Episode 01: Memoar apa sih ini dan sakit apa Sayangku?

Salam jumpa dengan saya, Henry Hermawan..
Saya adalah suami dari Grace Viviana Tandean. Saat istri saya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga pada hari Kamis, tanggal 24 Juni 2021 karena menderita kanker payudara yang metastase ke liver dan terakhir metastase ke otak, atas permintaan keluarga dan teman-teman istri saya, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan live streaming ibadah penutupan peti dan pemakaman Sayangku. Link live streaming dapat ditemukan pada daftar playlist di channel YouTube saya karena live streaming itu saya buat unlisted, jadi tidak dapat dicari secara “normal” di YouTube. Terima kasih kepada tim multimedia GBT Bethlehem, Gayung Kebonsari Tengah, Surabaya, yang telah membantu saya sehingga live streaming dapat direalisasikan. Tuhan Yesus memberkati. Juga tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Saudara-saudara, para kerabat keluarga kami yang telah membantu kami selama prosesi ibadah penutupan peti hingga selesainya pemakaman. Tuhan Yesus memberkati.

Setelah pemakaman Sayangku, saya merasakan sepi.. Sayangku tiada lagi di sisi saya.. sehingga kondisi saya naik-turun.. separuh diri saya lenyap. Di tiga minggu pertama setelah Sayangku tiada, khususnya di hari Kamis, hampir sepanjang hari saya selalu menangis karena merindukan Sayangku. Apalagi saat itu saya sekeluarga terdiagnosa covid. Hasil swab PCR saya dan anak-anak positif. Kondisi fisik saya turun drastis dan ditambah kesedihan karena tidak adanya Sayangku.. ditambah lagi papa mertua saya menyusul Sayangku untuk pulang ke rumah Bapa di Surga, dua minggu setelah Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga. Setiap kali saya bersedih dan menangis karena kangen berat dengan Sayangku, muncul rasa sesak [“nyesek” bahasa Jawanya] sampai dada saya sakit. Puncaknya, pada minggu keenam setelah Sayangku tiada, saya mengalami depresi berat, sesak sekali, dada saya juga sakit sekali. Saya sudah tidak mampu lagi untuk berdoa. Akhirnya saya luangkan waktu khusus untuk keliling Surabaya, untuk “napak tilas”, mengunjungi tempat-tempat kami berdua sering menghabiskan waktu bersama, mengunjungi tempat-tempat kenangan kami berdua. Ketika sampai di tempat-tempat tersebut, saya menangis dan berteriak-teriak sekeras-kerasnya di dalam mobil karena tidak tahan lagi. Entah berapa jam saya habiskan untuk “napak tilas” tersebut. Akhirnya, saya kembali bisa lebih tenang dan mulai bisa berdoa kembali. Dalam kesedihan dan rasa kehilangan yang amat sangat itu, saya cuma bisa berdoa dan berseru pada Tuhan.. dan akhirnya Tuhan memberikan saya hikmat untuk menuliskan kenangan saya akan Sayangku dalam bentuk memoar agar kasih setia Tuhan yang kami berdua rasakan, cinta kasih yang ada pada diri saya terhadap Sayangku, kenangan-kenangan manis akan Sayangku, perjalanan hidup kami bersama selama kami berpacaran 3,5 tahun dan menikah 20,5 tahun ini dapat menjadi berkat bagi teman-teman yang mengikuti kisah kami berdua ini. Selain itu, memoar ini juga menjadi “legacy” dan peninggalan kami berdua kepada anak-anak kami, buah cinta kasih kami berdua, yang sangat kami kasihi, William Kester Hermawan, Sarabeth Bethia Hermawan, dan Elisebeth Abbey Hermawan.

Namun, ternyata menuliskan kenangan akan Sayangku itu tidak mudah juga.. bahkan saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya kembali berdoa kepada Tuhan, mohon petunjuk. Setelah bergumul dalam doa, akhirnya Tuhan menunjukkan caranya untuk menuliskan serial memoar ini. Memang Tuhan itu luar biasa.. DIA sungguh amat baik! Ketika saya mulai menuliskan memoar dengan topik-topik yang “seolah-olah” muncul begitu saya di ingatan saya, mulailah rasa sesak dan sakit di dada saya berangsur-angsur berkurang.. semangat hidup saya mulai muncul. Terima kasih, Tuhan Yesus!

Yah.. itulah alasan mengapa saya membuat serial “Memoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean“. Semoga saya bisa konsisten untuk meng-upload episode demi episode hingga seluruh kenangan saya akan kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya dengan Sayangku sudah saya ceritakan semua. Episode-episode tersebut nantinya ada yang diceritakan berurutan menurut kronologis waktu, ada juga yang diceritakan fokus ke topik tertentu. Ditunggu saja “tanggal main” dari tiap-tiap episodenya, teman-teman.

Untuk episode ini, saya akan cerita tentang “perjalanan” penyakitnya Sayangku, mulai dari munculnya penyakit sampai Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga. Secara khusus saya bercerita ini karena ada beberapa saudara, teman-teman, yang bertanya, “Sakit apa?”. Jadi, harapan saya, melalui episode pertama ini, terjawab sudah pertanyaan tersebut. Ok, saya mulai, ya..


