{"id":141,"date":"2021-08-19T03:31:25","date_gmt":"2021-08-19T03:31:25","guid":{"rendered":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/?p=141"},"modified":"2021-12-16T10:59:26","modified_gmt":"2021-12-16T03:59:26","slug":"episode-02","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/2021\/08\/19\/episode-02\/","title":{"rendered":"Episode 02: Kesaksian Bagian 1 \u2013 Pemberitahuan Tuhan tentang kematian orang yang saya kasihi (Mami, Mama, dan Papa)"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-style-default is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Betapa ajaib dan dahsyat-Nya Tuhan, kejadianku<br>Kau menenun diriku serupa gambaran-Mu<br>Sungguh berharga di mata-Mu Tuhan, kehidupanku<br>Kau membawa hatiku mendekat erat dengan hati-Mu<\/p><p>Ku mengangkat wajahku memandang keindahan-Mu, Yesus<br>Syukur bagi kesetiaan-Mu di sepanjang hidupku<br>Dan ku angkat tanganku ke takhta kasih dan karunia-Mu<br>Tak sekalipun Kau tinggalkanku.. oh, Yesus sahabatku<\/p><cite>&#8220;Erat Dengan Hatimu&#8221;, Giving My Best, Album: Worship Project (1995).<\/cite><\/blockquote>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>Salam jumpa dengan saya, Henry Hermawan.. dan saya adalah suami dari Sayangku, Grace Viviana Tandean.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada episode kedua ini (dan akan dilanjutkan pada episode ketiga), saya akan menyaksikan apa yang sudah Tuhan lakukan untuk kami berdua, keluarga kami, dan khususnya saya sendiri menjelang kematian empat orang yang saya kasihi, yaitu: mami, mama, Sayangku, dan papa. Kalau saya menyebutkan mami, itu artinya ibu kandung saya. Sedangkan sebutan papa dan mama itu untuk ayah dan ibu mertua saya atau ayah dan ibu kandung dari Sayangku. Yang pertama dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga adalah mami, pada tanggal 10 November 2010. Mama dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada tanggal 24 Agustus 2018, sedangkan papa dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada tanggal 9 Juli 2021. Sayangku sendiri dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada tanggal 24 Juni 2021. Ya.. rentang waktu antara Sayangku dengan papa saat dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga itu dekat sekali, sekitar 2 minggu. Jadi, sampai saat saya menuliskan episode kedua ini, saya sudah kehilangan empat orang yang saya kasihi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari empat kehilangan ini, yang terberat bagi saya adalah saat saya kehilangan Sayangku. Bagi saya, kehilangan ini membuat saya, secara manusia, berkurang separuh dari diri saya.. semangat, kekuatan, perasaan, pikiran.. semuanya.. sehingga saya sempat berada pada titik tidak punya keinginan untuk melanjutkan hidup saya sendiri. Saya merasa kalau hidup saya itu sudah selesai. Namun, Tuhan yang saya percayai dan saya kasihi dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budi saya, tidak membiarkan saya terpuruk. Kalau dahulu DIA telah menolong saya melewati apapun yang sungguh berat untuk dilalui, sekarangpun DIA tetap sama.. DIA tetap Tuhan yang menolong saya untuk melewati saat-saat yang sungguh berat ini. Bahkan, sebelum Tuhan memanggil pulang Sayangku, Tuhan sudah memberitahukan perihal kematian Sayangku kepada saya supaya saya dapat mempersiapkan diri saya untuk merelakan dan melepaskan Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian pula saat menjelang kematian mami, mama, dan papa.. Tuhan juga memberitahukan hal itu kepada saya. Jadi, sebelum mami, mama, Sayangku, dan papa dipanggil pulang oleh Tuhan, saya sudah mengetahuinya. Memang, Tuhan menggunakan cara yang berbeda dalam memberitahu saya tentang kematian empat orang yang saya kasihi ini. Juga, rentang waktu antara pemberitahuan dan saat kematian itu tiba, juga berbeda. Selain itu, tujuan Tuhan untuk memberitahu saya tentang perihal kematian mami, mama, Sayangku, dan papa juga berbeda. Inilah yang akan saya saksikan kepada teman-teman pada episode kedua dan disambung pada episode ketiga nanti. Pada episode kedua ini, saya akan saksikan tentang pekerjaan Tuhan saat kematian mami, mama dan papa.. sedangkan untuk pekerjaan Tuhan saat kematian Sayangku akan saya saksikan pada episode ketiga.<\/p>\n\n\n\n<p>Ok, saya mulai kesaksian saya bagian pertama ini.. tentang pekerjaan Tuhan dan bagaimana Tuhan bertindak saat kematian mami, mama, dan papa sehingga semuanya berlangsung dengan sungguh-sungguh amat baik.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table><tbody><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"336\" class=\"wp-image-144\" style=\"width: 300px;\" src=\"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/BPH090406a.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/BPH090406a.jpg 431w, https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/BPH090406a-268x300.jpg 268w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><span style=\"text-decoration: underline; font-size:120%\">Pekerjaan Tuhan menjelang kematian mami pada tanggal 10 November 2010<\/span><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Mami dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada tanggal 10 November 2010. Mami menderita sirosis liver karena hepatitis C walaupun kami sekeluarga juga bingung kok bisa kena hepatitis C padahal tidak pernah transfusi darah, kecuali waktu melahirkan kakak saya yang sudah meninggal beberapa hari setelah kelahirannya. Tapi itu sudah lama sekali. Kami bertiga, saya, Lili, dan Susy, aman dari hepatitis C. Yah.. tidak tahu juga dari mana, tapi itu semua sudah rencana Tuhan dalam hidup mami.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya baru mengetahui kalau mami menderita sirosis liver, kalau tidak salah, sekitar tahun 2008. Waktu itu, saya sudah ngomel-ngomel, &#8220;kok saya baru diberitahu?&#8221; Ternyata, memang mami yang tidak mau memberitahu saya karena saya pasti mengusulkan untuk melakukan transplantasi liver dan donornya sudah pasti saya. Dari kami tiga bersaudara, hanya saya yang golongan darahnya sama dengan mami. Saat itu, saya belum didiagnosa menderita penyakit <em>auto-imun<\/em> (<em>ankylosing spondylitis<\/em>), jadi kesempatan untuk menjadi donor sangat besar. Dan memang benar, begitu saya mendengar mami menderita sirosis liver, langsung saya minta mami untuk melakukan transplantasi liver. Mami langsung menolak mentah-mentah. Alasannya, hidup saya masih panjang dan saya punya Sayangku dan anak-anak yang masih kecil. Transplantasi liver memang ada resikonya dan mami tidak mau saya harus menderita kalau misalnya resiko tersebut terjadi. Ketika saya menceritakan hal ini kepada Sayangku, langsung Sayangku membenarkan keputusan mami. Sayangku juga keberatan kalau saya jadi donor dengan alasan yang sama. Ternyata, mami dan Sayangku sehati, tidak ingin saya menjadi donor liver. Akhirnya, saya menerima keputusan mami dan Sayangku.