembali Sayangku ke ranjang, langsung Sayangku membuang muka dan memunggungi saya. Saya tahu, Sayangku marah kepada saya. Saya meminta maaf saat itu lalu duduk di lantai, di dekat Sayangku berbaring, sambil menunggu untuk dimaafkan oleh Sayangku. Beberapa saat kemudian, Sayangku membalikkan badan, lalu memegang kepala saya. Saya tahu, Sayangku sudah memaafkan saya. Saat itu, saya meminta maaf sekali lagi kepada Sayangku lalu menjelaskan bahwa emosi saya naik karena saya kecapekan. Saat itu, saya belum tidur beberapa hari. Lalu saya memohon kepada Sayangku untuk memberikan kesempatan kepada saya supaya saya dapat tidur sekitar 2 – 3 jam agar saya pulih dari rasa capek. Dengan bahasa isyarat, Sayangku meminta saya untuk berbaring di sebelahnya. Ketika saya sudah berbaring di sebelahnya, Sayangku memegang kepala saya kembali dan berusaha mengelus pelipis saya. Saya tahu, kalau Sayangku meminta saya untuk tidur saat itu sembari ditemani oleh Sayangku. Akhirnya, saya bisa tidur sekitar 3 jam lalu bangun dengan badan yang lebih segar dan siap untuk merawat Sayangku kembali.

Pada pertengahan Juni 2021, tepatnya tanggal 18 Juni 2021. Kondisi Sayangku benar-benar buruk. Saya berkonsultasi dengan dr. Valen. Lalu, dr. Valen menyarankan untuk segera membawa Sayangku ke IGD karena Sayangku bisa sewaktu-waktu meninggal dunia. Saya sedih sekali saat itu karena saya tahu inilah saatnya saya harus merelakan dan melepas Sayangku untuk pulang ke rumah Bapa di Surga. Kemudian, saya bertanya kepada Sayangku apakah Sayangku mau ke rumah sakit. Sebenarnya Sayangku tidak mau ke rumah sakit, tapi saya jelaskan apa yang disampaikan dr. Valen kepada Sayangku. Akhirnya, Sayangku bersedia untuk dibawa ke IGD. Dengan susah payah dan dibantu oleh William, saya menuntun Sayangku untuk turun ke lantai bawah. Ternyata, luar biasa.. Sayangku mampu untuk turun ke lantai bawah dengan lancar, tanpa insiden apapun. Puji Tuhan! Akhirnya saya mencoba untuk membawa Sayangku ke IGD RSAL dr. Ramelan. Sesampai di IGD, kami ditolak karena dianggap kondisi Sayangku tidak gawat. Saat itu, pasien covid19 sedang melonjak dan mengakibatkan IGD rumah sakit lebih memprioritaskan pasien covid19. Lalu saya mencoba untuk membawa Sayangku ke IGD RSDS. Di sana, kami juga ditolak. Saya sempat hampir emosi karena saya sudah bersusah payah membawa Sayangku ke IGD tapi hasilnya selalu ditolak. Saat itu, Sayangku sudah lemas, sudah kecapekan. Akhirnya, saya membawa Sayangku ke IGD RS Royal. Di sana, Sayangku diterima dan distabilkan kondisinya. Setelah stabil, Sayangku dipulangkan. Saya minta untuk dirawat inap, tapi tidak diberikan karena dianggap sudah stabil dan bisa dipulangkan. Akhirnya, kami berdua pulang ke rumah.