Akhir tahun 2017, bulan Desember, saya lupa tanggalnya, saat kami mandi berdua..

eits.. wait.. mandi berdua! Ya.. mandi berdua.. kami selalu mandi bersama, kecuali salah satu dari kami ada kesibukan.. karena kami punya kebiasaan saling menggosokkan badan kami, khususnya bagian punggung yang sulit dijangkau kalau digosok sendiri agar badan kami benar-benar bersih.. he..he.. jangan iri, ya.. kalau iri, gampang.. yang sudah punya pasangan, silakan mandi bersama.. asyik lho.. rugi kalau gak mau nyoba.. ha..ha.. kalau yang belum punya pasangan.. hmmm.. tahan dulu sampai sudah menikah, baru silakan mandi bersama.. ha..ha.. Mandi sambil berduaan ini sebenarnya idenya Sayangku supaya kami punya waktu berduaan lebih banyak lagi. Waktu itu saya yang diajak mandi bersama. Pertama kali, saya kaget juga tapi langsung saya iya-kan.. soalnya asyik.. ha..ha..

Saat sedang mandi, tiba-tiba Sayangku cemas. Sayangku segera memegang tangan saya lalu diarahkan ke payudara kanan sambil berkata kalau Sayangku menemukan benjolan yang seukuran kelereng di payudara kanan. Saya raba, ternyata benar.. ada benjolan. Lalu selesai mandi, saya tenangkan Sayangku sambil berusaha buat janji untuk ke dokter. Karena sudah bulan Desember, akhirnya baru dapat jadwal bulan Januari 2018 untuk kontrol ke dr. Ario Djatmiko, Sp.B (Onk) di RS Onkologi Surabaya –untuk selanjutnya, saya singkat dengan RSOS–.

Saat kontrol ke dr. Ario Djatmiko, Sayangku di-USG untuk mengetahui gambaran dari benjolannya itu. Dari hasil USG, belum bisa dipastikan apakah itu tumor karena bisa saja itu cuma jaringan kelenjar susu yang mungkin sedang bengkak karena sesuatu hal. Akhirnya diminta kontrol lagi 3 bulan. Pada bulan April 2018, saya bawa Sayangku untuk kontrol kembali. Setelah di-USG, dr. Ario menyarankan untuk segera operasi karena ada indikasi bahwa benjolan itu adalah tumor, hanya saja, tumor ganas atau jinak belum diketahui. Baru nanti diketahui saat operasi karena sebelum operasi akan dilakukan biopsi untuk menentukan tumor ganas atau jinak. Kalau itu tumor jinak, maka hanya jaringan di sekitar tumor itu saja yang diangkat, tetapi kalau tumor ganas, maka seluruh payudara kanan beserta kelenjar-kelenjar getah bening di sekitar payudara kanan akan diangkat. Seminggu kemudian, saya kembali membawa Sayangku untuk operasi. Sebenarnya Sayangku cemas kalau akhirnya nanti kehilangan salah satu payudaranya. Sayangku mengkhawatirkan reaksi saya ketika saya melihat Sayangku yang menurut Sayangku sudah dalam kondisi “cacat” karena hanya mempunyai satu payudara. Tapi saya kuatkan Sayangku supaya tidak cemas karena walaupun Sayangku kehilangan kedua payudara sekalipun, saya tetap menyayangi Sayangku apa adanya, tanpa syarat apapun. Saya katakan kepada Sayangku, “Lihat mataku sekarang, dan dengarkan baik-baik! Aku tidak akan meninggalkan dirimu walaupun kedua payudaramu harus diangkat. Cintaku padamu tanpa syarat! Aku mencintai kamu apa adanya!”. Akhirnya Sayangku mau untuk operasi.

Sebelum operasi, saya diminta tanda tangan yang menyetujui kalau tumor jinak, diangkat jaringan tumornya, kalau tumor ganas, diangkat payudaranya beserta kelenjar getah bening di sekitar payudara tersebut. Ketika operasi berlangsung, saya dikabari kalau ternyata hasil biopsi mengindikasikan tumor ganas dan payudara sudah diangkat. Saya dipersilakan masuk untuk melihat payudaranya Sayangku yang sudah diangkat tersebut sambil dijelaskan langkah selanjutnya. Setelah itu saya balik ke ruang tunggu untuk menunggu Sayangku selesai dioperasi dan berada di ruang pemulihan. Setelah mulai sadar, saya dipersilakan masuk ruang pemulihan untuk menemui Sayangku. Saat itu sebenarnya Sayangku sudah syok karena Sayangku tahu bahwa payudaranya sudah diangkat. Kembali saya menenangkan Sayangku. Saya mengingatkan lagi kepada Sayangku akan komitmen saya, bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Sayangku dan cinta saya tidak akan pernah berubah walaupun Sayangku kehilangan payudaranya. Cinta saya kepada Sayangku itu tanpa syarat apapun! Saya mencintai Sayangku apa adanya! Dan pada akhirnya, sebelum Sayangku keluar dari rumah sakit, Sayangku sudah bisa menerima keadaan dirinya tanpa kuatir akan saya tinggalkan.