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Memang, cuma ada dua orang yang benar-benar memahami saya seutuhnya, yaitu: mami dan Sayangku. Ketika saya masih <em>single<\/em>, mami yang selalu menenangkan saya kalau saya sedang emosi, kesal, sedih, kecewa.. Saat saya telah mencintai Sayangku, peran mami digantikan oleh Sayangku yang selalu setia mendampingi diri saya dan mampu memahami saya seutuhnya sehingga Sayangku juga mampu menenangkan saya kalau saya sedang emosi, kesal, sedih, kecewa.. Sekarang ini, mami dan Sayangku sudah tidak ada lagi di dunia ini untuk mendampingi dan menenangkan diri saya.. Sepi sekali.. Berat rasanya..<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Pada tahun 2010, tepatnya bulan Agustus 2010, saya berangkat ke Singapore untuk melanjutkan belajar di Nanyang Technological University (NTU). Saat itu, keadaan mami bertambah parah. Akhirnya, atas saran seseorang (saya lupa siapa orangnya), mami berobat akupuntur di Surabaya. Jadi, tiap hari Sabtu, mami pergi ke Surabaya untuk berobat. Pada akhir Oktober 2010, saya pulang ke Surabaya karena libur tengah semester selama 1 minggu. Tiap ada libur cukup panjang, saya selalu pulang ke Surabaya atas permintaan Sayangku. Sayangku tidak suka kalau saya tinggalkan terlalu lama.. kangen berat katanya.. &#8211;Untuk cerita tentang \u201cSayangku yang tidak suka kalau saya tinggalkan terlalu lama\u201d, akan saya ceritakan di episode-episode berikutnya&#8211; Seingat saya, saya berada di Surabaya mulai tanggal 23 \u2013 31 Oktober 2010. Pada hari Sabtu, tanggal 30 Oktober 2010, papi dan mami ke Surabaya. Saat itu, papi dan mami naik pesawat dari Semarang &#8211;biasanya naik mobil, tapi karena kondisi mami semakin memburuk serta mami kecapaian dan kesakitan ketika naik mobil dari Kudus ke Surabaya pergi-pulang, akhirnya, papi dan mami naik pesawat&#8211;. Kebetulan juga, papi dan mami juga akan menghadiri undangan pernikahan sanak saudara di hotel JW Marriot, Surabaya. Susy, adik saya, menjemput papi dan mami di Juanda lalu mengantar papi dan mami ke rumah Gayungsari.<\/p>\n\n\n\n<p>Siang harinya, saya mengantar mami ke tempat dokter akupuntur di daerah Kusuma Bangsa. Kami bertiga, papi, mami, dan saya, naik mobil ke sana. Saya yang menyetir mobil. Mami duduk di kursi depan, di sebelah saya, dan papi duduk di kursi belakang. Sayangku tidak ikut. Nah.. saat itulah pekerjaan Tuhan dimulai. Ketika mobil kami sampai di <em>traffic light<\/em> pertigaan A Yani &#8211; Margorejo, Tuhan berbicara kepada saya, \u201cIni kesempatan terakhirmu untuk bertemu mami.\u201d Langsung saya terdiam. Sedih. Ingin menangis, tapi saya tahan karena saya tidak mau mami melihat saya menangis. Tak lama setelah itu, mami bertanya kepada saya, \u201cNyo, kamu kok diam sekarang? Padahal tadi kamu banyak cerita.\u201d Lalu saya jawab, \u201cTidak apa-apa kok..\u201d sambil berusaha menahan diri agar tidak menangis. Setelah berkata demikian, mami tiba-tiba membuka dompetnya lalu mengeluarkan seluruh uang yang dibawa mami sambil berkata, \u201cNyo, ini uangku, bukan uangnya papi. Aku berikan ke kamu semua untuk beli LEGO di Singapore buat anak-anak.\u201d Cukup banyak uang yang diberikan kepada saya. Saat itu juga, Tuhan berkata lagi kepada saya, \u201cUang itu jangan kamu belikan LEGO, tapi uang itu adalah uang untuk biayamu kembali ke Surabaya saat AKU panggil pulang mami dan juga untuk biaya kembali ke Singapore sesudah pemakaman.\u201d Ya.. memang saat itu, saya tidak mempunyai cukup uang untuk bolak-balik Singapore &#8211; Surabaya. Saya hanya punya tabungan uang untuk saya gunakan kembali ke Surabaya pada saat Natal di bulan Desember. Sungguh luar biasa Tuhan! DIA-lah Jehovah Jireh, Tuhan yang menyediakan.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Sebagai informasi, selama studi lanjut di Singapore, saya biasa pulang-pergi Surabaya &#8211; Singapore paling tidak dua kali tiap semester. Kok sering pulang? Itu pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya ketika ada orang yang mengetahui hal ini. Memang, itu adalah janji saya kepada Sayangku untuk sebisa mungkin sering pulang karena kami berdua memang tidak pernah menyukai suatu kondisi yang mana kami terpaksa saling berjauhan. Bahkan, kalau Sayangku sedang kangen dan saya tidak bisa ditelepon, saya selalu dikomplain dan dicemberuti oleh Sayangku, sambil katanya, \u201cApa kamu tidak tahu kalau aku kangen berat sama kamu? Aku cuma mau telepon sebentar saja, hanya untuk mendengarkan suaramu, kok tidak bisa sih?\u201d Begitulah kami berdua.. Tuhan telah menyatukan kami berdua dan kebersamaan kami berdua hanya dapat dipisahkan oleh maut. Lanjutan cerita tentang bagaimana saat kami berjauhan karena tugas dan pekerjaan, akan saya ceritakan di episode yang membahas tentang hari-hari kebersamaan kami berdua.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Setelah sampai di tempat praktek dokter akupuntur, papi dan mami masuk ke ruang praktek. Saya diajak masuk, tapi saya tidak mau. Saya memang tidak mau dan hanya duduk di mobil. Sengaja.. karena saya ingin melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Saat saya sudah sendirian di dalam mobil, saya mulai melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Pertama, saya menawar, kalau boleh, mami bisa sembuh. Tapi Tuhan tidak menghendaki itu. Lalu, saya menawar lagi. Saya berkata, \u201cTuhan, kalau memang rencana-MU adalah tetap memanggil pulang mami, berikan kepada saya kesempatan lagi untuk berduaan dengan mami sebelum saya kembali ke Singapore esok hari.\u201d Untuk penawaran saya yang kedua ini, Tuhan setuju.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah selesai berobat, saya mengantar papi dan mami ke hotel JW Marriot. Papi dan mami menginap di sana supaya mami tidak kecapekan. Acara pernikahan sanak saudara juga di <em>ballroom<\/em> hotel tersebut. Ketika mengantar, saya diminta untuk kembali lagi nanti malam sambil mengajak William karena papi dan mami ingin mengajak William ke undangan pernikahan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam harinya, saya kembali ke hotel JW Marriot bersama dengan William. Saya hanya berpakaian biasa saja karena saya memang tidak berencana menghadiri acara tersebut. William sudah berpakaian rapi dan antusias karena akan pergi dengan opa dan omanya ke pesta. Sesampainya kami di hotel, ternyata mami kecapekan sehingga mami batal ke acara pernikahan itu. Akhirnya, hanya papi dan William saja yang pergi. Saya menemani mami di kamar. Nah.. itulah waktu yang diberikan Tuhan karena saya telah menawar, meminta kesempatan untuk berduaan dengan mami. Terima kasih, Tuhan-ku.