Keesokan harinya, tanggal 19 Juni 2021, Sayangku kembali nge-drop. Saya membawa Sayangku kembali ke IGD RS Royal. Di sana, Sayangku dirawat dan distabilkan. Setelah stabil, kembali dipulangkan. Saya protes karena saya sudah dua hari berturut-turut ke IGD dan selalu dipulangkan. Bisa saja nanti saya tiap hari harus ke IGD dan itu malah membuat kondisi Sayangku semakin nge-drop karena kecapekan. Akhirnya, setelah konsul kembali dengan dr. Valen, kami disarankan untuk ke IGD RKZ. Dengan bantuan dr. Valen, kami diarahkan untuk meminta agar dapat konsul ke dr. Meryana, Sp.S, M.Kes. Dalam perjalanan ke RKZ, saya sangat sedih karena saat itu saya benar-benar merasakan bahwa saat itu adalah saat terakhir saya dapat membaringkan Sayangku ke tubuh saya sambil saya peluk erat-erat. Sayangku juga tahu itu. Itu sebabnya, saat itu, Sayangku benar-benar menyandarkan tubuhnya dan kepalanya ke tubuh saya dan memberikan dirinya untuk saya peluk erat-erat sambil menikmati momen pelukan erat kami berdua yang terakhir kalinya. Sedih sekali saat itu.. sepertinya kami tidak rela untuk “melepaskan” momen pelukan erat itu ketika kami sudah tiba di IGD RKZ.

Saat saya menunggui Sayangku di IGD RKZ, saya memohon kepada Tuhan demikian, “Tuhan, kalau tiba saatnya Engkau memanggil pulang Sayangku, izinkan aku untuk mengantar kepergian Sayangku dan izinkan aku yang menutupkan mata Sayangku di waktu terakhirnya bersama dengan aku.” Itu sebabnya, sejak saat itu, saya hampir tidak pernah meninggalkan Sayangku sendirian. Saya selalu berusaha untuk menemani Sayangku.

Setelah mendapatkan kamar untuk rawat inap, Sayangku dipindahkan ke kamar tersebut. Jadi, sejak tanggal 19 Juni 2021 malam, Sayangku dirawat di rumah sakit. Karena kondisi yang memburuk dan jenis obat yang cukup keras dan mudah mengkristal, sering kali alat infusnya Sayangku menjadi buntu, yang akhirnya membuat Sayangku banyak “ditusuk” jarum. Tidak tahan saya melihat itu.. ketika sedang sendirian di kamar, saya menangis melihat kondisi Sayangku.

Keesokan harinya, tanggal 20 Juni 2021, kesadaran Sayangku mulai menurun. Sayangku mulai tidak merespon saat dipanggil dan beberapa kali kejang walaupun sudah dibantu obat-obatan. Selain itu, Sayangku terlihat beberapa kali kesakitan. Ini terlihat saat Sayangku mengeryitkan dahi dan meringis kesakitan. Lalu, atas rekomendasi dari dr. Meryana, kondisi Sayangku dikonsulkan kepada Dr. dr. Joni Wahyuhadi, SpBS(K) untuk dipasang selang dari otak ke saluran pencernaan karena ada penumpukan cairan di otak sehingga meningkatkan tekanan di otak dan menyebabkan otak menjadi bengkak. Inilah yang menyebabkan Sayangku kejang dan kesakitan di bagian kepala. Tiap kali saya menangani Sayangku waktu Sayangku kejang dan kesakitan, hati saya pedih sekali. Saya selalu menangis melihat itu semua. Selanjutnya, Sayangku dirujuk ke RSDS untuk operasi karena menggunakan BPJS. Pada hari Senin malam, tanggal 21 Juni 2021, kami berangkat dengan diantar oleh ambulance dari RKZ ke RSDS. Sayangku baru menjalani operasi tersebut hari Selasa pagi, tanggal 22 Juni 2021 sekitar jam 06:00. Saya menunggu dengan terus berdoa agar operasi berjalan lancar. Sekitar jam 09:00, saya dipanggil untuk menemui Sayangku di ruang ICU karena Sayangku sudah selesai dioperasi. Puji Tuhan! Operasi berjalan lancar. Sejak saat itu, saya tidak pernah melihat Sayangku kejang dan mengeryitkan dahi karena kesakitan. Puji syukur kepada Tuhan! Saya lega karena rasa sakit yang dirasakan oleh Sayangku sudah berkurang cukup banyak. Setelah 1 jam di ICU, Sayangku dipindahkan ke ruang High Care Unit (HCU) untuk dipantau perkembangannya lebih lanjut.