Langkah selanjutnya adalah menunggu hasil PA (Patologi Anatomi) yang akan menentukan jenis sel kanker dan stadiumnya. Ketika hasil PA keluar, ternyata cukup mencemaskan juga.. ternyata kanker payudara stadium 3A dan HER2+. Cukup sulit juga karena obat-obatan untuk terapi HER2+ sangat mahal bagi kami berdua. Puji Tuhan! Ada keluarga dari Sayangku (orang tua, kakak, dan adik) yang membantu kami dari sisi finansial sehingga Sayangku dapat mulai menjalani kemoterapi. Kemoterapi yang pertama sebanyak 6 kali lalu dilanjutkan dengan radioterapi di lokasi payudara kanan pada akhir bulan Desember 2018 sampai awal bulan Februari 2019 sebanyak 25 kali. Pada saat kontrol tahunan di bulan April 2019, ternyata hasil tes darah penanda kanker (CEA dan CA15-3) tidak baik serta ditemukan metastase ke liver dengan ukuran yang cukup besar sehingga Sayangku harus menjalani kemoterapi periode yang kedua, yang kali ini dengan obat untuk terapi HER2+ sebanyak 17 kali. Sekali lagi, Puji Tuhan! Tuhan itu baik.. karena ditemukan metastase ke liver, akhirnya Sayangku bisa dirujuk ke RSUD dr. Soetomo –untuk selanjutnya, saya singkat dengan RSDS– menggunakan BPJS walaupun cuma ditanggung 8 kali dari 17 kali.. ini lebih baik daripada tidak ditanggung sama sekali. Cukup lama menjalani treatment ini hingga Januari 2020, total ada sekitar 13 kali. Seharusnya, treatment ini dilakukan 17 kali sampai April 2020, tetapi karena ditemukan “kasus penyebaran” lainnya –yang akan saya ceritakan sebentar lagi–, akhirnya treatment ini dihentikan.

Pada bulan Januari 2020, Sayangku mengeluhkan sering sakit kepala lalu diikuti dengan penglihatan ganda, maksudnya, ketika Sayangku melihat suatu objek, objek tersebut terlihat ganda tapi penglihatan tidak kabur. Lalu, pada tanggal 20 Februari 2020, Sayangku melakukan CT Scan kepala dengan kontras. Dari hasil CT Scan dengan kontras ini, ditemukan bahwa telah terjadi metastase (multiple) ke otak. Hasil yang membuat kami berdua “lemas” dan pasrah saat itu karena menyebar ke otak. Berdasarkan kesimpulan hasil CT Scan ini, Sayangku mulai menjalani radioterapi yang kedua dengan target sel tumor yang ada di otak pada bulan Maret 2020 di RSDS sebanyak 15 kali. Puji Tuhan! Sayangku masih dapat menyelesaikan radioterapi ini walaupun saat itu kasus covid19 sudah mulai muncul di Indonesia.

Pada bulan April 2020, hasil tes darah penanda kanker (CEA dan CA15-3) dan fungsi liver sangat tidak bagus. Hasil tes darah ini juga dikuatkan dengan hasil USG yang menunjukkan metastase di liver yang semakin membesar saat dibandingkan dengan hasil USG tahun sebelumnya. Dokter sudah menyarankan untuk paliatif saja. Tapi kami sepakat tidak mau menyerah. Akhirnya kami berganti dokter. Setelah kami berpindah dokter, yaitu ke dr. Jacobus Octovianus, Sp.B (FICS) atau sering dipanggil dengan dr. Bob di RSOS, dr. Bob menyarankan untuk melanjutkan kemoterapi dan treatment HER2+ menggunakan obat oral (obat yang diminum), yaitu Xeloda untuk kemoterapi dan Tykerb untuk treatment HER2+. Ternyata, Puji Tuhan! Kemoterapi dan treatment ini berhasil. Pada awal bulan Desember 2020, hasil tes darah penanda kanker (CEA dan CA15-3) sudah normal dan fungsi liver sangat bagus. Bahkan saya yang juga melakukan tes darah saat itu, fungsi liver saya lebih buruk daripada istri saya. Kami bergembira sekali saat itu. Namun, Sayangku mulai kembali mengeluhkan kalau penglihatannya ganda. Akhirnya saya konsulkan ke teman saya, dr. Sawitri Boengas, Sp.M yang berpraktek di RS Husada Utama –untuk selanjutnya, saya singkat dengan RSHU–. Setelah diperiksa, dr. Sawitri menyarankan untuk konsul ke dokter spesialis syaraf. Karena saat kontrol tersebut sudah akhir Desember 2020 dan kami berencana untuk ke Kudus, ke rumah masa kecil saya sampai selepas SMA, mengunjungi Papi saya, akhirnya kami memutuskan untuk kontrol ke dokter spesialis syaraf di awal Januari 2021. Saat kami akan kembali ke Surabaya pada tanggal 2 Januari 2021, ketika masih di rumah saya di Kudus, saat kami akan meninggalkan rumah di Kudus, Sayangku bilang kepada saya bahwa Sayangku merasa ini terakhir kalinya Sayangku melihat rumah di Kudus.. langsung “mak deg” saya.. saya tahu bahwa Tuhan memberitahu saya tentang kematian Sayangku kepada saya melalui Sayangku sendiri. Saya berusaha bertahan untuk tidak menangis sambil menenangkan Sayangku walaupun hati saya sedih sekali. Untuk cerita tentang pemberitahuan Tuhan ini, saya tunda dulu karena ada episode khususnya, yaitu episode kedua dan episode ketiga. Dalam kedua episode tersebut, saya akan menceritakan empat pemberitahuan Tuhan tentang kematian empat orang yang saya kasihi sebelum saat kematian itu tiba, yaitu mami, mama, Sayangku, dan papa.