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"pesan-mami\">Saat kami berduaan di kamar, mami mulai bercerita semua hal tentang keluarga kami yang belum saya ketahui &#8211;walaupun akhirnya saya tahu ternyata ada 1 hal yang sengaja tidak diceritakan mami kepada saya dengan tujuan agar saya tidak emosi saat mendengarnya&#8211;. Mami bercerita sambil mengupas apel untuk saya. Sudah lama saya tidak dikupaskan apel oleh mami.. saya ingin menangis saat itu, tapi saya tahan sekuatnya agar saya tidak menangis. Lalu mami berpesan kepada saya, \u201cNyo, istrimu, Vivi, baik sekali orangnya.. orangnya juga sabar dan pengertian. Kamu jaga Vivi baik-baik, rawat Vivi baik-baik. Jangan sekali-kali kamu kecewakan Vivi, ya.. Kamu jaga dan rawat anak-anak juga dengan baik. Juga keluarganya Vivi kamu jaga dan rawat baik-baik.\u201d Itu pesan terakhir mami kepada saya. Saat itu saya sempat heran.. kok saya tidak diberi pesan untuk merawat papi. Saya tanyakan ke mami lalu mami menjawab dengan mengulang pesan yang meminta saya untuk menjaga dan merawat Sayangku, anak-anak, dan keluarganya Sayangku. Akhirnya saya tidak bertanya lagi karena pesan yang sama disampaikan sebanyak dua kali kepada saya. Pesan mami ini juga nantinya sama dengan pesannya Sayangku kepada saya sebelum Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga. Mami dan Sayangku memang sehati. Saya yakin bahwa Tuhan-lah yang sebenarnya berpesan kepada saya melalui mami dan (nantinya) Sayangku; dan pesan itu sesuai dengan misi yang diberikan Tuhan kepada saya ketika Tuhan menyatukan saya dengan Sayangku untuk membentuk suatu keluarga yang baru. Misi ini akan saya ceritakan di episode yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah pesta pernikahan berakhir, saya dan William pulang ke rumah. Sampai di rumah, saya menghabiskan sisa apel yang dikupaskan mami sambil menangis. Saat itu, saya menawar kembali kepada Tuhan dan berkata, \u201cTuhan, kalau boleh, beri saya kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengan mami.\u201d Padahal, esok harinya, saya harus kembali ke Singapore pada pagi hari sedangkan papi dan mami baru naik pesawat ke Semarang di siang harinya. Saat itu, Tuhan tidak menjawab apa-apa kepada saya.<\/p>\n\n\n\n<p>Esok harinya, saya hanya telepon mami, sambil berpamitan akan berangkat ke Singapore. Ketika saya sampai di Juanda dan akan <em>check-in<\/em>, saya mendapat kabar kalau pesawat yang akan saya naiki ke Singapore, ditunda keberangkatannya hingga malam hari. Saat itu, saya hampir bersorak kegirangan di bandara. Mungkin baru kali ini ada orang yang gembira karena keberangkatan pesawat ditunda, bahkan saat itu, seingat saya, pesawat yang akan saya tumpangi itu ditunda 12 jam! Tuhan mengabulkan permintaan saya sekali lagi. Langsung segera saya telepon Sayangku yang masih menunggu di bandara untuk tidak pulang dulu karena saya akan keluar lagi. Lalu saya segera telepon Susy untuk tidak menjemput papi dan mami karena saya yang akan mengantarkan papi dan mami ke Juanda. Dengan hati gembira, saya dan Sayangku segera menuju hotel untuk menjemput papi dan mami. Sesampainya kami di hotel, mami terkejut melihat kedatangan kami berdua lalu menanyakan kok saya belum berangkat ke Singapore. Saya menjawab kalau pesawat saya ditunda hingga malam hari. Mami tersenyum senang karena kami berdualah yang mengantar papi dan mami ke bandara. Di dalam mobil, mami ceria sekali.. banyak berbicara. Saya juga senang karena dapat mempunyai kesempatan terakhir untuk bertemu langsung dengan mami. Sesampainya kami di bandara, saya dan Sayangku melepas papi dan mami untuk <em>check-in<\/em> sambil melambaikan tangan kami. Itu lambaian tangan saya yang terakhir kalinya kepada mami.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat saya telah sampai di Singapore, saya ingat pesan Tuhan agar tidak menggunakan uang pemberian mami untuk membeli LEGO buat anak-anak. Uang tersebut saya simpan terus di dompet saya. Seminggu berlalu, tidak terjadi apa-apa. Hari Sabtu, tanggal 6 November 2010, papi dan mami kembali ke Surabaya untuk berobat akupuntur. Saat itu, papi, mami, dan Sayangku berkumpul di tempat tinggalnya Susy lalu melakukan <em>video call<\/em> dengan saya menggunakan Skype. Saya masih teringat jelas sekali. Waktu <em>video call<\/em> itu, saya melihat mami sedang menikmati bubur kacang hijau &#8211;memang mami suka sekali bubur kacang hijau, sama seperti saya&#8211;. Lalu mami menyeletuk, \u201cNyo, mami sedang makan kacang hijau.. enak.\u201d Saya tersenyum. Setelah beberapa saat mengobrol, kami menyudahi <em>video call<\/em> itu karena mami akan pergi berobat akupuntur.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam harinya, Sayangku telepon saya, mengabarkan kalau mami lagi \u201c<em>down<\/em>\u201d mentalnya karena dokter akupuntur sudah \u201cangkat tangan\u201d.. dokter sudah menyerah. Saat itu saya sedih sekali.<\/p>\n\n\n\n<p>Esok harinya, saya pergi ke gereja. Di gereja, saat penyembahan, saya menangis sekeras-kerasnya. Saya berani menangis sekeras-kerasnya karena saat itu semua orang sedang fokus masing-masing untuk menyembah Tuhan; di gereja sedang \u201cramai\u201d saat itu. Begitu ibadah selesai, saya masih berada di ruang ibadah ketika telepon genggam saya berdering. Ternyata papi telepon. Papi mengabarkan kalau mami nge-<em>drop<\/em> kondisinya dan akan dibawa ke RS Siloam. Tapi sebelum dibawa ke RS Siloam, mami akan dilayani Perjamuan Kudus oleh papa dan Sayangku. Saya ditunggu untuk mengikuti Perjamuan Kudus itu melalui Skype. Saat itu, Tuhan berkata kepada saya, \u201cMinggu ini adalah saatnya mami pulang ke rumah-KU.\u201d Tapi Tuhan tidak memberitahukan tanggal berapa tepatnya. Dengan bergegas saya pulang ke tempat tinggal saya. Ketika saya melewati<em> money changer<\/em>, saya teringat akan uang yang diberikan mami kepada saya. Segera saya tukarkan uang itu ke mata uang Singapore dollar. Sesampai di tempat tinggal saya, langsung saya menyalakan laptop saya dan mulai <em>video call<\/em>. Papa dan Sayangku sudah sampai di tempat tinggalnya Susy dan sedang bersiap untuk melayani Perjamuan Kudus. Saya melihat mami sudah tidak bersemangat seperti hari sebelumnya yang waktu sedang makan kacang hijau itu. Saya sedih sekali. Setelah Perjamuan Kudus selesai, Sayangku bilang ke saya untuk menunggu sebentar karena mereka semua akan membawa mami ke mobil untuk bersiap berangkat ke RS Siloam. Saya menunggu sambil menatap kamar yang kosong di layar laptop saya. Tak lama kemudian, Sayangku kembali menemui saya dan berkata kepada saya untuk menyudahi <em>video call<\/em> karena mereka semua akan berangkat ke RS Siloam. Lalu Sayangku melambaikan tangannya kepada saya dan saya membalasnya dengan lambaian tangan juga sebelum <em>video call<\/em> berakhir. Itulah kesempatan saya yang terakhir kalinya melihat wajah mami ketika mami masih hidup. Lalu saya kembali membuat penawaran kepada Tuhan, \u201cTuhan, kalau boleh, sekali lagi saya ingin mengobrol dengan mami sebelum Engkau panggil pulang.