Di HCU, saya boleh menemani Sayangku di samping tempat tidurnya. Oh, senang sekali dapat menemani Sayangku kembali. Anehnya, walaupun dalam kondisi kesadaran yang menurun sekali, Sayangku tahu di mana posisi saya berada. Sayangku selalu mengarahkan badan dan kepalanya ke posisi saya berada. Kalau saya pindah posisi, tak lama kemudian, Sayangku juga berpindah arah. Akhirnya, supaya Sayangku nyaman, saya mengambil keputusan untuk tidak berpindah-pindah posisi walaupun badan saya pegal-pegal. Saya menunggui Sayangku tanpa henti. Saya tidur dengan posisi telungkup di pinggir tempat tidur Sayangku. Para perawat dan dokter yang menjaga dan merawat Sayangku sampai berkali-kali mengingatkan saya agar saya mengambil waktu istirahat supaya saya tidak nge-drop, namun saya tidak mau karena saya tidak mau melewatkan kalau saatnya tiba nanti Sayangku dipanggil pulang oleh Tuhan. Saya baru meninggalkan Sayangku ketika semua orang yang menunggui keluarganya di ruangan HCU diminta untuk keluar ruang HCU oleh perawat karena para perawat akan memandikan pasien-pasien. Biasanya, waktu memandikan pasien itu dilakukan dua kali sehari, saat pagi dan saat sore. Saat itu, saya baru keluar ruangan untuk mandi dan makan.

Ketika menunggui Sayangku, saya tidak lupa untuk selalu play lagu-lagu favorit kami berdua. Karena kami tidak berada di ruang privat –satu ruangan diisi dengan 10 pasien–, maka saya memasangkan bluetooth headset ke telinga Sayangku. Saya juga mendengarkan lagu-lagu yang sama menggunakan bluetooth headset lainnya yang terhubung ke smartphone saya. Jadi, kami berdua sama-sama mendengarkan lagu-lagu itu. Tujuan saya selalu play lagu-lagu tersebut adalah untuk menenangkan kami berdua dan juga untuk mengingatkan kami berdua agar tetap selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

Pada tanggal 23 Juni 2021, sekitar jam 19:00, Sayangku kritis. Saya segera memanggil dokter dan perawat yang sedang berjaga di ruangan untuk membantu Sayangku. Dokter sempat memberikan CPR (cardiopulmonary resuscitation) kepada Sayangku. Akhirnya Sayangku dapat distabilkan kembali. Sejak saat itu, Sayangku diberikan alat bantu pernafasan dan dipantau ketat. Saya sudah semakin pasrah dan terus menerus berdoa yang sama, yaitu, agar Sayangku “cemerlang”, “berkilauan”, dan putih seperti salju di hadapan Tuhan agar Tuhan bangga saat menyambut kedatangan Sayangku.

Dan akhirnya, pada tanggal 24 Juni 2021, sekitar jam 20:30, Sayangku kembali kritis. Tim dokter datang dan berusaha memberikan CPR kembali, tetapi kondisi Sayangku tidak dapat stabil kembali. Saat itu, tim dokter memberikan alternatif tindakan kepada saya. Saya diberikan dua alternatif. Alternatif pertama, tim dokter akan melakukan pijat jantung kepada Sayangku untuk mengupayakan agar kondisi Sayangku dapat stabil kembali. Alternatif kedua, tim dokter tidak melakukan pijat jantung, tetapi memberikan waktu kepada saya untuk berdua dengan Sayangku hingga waktunya Sayangku dipanggil pulang oleh Tuhan. Lalu saya bertanya tentang peluang dari alternatif pertama. Tim dokter menyampaikan, peluang hidup untuk orang normal cuma 30%, tetapi kalau sakitnya seperti Sayangku, tinggal 10%, apalagi Sayangku pasca operasi pasang selang di otak, peluang tinggal 5%. Namun, efek dari pijat jantung ini cukup berat, yaitu tulang rusuk bisa hancur. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menerima alternatif kedua daripada alternatif pertama. Segera tim dokter dan perawat menyingkir dari pinggir tempat tidur Sayangku untuk memberikan kesempatan kepada saya sehingga saya dapat menemani Sayangku. Tim dokter dan perawat tetap berada di sekitar tempat tidur Sayangku sambil memantau perkembangan kondisi Sayangku.