Di awal Januari 2021, setelah sampai di Surabaya kembali, saya segera membawa Sayangku untuk menemui teman saya, dr. Valentinus Besin, Sp.S di RS Premier untuk konsul terkait penglihatan ganda. Oleh dr. Valen, Sayangku diminta untuk MRI. Hasil dari MRI ini membuat syok.. ternyata ada metastase di otak dan termasuk kategori gawat. Disarankan untuk melakukan radioterapi ke RSDS. Oleh dr. Lulus Handayani, Sp.Rad (Onk), yang kebetulan juga tetangga kami (rumah beliau tepat di depan rumah kami), dirujuk ke RS Syaiful Anwar –untuk selanjutnya, saya singkat dengan RSSA– di Malang karena peralatan radioterapi di RSDS dalam maintenance dan kondisi Sayangku termasuk kategori gawat. Di RSSA, Sayangku menjalani radioterapi sebanyak 10 kali hingga pertengahan Februari 2021. Kondisi Sayangku turun drastis, bahkan sampai tidak mampu jalan, harus dipapah dan duduk di kursi roda. Setelah radioterapi, kondisi berangsur-angsur membaik. Sayangku sudah mulai bisa berjalan bahkan mulai pertengahan bulan Maret 2021, Sayangku sudah bisa naik turun tangga sendiri. Akhirnya Sayangku memutuskan untuk kembali ke kamar tidur favorit kami berdua.. ceile.. ha..ha.. Sayangku sudah kangen dengan kamar tidur favorit kami berdua itu.. he..he.. Tidak cuma itu saja. Tiap hari Sayangku mampu naik turun tangga sendiri, tanpa bantuan.. malah mulai sering mengajak saya keluar walaupun hanya sekedar ke toko roti, beli roti. Bahkan, Sayangku sempat menemani saya ke Plasa Marina karena saya butuh untuk memasang screen guard layar laptop saya. Saya sudah sempat melarang untuk ikut, tapi Sayangku memaksa karena ingin menemani saya. Yah.. begitulah Sayangku.. dia selalu ingin pergi berdua dengan saya. Seringkali, pada saat saya sudah mengeluarkan mobil dan berencana pergi sendiri, tiba-tiba Sayangku keluar rumah, sudah berganti pakaian, bawa tasnya, untuk pergi dengan saya. Begitu sayangnya Sayangku ini kepada saya.. selalu ingin menemani saya ke manapun saya pergi, kecuali memang tidak memungkinkan untuk pergi bersama.. –hu..hu.. jadi kangen berat saya.. hu..hu..–

Di bulan Maret 2021, saya kembali membawa Sayangku untuk kontrol ke dr. Bob. Tujuan dari kontrol ini adalah untuk membahas tindakan selanjutnya pasca radioterapi di kepala/otak yang telah selesai. Atas dasar saran dari dr. Bob, akhirnya kami mengambil keputusan untuk mencoba kemoterapi, atau lebih tepatnya, targetting therapy yang fokus untuk menghancurkan sel kanker tipe HER2+ sebagai langkah terakhir secara medis untuk melawan sel kanker yang ada di dalam tubuh Sayangku. Terapi ini diprogramkan sebanyak 17 kali dan dimulai pada tanggal 22 Maret 2021 di RSOS. Sayangku baru menjalani targetting terapi ini 3 kali. Terakhir Sayangku melakukan targetting therapy ini pada tanggal 10 Mei 2021 (minggu kedua bulan Mei 2021).

Sekitar minggu kedua bulan Mei 2021, menjelang hari raya Idul Fitri, Sayangku mulai turun kondisinya. Sayangku mulai kesulitan untuk naik turun tangga. Saya tawari untuk pindah kamar di bawah, tetapi Sayangku tidak mau karena ingin di kamar tidur favorit bersama dengan saya, menghabiskan waktu dengan saya.. berduaan.. Katanya, Sayangku kangen sama saya.. ingin berduaan sama saya. Sampai ketika saya kalau turun ke lantai bawah untuk ke dapur, menyediakan makanan dan minuman, Sayangku sering memanggil-manggil saya, kalau menurut Sayangku, saya dirasa terlalu lama di lantai bawah. Yah.. itulah satu bulan yang intens, berduaan dengan Sayangku. –hu.. hu.. jadi kangen berat lagi.. hu..hu..– Semakin hari, kondisi Sayangku semakin turun. Namun, kondisi itu ternyata tidak menyurutkan Sayangku untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Bahkan, saat Bapak dan Ibu Gembala Sidang GBT Bethlehem di Gayung Kebonsari Tengah, Pdt. Daniel Kusnindar dan Pdt. Ester Tumbel, datang ke rumah untuk mendoakan Sayangku, sebelum berdoa, Tante Ester tanya ke Sayangku, ingin nyanyi lagu apa. Lalu dijawab oleh Sayangku: “Betapa Baiknya Engkau Tuhan”. Sampai Tante Ester bertanya ulang dan dijawab lagu yang sama oleh Sayangku. Akhirnya, sebelum berdoa, kami memuji Tuhan, bahwa Tuhan itu sangat baik!