\u201d Saat itu, Tuhan tidak menjawab saya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"sayangku-sayang-mami\">Hari Senin malam, Sayangku telepon saya dari RS Siloam. Sayangku menceritakan kondisi mami lalu menawarkan kepada saya untuk bicara dengan mami. Oh, terima kasih, Tuhan! Engkau mengabulkan permintaan saya lagi. Lalu saya mengobrol dengan mami. Sayangku yang memegangi teleponnya saat saya mengobrol dengan mami. Cukup lama, sampai mami merasa lelah. Saat itu, saya ajak mami untuk berdoa. Setelah selesai berdoa, saya bilang kepada mami, \u201cMami baik-baik, ya.. tidak usah takut.\u201d Mami mengiyakan. Akhirnya kami selesai mengobrol dan telepon dikembalikan ke Sayangku. Saya mengobrol sebentar dengan Sayangku sambil berpesan kepada Sayangku agar berhati-hati saat pulang ke rumah nanti karena sudah tengah malam.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari berikutnya, pada malam hari, Sayangku telepon lagi dari RS Siloam untuk memberi kabar terakhir tentang kondisi mami. Saat itu kondisi mami sudah semakin nge-<em>drop<\/em> dan mami sudah dipasangi alat bantu pernafasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi harinya, hari Rabu, tanggal 10 November 2010, saya lupa tepatnya, mungkin sekitar jam 4 pagi waktu Singapore &#8211;saya lupa tepatnya&#8211;, papi telepon dan mengabari saya kalau mami kritis. Saat itu juga, Tuhan berkata, \u201cIni saatnya.\u201d Langsung pagi itu juga, saya pesan tiket untuk pulang ke Surabaya walaupun itu sebenarnya \u201cberjudi\u201d juga karena untuk pulang di bukan waktu libur, saya harus mendapatkan izin dari profesor yang menjadi supervisor saya. Tapi saya tetap nekat. Beli tiket dulu, baru urus izin. Mungkin sekitar jam 8 pagi waktu Singapore &#8211;saya juga lupa tepatnya&#8211;, adik saya, Lili, telepon, mengabarkan kalau mami sudah stabil, jadi saya tidak perlu pulang ke Surabaya. Saat itu saya bilang ke Lili, \u201cTidak. Saya tetap pulang ke Surabaya.\u201d Sekitar jam 10, saya ke kampus untuk mencari profesor yang menjadi supervisor saya agar saya mendapatkan izin pulang. Puji Tuhan! Saya mendapat izin tersebut dengan mudah sekali. Lalu, berbekal izin tersebut, saya mengurus surat izin kepulangan saya selama 2 minggu ke bagian administrasi kampus. Sekali lagi, dengan mudahnya, surat izin itu keluar.. gak pake lama. Sekitar jam 11 siang waktu Singapore, semua urusan perizinan beres. Teman-teman saya yang mengetahui betapa mudahnya saya mendapatkan izin pulang, heran sekali. Mereka sampai bertanya, \u201cKok bisa.. padahal ada yang mencoba untuk izin pulang hanya 3 hari saja, tidak diperbolehkan.\u201d Luar biasa Tuhan itu! Saya yang meminta izin pulang 2 minggu, dengan mudahnya mendapatkan izin tersebut. Kalau bukan Tuhan yang mengatur, tidak mungkin semudah itu. Terima kasih, Tuhan Yesus!<\/p>\n\n\n\n<p>Menjelang sore, saya berangkat ke Changi untuk pulang ke Surabaya. Saya naik ke pesawat yang membawa saya ke Surabaya sekitar jam 22:30 waktu Singapore, atau sekitar jam 21:30 WIB. Saat saya menginjakkan kaki saya di pesawat, Tuhan memanggil pulang mami saya. Saya baru tahu itu ketika saya tiba di Juanda. Waktu itu, Sayangku yang menjemput saya di bandara. Saya melihat Sayangku sepertinya ragu-ragu mau mengatakan sesuatu. Saya langsung tahu bahwa mami sudah tidak ada. Lalu saya berkata kepada Sayangku, \u201cAda apa? Mami sudah tidak ada, ya?\u201d Sayangku menjawab, \u201cKok tahu?\u201d Saya berkata, \u201cYa, aku sudah tahu. Tuhan yang memberi tahu. Jam berapa mami tidak ada?\u201d Sayangku menjawab, \u201cSekitar jam 21:30.\u201d Lalu saya bilang kepada Sayangku, \u201cSaat jam itulah aku naik pesawat.\u201d Saya bisa yakin karena saat saya naik pesawat, saya melihat jam tangan saya yang menunjukkan pukul 22:30 waktu Singapore.<\/p>\n\n\n\n<p>Puji Tuhan! Tuhan itu memang sungguh amat sangat baik! Tuhan mempersiapkan diri saya supaya saya dapat melepaskan mami untuk pulang ke rumah Bapa di Surga. Selain itu, beberapa hari kemudian setelah mami dipanggil pulang oleh Tuhan, Sayangku bercerita kalau mami dan Sayangku sudah saling meminta maaf dan berpelukan. Puji Tuhan! Indah sekali! Saya bahagia sekali! Terima kasih, Tuhan Yesus! Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi-MU!<\/p>\n\n\n\n<p>Dan satu lagi, ada keanehan yang baru saya ketahui ketika saya pulang ke Kudus. Saya melihat salah satu jam dinding di rumah Kudus berhenti berdetak di sekitar jam 21:30, waktu mami dipanggil pulang oleh Tuhan. Kejadian ini terulang kembali ketika Sayangku dipanggil pulang oleh Tuhan, seperti yang sudah saya ceritakan pada <a href=\"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/2021\/08\/13\/episode-01-memoar-apa-sih-ini-dan-sakit-apa-sayangku\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">episode pertama<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table><tbody><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"328\" class=\"wp-image-155\" style=\"width: 300px;\" src=\"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_3030.png\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_3030.png 984w, https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_3030-274x300.png 274w, https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_3030-936x1024.png 936w, https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_3030-768x840.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><p><span style=\"text-decoration: underline; font-size:120%;\">Pekerjaan Tuhan menjelang kematian mama<\/span> <span style=\"text-decoration: underline; font-size:120%;\">pada tanggal 24 Agustus 2010<\/span><\/p><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p id=\"block-d84b27f6-aad6-4614-a208-b64098667d28\">Mama telah dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada tanggal 24 Agustus 2018 karena penyakit kanker. Awalnya, mama menderita kanker payudara dan sudah melakukan operasi pengangkatan payudara kiri pada bulan Oktober 2015 yang kemudian dilanjutkan dengan radioterapi di RSDS. Hasil patologi anatomi (PA) menunjukkan bahwa mama menderita kanker payudara stadium 3. Kalau dilihat dari tingkatannya, stadium kanker payudara dari mama lebih rendah daripada stadium kanker payudara dari Sayangku, tetapi jenis sel kankernya mama lebih ganas daripada jenis sel kankernya Sayangku. Hasil PA menunjukkan kalau jenis sel kankernya mama adalah <em>triple negative<\/em>. Itu artinya, sel kanker jenis ini tidak dapat dihambat pertumbuhannya karena tidak ada faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan sel kanker tersebut, seperti hormon dan HER2+ receptor. Kalau sel kanker tersebut positif terhadap hormon tertentu dan kalau hormon tersebut \u201cdikendalikan\u201d atau ditekan dengan obat-obatan, maka pertumbuhan sel kanker tersebut akan ikut terhambat. Demikian pula kalau sel kanker tersebut tipenya HER2+ <em>receptor<\/em>, maka walaupun lebih sulit, kombinasi antara obat untuk HER2+ <em>receptor<\/em> dan kemoterapi akan dapat menekan pertumbuhan sel kanker tersebut. Nah, itu sebabnya jenis sel kanker yang <em>triple negative<\/em> ini sulit dikendalikan, bisa dibilang, tidak ada obatnya. Beberapa tahun lalu, saya pernah mencari jurnal-jurnal yang membahas pengobatan untuk <em>triple negative breast cancer<\/em>. Hasilnya, semua pengobatan masih dalam tahap eksperimen dengan hasil yang belum terlalu menjanjikan. Saya tidak tahu kalau sekarang karena saya tidak mengikuti perkembangan pengobatan <em>triple negative breast cancer<\/em>. Semoga, secara medis, sudah ada perkembangan yang berarti dalam beberapa tahun ke depan. Jadi, secara medis, tidak ada obatnya. Hanya Tuhan yang berkuasa menyembuhkan kalau Tuhan memang berkehendak untuk menyembuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-ef2974d9-d46a-45f1-9580-464d0acbd64c\">Sekitar bulan awal Juni 2018 &#8211;semoga saya tidak salah mengingat waktunya&#8211;, satu bulan setelah Sayangku melakukan operasi pengangkatan payudara, mama sering mengeluh perutnya rasa <em>sebah<\/em>. Apa ya bahasa Indonesianya? Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada kata <em>sebah<\/em>. Kalau didefinisikan, <em>sebah<\/em> itu perut berasa kembung, banyak gas di organ pencernaan, sehingga membuat rasa tidak nyaman di perut. Kadang-kadang, mama merasa nyeri di perut. Lalu, mama kontrol ke dokter penyakit dalam digestif dan hasil USG ditemukan ada seperti tumor. Selanjutnya, bulan Juli 2018, mama kontrol ke poli onkologi di RSDS untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ternyata, dari hasil CT Scan perut dan dada dengan kontras, ditemukan adanya sel kanker di paru-paru kanan, liver, dan pankreas; sudah terjadi penyebaran sel kanker di ketiga organ tersebut. Waktu mengetahui hal ini, kami langsung lemas.. dan dokter sudah menyarankan paliatif.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-fd362f06-927c-40a6-96f3-ce215d61d4e2\">Pada bulan Agustus 2018, semua anak-anak berkumpul di rumah Gayungsari. Uke datang dari Taiwan, Ongi, Fefe dan Gaby datang dari USA. Lengkap. Tiap hari, walaupun kadang-kadang kami tidak bisa berkumpul bersama, kami berdoa untuk mama agar Tuhan berkenan untuk menyembuhkan. Ternyata, Tuhan menghendaki lain. Selama bulan Agustus, kondisi mama terus merosot. Mama sering mengeluh kesakitan di perut. Sempat mama beberapa kali berkata kepada papa kalau mama tidak kuat menahan sakit itu. Tiap hari, papa, Uke, Ongi, dan Fefe bergantian  menjaga dan memijat kaki mama untuk membuat mama lebih nyaman. Tetapi ada hal yang membuat kami bersyukur. Walaupun mama kesakitan, mama tetap bisa berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Mama juga sudah siap kalau sewaktu-waktu dipanggil pulang oleh Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-037e60ce-9246-42b8-9f56-fc5e40b6cc50\">Akhirnya, waktu itu tiba. Pada hari kamis, 23 Agustus 2018, di malam hari, kami semua berkumpul di kamar papa dan mama untuk berdoa. Kondisi mama sudah lemah saat itu. Saat kami semua berkumpul, tiba-tiba Tuhan berkata kepada saya, \u201cIni saatnya. Kamu harus bantu keluarga ini dan atur agar semuanya berjalan dengan baik.\u201d Saya terdiam. Dalam hati, saya menjawab, \u201cAkan saya atur, tapi bagaimana caranya?\u201d Saat itu juga, Tuhan memberikan hikmat kepada saya untuk membantu dan mengatur semuanya.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Luar biasa Tuhan itu! Kalau Tuhan memberikan tugas, DIA tidak pernah meninggalkan orang yang diberikan tugas asal orang tersebut bersedia untuk bekerja bersama Tuhan, mengerjakan bagian masing-masing tepat seperti yang Tuhan rencanakan. Karena kalau kita mengandalkan Tuhan dengan sepenuh hati dan pikiran kita, Tuhan akan ikut serta.. kita mengerjakan bagiannya kita dan Tuhan akan mengerjakan bagiannya Tuhan.. inilah yang disebut bahwa kita adalah rekan sekerja Allah (Roma 8:28, 1 Kor 3:9).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p id=\"block-3a525d8c-0b81-47a1-a392-9b6e180e5955\">Lalu saya berkata kepada semua yang berkumpul di kamar, \u201cSekarang ini, mama dibawa ke IGD RKZ. Aku yang antar.\u201d Saat itu, semua kelihatan ragu-ragu. Tapi, Sayangku tidak. Saat saya berkata demikian, Sayangku langsung menoleh ke saya dan saya menoleh ke Sayangku juga. Kemudian, Sayangku menatap mata saya dengan seksama dan Sayangku langsung tahu bahwa saya mendapatkan sesuatu dari Tuhan &#8211;Sayangku bisa tahu karena saya sudah pernah menceritakan pekerjaan Tuhan saat mami dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga&#8211;. Akhirnya, Sayangku juga angkat bicara dan mendukung apa yang saya katakan. Akhirnya, semua setuju dan semuanya ingin ikut ke RKZ. Begitu semua menyampaikan ingin ikut ke RKZ, Tuhan memberikan hikmat lagi kepada saya untuk mengatur kembali. Saya katakan kepada keluarga, bahwa yang akan ikut ke RKZ hanya Uke dan papa. Mengapa demikian? Karena Uke nantinya yang akan menunggui mama di RKZ sedangkan papa harus mengetahui bahwa mama sudah ditangani dengan baik agar papa tidak terlalu kuatir akan kondisi mama. Mengapa Uke yang harus menunggui mama, bukannya papa? Karena kalau tiba-tiba mama dalam kondisi kritis, Uke masih bisa menguasai diri ketika melihat kejadian itu sedangkan papa tidak bisa menguasai diri dan bisa berteriak-teriak di rumah sakit yang nantinya akan mengganggu penanganan mama dan mengganggu pasien lainnya. Sebenarnya ada satu lagi yang bisa menguasai diri kalau melihat kejadian itu, yaitu Sayangku. Tapi, karena besoknya harus ke RSDS untuk kontrol persiapan radioterapi, akhirnya saya melarang Sayangku yang ingin ikut juga ke RKZ. Sayangku menuruti apa kata saya karena Sayangku tahu bahwa saya telah mendapatkan hikmat dari Tuhan untuk mengatur semuanya. Di tengah persiapan untuk ke RKZ, saat kami berdua sedang sendirian, Sayangku berbisik kepada saya, \u201cKamu dapat \u2018sesuatu\u2019, ya?\u201d Saya cuma bilang singkat, \u201cYa.\u201d Sayangku terdiam. Lalu kami berangkat ke RKZ.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-bed419a0-b08e-4eef-8ea8-5d55485cd299\">Sesampai di IGD RKZ, mama distabilkan kondisinya lalu disiapkan untuk rawat inap. Setelah kondisi mama lebih stabil dan sudah mendapatkan kamar untuk rawat inap, mama dipindahkan ke kamar untuk rawat inap. Saat itu, saya ajak papa untuk pulang. Awalnya papa tidak mau karena ingin menunggui mama. Tapi saya larang. Saya minta papa mau pulang untuk beristirahat, besok pagi baru ke RKZ lagi bersama dengan Ongi, Fefe, dan Gaby. Akhirnya, papa mau saya ajak pulang dan Uke yang tinggal untuk menunggui mama.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-8cb7fa2a-1cbc-422a-aa1d-f05fbd466d3c\">Keesokan harinya, hari Jumat tanggal 24 Agustus 2018, kami sekeluarga berangkat dari rumah menggunakan dua mobil. Mobil pertama, ada papa, Ongi, Fefe, dan Gaby, berangkat dengan tujuan RKZ. Mobil kedua, yaitu Sayangku dan saya, berangkat dengan tujuan RSUD dr. Soetomo karena Sayangku harus kontrol untuk persiapan radioterapi. Mobil pertama sudah berangkat dahulu, beberapa menit kemudian, kami berdua berangkat. Ketika kami berdua baru saja melewati Injoko, di sekitar bundaran dolog, Uke telepon Sayangku dan mengabarkan mama dalam kondisi kritis. Para perawat sedang memberikan bantuan pernafasan dan pompa jantung. Lalu Sayangku bertanya, \u201cApakah rombongan papa sudah sampai di RKZ?