Puji Tuhan! Tuhan mengabulkan permohonan saya. Saat itu adalah kesempatan saya untuk mengantar Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga. Saya segera menelepon rumah untuk mengumpulkan semua orang di rumah –William, Sarabeth, Elisebeth, papa, dan Uke– agar ikut mengantar kepergian Sayangku. Setelah semuanya berkumpul di telepon, saya mulai memeluk Sayangku sebisanya, lalu menciumi kening dan pelipis Sayangku serta menyanyikan beberapa lagu di dekat telinga Sayangku agar Sayangku mendengarkan nyanyian saya yang pada awalnya saya nyanyikan dengan lirih. Lagu pertama yang saya nyanyikan adalah “Terima Kasih, Yesus”. Saya nyanyikan hanya bagian refrain saja.

Syair lagu “Terima Kasih Yesus” (hanya refrain saja yang saya nyanyikan):
Terima kasih, Yesus.. terima kasih, Yesus
Kuberi syukur hanya bagi-Mu, ya Allahku, ya Tuhanku
Terima kasih, Yesus.. terima kasih, Yesus
Kuberi syukur hanya bagi-Mu.. Terima kasih, Yesus.

composed by Welyar Kauntu (https://youtu.be/ir0Uce6HQCo)

Saya menyanyikan lagu itu dengan suara pelan dan sambil menangis. Setelah bernyanyi berulang-ulang, saya mengganti lagu itu dengan lagu “Segala Pujian dan Syukur”, yang juga saya nyanyikan hanya bagian refrainnya saja.

Syair lagu “Segala Pujian dan Syukur” (hanya refrain saja yang saya nyanyikan):
S’gala pujian dan syukur hanya bagi-Mu, Yesus
Dengan apakah kubalas kasih-Mu
S’gala hormat kemuliaan hanya layak bagi-Mu
Kusembah Yesus seumur hidupku!

composed by Welyar Kauntu (https://youtu.be/WtoT_Ao21cc)

Saya juga menyanyikan lagu ini dengan suara pelan dan sambil menangis. Lalu, saya lanjutkan dengan lagu pilihannya Sayangku, yaitu “Betapa Baiknya Engkau Tuhan”. Saya menyanyikan lagu itu secara utuh. Ketika saya menyanyikan bagian refrainnya berulang-ulang, saya masuk penyembahan dalam roh lalu dilanjutkan dengan bernyanyi dalam roh. Saat itu, saya tidak bisa mengontrol volume suara saya lagi. Saya menyembah dan menyanyi dalam roh dengan suara yang cukup keras. Saya yakin, semua orang yang berada di ruang HCU mendengarkan itu semua. Lalu setelah selesai penyembahan, saya kembali menyanyikan lagu “Terima Kasih, Yesus”. Bedanya, kali ini saya menyanyikan berulang-ulang dengan suara keras. Lalu, saya sambung dengan menyanyikan lagu “Segala Pujian dan Syukur” dengan suara yang lebih keras lagi. Setelah selesai menyanyikan lagu ini berulang-ulang, saya diberitahu oleh tim dokter yang memantau kondisi Sayangku, bahwa Sayangku sudah tidak ada. Saya bertanya kepada tim dokter, “Jam berapa tadi istri saya tidak ada?” Dijawab oleh tim dokter, “Baru saja, di jam 21:40.” Waktu saya lihat jam tangan saya, jam tangan saya menunjukkan sekitar pukul 21:43. Akhirnya, saya mengantar kepergian Sayangku untuk pulang ke rumah Bapa di Surga dengan lagu “Segala Pujian dan Syukur”. Sayangku menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan saya. Lalu, saya mencium Sayangku sekali lagi untuk terakhir kalinya dan menutupkan mata Sayangku. Terima kasih, Tuhan! Engkau sendiri yang telah memberikan Sayangku kepadaku dan Engkau juga telah mengabulkan permohonanku dengan mengizinkan diriku mengantar Sayangku untuk pulang kepada-Mu dan menutupkan mata Sayangku setelahnya. Puji Tuhan! Engkau sungguh amat sangat baik!