Syair lagu “Betapa Baiknya Engkau Tuhan”
Betapa baiknya Engkau, Tuhan
Kasih-Mu tiada berkesudahan
Betapa mulia kasih-Mu, Yesus
Jiwaku diselamatkan

Hosana, ku memuji Tuhan
Hosana, ku tinggikan Yesus
Hosana, Hosana, Hosana!

unknown composer

Tidak cuma itu, tiap hari, saya play lagu rohani favorit kami berdua, antara lain, “Terima Kasih Yesus” dan “Segala Pujian dan Syukur”, yang semuanya adalah lagu yang di-composed oleh Welyar Kauntu. Hingga akhirnya pada tanggal 18 Juni 2021, karena kondisi memburuk, disarankan oleh dr. Valen untuk masuk RS karena Sayangku sering kejang. Pada hari Jumat, tanggal 18 Juni 2021, saya mencoba membawa Sayangku ke RS, tapi banyak yang menolak karena dianggap tidak dalam kondisi yang gawat. Saat itu pasien penderita covid19 mulai melonjak. Akhirnya, kami mendapat rumah sakit yang IGD-nya mau merawat Sayangku, namun hanya distabilkan saja lalu dipulangkan. Hari berikutnya, hari Sabtu, tanggal 19 Juni 2021, kejangnya Sayangku tambah parah, bahkan sempat jatuh, kepalanya berdarah. Saya sudah mulai panik. Akhirnya saya bawa lagi ke IGD yang sama, tapi cuma distabilkan, dirawat kepalanya yang berdarah, lalu dipulangkan. Atas saran dari dr. Valen, akhirnya saya bawa Sayangku ke IGD di RS St. Vincentius A. Paulo –untuk selanjutnya, saya singkat dengan RKZ– dan dikonsulkan ke dr. Meryana, Sp.S, M.Kes. Sayangku mulai mendapatkan perawatan yang baik dan dirawat inap. Namun kondisi terus menurun hingga kesadaran mulai turun. Saat dipanggil, Sayangku mulai tidak merespon. Akhirnya, oleh dr. Meryana, dikonsulkan ke Dr. dr. Joni Wahyuhadi, Sp.BS (K) untuk dipasang selang dari otak ke saluran pencernaan karena ada penumpukan cairan di otak sehingga meningkatkan tekanan di otak dan menyebabkan otak menjadi bengkak. Inilah yang menyebabkan Sayangku kejang dan kesakitan di bagian kepala. Tiap kali saya menangani Sayangku, waktu Sayangku kejang dan kesakitan, hati saya pedih sekali. Saya selalu menangis melihat itu semua. Selanjutnya, Sayangku dirujuk ke RSDS untuk operasi karena menggunakan BPJS. Pada hari Senin malam, tanggal 21 Juni 2021, kami berangkat dengan diantar oleh ambulance dari RKZ ke RSDS. Sayangku baru menjalani operasi tersebut hari Selasa pagi, tanggal 22 Juni 2021. Setelah operasi, kesadaran Sayangku masih turun, namun saya tidak melihat lagi wajah yang kesakitan dan juga kejang. Pada hari Rabu malam, 23 Juni 2021, Sayangku sempat kritis dan akhirnya dipasang alat bantu pernafasan. Dan, pada hari Kamis malam, tanggal 24 Juni 2021, Sayangku kembali kritis. Tim dokter menawari saya pilihan: apakah akan diberi pijat jantung atau waktu untuk keluarga. Lalu saya tanya balik: “peluangnya berapa kalau pijat jantung dan apa efeknya?” Dijawab tim dokter, “peluang hidup untuk orang normal cuma 30%, tetapi kalau sakitnya seperti Sayangku, tinggal 10%.. apalagi Sayangku pasca operasi pasang selang di otak, peluang tinggal 5%.. tapi efek dari pijat jantung ini cukup berat, yaitu tulang rusuk bisa hancur.” Akhirnya saya memilih untuk mendampingi Sayangku. Saya telpon rumah. Saya kumpulkan anak-anak, papa, dan kakak untuk mengantar Sayangku bersama-sama pulang ke rumah Bapa di Surga. Saya peluk Sayangku.. saya ciumi.. saya berdoa dan bernyanyi lagu favorit kami berdua, yaitu “Terima Kasih Yesus” dan “Segala Pujian dan Syukur”, serta lagu pilihan Sayangku “Betapa Baiknya Engkau Tuhan”. Lalu saya berdoa dan bernyanyi lagi lagu “Terima Kasih Yesus”. Dan akhirnya, dengan lagu “Segala Pujian dan Syukur”, saya mengantar dan melepaskan Sayangku untuk pulang ke rumah Bapa di Surga pada sekitar pukul 21:40.