\u201d Uke menjawab, \u201cBelum.\u201d Ketika saya mendengar hal itu, saya langsung bilang kepada Sayangku untuk mengatakan kepada Uke bahwa kami akan ke RKZ dan saya minta Sayangku untuk telepon petugas administrasi di RSUD dr. Soetomo bahwa kami tidak jadi ke sana karena kondisi mama. Saya bilang ke Sayangku, \u201cKita ke RKZ sekarang. Sudah waktunya.\u201d Sayangku menuruti apa kata saya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-7f294ab5-40be-4fca-aaa0-cb7af43218ad\">Ketika kami tiba di RKZ, rombongan papa sudah tiba di sana dan mama sudah tiada. Lalu Sayangku bertanya kapan mama tiada dan katanya mama sudah dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga sebelum rombongan papa tiba di RKZ. Tuhan sudah mengatur semuanya dengan sungguh amat baik. Lalu, Tuhan kembali menyuruh saya untuk membantu dengan mengambil alih semua urusan administrasi, menghubungi layanan kedukaan Bagus, lalu mengabari Pdt. Hendrik Runtukahu selaku Gembala Sidang GPdI Rajawali karena papa dan mama masih anggota gereja serta mengabari Pdt. Daniel Kusnindar selaku Gembala Sidang GBT Bethlehem karena papa dan mama selalu beribadah di GBT Bethlehem sejak kondisi mama semakin merosot. Lokasi GBT Bethlehem memang dekat sekali dengan rumah Gayungsari sehingga memudahkan mama untuk ke gereja. Sayangku membantu saya dengan mengambil peranan untuk mengabari semua keluarga bahwa mama sudah dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Setelah Uke dan Ongi lebih bisa menguasai diri, urusan administrasi rumah sakit saya serahkan kepada mereka. Sayangku dan saya melanjutkan urusan untuk mencari lokasi pemakaman di Kembang Kuning.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-48e2c7dd-af39-459b-af45-ef5ecb9fe54d\">Sesampai di Kembang Kuning, kami diberikan dua lokasi pemakaman. O, ya, sebagai informasi, pemakaman di Kembang Kuning sebenarnya sudah penuh. Kalau ada lokasi, itu artinya lokasi bekas pemakaman yang <em>remains<\/em>-nya (baca: tulang-tulangnya) sudah diambil pihak keluarga untuk dikremasi. Lalu kami berdua meninjau kedua lokasi tersebut. Saat kami berdua tiba di lokasi, Sayangku dan saya saling berpandangan.. dan kami langsung paham bahwa kami berdua tidak <em>sreg<\/em> dengan lokasi tersebut walaupun kami tidak mengucapkan satu patah katapun. Lalu saya bertanya kepada petugas makam yang mengantarkan kami meninjau lokasi, \u201cApakah tidak ada lokasi lain?\u201d Lalu petugas tersebut menjawab, \u201cSebenarnya ada, tapi nisannya belum dibongkar karena baru dikremasi kemarin.\u201d Lalu kami minta ditunjukkan lokasinya. Saat tiba di lokasi, Sayangku dan saya saling berpandangan lagi.. tapi kali ini, kami tahu bahwa kami berdua <em>sreg<\/em> dengan lokasinya. Lokasinya bagus.. dekat makam Belanda dan dekat jalan akses ke area blok makam. Lalu kami menyetujui lokasi tersebut dan petugas makam menyanggupi untuk mempersiapkan makam tersebut karena pemakaman mama baru di hari minggu. Jadi, petugas makam mempunyai waktu dua hari untuk mempersiapkan lokasi dan itu cukup. Setelah kami mengurus administrasi di Kembang Kuning, kami melanjutkan urusan kami ke layanan kedukaan Bagus untuk mengurus administrasi persiapan di rumah duka Adijasa. Saat itu, jenazah mama sedang dibawa untuk dimandikan dan diletakkan di <em>cold storage<\/em>. Di perjalanan menuju layanan kedukaan Bagus, kami berdua senyum-senyum di mobil sambil heran, kok bisa walaupun hanya saling berpandangan, kami berdua bisa tahu maksud masing-masing. Itu yang dapat menghibur kami berdua di saat kami bersedih karena mama dipanggil pulang oleh Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-c8188173-b302-4b5b-9272-bae189e9d9d5\">Di tempat layanan kedukaan Bagus, Sayangku dan saya mulai mengurus persiapan, termasuk memilih ruangan. Kami menginginkan ruang VIP, tapi sudah penuh. Akhirnya kami memilih VIP yang di lantai dua karena masih kosong semua dan kami dapat diskon karena hampir tidak ada yang mau ruang VIP di lantai dua. Katanya \u201choror\u201d.. he..he.. padahal, waktu selesai acara penutupan peti, Sayangku dan saya masih kembali ke ruangan itu karena ada barang yang tertinggal, cuma berdua, dan tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada yang namanya \u201choror-hororan\u201d itu. Setelah memilih ruangan, kami mulai melihat-lihat peti mati. Ada yang kami sukai, namun, untuk memilih peti mati, kami berdua sepakat untuk tidak memilih sendiri. Lalu kami pergi ke Adijasa untuk menjemput Ongi. Bersama dengan Ongi, kami kembali ke layanan kedukaan Bagus untuk memilih peti mati. Akhirnya kami bertiga sepakat memilih peti mati yang kami sukai.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-43c5f1c6-5d33-44cb-b3cf-45ff38fd465c\">Tuhan menolong semuanya. DIA mengatur semuanya sehingga semuanya berjalan dengan sungguh amat sangat baik. Memang, sepertinya seolah-olah saya yang membantu untuk mengatur, tetapi sebenarnya, Tuhanlah yang mengatur dengan cara memberikan hikmat kepada saya sehingga saya mampu melakukan itu semua. Saya hanyalah alat yang dipakai Tuhan, sebagai kepanjangan tangan Tuhan, dalam mengatur semuanya. Jadi, tujuan Tuhan memberitahukan kepada saya menjelang mama tiada itu berbeda dengan tujuan Tuhan saat memberitahukan menjelang mami tiada. Kalau saat mami tiada, Tuhan memberitahukan kepada saya dengan tujuan untuk mempersiapkan saya agar saya dapat melepas mami untuk pulang ke rumah Bapa di Surga, tetapi saat mama tiada, Tuhan memberitahukan kepada saya dengan tujuan untuk membantu keluarga dalam melewati situasi saat mama dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Puji Tuhan! Pemakaman jenazah mama berjalan dengan lancar, tepat sehari sebelum Ongi, Fefe, dan Gaby kembali ke USA. Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan!<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\" id=\"block-1fc10a53-172e-4b75-92f1-02cee1367e65\"\/>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table><tbody><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"367\" class=\"wp-image-163\" style=\"width: 300px;\" src=\"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_0001.png\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_0001.png 900w, https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_0001-245x300.png 245w, https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_0001-838x1024.png 838w, https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/IMG_0001-768x939.