Selanjutnya, sambil masih gemetaran karena saya merasakan hadirat Tuhan yang luar biasa di ruang HCU itu, saya mengurus administrasi untuk bisa segera membawa jenazah Sayangku ke Adijasa. Saat itu, saya baru sadar, betapa heningnya ruangan HCU itu. Selama saya berada di ruang itu –sudah tiga hari saya berada di ruang itu–, tidak pernah kondisinya sehening saat itu. Hadirat Tuhan terasa sekali saat itu dan membuat semua orang segan dan tidak berbicara sepatah katapun. Puji Tuhan! Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya. Selanjutnya, saat itu, yang terdengar hanya suara dari alat monitor jantung dari pasien-pasien yang dirawat di ruang tersebut serta percakapan saya dengan tim dokter dan perawat yang mengurus jenazah Sayangku dan suara saya saat telepon keluarga, kerabat, dan teman-teman untuk mengabari bahwa Sayangku sudah tiada lagi di dunia ini serta menelepon layanan kedukaan Bagus untuk mempersiapkan jenazah Sayangku di Adijasa.

Puji Tuhan! Tuhan mengatur semuanya dengan sungguh amat sangat baik. Semua urusan lancar walaupun saya sendirian mengurus semuanya. Keesokan harinya, dengan ditemani oleh bapak Semuil Kusnindar (wakil gembala GBT Bethlehem) dan Sarabeth, saya mengurus persiapan pemakaman jenazah Sayangku di layanan kedukaan Bagus. Semuanya berjalan dengan lancar hingga hari pemakaman pada tanggal 26 Juni 2021 di TPU Keputih, Surabaya. Live streaming ibadah penutupan peti dan pemakaman jenazah Sayangku dapat dilihat pada Video 1 dan Video 2. Tuhan yang mengatur dan menyediakan semuanya. Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi-Mu!

Video 1: (Live Streaming) Ibadah Penutupan Peti di Adijasa – 26 Juni 2021
Video 2: (Live Streaming) Ibadah Pemakaman di TPU Keputih, Surabaya – 26 Juni 2021

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well with my soul.

Refrain:
It is well with my soul,
It is well, it is well with my soul.

Ketika kedamaian, yang mengalir seperti sungai, mengikuti jalanku,
Ketika kemalangan, yang datang seperti ombak laut bergulung, menimpaku;
Apapun yang terjadi padaku, baik itu kedamaian maupun kemalangan, Engkau telah mengajariku untuk berkata,
Itu baik, semua baik bagi jiwaku.

Refrain:
Itu baik bagi jiwaku,
Itu baik, semua baik bagi jiwaku.

“It Is Well with My Soul”, composed by Horatio G. Spafford.

Tuhan memberikan Sayangku kepada saya pada tanggal 12 Mei 1997 dan dengan seizin Tuhan, saya sendiri yang mengantar Sayangku kembali kepada Tuhan pada tanggal 24 Juni 2021. Kebersamaan kami yang begitu singkat, hanya 3,5 tahun berpacaran dan 20,5 tahun pernikahan, telah berakhir saat maut memisahkan kami berdua. Walaupun demikian, kenangan akan momen-momen indah kebersamaan kami, selalu menyertai saya secara pribadi dalam menjalani sisa hidup saya hingga saya nanti menyusul Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga.