Syair lagu “Terima Kasih Yesus” (hanya refrain saja yang saya nyanyikan):
Terima kasih, Yesus.. terima kasih, Yesus
Kub’ri syukur hanya bagi-Mu, Ya Allahku, Ya Tuhanku
Terima kasih, Yesus.. terima kasih, Yesus
Kub’ri syukur hanya bagi-Mu.. Terima kasih, Yesus.

composed by Welyar Kauntu (https://youtu.be/ghnlA6Cgk-c)

Syair lagu “Segala Pujian dan Syukur” (hanya refrain saja yang saya nyanyikan):
S’gala pujian dan syukur hanya bagi-Mu, Yesus
Dengan apakah kubalas kasih-Mu
S’gala hormat kemuliaan hanya layak bagi-Mu
Kusembah Yesus seumur hidupku!

composed by Welyar Kauntu (https://youtu.be/WtoT_Ao21cc)

Begitulah yang bisa saya ceritakan, “perjalanan” sakit Sayangku mulai operasi pengangkatan payudara pada April 2018 hingga pulang ke rumah Bapa di Surga pada 24 Juni 2021. Dalam “perjuangan” melawan kanker ini, Sayangku menjalani tiga kali periode kemoterapi –satu kali periode dengan obat injeksi, satu kali periode dengan obat oral, dan satu kali periode targetting therapy (walaupun belum selesai, baru 3 kali dari 17 kali yang diprogramkan)– serta tiga kali periode radioterapi –satu kali dengan target di lokasi pengangkatan payudara kanan, dua kali dengan target di kepala/otak–. Cukup panjang cerita ini karena banyak sekali kejadian yang ajaib, yang tidak pernah kami lihat, yang tidak pernah kami dengar, dan yang tidak pernah ada dalam pikiran kami berdua, itulah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus bagi kami.. dan memang benar adanya.. apapun yang terjadi di dalam hidup ini, Tuhan Yesus baik, karena Tuhan Yesus tahu apa yang terbaik bagi kita. Untuk detil dari saat Tuhan memberitahukan kematian Sayangku hingga saat Tuhan memanggil pulang Sayangku kembali ke rumah Bapa di Surga, akan saya ceritakan pada episode ketiga.

Menjelang akhir dari episode pertama ini, saya ingin menceritakan suatu keanehan yang membuat saya heran untuk kedua kalinya. Sayangku punya jam dinding favorit. Walaupun jam dinding tersebut pernah jatuh dan retak kacanya, oleh Sayangku, direkatkan kembali dengan isolasi lalu minta saya untuk memasangkan kembali di dinding. Ketika saya mau ganti jam dindingnya dengan yang baru, Sayangku menolak. Setelah mengikuti proses memandikan jenazah Sayangku, saya kembali ke rumah. Saat itu saya melihat jam dinding kesayangan Sayangku di rumah, berhenti berdetak di posisi sekitar pukul 21:40 (Foto 1). Kejadian seperti ini (maksudnya kejadian yang jam dinding berhenti berdetak) juga pernah terjadi saat mami saya pulang ke rumah Bapa di Surga pada tahun 2010. Salah satu jam dinding di rumah Kudus juga berhenti berdetak di jam sekitar mami saya pulang ke rumah Bapa di Surga, di jam yang sama ketika saya menginjakkan kaki saya ke dalam pesawat yang membawa saya pulang dari Singapore ke Surabaya. Detil cerita tentang saat mami saya pulang ke rumah Bapa di Surga akan saya sampaikan di episode kedua karena ada kaitannya dengan rencana Tuhan secara keseluruhan dalam kehidupan kami berdua (Sayangku dan saya).


Foto 1: Jam dinding kesayangan Sayangku yang berhenti berdetak di sekitar pukul 21:40.

Selanjutnya, saya ingin membagikan kenangan yang dibagikan oleh Meiliana, saudara sepupu dari Sayangku, yang menuliskan kenangan ini dan membagikannya di whatsapp group keluarga. Ada beberapa bagian tulisan Meiliana yang saya edit dan saya beri komentar, hanya untuk mengkoreksi saja.

IN MEMORY OF VIVI

Vivi adalah sepupu sekaligus teman bermain waktu kecil dulu karena kami seumuran dan tinggal lumayan dekat. Vivi di Surabaya. Saya di Pasuruan. Kalau libur sekolah kadang saya dan adik menginap di rumah Vivi. Kokonya, Jusak (Uke) dan Emmanuel (Ongi), punya koleksi komik cerita dari 5 benua yang bagus-bagus.

Pernah suatu sore di rumah Vivi, kami pergi mandi bersama. Dasar anak kecil, tiba-tiba ingin tahu rasanya mandi di dalam bak mandi. Maka, berdua kami memanjat bak mandi yg cukup tinggi. Habislah air satu bak penuh kami obok-obok. So much fun. Kamar mandi dikunci dari dalam biar tidak ketahuan. Adik yg memanggil-manggil dari luar tidak kami hiraukan. Kami pun dilaporkan. Tidak ingat apakah habis mandi kami kena marah, tetapi momen berendam dalam bak mandi itu masih teringat sampai sekarang. Masa kecil yg bahagia…

Waktu kami kecil, Vivi suka korespondensi dengan anak-anak dari mancanegara. Berkat dialah, saya jadi memiliki hobi surat-menyurat dengan sahabat pena dari berbagai daerah/suku bangsa.

Di mataku, Vivi adalah orang yg sederhana, rendah hati dan suka bergaul.