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><p><span style=\"text-decoration: underline; font-size:120%;\">Pekerjaan Tuhan menjelang kematian papa pada tanggal 9 Juli 2021<\/span><\/p><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p id=\"block-f822006c-2f19-424a-9667-f6c2479b840c\">Papa didiagnosa mempunyai sel tumor ganas (kanker) di kandung kemih sekitar bulan Mei 2021. Waktu itu, beberapa kali papa mengeluarkan darah saat buang air kecil. Kemudian, papa menjalani operasi kecil untuk mengambil jaringan yang ada di kandung kemih lalu dianalisa lebih lanjut. Hasil patologi anatomi (PA) dari jaringan yang diambil itu ternyata tumor ganas, stadium 2. Berdasarkan hasil PA tersebut, papa direkomendasikan untuk menjalani radioterapi. Akhirnya, pada akhir Juni 2021, papa menjalani radioterapi di RS Adi Husada. Baru sekitar empat kali menjalani radioterapi (28 Juni \u2013 1 Juli 2021), kondisi papa nge-<em>drop<\/em> lalu berhenti radioterapi karena sudah tidak mampu lagi berjalan; hanya tidur di tempat tidur. Papa juga mengalami batuk-batuk dan sempat demam. Saat itu, kami sekeluarga memang tertular covid19, kecuali William yang hasil PCR test-nya negatif. Papa tidak mau tes jadi tidak tahu apakah benar-benar tertular covid19 atau tidak. Tetapi, kalau dilihat dari gejalanya, kemungkinan sudah tertular covid19 juga selain nge-drop karena menjalani radioterapi.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-55da1f93-497a-44d7-a9b6-03b1d502421c\">Pekerjaan Tuhan untuk papa dimulai pada tanggal 5 Juli 2021. Saat itu, saya ditelepon Ibu Gembala, Pdt. Ester Tumbel, dan diberitahu untuk melihat video dari Pdt. Steven Agustinus di YouTube. Saat itu, saya langsung buka YouTube, saya cari video tersebut dan saya buka video terbarunya saat itu yang berjudul \u201c<a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/youtu.be\/hmaK9mcGe-k\" target=\"_blank\">Hadapi Virus Mematikan Dengan Cara Ini: Memukul Mundur Roh Ketakutan &amp; Intimidasi<\/a>\u201d. Ketika saya mendengarkan video ini, saya terkejut karena apa yang disampaikan oleh Pdt. Steven Agustinus, telah dilakukan semuanya oleh Sayangku walaupun dalam konteks yang berbeda. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk hal ini. Kemudian, Tuhan berkata kepada saya, \u201cBerikan <em>link<\/em> video itu kepada papa supaya papa menonton video itu dengan seksama. Pastikan juga papa menyimak video itu!\u201d Karena Tuhan yang menyuruh, akhirnya saya kirimkan <em>link<\/em> video itu kepada papa. Saya mendatangi papa di kamar lalu saya minta papa untuk buka <em>link<\/em> video itu dan menontonnya. Papa mengiyakan lalu membuka <em>link<\/em> video itu. Saya mendengar suara Pdt. Steven Agustinus dari <em>smartphone<\/em> papa. Sekitar 15 menit kemudian, saya heran, kok sudah tidak ada suara Pdt. Steven Agustinus lagi padahal durasi video itu adalah hampir 2 jam 24 menit. Harusnya saat itu, suara Pdt. Steven Agustinus masih terdengar. Akhirnya, saya mendatangi papa kembali untuk mengecek dan menanyakan apakah papa mendengarkan apa yang disampaikan Pdt. Steven Agustinus. Saya melakukan ini karena saya diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk memastikan bahwa papa menyimak video tersebut. Ketika saya bertanya kepada papa apakah sudah menyimak videonya, papa menjawab sudah selesai. Saya terkejut. Saya saja melihat video itu cukup lama, kok papa cuma butuh 15 menit. Lalu saya pastikan lagi dengan bertanya untuk kedua kalinya, papa menjawab bahwa papa sudah melihat video sambil menyebutkan ayatnya. Lalu, Tuhan berkata lagi kepada saya kalau papa hanya tahu ayatnya lalu dimatikan videonya dan saya diminta Tuhan untuk menyampaikan sesuatu yang cukup keras saat itu. Walaupun saya gentar karena takut dianggap menggurui atau malah kurang ajar, tapi karena Tuhan yang menyuruh, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengatakan kata-kata yang diberikan Tuhan kepada saya yang khusus untuk disampaikan kepada papa. Saat itu, saya berkata, \u201cPapa diminta menyimak Firman Tuhan yang disampaikan Pdt. Steven Agustinus tapi malah tidak disimak, cuma karena sudah tahu ayatnya lalu dimatikan. Tidak boleh seperti itu! Itu Firman Tuhan, walaupun orang yang menyampaikan Firman Tuhan itu mungkin dipandang remeh oleh papa, tapi yang disampaikan itu Firman Tuhan!\u201d Lalu saya melanjutkan, \u201cPapa, apa yang disampaikan di video itu, semuanya sudah dilakukan oleh Vivi. Itu sebabnya, Vivi tidak takut sama sekali. Vivi tidak mengeluh sama sekali walaupun Vivi kesakitan sekali. Vivi malah mengatakan <em>Haleluya Tuhan Yesus, terima kasih Tuhan Yesus<\/em> ketika sedang kesakitan. Vivi bersyukur kepada Tuhan. Sedikitpun Vivi tidak pernah bertanya: mengapa Tuhan memberikan sakit ini, mengapa Tuhan tidak menyembuhkan, mengapa Tuhan seolah-olah tidak mendengarkan kerinduan Vivi untuk sembuh! Vivi tidak berbuat itu semua malah ucapan syukur yang keluar dari mulut Vivi! Papa cuma diminta untuk menyimak video itu supaya papa dapat belajar dari Firman Tuhan itu tapi papa tidak mau.\u201d Kata-kata itu keluar dari mulut saya tanpa bisa saya kendalikan dan saya gemetaran saat itu karena menahan hadirat Tuhan yang saya rasakan saat itu. Hampir saja saya ambruk saat itu karena kondisi saya juga sedang nge-<em>drop<\/em>. Papa hanya mengiyakan sekali lagi.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-1a04c6df-6d6a-4548-a562-c496f27a5158\">Saat itu juga, Tuhan berkata lagi kepada saya, \u201cSekarang, kamu telepon Bapak Gembala, Pdt. Daniel Kusnindar. Minta tolong kepada om Daniel agar telepon papa dan membimbing papa.\u201d Saya terkejut saat itu. Lalu saya sadar, bahwa Tuhan sedang memproses papa dengan intensif agar papa siap saat dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Sebenarnya, saat itu saya sedih karena baru dua minggu Sayangku dipanggil pulang, sebentar lagi papa juga akan dipanggil pulang oleh Tuhan. Tapi, saya juga bersyukur karena saya sudah digerakkan oleh Tuhan dua bulan sebelumnya untuk bergumul buat papa agar hidup papa semakin cemerlang di hadapan Tuhan sehingga saat nantinya dipanggil pulang oleh Tuhan, papa sudah \u201cberkilauan\u201d di hadapan Tuhan dan Tuhan menyambut papa dengan bangga. Saat itu, sebenarnya saya bergumul untuk Sayangku, tapi Tuhan menggerakkan hati saya untuk menambahkan papa juga dalam pergumulan saya itu. Saya tidak tahu apa maksud Tuhan waktu itu. Saat saya diminta untuk menelepon om Daniel, barulah saya tahu maksud Tuhan. Puji Tuhan! Tuhan sayang sama papa! Tuhan itu amat sangat baik!<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-948dde11-3d35-4615-8c1f-2c970a3fec00\">Selanjutnya, saya menelepon om Daniel. Saya menceritakan kondisi papa dan mohon bantuan untuk berdoa dan membimbing papa. Lalu, om Daniel menelepon papa hingga akhirnya papa dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada hari jumat, tanggal 9 Juli 2021, dua minggu setelah Sayangku dipanggil pulang oleh Tuhan. Ketika saya mengabari om Daniel bahwa papa sudah dipanggil pulang oleh Tuhan, om Daniel menceritakan kepada saya kalau papa sudah siap untuk pulang di malam sebelumnya. Puji Tuhan! Tuhan sudah mengatur semuanya dengan sungguh amat sangat baik!