Memoar apakah ini?

Siapakah kami ini, Tuhan, sehingga kami beroleh kasih setia-Mu yang begitu besar, yang begitu luar biasanya? Sebenarnya, kami tidak layak karena tidak ada satu pun yang baik dari diri kami. Tetapi, Engkau begitu mengasihi kami, selalu mengenyangkan dan memuaskan kami setiap hari dengan kasih setia-Mu yang tak ada habis-habisnya.

Memoar ini berisi tentang kenangan, memori, dan kesaksian saya, yang saya ceritakan agar saya dapat pulih dari kesedihan dan rasa kehilangan yang sangat dalam akan Vivi ketika kami berdua dipisahkan oleh maut. Karena sangat merindukan Vivi, saya sempat mengalami depresi berat, yang puncaknya terjadi pada minggu ke-6 setelah Vivi tiada. Secara manusia, saya kehilangan sebagian diri saya ketika Vivi tiada sehingga saya tidak memiliki semangat, sukacita, kekuatan, dan kemauan untuk melanjutkan hidup saya. Hampir saja saya memohon kepada Tuhan untuk memanggil pulang saya juga. Namun, ketika saya mengingat kembali segala kasih setia Tuhan dalam hidup kami dan bagaimana kami menikmati cinta kasih kami berdua sejak berpacaran, menikah, sampai tiba pada waktunya maut memisahkan kami berdua, maka sedikit demi sedikit, rasa kehilangan dan kesedihan saya yang mendalam berubah menjadi rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan karena rancangan-Nya yang begitu indah atas hidup kami berdua.. sehingga pada akhirnya, saya dapat berseru, “Haleluya, bahwasanya Tuhan itu sangat baik! Tak berkesudahan kasih setia-Nya!” Rasa syukur kepada Tuhan inilah yang sedikit demi sedikit memberikan semangat, kekuatan, dan kemauan kepada saya untuk menyelesaikan tugas-tugas saya di dunia ini hingga pada akhirnya nanti saya pulang ke rumah Bapa di Surga. Saya menuliskan cerita ini agar saya pada akhirnya dapat “melepaskan” Vivi dari hatiku dan melanjutkan hidupku, bahkan jika Tuhan mengizinkan dan mengaturnya, aku akan memenuhi permintaan ketiga Vivi yang sempat disampaikan Vivi kepada saya sebelum Vivi tiada.

Memoar ini juga merupakan “tongkat” kehidupan saya, yang sudah saya ukir dengan semua kebaikan dan kasih setia Tuhan kepada saya, Vivi, dan keluarga kami, sebagai bukti bahwa Tuhan itu amat sangat baik sekali. Seringkali saya berkata kepada Tuhan, ” Siapakah aku ini, siapakah Vivi, siapakah keluargaku sehingga kami beroleh anugerah yang begitu besar dari-Mu?” Saya dan Vivi bukan orang yang baik dan kami juga jauh dari kesempurnaan, tetapi Tuhan memanggil dan menarik kami ke dalam pelukan-Nya yang hangat sehingga kami sangat berbahagia karena dapat menikmati kasih-Nya di sepanjang kehidupan kami. Dari momen-momen indah kebersamaan kami yang saya ceritakan melalui memoar ini, akan terlihat bagaimana campur tangan Tuhan, khususnya dalam kehidupan kami berdua, termasuk proses-proses pembentukan diri kami berdua oleh Tuhan –kami berdua bagaikan tanah liat di tangan penjunan–, pergumulan-pergumulan kami berdua, sehingga kami dapat menikmati cinta kasih-Nya yg sungguh indah.

Memoar ini adalah “legacy”, peninggalan kami berdua yang diturunkan bagi buah cinta kasih kami berdua: William Kester Hermawan, Sarabeth Bethia Hermawan, dan Elisebeth Abbey Hermawan; juga menjadi kesaksian dan peninggalan bagi keluarga, kerabat, sahabat, teman-teman, dan siapa saja yang mengikuti memoar ini. Biarlah Tuhan saja yang dipuji dan dimuliakan! Segala pujian dan syukur, hormat dan kemuliaan, hanyalah bagi-Mu, Tuhan!

Memoar ini dapat diakses melalui menu “Daftar Isi“. Pada tulisan-tulisan ini, saya menggunakan panggilan “Sayangku” untuk menyebut Vivi karena itu janji saya padanya ketika Vivi menerima saya sebagai kekasihnya.

Disclaimer: Memoar ini saya susun sebagian besar berdasarkan ingatan saya, catatan pribadi Vivi selama kami berpacaran, dan apa yang saya rasakan tentang kasih setia Tuhan kepada kami berdua dan cinta kasih saya kepada Vivi. Mungkin akan ada beberapa fakta yang meleset atau tidak tepat, namun, hal itu tidak akan mengurangi kenangan saya, kesaksian saya, dan semua yang saya rasakan tentang Tuhan dan cinta kasih saya kepada Vivi.