Waktu kecil, teman mainnya di kampung banyak. Saya kadang diajak main. Kalau kami datang sore-sore, Vivi sering tidak ada di rumah. Ternyata suka ngelayap/pergi main ke rumah teman dan terlambat pulang sehingga diomeli orangtua. Teman SMP dan SMA-nya ada yg merupakan teman saya juga. Mereka mengingat Vivi sebagai teman yang baik hati dan disukai.

Setelah didiagnosa kanker payudara sekitar Maret April 2018, Vivi dengan tabah menjalani operasi lalu kemoterapi.

Di tahun itu juga Vivi kehilangan mama tercinta. Vivi menggantikan peran mamanya. Jadi istri dan ibu rumah tangga yg sibuk dan multi-task: memasak, antar jemput anak, dan lain sebagainya, sekalipun dirinya sedang dalam pengobatan.

Januari 2019 saya bertemu Vivi. Dia kelihatan segar meskipun baru saja melewati tahun yg penuh tantangan (Foto 2). Kemonya Radioterapinya baru saja selesai. Rambutnya yang tebal, telah habis akibat kemo radioterapi. Itu ternyata pertemuan kami yang terakhir. [komentar saya tentang Foto 2: kalau teman-teman melihat Foto 2, mungkin teman-teman melihat ada seperti garis warna hitam di badannya Sayangku, mulai dari bagian leher sampai di bagian dada. Itu adalah marking untuk radioterapi. Saat foto ini diambil, Sayangku sedang menjalani radioterapi di sekitar area payudara kanan yang telah dioperasi/diangkat di RSDS]

Foto 2: Papa, Meiliana, dan Sayangku berfoto bersama.


Maret April 2019, Vivi check up dengan dokter. Ternyata, operasi dan kemo kemoterapi kurang berhasil. Kanker ditemukan di liver. Menurut Vivi, obat kemo yg diberikan lewat BPJS bukan yg nomer satu. Jika kanker menyebar, baru BPJS memberikan obat kemo nomer satu. [komentar saya: sebenarnya, yang dimaksud oleh Sayangku, di awal, kalau menggunakan BPJS, Sayangku tidak bisa mendapat obat untuk HER2+. Obat tersebut baru bisa didapatkan ketika terjadi metastase. Itu aturan baru yang berlaku saat itu]

Vivi harus menjalani kemoterapi kembali di tahun kedua. Orang lain mungkin sudah down mentalnya, tapi Vivi tetap tegar.

Pengobatan tahun kedua sepertinya juga kurang berhasil.
Awal tahun 2020 saya mendengar Vivi mulai sering sakit kepala. Dikuatirkan kanker menyebar ke otak.

Saya ingin pulang untuk menghadiri reuni keluarga sekaligus ingin ketemu Vivi sekali lagi sebelum dia ‘pergi’. Tidak disangka-sangka, Vivi, anak2nya dan om Tandean juga ikut daftar reuni. Saya terharu, Vivi dan om masih bersemangat untuk menghadiri reuni. Sayang seribu sayang, covid tiba-tiba menghantam dunia. Reuni yang sedianya menjadi momen tak terlupakan, terpaksa harus dibatalkan.

Di tahun ketiga itu dalam situasi pandemi Vivi melanjutkan pengobatannya. Pada bulan November 2020, saya telpon Vivi. Suaranya terdengar bersemangat, tidak seperti orang yg sakit. Dia cerita sudah mulai beribadah di gereja tapi dengan prokes (protokol kesehatan).

Setiap kali ditanya kabarnya Vivi selalu bilang “baiiik”. Setiap kali kutawari bantuan, dia selalu bilang tidak mau merepotkan orang lain. Itulah Vivi.

Pada Jan 2021, Vivi merayakan hari ulang tahun yang ke 51 dan masih membalas ucapan selamatku. Dia minta maaf karena terlambat membalas. (Foto 3)

Foto 3: Ulang tahun terakhir Sayangku, ulang tahun ke-51, 16 Januari 2021.

Setelah itu kudengar kondisi Vivi mulai menurun. Namun, semangatnya untuk melanjutkan pengobatan sungguh luar biasa. Sampai ke luar kota pun dibelani. Karena banyaknya pasien yg menunggu giliran kemo radioterapi di Surabaya, Vivi harus mencari RS lain, bahkan di luar kota.

Pada bulan April 2021 ucapan selamat paskahku tidak dibalas. Kuduga kanker yg menyebar sudah mempengaruhi penglihatannya.

Pada Mei 2021, pesan whatsapp-ku juga tidak dibalas. Tapi tidak seperti biasanya, Vivi misscall beberapa kali. Kupikir Vivi pasti salah pencet jadi kuabaikan. Lagipula aku sudah dipesani untuk tidak menelpon atau menanyakan sakit Vivi lagi. Sekarang aku menyesal. Siapa tahu Vivi ingin mengucapkan selamat hari ulang tahun atau menyampaikan sesuatu. Seharusnya aku menelpon dan mendoakannya, paling tidak terakhir kali…

Sekarang Vivi sudah pergi mendahului kita semua.

Banyak orang yang didiagnosa kanker jadi putus harapan. Ada yg dikemoterapi sebulan atau setahun, badan sudah tidak kuat dan meninggal. Jarang kutemukan orang yg menjalani kemoterapi berkali-kali, tapi fisik, mental dan imannya sekuat Vivi. Tetap bisa tersenyum dan berpikir positif bahkan berseru Tuhan itu baik.