<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-957f9c8c-9b52-41e0-97ef-282a4066bae2\">Bahkan pekerjaan Tuhan tidak berhenti sampai saat itu saja. Pada hari jumat, 9 Juli 2021, pagi-pagi sekitar jam 5, saya ditelepon oleh Uke yang mengabarkan kalau papa sudah tidak ada. Saya segera bangun dan turun ke lantai bawah untuk melihat kondisi papa. Lalu saya menghubungi puskesmas, tapi tidak ada yang merespon karena belum jam kerja. Saya coba telepon polsek Gayungsari untuk minta bantuan, cuma diberitahu nanti akan ada petugas yang datang, tetapi tidak datang juga. Saya sudah kebingungan saat itu. Kami semua sedang isoman (isolasi mandiri) jadi tidak ada yang berani keluar rumah karena takut menulari tetangga. Akhirnya, saya telepon Pak RT dan dibantu oleh Pak RT untuk menghubungi petugas puskesmas. Sambil menunggu petugas puskesmas datang, RT sudah membuatkan surat pengantar untuk dibawa ke puskesmas. Di sinilah Tuhan sudah merencanakan semuanya. Tuhan sudah mengatur bahwa hanya William yang masih sehat, belum tertular covid19 saat itu &#8211;William baru tertular dan muncul gejala covid19 beberapa hari kemudian&#8211;. Mengapa William? Karena William sudah dapat mengendarai mobil sehingga dapat pergi sendiri untuk mengurus banyak hal yang diperlukan. Puji Tuhan! Akhirnya, William yang mengurus surat keterangan kematian dari puskesmas berbekal surat pengantar dari RT. Sekitar jam 9 pagi, baru ada petugas puskesmas yang datang ke rumah untuk memeriksa kondisi papa lalu melaporkan ke puskesmas. William masih di puskesmas saat itu karena memang masih menunggu laporan petugas puskesmas yang datang ke rumah. Setelah mendapatkan surat keterangan kematian dari puskesmas, William pulang ke rumah.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-c668decf-67e7-46f2-827f-ca7d1a5517b7\">Selanjutnya, masalah lain muncul. Bagaimana caranya mengurus jenazah papa? Saya telepon ke sana kemari untuk mencari ambulans, tapi tidak mendapatkan karena <em>full-booked<\/em>. Saat itu, penderita covid19 sedang tinggi, sulit mencari ambulans. Saya telepon TPU Keputih, malah diminta membawa sendiri jenazah papa ke sana, baru nanti di sana akan dibantu. Lah.. kami semua sedang isoman. Bagaimana caranya membawa ke sana? Di tengah kegalauan itu, saya cuma bisa berkata, \u201cOh, Tuhan..\u201d dan Tuhan tidak tinggal diam. DIA memberikan hikmat kepada saya untuk menghubungi layanan kedukaan Bagus. Waktu itu saya ragu karena dua minggu sebelumnya, saat saya mengurus pemakaman jenazah Sayangku di layanan kedukaan Bagus, saya sudah bertanya apakah Bagus melayani pemakaman dengan prokes dan dijawab dengan tidak melayani. Tapi, sekali lagi, karena Tuhan yang memberikan hikmat ini, saya kerjakan. Saya telepon Bagus dan diterima oleh <em>owner<\/em> dari Bagus, Bapak Budijono Subagijo. Saya utarakan maksud saya dan langsung ditangani oleh Bagus sekitar 1 jam kemudian. Puji Tuhan! Ketika saya ceritakan hal ini ke mas Agus yang sering mengurus pemakaman jemaat gereja, mas Agus langsung berkata, \u201cKok sakti dirimu.. bisa \u2018nembusi\u2019 Bagus.\u201d Lalu saya katakan, \u201cBukan saya, tapi Tuhan yang tolong!\u201d Puji Tuhan! Akhirnya, semuanya beres dan berjalan dengan sungguh amat sangat baik! Terima kasih, Tuhan Yesus!<\/p>\n\n\n\n<p id=\"block-2355fcc3-0b9d-4c27-875b-0f7c7c540102\">Jadi, pekerjaan Tuhan menjelang kematian papa ditujukan untuk papa sendiri. Tuhan menolong papa, Tuhan memproses papa agar papa siap untuk menghadap Tuhan.. agar papa cemerlang di hadapan Tuhan sehingga Tuhan dapat berbangga saat menyambut papa di rumah-NYA. Dan Tuhan membereskan semua keperluan untuk pemakaman sehingga semuanya berjalan dengan lancar. Puji Tuhan! Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi-MU!<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\" id=\"block-19021786-aa82-4ca5-b91c-e18f7be0d452\"\/>\n\n\n\n<p id=\"block-991a9551-bf33-4252-a657-c1ae99951672\">Sebagai penutup, saya akan menuliskan dua ayat Firman Tuhan. Yang pertama, tertulis pada kitab Mazmur 92:6, yang tertulis demikian:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p>\u201cBetapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.\u201d<\/p><cite>Mazmur 92:6 (TB)<\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p>Yang kedua, tertulis pada kitab 1 Tawarikh 17:16, yang tertulis demikian: <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p>\u201cLalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: &#8220;Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?\u201d <\/p><cite>1 Tawarikh 17:16 (TB)<\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p>Itulah yang saya alami dan rasakan saat Tuhan turut bekerja ketika kami sekeluarga harus kehilangan orang-orang yang kami kasihi. Tuhan membuat segalanya indah, menurut semua rancangan-Nya yang tidak dapat diselami oleh pikiran manusia.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Oh, Tuhan.. siapakah aku ini sehingga Engkau mengaruniakan anugerah yang begitu besar.. Engkau memberitahukan kepadaku perkara-perkara yang akan terjadi dan Engkau memberikan kesempatan kepadaku untuk memberikan penawaran kepada-Mu. Siapakah aku ini sehingga Engkau memberikan kesempatan kepadaku untuk mengalami pengalaman yang mirip seperti Abraham saat Engkau akan memusnahkan Sodom dan Gomora.. Terima kasih buat anugerah-Mu, ya, Tuhan-ku! Ajarku selalu untuk rendah hati dan selalu bergaul erat dengan-Mu. Amin!<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Sampai di sini episode kedua dari serial \u201cMemoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean\u201c. Memoar ini akan saya lanjutkan di episode ketiga yang khusus menceritakan apa yang kami, khususnya saya, alami dan rasakan ketika Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kami sekeluarga saat menjelang kematian dari Sayangku, tepatnya selama enam bulan terakhir kebersamaan kami berdua. Salam damai sejahtera bagi kita semua! Tuhan Yesus memberkati! Amin!<\/p>\n\n\n\n<p><span class=\"has-inline-color has-accent-color\"><em>Disclaimer:<\/em>&nbsp;Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Sayangku. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Sayangku.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Betapa ajaib dan dahsyat-Nya Tuhan, kejadiankuKau menenun diriku serupa gambaran-MuSungguh berharga di mata-Mu Tuhan, kehidupankuKau membawa hatiku mendekat erat dengan hati-Mu Ku mengangkat wajahku memandang [&#8230;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-141","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141"}],"version-history":[{"count":57,"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":833,"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141\/revisions\/833"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/henryhermawan.id\/memoir\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}