Sekarang ini, memang terasa sepi. Tidak ada Sayangku lagi yang mendampingi saya. Tiada teman spesial untuk mengobrol dengan bebas dan apa adanya. Rasanya sekarang sama seperti dulu waktu saya belum jatuh cinta dengan Sayangku.. sepi. Setelah saya mencintai Sayangku, hidup ini menjadi berwarna-warni, penuh keceriaan, tiada hari tanpa senyuman walaupun hidup kami hanya hidup yang sederhana, tidak berkelimpahan harta. Kalau kami sedang bertengkar sekalipun, sebenarnya di dalam hati kami saling merindukan satu dengan yang lain.. ingin segera berbaikan dan tersenyum kembali. Sungguh indah momen-momen itu. Walaupun saya sering menangis ketika mengingat kenangan akan momen-momen indah itu, namun, saya bersyukur kepada Tuhan karena walaupun singkat, waktu kebersamaan kami berdua ini adalah waktu terindah dalam hidup saya. Saya puas sekali dengan kebersamaan kami berdua. Dan, terlebih lagi, Sayangku sudah tidak perlu kesakitan lagi! Semuanya baik! Terima kasih, Tuhan Yesus! Engkau telah mengabulkan keinginanku untuk mempunyai seorang istri yang luar biasa; seorang istri yang amat sangat menyayangi diriku apa adanya; seorang istri yang sanggup menolong diriku dan dengan bijak mendampingi diriku serta memperkaya diriku dengan berbagai kebaikan dan ketulusan hatinya. Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi-Mu! Amin!


Sebagai penutup, saya akan membacakan Firman Tuhan yang tertulis pada kitab Mazmur 92:6, yang tertulis demikian:

“Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.”

Mazmur 92:6 (TB)

Itulah yang selalu saya rasakan ketika Tuhan ikut serta dalam kehidupan saya secara pribadi, dan kehidupan keluarga saya. Pekerjaan-pekerjaan Tuhan begitu dahsyat, yang telah saya saksikan pada episode kedua dan ketiga ini, menunjukkan bagaimana Tuhan bertindak sehingga walaupun sedih karena harus kehilangan empat orang yg saya kasihi, namun Tuhan telah mengatur semuanya sehingga semuanya menjadi amat sangat baik. Itulah yang membuat mulut dan hati saya tiada henti-hentinya mengucap syukur atas segala rancangan Tuhan yang begitu indah dalam hidup saya dan keluarga saya. Terima kasih, Tuhan Yesus! Kau tetap Allah-ku! Kau tetap sahabatku yang terbaik!

Karya Tuhan luar biasa. Tuhan-lah yg telah menyatukan kami berdua, mengajari kami berdua untuk dapat saling mengasihi dengan tulus, apa adanya, berusaha saling membahagiakan di tengah keterbatasan kami masing-masing, dan Tuhan juga telah menarik kami berdua dalam dekapan-Nya yg hangat, sehingga setiap hari kami berdua dapat mengukir momen-momen indah cinta kasih kami berdua dan menikmati saat-saat indah bersama Tuhan. Kami berdua sangat puas, baik dalam hidup pernikahan kami maupun dalam hidup pribadi kami berdua. Itu sebabnya, walaupun pedih karena Sayangku sudah tiada, namun setiap hari saya dapat berkata, “Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanyalah bagi-Mu, Tuhan.”

Sampai di sini episode ketiga dari serial “Memoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean“. Memoar ini akan saya lanjutkan di episode keempat. Mulai episode keempat dan selanjutnya, saya akan menceritakan karya Tuhan yang luar biasa itu, mulai dari awal mula rencana-rencana Tuhan bekerja dalam kehidupan saya dan dilanjutkan pada cerita tentang kehidupan kami berdua ketika kami mulai saling mencintai, menikmati cinta kasih kami berdua dan kasih setia Tuhan yg tiada henti-hentinya bagi kami berdua dan bagi buah cinta kasih kami berdua, William, Sarabeth, dan Elisebeth. Walaupun kami berdua –saya dan Sayangku– sangat terbatas, bukan orang yang sempurna, bukan orang yang dapat berbuat apa saja, juga bukan orangtua yang sempurna bagi anak-anak kami, tapi Tuhan selalu memampukan kami untuk berbuat yang terbaik bagi anak-anak, keluarga, dan orang-orang di sekitar kami. Saya selalu berdoa, apa yang telah kami berdua alami, dan juga penyertaan dan kasih setia Tuhan yang luar biasa, dapat juga dirasakan dalam kehidupan anak-anak kami, keluarga, dan siapa saja yang telah mengikuti memoar ini. Salam damai sejahtera bagi kita semua! Tuhan Yesus memberkati! Amin!

Disclaimer: Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Sayangku. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Sayangku.