Selama berjuang melawan kanker selama 3 tahun dan 3 bulan, Vivi tetap menjadi berkat dan meninggalkan warisan harta rohani kepada keluarga dan orang-orang di sekelilingnya.

Selamat jalan Vivi. Terima kasih sudah menjadi inspirasi. Suatu hari nanti kita akan bertemu kembali dan reuni di Surga… Amin.

Meiliana Tanumihardja, 5 Juli 2021.

Ya.. itulah kenangan dari Meiliana tentang Sayangku. Memang mulai bulan Mei 2020, Sayangku sudah kesulitan pegang smartphone-nya dan mulai juga kesulitan untuk mengetik untuk chat. Berkali-kali smartphone-nya jatuh, bahkan pernah akhirnya smartphone-nya nyebur di ember yang penuh air sehingga rusak. Sayangku sedih sekali dan berkali-kali minta maaf pada saya. Lalu saya tenangkan dan saya tunjukkan kalau saya memang benar-benar tidak kecewa sama sekali. Saya berjanji untuk menserviskan smartphone-nya karena Sayangku tidak mau smartphone baru. Tapi tetap saja saya bilang, kalau tidak bisa diservis, saya akan membelikan yang baru. Akhirnya saya bawa ke distributor untuk diperbaiki dan berhasil diperbaiki lagi. Sayangku senang sekali karena smartphone-nya sudah berfungsi kembali, namun, tetap saja tidak bisa mengetik, hanya bisa membaca pesan, mengakses Facebook, dan telepon. Bahkan, sekitar Maret 2021, mulai sering kejadian salah pencet yang mengakibatkan Sayangku seolah-olah telepon, padahal hanya kepencet. Saya tahu karena tiap kali kepencet, Sayangku selalu kebingungan dan minta tolong kepada saya untuk memperbaiki. Kalau kebetulan pihak penerima sudah menerima telponnya, Sayangku biasanya minta maaf karena tidak sengaja menelepon. Sering juga, saat menggunakan whatsapp, secara tidak sengaja, Sayangku melakukan selfie lalu mengirim fotonya ke orang-orang. Ketika orang-orang bertanya, Sayangku beberapa kali minta tolong saya untuk merespon pertanyaan dengan pernyataan maaf karena tidak sengaja. Kadang juga, beberapa kali pertanyaan-pertanyaan itu diabaikan begitu saja oleh Sayangku.

Mengenai pernyataan bahwa Meiliana diwanti-wanti [itu istilah Jawa, kalau bahasa Indonesianya: “diberi pesan”] untuk tidak telpon dan menanyakan kabar, itu memang benar dan itu memang kemauannya Sayangku. Hal yang sama berlaku untuk semua orang, termasuk saudara terdekat sekalipun. Sayangku hanya mau terima telpon dan mau dijenguk oleh Bapak dan Ibu Gembala kami, Pdt. Daniel Kusnindar dan Pdt. Ester Tumbel. Selain Bapak dan Ibu Gembala, semua telpon diabaikan dan kalau mau masuk ke kamar dan menjenguk, selalu ditolak habis-habisan oleh Sayangku. Ketika saya tanya alasannya apa, Sayangku menjawab bahwa Sayangku tidak mau orang-orang mengasihani dirinya karena tidak ada yang perlu dikasihani. Sayangku baik-baik saja, bahkan tiap hari selalu bersyukur kepada Tuhan buat hari yang baru. Itulah alasannya Sayangku mengapa Sayangku tidak mau ditelepon dan dijenguk. Itu sebabnya, saat ini, melalui memoar episode pertama ini, saya, Henry Hermawan, suami dari Sayangku Grace Viviana Tandean, mewakili Sayangku, memohon maaf sebesar-besarnya kepada saudara-saudara, teman-teman, dan siapa saja yang pernah ditolak saat menelepon dan/atau menjenguk Sayangku. Semoga saudara-saudara, teman-teman, atau siapa saja yang pernah ditolak oleh Sayangku, tidak marah atau sakit hati lagi terhadap Sayangku.


Sebagai penutup, saya akan menuliskan Firman Tuhan yang tertulis pada kitab Mazmur 106:1, yang tertulis demikian:

“Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Mazmur 106:1 (TB)

Itulah yang selalu dirasakan oleh Sayangku hingga saatnya Sayangku pulang ke rumah Bapa di Surga, bahwa Tuhan itu baik, sungguh amat baik! Sayangku selalu bersyukur kepada Tuhan karena semua anugerah yang Tuhan berikan. Sayangku mampu menjalani kehidupannya dengan puas oleh sebab kebaikan, kemurahan, dan kasih setia Tuhan yang tiada habis-habisnya bagi kami berdua, kami sekeluarga, dan juga khususnya bagi Sayangku pribadi.

Sampai di sini episode pertama dari serial “Memoir of Sayangku: Grace Viviana Tandean“. Memoar ini akan saya lanjutkan di episode kedua. Salam damai sejahtera bagi kita semua! Tuhan Yesus memberkati! Amin!

Disclaimer: Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Sayangku. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Sayangku.